NovelToon NovelToon
Silence

Silence

Status: tamat
Genre:Tamat
Popularitas:466.5k
Nilai: 4.8
Nama Author: Yen Lamour

WARNING 21+

Tidak ada seorang anak yang ingin menjadi Broken Home. Menjadi utuh lagi adalah impian Rayla Pramanta, seorang anak perempuan yang ditinggalkan sang Ayah ketika berumur 12 tahun dan kurangnya perhatian kasih sayang dari sang Ibu menyebabkan hubungan antar Ibu dan Anak seringnya berakhir dengan pertengkaran.

Seolah semua itu belum cukup, sahabat sekaligus menjadi cinta pertamanya juga tiba-tiba meninggalkan dirinya tanpa penjelasan apa-apa. Rasa takut kehilangan orang yang disayangi, juga takut menikah karena dampak dari pertengkaran kedua orang tuanya, membuat dirinya tertutup. Luka demi luka terus menemani dirinya hingga Rayla merasa semakin putus asa.

Dapatkah Rayla bertahan menjaga kewarasannya setelah mengetahui rahasia dibalik pertengkaran kedua orang tuanya? Apakah Rayla dapat memaafkan Ayahnya ketika akhirnya mereka bertemu kembali? Lalu, kepada siapakah Rayla membiarkan hatinya berlabuh dan mengatasi traumanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yen Lamour, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6

Happy reading 📖📖 guys

Aku sudah bersiap melepas seat belt ketika tangan Erik menarik lenganku dan bertanya dengan pelan, “Apakah kamu sudah memaafkan aku?”

Aku menatapnya sejenak, lalu menghela napas. ”Don’t ever never doing like that again!”

Erik mengangguk kepalanya dengan cepat. “I’m promise. Never!”

Aku berusaha menarik bibir, memberinya senyuman. Namun, sepertinya bibirku sulit untuk digerakkan.

“Titip salam untuk Hendarta. Enjoy your party.” Lalu aku membuka pintu mobil dan beranjak turun.

Aku menghela napas dengan berat ketika sudah berada di dalam rumah. Aku tidak akan pernah siap untuk menikah. Apakah ada pria yang bersedia seumur hidupnya hanya menyandang status sebagai kekasihku?

Tindakan Erik tadi juga telah menyadarkan diriku pada satu hal, yaitu aku juga tidak akan pernah siap memberikan diriku kepada pria mana pun karena aku menemukan ketakutan yang lain.

“Rayla?” Suara Maylin membuatku sadar dari pikiranku.

“Tumben lo sore-sore sudah pulang? Ada apa? Wajahmu terlihat tidak seperti biasanya. Apa sesuatu telah terjadi?” Maylin menatap wajahku dengan khawatir.

“Tidak ada apa-apa. Erik ada acara bersama temannya. Jadi, dia mengantar gue pulang lebih dulu,” jawabku sambil berusaha mengatasi panik.

“Oh ya, malam ini gue menginap di rumah Agatha. Suaminya dinas keluar kota. Dia meminta gue menemaninya karena kesepian.”

Maylin mengangguk. “Ok. Gue dan Darwan sebentar lagi juga mau pergi. Tante Fifi pergi reuni dengan temannya dan malaman pulangnya.”

“Kalau begitu, gue makan malam di rumah Agatha saja. Gue mau ambil barang dulu.” Aku segera melangkahkan kakiku ke arah kamar, tapi suara Maylin membuat langkahku terhenti.

“Kalau memang ada masalah jangan di pendam sendiri, La. Apa gunanya adik lo ini kalau lo tidak mau berbagi masalah lo dengan gue?”

Aku memutar kepalaku ke arahnya yang sedang menatapku. Sambil tersenyum aku menjawab, “It’s ok. Semua berjalan dengan baik. Kalau memang ada masalah, gue pasti cerita, Lin.”

“Semoga semuanya memang berjalan baik. Lo tahu kan, kalau lo bagian terpenting dalam hidup gue?”

