Blurb :
Seorang dokter muda, tanpa sengaja bertemu dengan gadis SMA.
Gadis tanpa orang tua itu diam-diam mengidap satu gejala penyakit yang berbahaya jika terlambat ditanganinya.
Mereka kembali dipertemukan sebagai pemilik dan penyewa rumah yang akhirnya terpaksa harus tinggal bersama.
Bukan hanya cerita tentang Dokter dan pasien-nya, melainkan ada kisah cinta di antara dua manusia yang berbeda usia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mbu'na Banafsha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menangislah
Setelah salat magrib, Luthfie segera menemui Shasha di kamarnya karena sudah berjanji akan membantu memindahkan barang-barang ke lantai atas.
"Banana ..., " panggilnya sambil membuka pintu kamar. Seketika Shasha menoleh karena mendengar gayanya yang khas saat memanggil nama itu. Shasha mengerutkan dahinya sambil bertanya dalam hati.
"Kenapa, sih, dia tidak pernah mau memanggil namaku dengan benar? Banana aja yang dia ingat di kepalanya."
"Bolehkah aku masuk? Aku mau bantu kamu pindahin barang-barang."
"Masuk saja," jawabnya. Di atas meja belajar, Luthfie melihat ada foto keluarga dengan formasi yang lengkap. Itu mungkin keluarga Shasha sewaktu masih kecil pikir Luthfie yang langsung bisa menebaknya. "Tapi ... di mana mereka berada? Kenapa tidak ada di rumah ini?"
"Ini ... orang tuamu?"
Dengan ragu-ragu Luthfie memberanikan diri untuk bertanya, karena dia penasaran tidak pernah melihat sosok mereka di sini.
"He'em," jawabnya dengan singkat bahkan tanpa menoleh.
"Bolehkah aku bertanya sesuatu tentang mereka?"
"Kak ... aku tahu kamu mau tanya apa. Pasti ingin bertanya tentang keberadaan mereka 'kan?"
Pertanyaan itu di jawab Luthfie dengan anggukan, dia merasa ini sangat sensitif dan ia merasa takut ada yang salah dengan ucapannya nanti.
"Mereka sudah meninggal lima tahun yang lalu," jawab Shasha dengan mata berkaca-kaca. Namun, bibirnya tetap berusaha tersenyum mengingat kenangan masa kecilnya bersama orang tua.
"Apa mereka sakit?"
Shasha menggelengkan kepalanya sambil tertunduk.
"Kecelakaan maut." Dia menjawab dengan suara yang ringan.
"Lalu, kakakmu meninggalkanmu begitu saja?"
"Aku yang memintanya untuk tidak terlalu mengkhawatirkanku, karena dia harus tetap bekerja. Walau bagaimana pun, dia harus menanggung biaya hidupku selama ini."
"Hidup seorang diri seperti ini, apa kamu tidak merindukan mereka?"
Pertanyaan bodoh seperti ini terlontar begitu saja. Bagaimana tidak bodoh, pertanyaan itu membuat Shasha tidak mampu menyembunyikan perasaan yang sebenarnya. Tiba-tiba Shasha lari ke kamar mandi karena tak ingin menangis di depan orang lain.
"Akh ... benar saja ternyata pertanyaan ini tidak seharusnyanya aku lontarkan?" batin Luthfie merutuki dirinya sendiri.
Dan pecahlah tangisan Shasha di dalam kamar mandi. Luthfie mengikutinya lalu menepuk pundak Shasha yang dengan sekuat tenaga berusaha menahan tangisnya.
"Aku mohon maafkan aku. Aku tidak bermaksud membuat kamu nangis seperti ini. Aku janji tidak akan membahas masalah ini lagi. Maaf ...." Luthfie benar-benar merasa bersalah.
