Satu rumah dengan orang yang paling kita cintai, memang impian semua orang, tapi bagiku itu seperti neraka.
Bagaimana jadinya jika pernikahan yang seharusnya tumbuh karena cinta dan malah terjadi karena ketidaksengajaan.
Dan di satu rumah kan bersama orang yang kita sayangi namun berakhir tragis.
bagaimana kelanjutan kisahnya, jangan lupa untuk menambahkan ke favorit biar dapat informasi updatenya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Resti Fauziah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Brian
Bayangan 2 orang yang sedang berciuman terlihat jelas di tanah karena sorot lampu tepat mengenai tubuh mereka, namun tubuhnya terhalang pot besar setinggi 1 meter dan kalau di hitung dengan tanamannya mungkin kurang lebih sekitar 1,5 meter.
Saat aku mendekat untuk melihat siapa mereka tiba-tiba pot yang mereka jadikan tempat bersandar tergeser dan terlihat jelas itu danial dan zahra.
Tanpa mereka ketahui aku segera masuk ke aula menemui oma dan yang lainnya.
"Astaga, apa yang aku lihat? Kok bisa-bisanya danial berbuat hal serendah itu" Dalam hatiku masih terus berkecamuk antara rasa benci dan jijik pada danial.
"Ada apa zi?" Tanya bu yura.
"Ee..... Eeng.. Nggak kok" aku bingung harus bilang atau tidak, tapi aku juga gak mungkin merusak acara oma.
"Danial kemana sih kok lama banget ya, ini zahra juga pada ngapain sih" Oma terus memamggil mereka mungkin oma punya firasat tentang mereka.
Setelah beberapa saat akhirnya Danial dan zahra datang, aku yang melihat mereka merasa jijik dan mendadak ingin menjauh dari Danial sejauh mungkin.
Danial datang ke arahku dan tersenyum seperti tidak terjadi apa-apa.
"Eh zi, kamu bosan ya. Mending kita makan-makan aja yu!! Kan kamu belum makan" Ajak Danial sambil berusaha meraih tanganku, aku yang tau hal itu segera menghindarinya.
Danial pergi ke arah meja yang berisi makanan dan minuman, aku mengikutinya dari belakang dan akan bersikap biasa saja selama pesta ini karena aku menghargai oma.
"Zi, aaaaaaa" Danial memberikan sepotong kue dan aku mau tidak mau harus membuka mulut.
"Dan tadi kemana sama zahra" Aku mencoba bertanya pura-pura tidak tau.
"Oh tadi, zahra ngajak itu foto bareng" Danial mencoba membuat alasan.
"Oh" Jawabku singkat, namun aku sangat tau kamu berbohong Danial.
Ingin sekali aku menangis dan menampar pipinya, bisa-bisanya dia mengajaku kesini dan malah bermain dengan wanita lain, untuk apa dia melanjutkan perjodohan ini kalau dia masih punya rasa dengan orang lain.
"Dan, udah malem aku pulang duluan ya" Aku mencoba pamit pada Danial karena aku sudah sangat jijik berdekatan terus dengan dia.
"Eh kan acara intinya belum mulai, bentar lagi kok mulai, masa kamu gak mau liat aku d angkat jadi pewaria adijaya" Danial dengan percayanya selalu menyombongkan diri.
Aku tidak menjawab lagi dan hanya mengangguk kecil.
"Cek cek.. Baik selamat malam semuanya terimakasih sudah hadir dalam acara ini............ " Terdengar MC sudah memulai acaranya dan orang-orang mulai merapat mendekat ke arah panggung kecil di aula.
"Zi, sebentar lagi aku menjadi pewaris loh, dan nantinya kamu juga akan jadi orang berpengaruh di adijaya karena kamu istri aku" Lagi-lagi danial berkata dengan sombong padahal belum tentu juga itu terjadi.
"Ya bagi aaku sih kekayaan harta dan tahta gak penting ya, lebih penting tentang ahlak prilaku dan tatakrama dan yang lebih utama rasa saling menghargai dan menghormati" Ucapku sambil agak menyindir danial, entah dia tersindir atau tidak.
"Tapi kan, aku lebih mencintai kamu" Jawabnya dengan cepat.
"Ya cinta gak penting danial. Pernikahan tanpa cinta bisa saja terjadi karena cinta akan timbul dengan sendirinya nanti" Danial sedikit tertegun mendengar penjelasanku entah dia tersindir atau apa aku gak peduli lagi.
"Sebelum kita mengumumkan siapa pewaris adijaya selanjutnya, mari kita sambut bapak arham pemilik adijaya sekaligus yang akan mengumumkan siapa pewarisnya" MC mempersilahkan pak arham ayah Danial untuk maju ke atas panggung.