“Gue tahu.” Kemudian aku buru-buru berjalan masuk ke dalam kamar.

Aku tidak ingin Maylin mengetahui apa yang ada di pikiranku tadi. Aku tidak mau memberinya beban. Ini adalah masalahku. Biar aku sendiri yang menanggungnya.

*****

Sejak trimester pertama kehamilan, Agatha tidak lagi memasak karena setiap menghirup aroma masakan apa pun membuatnya mual.

Oleh karena itu, Peter mempekerjakan Asisten Rumah Tangga untuk mengerjakan pekerjaan rumah dan memasak.

Berhubung karena hari ini ART mereka sedang libur, Agatha pilih memesan Go Food untuk makan malam kami.

“Sudah tahu jenis kelaminnya cewek atau cowok?” Aku melirik ke perut Agatha yang makin membesar.

“Cewek,” jawab Agatha sambil memasukkan potongan ayam goreng ke dalam mulutnya.

Jika Peter tahu istrinya sedang menyantap makanan itu, dia akan segera membuang semua ayam goreng ini ke sampah.

Sejak Agatha dinyatakan positif hamil, Peter menjadi sangat protektif. Termasuk persoalan makanan.

“Lo tidak terlihat sedih di tinggal Peter pergi dinas, deh, Tha. Malah gue perhatikan, lo sepertinya menikmati banget Peter tidak ada di rumah,” sindirku yang melihat Agatha dengan lahapnya menggigit dan mengunyah ayam goreng yang ada di tangannya itu.

“Tentu saja sedih, tapi sekarang gue nikmatin dulu makanan ini. Kalau ada Peter pasti dilarang. Lo tidak mengerti bagaimana rasanya saat lo ngidam sesuatu tapi tidak bisa kesampaian karena yang gue ngidam itu makanan junk food. Makanan yang tidak sehat, kata Peter.”

Aku tertawa. “Jelas gue tidak mengerti. Gue belum pernah hamil.”

“Makanya, buruan sana nikah! Biar cepat-cepat hamil. Erik bukannya sudah mau kepala empat? Suruh dia cepatan ajak lo merit!”

“Kenapa gue yang suruh? Seharusnya pria duluan yang melamar, dong!” jawabku.

“Kayak lo bersedia dilamar saja. Sudah berapa mantan yang lo tolak begitu mereka melamar lo? And then, mereka memilih putus sama lo,” sindir Agatha yang hanya kubalas dengan tawa.

Ya. Beberapa dari mantanku memilih untuk memutuskan hubungan kami karena aku menolak lamaran mereka di hadapan teman-teman kami.

Jika karena mereka merasa malu dan sakit hati, itu bukan salahku. Mereka bisa memilih waktu yang pas untuk melamarku, misalkan saat kami sedang kencan berdua.

Maka ketika aku menjawab, 'maaf, aku tidak bisa menikah', mereka tidak perlu malu karena tidak ada saksi mata lain yang tahu tentang penolakan dariku.

Agatha mencuci kedua tangannya setelah menghabiskan sepuluh potong ayam goreng.

Kalau sampai Peter tahu soal ini, dia pasti akan membunuhku karena aku telah membuat calon anaknya kehilangan gizi.

“Erik bilang akan menikah dengan gue setelah dia kembali dari Aussie,” tuturku kemudian.

Agatha menoleh ke arahku dengan wajah terkejut. Dia duduk di depanku dan menatapku dengan tatapan ingin tahu.

“Gue menjawab, masalah itu akan dibicarakan lagi setelah dia kembali.”

“Dan lo akan menolaknya, lalu putus dengannya.” Agatha dapat menebak selanjutnya.

“Kami berdua tidak cocok, Tha. Terutama mamanya. Mereka menilai seseorang dari bobot, bebet, dan latar belakang keluarga,” ucapku kesal.

Aku masih ingat tatapan menilai dari mamanya Erik, pada saat acara makan malam kemarin.