Setelah jauh lebih tenang Shasha kembali berbicara. Sebelum malam ini, dia tidak pernah menangisi apa pun dalam hidupnya. Dia hanya tiba-tiba teringat dengan perbuatan Mira--tante yang tidak pernah memperlakukannya dengan baik, bahkan pada anak yatim seperti dirinya. Dia baru menyadari bahwa hidup tanpa orang tua, begitu menyedihkan.
"Sepertinya ... aku memang harus sering menangis. Dengan begitu perasaanku menjadi jauh lebih baik seperti sekarang." Shasha tersenyum sambil mencuci mukanya yang sembab.
"Memangnya selama ini kamu tidak pernah menangis?"
Shasha menggelengkan kepalanya.
"Aku tidak mau orang-orang mengasihaniku sebagai anak yang lemah. Apa pun itu, aku selalu berusaha untuk tidak menagisinya bahkan ketika orang tuaku meninggal aku tetap menahannya supaya air mata ini tidak berjatuhan. Dan ini adalah kali pertama aku menangis di depan orang asing, rasanya memalukan sekali, tapi aku tidak menyesal karena ternyata beban yang terasa berat seperti hilang dari pundakku," ucapnya dengan lega seakan-akan dia berubah menjadi sebuah kapas yang sangat ringan.
"Banana, gadis kecil yang selalu berusaha terlihat kuat padahal sebenarnya dia rapuh."
"Kamu memang gadis yang sangat kuat, tapi saat kamu ingin menangis, kamu cukup menangis sekeras-kerasnya, dengan begitu bebanmu akan terlepas ke udara. Berjanjilah padaku untuk tidak lagi menahannya, suatu hari nanti jika kamu ingin mengatakan sesuatu, aku siap mendengarkanmu."
Shasha mengangkat wajahnya seraya memicingkan mata ke arah Luthfie."
"Hey, untuk alasan apa aku harus mendengar kata-katamu? Aku belum begitu mengenalmu, bagaimana aku bisa percaya begitu saja?"
"Ahh, iya. Benar juga ucapan gadis ini. Dia benar-benar tidak mengenalku saat ini. Mana mungkin dia percaya begitu saja, jika aku ingin sekali peduli padanya. Jika dia tidak mudah salah paham, mungkin aku sudah memeluknya saat dia menangis seperti tadi."
"Apa aku seperti ... harimau? Serigala? Kamu takut aku akan memangsamu 'kan? Hmm," ucap Luthfie yang sengaja menakuti Shasha dengan suara menggeram seraya mengangkat kedua tangannya menirukan hewan buas yang akan menerkam, dengan sorot mata bulat yang melotot.
Shasha terhentak ketakutan setengah berteriak. "Hentikan! Itu tidak lucu." Dia menggeser tubuhnya lalu keluar dari kamar mandi.
"Hahaha ... aku tidak menyangka strong girl seperti kamu ternyata bisa takut juga."
"Tenang saja, aku bukan hewan buas, kok," sambungnya. "Aku pikir kamu benar-benar kuat dan pemberani, karena selama ini kamu tinggal di rumahmu yang besar seorang diri." Luthfie turut keluar dari kamar mandi.
"Ehhh ... tadi itu kan aku bukan takut, tapi hanya terkejut saja." Shasha kembali membereskan barang-barangnya. "Tapi ... kalo di pikir-pikir, aku memang harus takut juga sama kamu, Kak. Mulai besok aku mau ajak Sita nginep di sini," ucapnya sambil mengangkat telunjuk.
"Ya, itu bagus. Aku malah senang kamu membawa temanmu, jadi kamu gak akan kesepian lagi," ucap Luthfie tersenyum.
"Apa aku terlihat seperti anak yang kesepian? Aku rasa tidak, karena masih ada tante sama sepupuku di rumah sebelah."
"Ya, kamu memang punya tante dan sepupu, tapi coba diingat-ingat lagi, apa mereka itu baik padamu?" Luthfie tersenyum sinis mengingat Mira yang tega menyewakan rumah ini tanpa sepengetahuan Shasha. "Aku gak yakin" ucapnya pelan.
~BERSAMBUNG~