Menceritakan kisah Maya yang menikah dengan Albiru karena perjodohan, selama ini Maya sudah berjuang untuk cintanya, kala cinta itu sudah bersemi kerikil kerikil kecil kerap kali menghampiri, berbeda dengan Maya yang selalu mencoba menjadi dewasa dalam setiap menyikapi masalah tapi berbeda dengan Albiru yang memilih untuk menikah lagi demi mendapatkan selingan di luar rumah. Akankah Maya menyerah diakhir cerita karena mendapati suaminya telah membagi cinta yang seharusnya utuh hanya untuk dirinya?
Aku mencintaimu dengan penuh kesabaran, tapi kamu membalas cintaku dengan luka, Mas! [Maya]
Maafkan aku karena telah mencintai kamu dan dia, sekarang kalian sudah berada di hatiku. Aku hanya meminta kalian untuk mengerti! [Albiru]
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mala Cyphierily BHae, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Poligami?
Biru segera pergi mandi dan saat dirinya melepas kemeja itu dirinya melihat ada noda merah lipstik di lengannya.
"Astaga, untung aku melihat ini!" ucap Biru segera membawa baju itu ke kamar mandi, Biru mencuci lengan kemeja itu di sana sampai bersih lalu Biru melemparkan kemeja itu masuk ke keranjang yang berada di depan pintu kamar.
Biru mandi membersihkan badannya dan selama mandi itu Biru selalu mengingat Hafizah.
"Astaga, kenapa aku mengingat gadis itu!" geram Biru seraya memukul air yang sedang merendamnya.
Sementara itu, Maya mendengar seperti ada suara, lalu Maya terbangun dan memeriksa.
"Suara itu dari kamar mandi dan ini sepatu Mas Biru, dia sudah pulang!" gumam Maya seraya melihat jam di dinding dan waktu menunjukkan kalau sudah dini hari.
"Reuni sampai jam segini? Tumben juga Mas Biru mandi jam segini, biasanya malam sedikit cuma ganti baju aja," gumam Maya seraya meletakkan Ifraz di ranjang.
Maya ingin menjahili Biru, lalu Maya bersembunyi, berjongkok di depan lemari dan benar saja, saat Biru baru keluar dari kamar mandi Maya langsung memeluknya erat dari belakang.
"Aaaa!" teriak Biru yang terkejut, "Ha-" ucap Biru hampir memanggil nama Hafizah.
"Hampir saja," batin Biru, lalu Biru membalikkan badannya dan keduanya pun berpelukan mesra.
"Aku kangen kamu, Mas," lirih Maya, entah mengapa wanita anggun itu merasa sangat merindukan suaminya yang setiap hari dijumpainya.
"Iya, aku juga kangen kamu!" jawab Biru yang kemudian mengecup kening Maya.
Setelah itu Biru membopong Maya ala bridal, Biru membawanya ke ranjang, meletakkan Maya di sana seraya memberi aba-aba agar tidak berisik supaya Ifraz tidak terbangun.
Belum sempat Biru memakai baju gantinya itu, dirinya kini sudah berada di ranjang di bawah selimut yang sama dengan Maya, Biru memeluk erat istrinya seraya mencium pucuk kepalanya.
"Kamu kenapa, Mas? Kangen banget ya sama aku?" tanya Maya seraya mendongakkan kepala menatap wajah tampan Biru.
"Iya, maafin aku ya, beberapa hari ini aku sangat menyebalkan," ucap Biru seraya membawa Maya ke dalam pelukan.
"Iya, enggak apa-apa kok," kata Maya, "nanti kita liburan mau? Udah lama kita enggak liburan, semenjak aku melahirkan," kata Maya yang kemudian mengerucutkan bibirnya.
"Iya, tapi nanti, Ifraz aja belum genap empat puluh hari, mending kita pikirin aja dulu acara buat aqiqah Ifraz, jangan lupa hubungi fotografer, supaya kita punya kenangan masa kecil Ifraz," kata Biru dan Maya pun setuju, sangat setuju apapun itu demi kebaikan Ifraz.
Biru memeluk Maya dengan erat, merasa berdosa pada istrinya, Biru berjanji akan memperlakukan Maya lebih dari seorang ratu di hatinya dan memutuskan untuk menyembunyikan hubungannya dengan Hafizah, karena walau bagaimana pun Biru sudah membukakan pintu untuk wanita itu masuk ke dalam hidupnya, membuat Biru memiliki sedikit rasa tidak rela apabila harus melepas Hafizah.
Sementara itu bagaimana dengan Hafizah, wanita tinggi semampai itu sedang menangis di kamar hotel sendirian, banyak sekali pertanyaan dalam hatinya untuk kelanjutan hubungan yang baru saja dia jalani.
Hafizah masih dengan rambut yang digelung handuk, duduk di ranjang berukuran big size itu sedang menggenggam erat ujung handuk kimono yang dikenakannya.
"Hafizah, jangan bersedih, ingat! Kalau ini sudah menjadi keputusan kamu dari awal, coba pikirkan! Seandainya kamu di jual oleh lintah darat itu, bisa saja dalam sehari kamu harus melayani puluhan pria hidung belang, sudah... berhentilah menangis! Terima takdirmu sebagai simpanan," kata hatinya mencoba mendoktrin pikiran Hafizah.