“Gue memang belum pernah ketemu Erik, tapi gue yakin kalau keputusan lo yang ini tepat. Belum ketemu dia saja gue sudah ilfeel padanya. Bukan karena perbedaan umur kalian, tapi karena gue merasa dia terlalu dominan. Selalu mengambil keputusannya sendiri. Dia tidak pernah menanyakan pendapat lo, kan?” ucap Agatha

Aku membalasnya dengan anggukan kepala.

Agatha adalah sahabatku sejak SMP. Dia tahu tentang papa yang meninggalkan kami pada saat itu. Dia telah banyak membantuku dengan menghiburku dan menemaniku saat aku terpuruk dari kesedihan.

Sahabatku yang lainnya adalah Bella dan Jason. Kami bersahabat dengan mereka ketika kami masuk SMA.

Kami berempat seperti permen karet yang menempel satu sama lainnya. Selalu bersama ke mana-mana dan sering membuat kegaduhan di ruang praktik.

Sampai akhirnya wali kelas kami memutuskan untuk memisahkan kami ke kelas yang berbeda. Aku sekelas dengan Jason. Agatha sekelas dengan Bella.

Dari situlah aku dan Jason semakin akrab hingga aku tidak menyadari bahwa persahabatan yang kami bangun telah lahir sebuah perasaan lain.

“Bella ke mana? Lo tidak menghubunginya?” Aku baru teringat sampai sekarang Bella masih belum muncul.

Agatha menggeleng. Dia menarik napas berat. Dengan raut wajah sedih, dia menceritakan tragedi yang sedang menimpa Bella.

“Kekasihnya menghamilinya dan tidak mau bertanggung jawab. Bella ketakutan. Dia tidak ingin kedua orang tuanya tahu. Karena itu, Bella meminta Jason menemaninya ke Dokter kandungan untuk aborsi. Namun, saat aborsi sedang berlangsung, Bella yang masih dalam keadaan sadar karena memang tidak di perbolehkan melakukan pembiusan saat melakukan aborsi, tiba-tiba terjadi pendarahan.”

“Dokter mengatakan karena Bella merasa tertekan dan ketakutan sehingga mengakibatkan pendarahan. Nyawa Bella hampir saja melayang. Untungnya Dokter berhasil menangani pendarahan tersebut dan sekarang Bella sedang dirawat di rumah sakit.”

Air mata menetes keluar dari kedua mataku. Aku merasakan penyesalan karena baru sadar sudah berapa lama kami bertiga tidak berkomunikasi.

“Maafin gue, Tha. Selama ini gue sibuk dengan Erik sampai melupakan kalian. Bahkan, masalah berat yang sedang menimpa Bella pun gue tidak tahu.”

“Bukan salah lo, La. Bella meminta gue jangan menceritakan masalahnya kepada lo. Dia tidak mau hubungan lo dan Erik terganggu karenanya.” Agatha menggenggam tanganku dengan erat.

“Kalian sahabat gue. Masalah apa pun yang terjadi pada kalian, juga menjadi masalah gue. Kalau harus memilih antara Erik dengan kalian, gue jelas pilih kalian,” jawabku

“Kita tahu kalau lo tidak suka diatur. Jadi, saat Erik muncul dengan sifatnya yang terlalu dominan dan lo terlihat tidak keberatan, kita pikir kalau Erik berhasil mencuri hati lo dan mau terikat pada pernikahan.”

“Berpacaran bukan berarti harus menikah, kan?” kilahku.

“Jason sudah punya calon tunangan, La. Apa lo masih mau terus menunggunya sampai perawan tua?” tukas Agatha.

Dia menatapku dengan tajam. Agatha tahu tentang perasaanku terhadap Jason. Perasaan yang baru ku sadari saat kehilangan dirinya.

“It’s not about Jason, Tha. The problem it’s me,” gumamku pelan.

“Tidak semua pernikahan berakhir buruk, La.”

“Prove me then, start with yours,” jawabku dengan suara getir.

Agatha memasang wajah masam. “Dasar kepala batu!”

