Berjuang mendapat hati sang suami, meski terluka fisik dan batin. Dia tetap bertahan ... dalam kesakitan yang di rasakan dalam pernikahannya. Dia selalu yakin dengan rencana besar Allah yang di berikan padanya suatu hari kelak.
Ketabahan dan kesabarannya tidak usah di ragukan lagi dari sosok Famira Az-zahra wanita shalihah yang sangat tegar dalam menghadapi ujian demi ujian yang di berikan Allah kepadanya dalam pernikahannya.
Bagaimana akhir pernikahan yang tidak didasari cinta?
SELAMAT MEMBACA!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon _Ecyy_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
7
Baru saja Famira melangkah kakinya menuju rumah, ibu-ibu yang sedang berkumpul menghampiri dan menanyakan berbagai hal kepada Famira terutama tentang pernikahannya yang di anggap mendadak.
"Ya Allah, Famira makin cantik aja kamu. Kenapa tidak mengundang ibu di acara pernikahan kamu?" tanya salah satu dari ibu-ibu itu.
"Maaf ya Bu, Famira tidak mengundang ibu-ibu di acara pernikahan saya. Karena pernikahan saya hanya di hadiri oleh keluarga mempelai saja Bu," sahut Famira lembut.
"Kami mengertilah Famira, kan suami kamu orang kaya. Pasti enggan mengundang kami di rumahnya," sahut seorang ibu.
"Nggak Bu, memang pernikahannya tertutup, Bu."
"Katanya kamu menikah terpaksa ya Famira, terus suami kamu kata orang kampung ini adalah orang yang kejam, ya?"
"Kalau urusan kenapa saya menikah Bu, biarkan itu menjadi urusan pribadi saya. Bu, suami saya orang baik, dia memperlakukan saya sangat mulia. Bahkan dia tidak pernah kasar ataupun memarahi saya Bu. Suami saya tidak kejam, seperti yang ibu pikirkan," sahut Famira tersenyum.
"Oh gitu ya Famira, maafkan kami karena sudah berprasangka buruk kepada suami kamu."
"Iya Bu tidak apa-apa," sahut Famira lembut.
Bara mendengar semua penjelasan Famira kepada ibu-ibu itu. Bara sangat bingung kenapa Famira berbohong kepada ibu-ibu itu tentang sikapnya kepada Famira. Padahal memang benar Bara sering memperlakukan Famira secara kasar.
"Sok alim banget tuh perempuan," gumam Bara.
"Famira, suami kamu mana? Kami ingin melihatnya."
"Ada di dalam mobil, Bu."
Ibu-ibu itu langsung mengetuk pintu mobil dan menyuruh Bara keluar. Bara mau tidak mau, harus keluar. Bara sungguh kesal, dan dia hanya memasang wajah datar.
"Ya Tuhan gantengnya," ucap ibu-ibu sambil mencubit pipi Bara secara bergantian.
Famira hanya tertawa kecil melihat suaminya yang di jahil sama ibu-ibu. Bara yang kadang kejam dan kasar, kini pasrah dan tidak bisa berkutik sedikit pun.
"Foto bareng ya," ucap ibu-ibu.
"Saya akan pergi ke da–" ucap Bara terpotong.
"Diam saja di sini, dasar pengantin baru nggak bisa jauh-jauh dari istrinya," sahut seorang ibu sambil mencubit pipi Bara lagi.
"Dasar ibu-ibu genit," batin Bara kesal.
"Senyum dong Nak kalau lagi foto, biar tambah ganteng," kritik seorang ibu yang menjadi fotografernya.
Famira meninggalkan Bara bersama ibu-ibu. Famira tertawa geli melihat wajah Bara yang menahan amarahnya.
"Assalamu'alaikum, Ummi," salam Famira sambil masuk ke dalam rumah.
"Wa'alaikumussalam, Nak," sahut Ummi Famira.
Famira langsung memeluk tubuh umminya, mengobati kerinduan selama ini.
"Ummi, Famira rindu," ucap Famira menangis di pelukan umminya.
"Ummi juga rindu, putri ummi nggak boleh nangis," sahut Ummi Famira lembut.
"Ini tangis bahagia, Ummi."
"Bagaimana pernikahan kamu, dan sikap suami kamu, Nak?"
"Alhamdulillah pernikahan Famira baik Ummi, dan Mas Bara juga sangat baik kepada Famira," jawab Famira berbohong karena tidak mau umminya itu khawatir dan sedih.
"Alhamdulillah ... ummi senang mendengarnya."
Sudah hampir setengah jam, Famira pun segera pamit kepada uminya. Ia hampir lupa perjanjian dengan Bara.
"Ummi, maaf Famira tidak bisa lama. Mas Bara banyak kerjaan."
"Iya tidak apa-apa, ummi dapat mengerti, Nak."
****
"Kenapa lama sih?" tanya Bara ketus saat Famira masuk ke dalam mobil.
"Maafkan Famira, Mas."
"Lihat penampilanku ini semua gara-gara kamu, baju aku, rambutku. Semua kotor, dan bau. Dasar orang miskin tidak tau malu, untung saja aku bisa menahan amarahku kalau tidak sudah habis ibu-ibu tadi," ucap Bara marah dan kesal.