Dengan pilu, Hafizah menjatuhkan dirinya ke ranjang, mencoba untuk memejamkan matanya, tetapi tepat saja Hafizah tidak dapat tidur, wanita muda itu ingin mengeluarkan keluh kesahnya pada sahabatnya.
Hafizah mengambil ponsel miliknya dan sudah hampir menghubungi Dewi sahabatnya.
"Enggak, aku enggak boleh cerita sama Dewi, kalau nanti ketahuan aku bisa dipecat, aku juga akan malu pada teman-teman ku sendiri!" ucapnya pada diri sendiri, lalu Hafizah teringat dengan Maya.
"Ya, mungkin aku bisa menghubungi Maya! Kebetulan besok jatah libur aku!" ucapnya dengan sedikit bersemangat, lalu Hafizah segera mengirim pesan pada Maya.
****
"Cengkling!" bunyi ponsel Maya yang berada di nakas, Maya yang masih berada di pelukan Biru itu mencoba meraih ponselnya, tetapi tangan Maya segera Biru tarik, Biru melingkarkan lengan Maya di pinggang kekarnya itu.
"Kalau siang kamu boleh bermain ponsel, kalau malam kamu hanya milikku seorang!" ucap Biru dengan mata terpejam, mendengar itu membuat Maya tersenyum lalu mencium brewok tipis suaminya itu.
Biru yang merasakan itu membuat dirinya semakin erat memeluk Maya.
"Mas...," lirih Maya.
"Hhmmm," jawab Biru.
"Enggak bisa nafas," kata Maya dan Biru melepaskan pelukan itu dengan segera Biru memberikan nafas buatan untuk Maya, keduanya hanyut dalam buaian asmara yang mereka ciptakan, keduanya menghentikan itu saat mendengar Ifraz merengek.
Biru pun segera melepaskan ciuma*nnya itu, "Hei boy... bisakah aku meminjam Maya ku sebentar saja?" tanya Biru mengundang tawa Maya.
Maya mendorong dada bidang suaminya itu dan segera memberikan asi untuk anaknya. Sungguh terasa indah keluarga bahagia ini apabila tidak ada rahasia yang disembunyikan, sekarang Biru, Maya dan Ifraz yang berada di tengah itu tidur bersama.
****
Keesokannya, sebelum Biru berangkat bekerja, Maya meminta izin untuk menemui teman barunya.
"Mas, nanti aku jalan sebentar ya, aku punya teman baru, dia lagi butuh aku sekarang. Boleh?"
"Boleh, jangan lama-lama, kalau teman baru itu menyebalkan jangan mau berteman lagi dengannya, Ok!" perintah Biru seraya mengecup pucuk kepala Maya.
Maya pun mengangguk mengerti.
"Oia, kalau kamu mau ke rumah Ibu jangan lupa untuk memberitahu aku!" pesan Biru dan Pagi ini Biru mendapatkan senyum manis dari Maya yang mendapatkan izin untuk ke rumah Lisna.
Biru mengusap pucuk kepala Maya, lalu Biru meminta tas kerjanya yang masih berada di tangan Maya.
Lalu Maya memanggil Biru karena telah melupakan sesuatu.
"Mas, kamu melupakan sesuatu!" seru Maya lalu Biru kembali dengan tersenyum, Biru mengecup mesra bibir istrinya itu, tapi sayangnya bukan itu yang tertinggal.
"Lalu?" tanya Biru, dengan tersenyum Maya menunjuk Ifraz yang berada di stroller.
"Ya Tuhan. Maafin papah ya, Nak!" ucap Biru yang kemudian mengecup setiap inci wajah bayinya itu.
****
Beberapa jam telah berlalu, sekarang Hafizah sudah menunggu Maya di kafe yang tidak jauh dari hotel.
"Halo!" sapa Maya seraya duduk di kursi depan Hafizah.
"Mbak Maya selalu cantik!" puji Hafizah saat melihat Maya.
"Kamu bisa aja!" jawab Maya yang kemudian menjentikkan jarinya memanggil pelayan.
Seraya menunggu pesanan itu datang, Maya pun menanyakan apa yang telah mengganggu pikiran dan hati Hafizah.
"Sebenarnya bukan aku, tapi temanku!" jawab Hafizah, gadis itu tersenyum menyembunyikan kebenarannya.
"Astaga, saya kira itu kamu, coba ceritakan, aku tetap akan mendengarkan!"
"Begini, May. Aku punya teman, dia menikah tapi ternyata pria itu sudah beristri, menurut kamu gimana?"
"Ya gimana, itu namanya poligami," jawab Maya sedikit menahan tawa, takut akan menyinggung Hafizah.
"Gitu ya, terus menurut kamu, temanku itu harus bagaimana?"
"Ya, kalau suaminya bisa adil kenapa enggak? Kita juga kan nggak tau apa alasan mereka berpoligami kan?" kata Maya menatap Hafizah yang terlihat tegang.
Hafizah merasa sedikit lega mendengar jawaban dari Maya, karena Maya tidak memojokkan si istri keduanya.
Bersambung...
Jangan lupa diklik like, fav dan votenya ya, terimakasih. Jangan lupa tinggalkan bintang lima untuk karya ini .