Perselingkuhan di balas dengan selingkuh, hingga menghasilkan buah hati dalam hubungan terlarang!!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NeyNaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Lastri Semakin Masuk dalam kehidupan Irwan
Hari-hari berikutnya, Lastri semakin menempatkan dirinya dalam kehidupan Irwan.
Jika dulu hubungan mereka hanya dipenuhi pertemuan diam-diam dan percakapan ringan, kini semuanya berubah.Lastri mulai menjadi tempat Irwan mencurahkan hampir seluruh isi pikirannya.
Tentang usaha,masalah keuangan,pelanggan yang mulai berkurang,karyawan yang menurutnya kurang cekatan,bahkan tentang rumah tangganya sendiri.
Lastri selalu mendengarkan,dengan sabar dan perhatian,setidaknya itulah yang dirasakan Irwan.
...****************...
Suatu malam mereka bertemu di sebuah kafe yang cukup sepi.
Irwan tampak lelah,lingkaran hitam mulai terlihat di bawah matanya,Ia baru saja kehilangan satu pelanggan besar yang selama bertahun-tahun menjadi sumber pemasukan utama usaha reklamenya.
"Kayaknya semua lagi berantakan."
Irwan mengaduk kopinya pelan,Lastri duduk di hadapannya sambil mendengarkan.
"Apa karena proyek yang kemarin?" tanyanya.
Irwan mengangguk.
"Efeknya ke mana-mana."
"Klien jadi nggak percaya?"tanya Lastri
"Iya."
Lastri tidak langsung memberi saran,Ia membiarkan Irwan bercerita sampai selesai dan justru itulah yang membuat Irwan merasa nyaman,karena di rumah, ia jarang menceritakan masalah usaha kepada Sulis.Bukan karena Sulis tidak mau mendengar,tapi karena hubungan mereka sudah terlanjur dingin,sedangkan Lastri selalu terlihat siap mendengarkan apa pun.
"Mas jangan nyerah."
Lastri tersenyum kecil.
"Usaha Mas dulu juga dibangun dari nol."
Irwan menatapnya.
"Aku capek."
"Tapi Mas harus kuat,semangat ya Mas."ucap Lastri sambil mengelus tangan Irwan
Kalimat sederhana itu membuat Irwan tersenyum tipis,sudah lama ia tidak mendengar seseorang menyemangatinya seperti itu,Lastri tahu persis bagaimana membuat pria di depannya merasa dihargai.
...****************...
Sejak saat itu, Lastri semakin sering terlibat dalam urusan usaha Irwan.
Awalnya hanya mendengarkan cerita,kemudian memberi masukan,lalu mulai ikut membantu.
Ia memiliki beberapa kenalan dari pekerjaan lamanya dan mulai menawarkan jasa reklame milik Irwan kepada mereka,tidak selalu berhasil,namun beberapa di antaranya tertarik.
Suatu siang Lastri bahkan berhasil mempertemukan Irwan dengan pemilik sebuah toko bangunan yang sedang mencari vendor reklame baru.
Pertemuan itu berujung pada sebuah kontrak kecil,nilainya tidak besar,tapi cukup membuat Irwan bersemangat kembali.
"Kamu hebat juga."
Lastri tersenyum.
"Aku cuma bantu sedikit."
Bantuan kecil itu memberi dampak besar pada perasaan Irwan kini ia merasa ada seseorang yang tidak hanya mendengarkan keluh kesahnya,tapi juga ikut berusaha membantunya.
Di sisi lain, Lastri semakin sering menanamkan berbagai pemikiran ke dalam benak Irwan,tidak secara terang-terangan,melainkan perlahan,sedikit demi sedikit,seperti air yang terus menetes pada batu.
"Mas itu terlalu banyak menanggung beban sendirian,atau Mas butuh orang yang benar-benar memahami keadaan Mas."