Suara ponselku tiba-tiba berbunyi. Erik mengirim pesan. Aku tidak berniat membukanya.

Kutaruh kembali ponselku di meja, tapi Agatha yang kurang sopan santun sejak menjadi ibu hamil, malah mengambil ponselku lalu membuka isi pesan dari Erik dan membacanya dengan suara keras.

Erik: Beb, kamu belum tidur, kan? Aku masih di tempat party. Hendarta mabuk berat. Aku bertanggung jawab mengantarnya pulang nanti. Sepertinya akan sampai larut malam. Jangan menunggu telepon dariku.

Erik: Oh ya, sebelum aku berangkat ke Aussie, aku ingin melihatmu. Besok malam aku mau video call. Diangkat teleponnya, ya.

Erik: Miss you, Beb.

“Dia selalu memutuskan semua hal dengan sesuka hati tanpa minta pendapat lo terlebih dahulu. Gue kira selera lo sudah berubah, jatuh cinta pada pria seperti ini. Ternyata nasibnya sama saja dengan mantan-mantan lo yang lain,” ucap Agatha menyindir.

Aku diam. Tidak memberikan respons apa-apa. Ucapan Agatha tadi kembali berputar dalam benakku.

“Jason sudah punya calon tunangan.”

Sebuah benda tajam mengiris pelan ke dalam hatiku. Sakit. Itu yang kurasakan saat ini.

Jangan lupa tambahkan ke Favorite lalu tinggalkan Komentar, berikan Vote, Like dan Dukungannya ya guys. Terima kasih 🙏🤗 Loph you all 😘

1
Lia Kiftia Usman
mama mu terobsesi u dapat menantu kaya raya.. tanpa melihat keadaan dirinya dan keluarga nya..
g salah juga sebenarnya tapi lupa bekali anak dgn 'value' yg memungkinkan u naik kelas.
Lia Kiftia Usman
🖤🖤🖤
Lia Kiftia Usman
dewasa pada saat nya..
Lia Kiftia Usman
begini rupanya pengusaha... dilihatnya mereka punya kehidupan diatas mapan... dibalik semua itu..ada proses panjang yang dijalani,tanggung jawab yg berat, bersakit2.. berat ...berdarah2..... sudah sepantasnyalah mereka menikmati ... hasil nya.
Lia Kiftia Usman
😭😭😭😭sedihnya sampai ke hati...

merasakan berada diposisi maylin, rayla...
Lia Kiftia Usman
suka deon...
Lia Kiftia Usman
si mama punya target tinggi u yg jadi menantu ... tapi tidak meninggikan kualitas anaknya (seperti mama erik utarakan)...🤷‍♀️, cantik saja tidak cukuplah
bunda DF 💞
deooon,, ❤❤❤
Fina Fitriani
cerita yang bener2 banyak penjelasan karena tidak semua pembaca paham atas setiap kata2 yg disuguhkan oleh penulis.... bagus banget ceritanya walaupun awalnya aga sedikit membosankan tapi makin kebawah makin menarik .. konflik keluarga yg buat haru dan tersenyum2 sendiri membacanya.... semangat💪💪 Thor karya yg bagus♥️👏👏👏♥️
Lia Kiftia Usman
🖤🖤🖤🖤
Lia Kiftia Usman
jikalau saya punya anak laki2... kan saya ajarkan seperti deon bila bertemu dgn yg dicintai nya..😊
Lia Kiftia Usman
/Heart/...deon
Lia Kiftia Usman
tapi marah juga wanitanya ciuman dgn yg lain... 🤭
Lia Kiftia Usman
Luar biasa
Rifka Aqila
cerita ini menyentuh hati, Aku dapat merasakannya
Suyudana Arta
when nothing go'es right, go left.
Lia S
selamat thor..tamat 1 cerita. karyamu indah sangat ternikmati.
cinta dan dendam kami tunggu
Lia S
karya yang good
Yolan Apolonia
ya ampun deon
Yolan Apolonia
semangat mengejar cintamu Deon😇
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!