"Malam semuanya, apa kabar?. Pada malam ini saya sangat berterimakasih atas kehadirannya dan bila ada kesalahan dalam acara ini mohon di maklum karena ini acara mendadak sekali, awalnya saya tidak berniat mengumumkan hal ini sekarang, tapi karena beberapa hal saya mau tidak mau harus mengumumkannya segera" Kata pak arham memberikan sambutan.
"Untuk pewaris adijaya selanjutnya saya akan berikan kepada..... NOKU keponakan saya, kepada NOKU di persilahkan naik ke atas panggung untuk memberikan beberapa kata" Pak arham mengumumkan tujuannya dan bergegas turun dari panggung.
"Kenapa sih bukan aku, kenapa malah dia yang jadi pewarisnya, padahal aku anaknya" Ucap Danial tidak Terima.
Om NOKU adalah om danial, anak dari omanya Danial. Dan aku baru mengetahuinya sekarang, sebelumnya aku belum pernah bertemu dengan dia bahkan tidak mengenal wajahnya sama sekali.
Om noku menaiki panggung dengan mengenakan setelan jas hitam dan kemeja putih. Karena dia memakai masker hitam aku belum melihat wajahnya dengan jelas, dia berbalik menghadap para tamu undangan dan melepaskan maskernya dan begitu dilepas ternyata oh ternyata dia Brian mantan karyawan magang di perusahaan pak yoga.
"Dikeluarga ini kenapa selalu membuatku kaget sih, aneh-aneh aja tingkahnya" Aku berbicara dalam hati.
"Malam semuanya, puji dan syukur saya panjatkan pada Tuhan yang Maha Esa............... (Panjang ya prakata nya, author malas ngetiknya, hehehe)......... Terimakasih kepada om arham yang sudah memberikan kepercayaanya kepada saya, dan saya berjanji akan membuat adijaya lebih baik lagi" Dia berkata sambil menatap ke arahku, aku yang risih dengan itu langsung pergi ke arah oma juga meninggalkan Danial sendirian.
Om NOKU ( Brian ) dia turun dari panggung dan menghampiri oma.
"Bu, terimakasih. Tapi nanti aku gak bisa terus-terusan pegang perusahaan adijaya, aku juga punya kesibukan lain" Kata Brian.
"Kamu punya kesibukan apa sih?, lebih baik kamu cari pendamping hidup biar gak kabur-kaburan terus kaya Danial" Ucap oma dengan ketusnya.
"Oma gak usah khawatir, calon mantu oma udah ada kok, tapi dia baru aja di pecat sama atasan aku, jadi ya aku gak tau dia sekarang dimana" Ucap Brian sambil menatap ke arahku, aku yang sedang minum mendadak keselek mendengar itu.
"Ya ampun zi, Hati-hati" Kata Danial yang entah dari kapan berada di sampingku.
Aku tidak menjawab apapun karena masih syok dan belum bisa mengerti dengan kejadian-kejadian aneh di malam ini.
Pertama melihat Danial ciuman dengan zahra dan yang kedua kenyataan bahwa Brian adalah om NOKU pewaris adijaya, lalu kenapa dia bekerja di perusahaan pak yoga? Entahlah banyak pertanyaan-pertanyaan yang terus timbul dibenaku.
Zahra datang menemui Danial dan mengajaknya pergi entah kemana, Danial dengan bodohnya meninggalkanku sendirian ditambah oma dan yang lain sudah pergi ke ruangan lain, yang tersisa hanya aku dan Brian.
"Zi, kamu dateng kesini sama siapa? " Tanya Brian basa-basi.
"Sama Danial" Jawabku singkat.
"Kok bisa sama Danial? " Tanyanya heran.
"Dia calon suamiku" Aku kembali menjawabnya dengan singkat. Brian seperti kaget dan baru mengetahui hal itu sekarang.
"Oh" Jawabnya singkat.
"Brian, kamu kan pewaris perusahaan adijaya perusahaan besar kenapa malah magang diperusahaan pak yoga? " Tanyaku langsung tanpa basa-basi.
"Perusahaan pak yoga, itu perusahaan yang aku rintis dari bawah. Dan aku sengaja melakukan itu, aku sengaja magang agar tau bagaimana etos kerja karyawanku selama ini" Jawabnya dengan santai sambil tersenyum.
Brian sepertinya seumuran denganku dan wajahnya bisa dibilang sangat-sangat tampan di banding dengan Danial. Apalagi kalau senyum manisnya gak ketolong.
