Rizar Abran Maulana seorang pria tampan dan sholeh sudah jatuh cinta kepada seorang wanita cantik yang dia temui di sebuah pesta tapi wanita itu tidak menyadarinya, hingga suatu saat sahabatnya ingin menjodohkannya dengan adik kandungnya sendiri yang ternyata adalah wanita yang selama ini Rizar cari.
Jihan Addara Puteri seorang wanita cantik yang merupakan seorang artis dan model papan atas, Jihan yang biasa dipanggil Darra tidak menyangka kalau hidupnya sangat menyedihkan, disaat pacar yang dia cintai mengkhianatinya dan selingkuh dengan sahabatnya sendiri, sekarang Darra harus menerima perjodohan dengan pria yang sama sekali tidak dia kenal.
Akankah Rizar bisa membuat Darra jatuh cinta kepadanya dan menerima Rizar sebagai suami seutuhnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon poppy susan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Suami Menyebalkan
✈️
✈️
✈️
✈️
✈️
Darra tampak merentangkan kedua tangannya, tidurnya kali ini begitu sangat nyenyak. Darra melihat jam yang menempel di dinding kamar itu dan waktu sudah menunjukkan pukul tiga sore.
"Ya ampun, aku tidur lama banget," gumam Darra.
Darra mendudukkan tubuhnya dan menatap kamar yang saat ini dia tempati. Kamar yang tak begitu besar, tapi sangat bersih dan rapi. Darra menoleh ke atas nakas, disana ada foto Rizar bersama kedua orangtuanya.
Darra bangkit dari duduknya dan mengambil sebuah handuk dan baju ganti. Darra keluar dari kamarnya dan mencari letak kamar mandi.
"Kamar mandinya dimana sih?" gumam Darra.
Darra celingukkan, hingga akhirnya di dekat dapur Darra melihat sebuah pintu yang dia yakini itu adalah kamar mandi. Darra segera melangkahkan kakinya, di saat Darra ingin menarik handel pintu, ternyata dari dalam sudah ada yang membukanya.
Mata Darra melotot saat melihat Rizar keluar dari dalam kamar mandi dengan handuk yang hanya melilit di pinggangnya. Dengan cepat Darra menutup matanya dan membalikkan tubuhnya.
"Ya Ampun Mas, kenapa Mas tidak tahu malu banget keluar dari kamar mandi hanya memakai handuk," kesal Darra.
"Kenapa harus malu, di rumah ini kan ga ada siapa-siapa," sahut Rizar.
"Kan sekarang ada Darra, Mas."
"Terus kenapa? kamu sudah menjadi istriku sekarang, apa yang mesti malu," sahut Rizar mendekat ke arah Darra.
Jantung Darra semakin tidak bisa di kondisikan, tanpa melihat ke arah Rizar dia langsung masuk ke dalam kamar mandi. Rizar hanya terkekeh melihat kelakuan Darra yang menggemaskan itu, Rizar sangat suka menggoda Darra.
Setelah menyelesaikan mandinya, Darra pun keluar dari kamar mandi dengan wajah yang cemberut membuat Rizar yang saat ini sedang memasak sesuatu mengerutkan keningnya.
"Kamu kenapa? keluar dari kamar mandi langsung cemberut seperti itu?" tanya Rizar.
"Mas, tidak punya bathup ya di kamar mandi?"
"Aku mana kenal dengan barang-barang seperti itu, aku bukan orang kaya jadi di rumahku tidak ada barang-barang mewah seperti yang kamu sebutkan," sahut Rizar santai.
Darra hanya menghembuskan napas kasar...
"Kenapa? kamu mau aku pasang bathup di kamar mandi? nanti aku pasang, tapi-----"
"Nunggu kamu gajihan kan, Mas. Sudahlah tidak usah, kelamaan," ketus Darra.
"Maaf ya, Mas belum bisa membahagiakan kamu tapi Mas janji Mas akan bekerja keras lagi supaya bisa membeli barang-barang yang kamu mau," sahut Rizar dengan senyumannya.
Darra tidak menjawab...
Kruuuukkk...kruuuukkk...
Darra memegang perutnya karena merasa sangat lapar, sedangkan Rizar tampak menahan tawanya.
"Kamu lapar?"
Darra dengan wajah yang memerah pun akhirnya menganggukkan kepalanya lemah.