Kalimat-kalimat itu selalu diucapkan Lastri dengan lembut,seolah seperti hanya bentuk kepedulian biasa,namun tanpa disadari, semuanya mulai mempengaruhi cara berpikir Irwan.
Sementara itu Sulis tetap sibuk dengan kehidupannya sendiri.
Pesanan makanan semakin banyak,ia bahkan mulai menerima pesanan untuk acara kecil di lingkungan sekitar,pekerjaannya memang melelahkan,tapi hasilnya cukup membantu kebutuhan rumah tangga,karena terlalu fokus bekerja dan mengurus anak-anak, Sulis tidak mengetahui bahwa hubungan Irwan dan Lastri kini sudah berkembang jauh melampaui yang pernah ia bayangkan.
Lastri bukan lagi sekadar perempuan yang ditemui diam-diam,Ia perlahan menjadi tempat Irwan mencari ketenangan,semakin kuat pula ketergantungan emosional Irwan kepada Lastri terbentuk.
...****************...
Suatu malam setelah mengantar Lastri pulang, Irwan duduk sendirian di dalam mobil.Ia memandangi layar ponselnya yang menampilkan pesan terakhir dari perempuan itu.
"Hati-hati di jalan ya, Mas."
Kalimat sederhana tapi bisa membuatnya tersenyum.
Padahal di rumah, Sulis juga sering mengatakan hal yang sama bertahun-tahun lamanya,hanya saja, Irwan sudah terlalu terbiasa hingga tidak lagi menyadari nilainya.
Beberapa bulan sebelumnya, Irwan masih mampu membagi perhatian antara usaha, keluarga, dan hubungan terlarangnya dengan Lastri,sekarang semuanya mulai berubah,Lastri semakin banyak mengambil ruang dalam hidupnya.
Hampir setiap keputusan penting yang berkaitan dengan usaha selalu ia ceritakan kepada perempuan itu terlebih dahulu,bahkan sebelum membicarakannya dengan karyawan sendiri,Lastri bak penasehat pribadi Irwan.
Suatu sore Irwan mendapat telepon dari salah satu calon klien yang dikenalkan oleh Lastri,nilai proyeknya cukup besar,sebuah toko dengan brand yang cukup ternama yang ingin memasang reklame di beberapa lokasi sekaligus,meski belum tentu berhasil, kesempatan itu cukup membuat Irwan kembali bersemangat.
Setelah percakapan selesai, orang pertama yang ia hubungi bukan Sulis,melainkan Lastri.
"Klien yang kamu kenalin tadi akhirnya nelpon."
"Serius, Mas?"
"Iya."
"Alhamdulillah."
Suara Lastri terdengar ikut bahagia, hal kecil seperti inilah yang membuat Irwan merasa tidak sendirian menghadapi masalahnya.
Malam harinya mereka bertemu untuk makan malam,Irwan bercerita panjang lebar tentang peluang proyek tersebut,Lastri mendengarkan dengan penuh perhatian,sesekali mengajukan pertanyaan dan memberi semangat.
Hal-hal sederhana yang sebenarnya sering dilakukan Sulis pada masa-masa awal pernikahan mereka,kini Irwan justru menemukannya pada orang lain.
"Aku yakin Mas bisa bangkit lagi."
Irwan tersenyum.
"Mudah-mudahan."
"Pasti bisa."
Di rumah, Sulis juga sedang berjuang,perjuangan mereka berbeda,jika Irwan sibuk mencari kenyamanan di luar, Sulis sibuk membangun ketahanan untuk dirinya sendiri.
Tabungan Sulis perlahan terus bertambah sedikit demi sedikit,tidak banyak,tapi cukup membuatnya tenang karena sudah bisa di anggap hampir bisa membesarkan anak-anak tanpa campur tangan Irwan.
Ia juga mulai mempelajari berbagai resep baru untuk menambah variasi menu jualannya,beberapa pelanggan mulai merekomendasikan masakannya kepada teman dan kerabat mereka,usahanya kini mulai berkembang pelan namun pasti.