"Tapi kan kemarin perusahaan sempat mengalami masalah, kenapa kamu diam aja dan masih memercayakannya pada pak yoga? " Tanyaku heran.
"Aku sengaja, dan yang terjadi tidak seperti itu . Perusahaan baik-baik aja, dan tidak ada masalah apapun" Katanya dengan tersenyum.
"Terus pegawai yang di PHK? Bagian keuangan yang korupsi? Dan pinjaman dari perusahaan adijaya? Apa semua itu? " Tanyaku terus karena merasa aneh.
"Pegawai semuanya tidak ada yang di PHK mereka aku sengaja pindahkan ke perusahaan cabang yang baru. Dan bagian keuangan dia orang yang bersih dan aku juga memindahkan dia. Untuk pinjaman dari adijaya aku sengaja karena aku gak mau kamu kerja dengan begitu keras" Brian menjelaskan dengan detail.
"Ya kan kalo aku kerja dengan maksimal kan harusnya kamu bangga dong kan itu juga bisa meningkatkan perusahaan" Kataku dengan spontan.
"Ya aku gak mau kamu sakit-sakitan hanya karena kerjaan. Kalo kamu lagi stres mikirin kerjaan kamu suka makan makanan pedas dan itu bahkan setiap hari aku gak suka liatnya" Brian sama seperti Danial selalu berpikir lebih jauh dan bahkan banyak tindakan-tindakan diluar dugaan seperti yang Danial lakukan.
"Jadi aku panggil kamu Brian atau om NOKU? " Tanyaku.
"Terserah tapi yang perlu kamu tau keluarga aku tidak tau menau soal Brian" Jawabnya lagi.
Aku mencoba memahaminya, namun masih banyak pertanyaan yang mengangguku.
"Boleh gak aku bertanya satu kali lagi? " Tanyaku dengan sedikit tertawa.
"Boleh silahkan" Jawab brian.
"Aku masih belum mengerti kenapa adijaya bisa memberikan pinjaman hingga aku dipecat? " Tanyaku dengan sedikit ragu.
"Oh itu, kan waktu itu kamu memberikan beberapa file pada pak yoga, dan pak yoga memercayakan semuanya sama kamu. Dan kebetulan perusahaan yang kamu pilih adalah perusahaan om arham. Dan kebetulan juga waktu itu danial yang mengurusnya karena om arham lagi diluar negeri, waktu itu kan kamu berangkat sendiri ke kantor adijaya, sebetulnya aku juga hadir di ruangan itu memerhatikan kamu. Dan dengan adijaya tidak ada sangkut paut apapun hanya sekedar perjanjian saja bahkan tidak ada bukti tertulis. Dan waktu kamu di pecat aku yang menyuruh pak yoga mecat kamu, maaf zi" Tutur Danial sambil memberikan kotak kecil padaku.
"Apa ini? " Tanyaku penasaran.
"Nanti aja dibukanya kalo udah sampe rumah" Katanya sambil berlalu pergi meninggalkanku.
Aku melihat kotak itu dengan penasaran kemudian memasukannya ke tas.
Jam menunjukan pukul 22.00 dan sudah larut malam juga, aku dan Danial pulang di temani zahra yang ikut menumpang.
Aku duduk di depan Danial dan zahra di belakang, entah dia masih menyukai Danial entah apa yang jelas dia selalu mencari perhatian Danial.
Bahkan saat di jalan, dia tidak henti-hentinya membicarakan masa saat mereka pacaran dulu, ya gimana aku enggak muak mendengarnya coba.
Aku membuka tas mengambil ponsel tidak sengaja melihat kotak kecil pemberian Brian, aku tersenyum kecil melihatnya dan kembali menutup tas.
Aku melihat notifikasi di ponsel ternyata Brian menelpon beberapa kali, dan bahkan mengirimkan beberapa pesan.
✉️ "zi udah sampai? "
✉️ "aku telpon ya? "
✉️ "zia sayang"
Aku kaget melihat pesan terakhirnya, sontak membuat danial penasaran dan merebut ponselku.
"Kamu apa-apaan sih? " Tanya Danial dengan nada membentak dan menepikan mobilnya kepinggir jalan.
"Kamu yang apa-apaan kenapa maen rebut aja" Kataku merasa tidak enak karena sudah merebut privasiku.
"Kamu punya laki-laki lain? " Tanyanya.
"Apa? Ya gak mungkinlah" Aku mencoba membantah ucapan Danial.
"Ini apa? " Tunjuknya pada pesan yang di kirimkan Brian.
"Siapa Brian? Pacar kamu? " Danial terus bertanya sambil membentaku.