"Sini, Mas sudah masak kamu cobain."
Perlahan Darra menghampiri Rizar dan duduk di meja makan.
"Ini semua, Mas yang masak?"
"Iya, ayo coba masakan Mas."
Darra pun perlahan memasukkan satu suapan ke dalam mulutnya.
"Bagaimana?"
"Eummm...lumayan enak."
"Lain kali, kamu yang harus masak."
"Apa!! Darra ga bisa masak, Mas."
"Ya belajar dong, wanita itu harus pintar masak biar suami betah di rumah."
"Mas, Darra itu ga suka dengan bau bawang dan bumbu-bumbu lainnya. Lagipula kan sekarang serba gampang kali, Mas. Mau makan apapun tinggal pesan saja, ngapain ribet-ribet masak."
"Jangan menghambur-hamburkan uang, kalau di rumah sudah ada bahan-bahan untuk masak, ngapain pesan di luar. Mas ga suka masakan luar, Mas lebih suka masakan rumahan."
"Alah, bilang saja ga punya uang buat pesan makan di luar," batin Darra.
"Pokoknya Mas ga mau tahu, kamu harus belajar masak kan sekarang banyak tuh di internet, kamu tinggal mengikutinya saja."
Darra mendelikkan matanya ke arah Rizar..
Setelah selesai makan, Darra memainkan ponselnya sembari duduk di atas sofa. Sedangkan Rizar tampak mencuci piring dan gelas kotor.
Setelah selesai, Rizar menghampiri Darra dan duduk di samping Darra.
"Darra, Mas mau bicara sama kamu."
"Kalau mau bicara, ya bicara saja Mas," sahut Darra yang masih fokus dengan ponselnya.
Rizar menghela napasnya dan dengan cepat mengambil ponsel Darra.
"Ih, Mas apa-apaan sih? siniin ponsel Darra."
"Darra, Mas mau bicara."
"Ya kalau mau bicara, bicara saja ngapain ambil ponsel Darra segala."
"Mas ini suami kamu, Darra. Dan kamu sekarang sudah menjadi istri Mas, jadi tolong hargai Mas. Mas tidak suka kalau di ajak bicara, kamu malah fokus dengan ponsel kamu."
Darra melipat tangannya di dada...
"Oke...sekarang Mas mau bicara apa?" tanya Darra dingin.
"Besok Mas akan berangkat selama dua minggu, Mas ingin kamu harus menjaga sikap kamu selama Mas tidak ada, jangan berpakaian **** lagi di depan umum, Mas tidak suka."
"Tapi Mas, itu kan model zaman sekarang dan saat ini memang seperti itu model bajunya, lagipula kebanyakkan memang baju Darra kaya gitu," protes Darra.
"Ya sudah, makannya mulai sekarang kamu belajar memakai pakaian tertutup. Kamu tahu dosanya seorang wanita yang mengumbar auratnya di depan umum, apalagi saat ini kamu sudah menjadi istri Mas. Mas tidak mau keindahan dan kemolekan tubuh istri Mas dilihat oleh pria lain."
"Mas, Darra itu seorang artis dan model tentu saja pakaian Darra harus di sesuaikan dengan pekerjaan Darra."
"Kamu kan bisa minta kepada yang memberi kamu job untuk tidak memakai pakaian ****."
"Tapi Mas-----"
"Kalau kamu tidak mau menuruti keinginan Mas, lebih baik kamu berhenti saja menjadi artis."
"Apa!! Mas memang benar-benar suami yang menyebalkan," seru Darra dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
Darra merebut ponselnya dari tangan Rizar, setelah itu ia pun langsung masuk ke dalam kamarnya.
Rizar hanya mampu menghela napasnya, Darra memang masih sangat muda dan Rizar harus ekstra sabar menghadapi sikap kekanak-kanakkannya.
Sementara itu di dalam kamar, Darra tampak sangat kesal dengan ucapan Rizar sampai Darra harus meneteskan airmatanya.
"Dasar suami menyebalkan, tidak tahu apa kalau jadi artis itu adalah cita-citaku sejak kecil. Dia memang sudah menjadi suamiku, tapi dia juga tidak berhak buat ngatur-ngatur aku kaya gitu. Kalau aku berhenti jadi artis, memangnya dia sanggup apa membahagiakan aku, memberikan biaya untuk ke salon dan perawatan yang lainnya, belum lagi hobi aku yang suka belanja, gaji dia aja ga sebanding dengan penghasilanku. Sebel..sebel..sebel..." gerutu Darra dengan memukul-mukul bantal.