Irwan kembali pulang larut, Sulis masih terjaga di ruang tamu.
Bukan karena ia sedang menunggu kepulangan Irwan tapi Ia sedang menyusun daftar belanja bahan makanan untuk esok hari.
"Kok belum tidur?" tanya Irwan.
"Masih ada yang dikerjain."
"Oh."
“Sekarang kamu udah merasa hebat ya, udah gak pernah minta uang belanja,”
Ucap Irwan dengan tatapan sinis pada Sulis
Sulis yang fokus pada kertas kecilnya tak mendengar serta menggubris ucapan Irwan, sontak membuat Irwan merasa diremehkan, pikirnya Ia masih kepala rumah tangga dalam keluarga ini, namun sulis sama sekali tak menghargai dan menghormatinya.
“Mulai budek ni orang.” Kata Irwan dengan nada yang meninggi.
“Apa..?” tanya Sulis mencoba memastikan.
“Udah sok pintar kamu sekarang ya,mentang-mentang bisa menghasilkan uang sendiri.”
“Apasih mas, ini semua untuk anak-anak, aku malas ya berdebat sama kamu.”
“Banyak alasan kamu, emang uang belanja yang aku kasi gak cukup?”
“Emang mas dalam beberapa bulan ini ada kasi uang belanja sama saya.” Balas Sulis tak mau kalah.
“Kurang ajar kamu.....!!!” teriak Irwan sambil mengayunkan tangannya seketika mendarat di ujung bibir Sulis, menyebabkan sedikit luka di bibir sulis.
Air mata sulis langsung terjatuh, ia tak sempat menangkis dan membalas prilaku kasar suaminya, Ia beranjak pergi menuju kamar kedua anaknya, berlari dan memeluk kedua buah hatinya yang tengah tertidur.Bukan Ia tak mampu membalas sifat kasar Irwan, namun Ia tak mau anaknya mendengar dan menyaksikan kedua orang tuanya bertengkar.
“Sedikit lagi ya sayang, kita bertahan sedikit lagi.” Ucap Sulis lirih.
Jujur saja ia sebenarnya sangat ingin mengakhiri pernikahan kelam ini, namun tak bisa munafik bahwa ia masih memerlukan uang Irwan untuk kebutuhan anak-anak sambil ia menyimpan sedikit demi sedikit tabungannya untuk kebutuhan hidupnya kelak ketika memutuskan berpisah.
Kali ini ia tak hanya pasrah ketika mengalami kekerasan oleh Irwan, ia memotret bibirnya yang lebam dan mengelurkan bercak darah, dan menyimpannya di folder bukti perselingkuhan Irwan, agar kelak di pengadilan Ia punya bukti kuat saat menggugat cerai Irwan.
Sementara itu, Lastri mulai merasa posisinya semakin kuat,Ia bisa merasakan perubahan sikap Irwan.
Pria itu kini lebih sering mencari dirinya ketika sedang menghadapi masalah,lebih sering meminta pendapat dan menghubungi lebih dulu,hal tersebut membuat Lastri yakin bahwa pengaruhnya dalam hidup Irwan semakin besar.
Ia tidak terburu-buru dan memaksa seperti sebelumnya,karena menurutnya, seseorang yang sudah bergantung secara emosional akan lebih mudah diarahkan dibanding seseorang yang masih ragu-ragu,tanpa disadari Irwan, semakin ia menggantungkan kenyamanan emosionalnya kepada Lastri, semakin sulit pula baginya untuk melepaskan diri dari hubungan yang telah menyeret hidupnya ke arah yang semakin rumit.
Si sulis juga demen bgt masih betah am tu laki...
kalau kata aku sih biar saja mreka ,dan s istri minta talak 3 dan cari cuan sebanyak banyaknya tuk menyenangkan diri sendiri dan anak. Ngapain bertahan dg laki2 tdk setia. najis .