Famira hanya bisa sabar menghadapi cacian dari suaminya. Lagi dan lagi selama perjalanan pulang hanya suara mesin mobil yang terdengar.
Famira terus memikirkan pernikahannya saat perjalanan pulang, Famira hanya takut pernikahannya tidak akan bisa bertahan lama. Famira berharap pernikahan antara dirinya dan Bara sampai maut memisahkan. Meskipun Bara belum bisa menerima dan mencintainya, Famira yakin suatu saat Bara akan menyadarinya.
****
Beberapa stok bahan makanan seperti sayuran, buah-buahan, ikan, dan lain sebagainya habis di rumah Bara. Di sebabkan karena Bibi Ina tidak bisa pergi ke pasar hari ini, karena kondisinya yang kurang sehat. Akhirnya Famira memutuskan untuk pergi membeli bahan makanan di supermarket yang dekat dengan rumah Bara.
"Mas, aku izin pergi ke luar sebentar," ucap Famira kepada Bara yang baru selesai mandi.
"Mau kemana kamu?" tanya Bara ketus.
"Membeli bahan makanan karena beberapa bahan makanan di dalam kulkas habis."
"Ya sudah pergilah."
"Iya, Mas."
Saat Famira hendak berpamitan dan mencium punggung tangan Bara, Bara merasa jijik ketika di pegang oleh Famira.
"Kalau pergi, pergi aja. Nggak usah cium tanganku, nanti tangan aku alergi lagi," sindir Bara.
"Maaf Mas, ya sudah aku pergi dulu. Assalamu'alaikum," ucap Famira sedih lalu pergi.
Sampainya di supermarket, Famira tanpa sengaja bertemu dengan Erwin.
"Assalamu'alaikum Famira," sapa Erwin ramah.
"Wa'alaikumussalam."
"Kenapa kamu sendiri, Bara kemana?"
"Mas Bara lagi ada kerjaan."
"Oh, Famira aku perihatin kepada kamu. Aku tahu semua yang di lakukan Bara kepada kamu. Aku harap kamu bisa sabar dalam menghadapi semuanya."
Famira tersenyum tipis. "InsyaaAllah," jawab Famira.
"Kamu memang wanita hebat, Famira aku ingin membantumu untuk mengakhiri permainan Bara ini," ucap Erwin ke ceplosan.
"Permainan, maksudnya, Er?" tanya Famira heran.
"Maksud aku, aku akan bantuin kamu melunasi hutang kamu kepada Bara. Aku hanya tidak bisa melihat, kalau wanita seperti kamu di tindas oleh lelaki bejat seperti Bara itu," ucap Erwin geram.
"Makasih Er, kamu sudah peduli samaku. Tapi maaf, aku tidak bisa menerima bantuan kamu. Aku akan berusaha melunasi hutangku dengan hasil jerih payahku sendiri."
"Famira aku mengerti, tapi kamu bisa pinjam uang aku dulu. Dan kamu bisa bayar, ketika nanti uang kamu sudah ada," jelas Erwin lagi.
"Ingat Famira, Bara itu tidak pernah mencintai kamu, dia hanya mencintai Vina," tutur Erwin supaya gadis berjilbab syar'i itu sadar.
"Aku tau, Er. Tapi, aku yakin mas Bara suatu hari akan berubah," tegas Famira.
"Aku pulang dulu, tidak sebaiknya kita berbicara lama. Aku takut menimbulkan fitnah antara kita," ucapnya lalu pergi meninggalkan Erwin.
Selama perjalanan pulang Famira terus memikirkan kata Erwin, 'Mengakhiri permainan'. Ada sesuatu yang di simpan oleh Erwin yang ingin di sampaikan kepada Famira, namun Erwin tidak berani mengatakannya.
Famira memberanikan diri bertanya kepada Bara, tentang hutang-hutangnya.
"Mas, aku ingin tanya sesuatu."
"Tanya apa?" ketus Bara.
"Misalnya aku dapat melunasi hutang aku kepada Mas ...." ucap Famira terpotong.
"Kamu jangan mimpi bisa melunasi hutang kamu," ucap Bara sambil mendorong tubuh Famira agar menjauh dari tubuhnya.
"Aku cuman ingin bertanya Mas, jika hutangku sudah lunas. Apakah Mas bisa menerimaku?"
"Aku tidak akan pernah menerima dan mencintaimu!"
"Tapi Mas bilang, pada waktu pernikahan bahwa menikahiku karena beban hutang kedua orang tua."
"Iya, jadi bila kamu mampu melunasi hutang kamu. Kita akan pisah, kamu puas!?"
"Maksud Mas, cerai?"
"Iya, itukan yang kamu inginkan?!"
"Nggak Mas, aku tidak mau cerai dari, Mas."
"Terserah kamu, makanya jangan bahas itu lagi."
"Iya, Mas."
"Dasar istri bodoh, mau saja di bohongin," gumam Bara tersenyum sinis.
Famira tidak ingin bercerai dari Bara karena, Famira tau di dalam islam bercerai adalah suatu perbuatan yang sangat di murkai dan di benci sama Allah. Famira masih tetap yakin, d
ia pasti bisa merubah Bara menjadi imam yang baik bagi keluarga nantinya.