***
Keesokkan harinya...
Setelah sholat subuh, Rizar sudah siap-siap dengan pakaian yang sangat rapi. Rizar memang tidak pernah menunjukkan kepada semua orang kalau dirinya seorang Pilot bahkan semua tetangganya pun tidak mengetahui pekerjaan Rizar.
Setiap ada yang bertanya mengenai pekerjaannya, Rizar selalu menjawab kalau pekerjaannya hanya seorang sopir.
Tok..tok..tok..
"Darra, bangun yuk sudah siang. Kamu harus sholat dulu nanti waktu subuhnya keburu habis," seru Rizar di balik pintu kamar Darra.
Rizar terus saja mengetuk pintu kamar Darra, hingga akhirnya dengan mata yang masih terpejam dan rambut acak-acakkan, Darra membuka pintu kamarnya.
"Apa sih, Mas. Darra masih ngantuk."
Bukannya menjawab, Rizar hanya melongo melihat penampilan Darra. Bagaimana tidak, saat ini Darra hanya memakai hot pants dan tang top, bukan hanya terlihat sangat s*** dengan memperlihatkan p*** mulus dan putih tapi pandangan Rizar tidak lepas dari bagian d*** Darra.
Darra memang setiap tidur tidak pernah memakai b**, susah payah Rizar menelan salivanya. Bagaimana pun Rizar adalah seorang pria normal, apalagi ukuran d*** Darra yang terlihat menantang membuat Rizar semakin panas dingin dibuatnya.
"Ka--kamu sh--sholat du--lu, sudah siang," sahut Rizar terbata.
Dengan langkah gontai, Darra pun menuju kamar mandi sedangkan Rizar tampak mengusap wajahnya kasar.
"Astagfirullahaladzim, sabar..sabar.."
Darra keluar dari kamar mandi, Rizar berusaha tidak menoleh ke arah Darra, ia tidak mau sampai imannya runtuh gara-gara pemandangan indah di hadapannya.
Sementara itu, Darra belum menyadarinya. Darra langsung menjalankan kewajibannya, Darra di besarkan di keluarga yang sangat kental dengan agama tapi karena kesibukkannya, Darra kadang-kadang lupa dengan kewajibannya sebagai seorang muslim.
Setelah selesai sholat, Darra tidak sengaja menoleh ke arah cermin dan betapa terkejutnya dia melihat penampilannya sekarang.
"Astaga, dari tadi penampilanku kaya gini, berarti Mas Rizar-----"
Darra merutuki kebodohannya, dia memukul kepalanya sendiri.
"Bodoh..bodoh..aku malu banget, bagaimana ini mau di taro dimana mukaku."
Tok..tok..tok..
"Darra, bisa keluar sebentar! Mas, mau berangkat," seru Rizar.
Darra tersentak, dengan cepat Darra menyambar jaket dan segera memakaikannya. Perlahan Darra membuka pintu, Darra menundukkan kepalanya karena merasa malu dengan Rizar.
"Darra, Mas berangkat dulu. Ingat pesan Mas, kamu masih boleh shooting tapi kalau Mas pulang, Mas ingin kamu ada di rumah."
Darra masih menunduk dan menganggukkan kepalanya. Rizar mendekat ke arah Darra membuat Darra terkejut dan langsung menyilangkan tangannya di atas dadanya.
Rizar mencium kening Darra sangat lama, mbuat Darra lagi-lagi terkejut.
"Jaga diri kamu baik-baik, ingat lain kali kalau mau keluar dari kamar pakai pakaian yang benar jangan seperti itu lagi kalau kamu tidak mau aku khilaf, love you," bisik Rizar dengan mengedipkan sebelah matanya.
Rizar pun segera pergi meninggalkan Darra dengan menggeret kopernya dan masuk ke dalam taksi yang sudah di pesan. Darra masih bengong di tempatnya, jantungnya seakan mau copot.
"Astaga, kalau begini terus bisa-bisa aku punya penyakit jantung," gumam Darra.
✈️
✈️
✈️
✈️
✈️
Jangan lupa
like
gift
vote n
komen
TERIMA KASIH
LOVE YOU