Aku tidak mampu menjawab apapun pertanyaan Danial, mataku mulai berkaca-kaca. Hatiku mulai sakit pikiranku tidak bisa berpikir jernih di tambah zahra dari belakang yang terus memanas-manasi Danial.
"Ya ampun dan, kamu tuh ganteng, kaya lagi ngapain sih ngejar-ngejar cewe kayak begini yang gak tau cara ngehargain kamu" Kata zahra dari belakang.
Aku merebut ponsel yang dipegang Danial dan beranjak turun dari mobil.
"Ya udah makasih untuk semuanya, hubungan kita cukup sampai sini saja kita gak perlu melanjutkan perjodohan ini, dan aku akan naik taxi dari sini, makasih" Ucapku sambil membuka pintu mobil.
Danial tidak mencegahku turun itu tandanya dia sangat mempersilahkan aku turun.
Danial tidak menoleh atau bertanya apapun dia langsung menancap gas dan pergi meninggalkanku.
Sekarang aku bingung, ini entah ada dimana karena aku tidak mengetahui jalan ini sebelumnya ditambah jalanan sudah mulai sepi karena sudah larut malam. Aku berusaha berjalan dengan high heels yang tinggi ditambah dress yang pendek menambah rasa dingin ditubuhku.
Drrrttt
Drrrrtttt
Drttttt
Sering telpon berbunyi dari ponselku dan begitu aku lihat ternyata telpon dari brian. Aku mengangkatnya dengan ragu.
"Ada apa? " Tanyaku dengan masih terus menangis.
"Kamu kenapa? " Tanya Brian dengan nada khawatir.
"Baik-baik aja" Aku menjawab seasalnya, bagaimanapun juga ini semua karena dia yang mengirimkan pesan tadi.
aku menutup telpon dan terus berjalan tanpa memedulikan apapun lagi.
Tiba-tiba ada sebuah mobil yang menepi mendekatiku.
Kaca mobil diturunkan dan ternyata itu Brian dengan oma.
"Loh zia" Kata Brian tidak menyangka melihatku berada di tepi jalan.
Aku hanya tersenyum menjawabnya.
"Kamu ngapain disini, Danial kemana? " Tanya oma.
"Iiiii..itu daa..danial pulang duluan katanya ada urusan penting" Aku sengaja berbohong karena gak mungkin aku bilang aku diturunin di sini oleh Danial.
"Ya udah ayo masuk, biar oma anterin ke rumah kamu" Kata oma dengan ramahnya.
"Gak perlu oma, aku udah pesen taxi kok, ini juga lagi nungguin taxi sekalinya jalan" Kataku membuat alasan, padahal aku belum memesan apapun.
"Ya udah nuko kamu temani zia ya. Oma biar pulang sama supir aja, nanti biar oma yang bilang sama danial" Oma menyuruh Brian turun.
"Gak perlu oma, kalian pulang aja ini juga udah malem. Oma harus istirahat" Kataku sambil menyeka air mata.
Oma dan Brian berbisik entah mendiskusikan apa, tapi setelah itu Brian langsung turun dari mobil.
"Oma duluan ya, aku ada yang harus di urusin dulu" Kata Brian pada oma.
"Ya udah hati-hati ya. Oma duluan" Oma berkata sambil menutup kembali kaca mobil dan pergi meninggalkan aku dan Danial
Keadaan menjadi canggung, aku terus berjalan diikuti oleh Danial.
"Zi, sebenarnya ada apa? " Tanyanya dengan lembut.
Aku tidak menjawab hanya geleng-geleng kepala sambil menunduk dan terus berjalan.
"Zi, kamu gak perlu sungkan bicara sama aku. " Brian maju selangkah kedepan menghentikanku dan aku refleks mengangkat kepala menatapnya.
Mataku kembali berkaca-kaca mengingat kejadian tadi saat Danial membentaku.
"Tadi waktu kamu kirim pesan ponselku di rebut Danial dan dia marah" Aku mencoba menjelaskan kejadian itu pada Brian.
"Terus itu alasan dia menurunkan kamu disini? " Tanyanya.
"Aa..aku yang minta tu..run karena dia te..terus membentak..ku ditambah za..hhra yang terus memanas-manasi" Kataku sesegukan sambil menangis.
"Maaf zi, aku gak maksud buat kamu kayak gini" Brian menggenggam tanganku mencoba menenangkan.
Aku yang terus menangis tidak bisa menahan air mataku sendiri, Brian mengusap kepalaku dan memeluku, kini aku menangis dipelukan Brian.
*
semangat terus up nya,, ceritanya bagus 😍💪
-cinta jangan datang terlambat
-ternyata itu cinta