NovelToon NovelToon
Terbelenggu Takdir

Terbelenggu Takdir

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Dokter / Mengubah Takdir
Popularitas:817
Nilai: 5
Nama Author: Cut Asmaul Husna

Kalea tidak sengaja memecahkan kaca mobil mewah milik Raditya di area parkir. Raditya yang marah besar meminta ganti rugi yang sangat mahal. Karena Kalea tidak bisa membayar uang sebanyak itu dalam waktu cepat, Raditya mengancam akan membawanya ke kantor polisi. Namun, Raditya yang sedang pusing karena dipaksa ibunya menikahi Natasha melihat sebuah celah. Raditya akhirnya menawarkan kesepakatan: Kalea bebas dari tuntutan polisi jika mau menjadi pacar pura-puranya.


Hubungan yang awalnya penuh adu mulut dan kebencian ini berubah rumit saat keadaan memaksa mereka terikat dalam pernikahan resmi. Konflik berat pun dimulai. Orang tua Raditya menolak keras menantu yang tidak jelas asal-usulnya. Di sisi lain, keluarga kandung Kalea terus datang mengusik dan membongkar status "anak haram" Kalea demi menjatuhkannya di depan keluarga Raditya.

SALAM DARI AUTHOR 🙏

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cut Asmaul Husna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

EPISODE 25 : OBSESI GILA DAN KEHIJAUAN DI BALIK PINTU APARTEMEN

Malam semakin larut memeluk kota Jakarta, membawa hawa dingin yang kontras dengan gejolak kotor yang membakar sebuah unit apartemen mewah di kawasan Jakarta Selatan. Setelah ditendang keluar seperti anjing kurap dari kediaman keluarga Wijaya sore tadi, Fandi Achmad Mahendra sama sekali tidak menunjukkan rasa penyesalan atau pertobatan sepeser pun.

Laki-laki brengsek itu kini duduk bersandar dengan angkuh di atas sofa kulit hitam ruang tengah apartemen pribadinya—sebuah aset rahasia yang dibelinya dari hasil manipulasi dana perusahaan pialang saham selama ini. Di atas meja kaca di hadapannya, berbotol-botol minuman beralkohol kadar tinggi sudah berjejer berantakan, bersanding dengan sisa-sisa bungkusan rokok.

Suasana ruangan bergaya modern itu tampak remang-remang, hanya diterangi oleh pendar lampu hias berwarna merah marun dan ungu. Suara musik bergenre clubbing sengaja dinyalakan dengan volume yang cukup keras, dentuman basnya bergaung memantul di dinding ruangan kedap suara tersebut.

Di sisi kanan dan kiri tubuh kekar Fandi, dua orang wanita malam sewaan berpenampilan super seksi dengan pakaian yang sangat terbuka dan kurang bahan sedang bergelanyut manja. Jemari lentik mereka yang dilapisi kutek merah menyala bergerak nakal mengelus dada bidang Fandi yang kemeja kerjanya sudah terbuka setengah, memperlihatkan rahang lebam Fandi akibat bogeman mentah Hermawan sore tadi.

"Aduh, Mas Fandi... Mukanya kok bisa babak belur begini sih? Siapa yang berani mukul wajah tampan pelanggan kesayangan kami ini, hah?" tanya salah satu wanita malam berambut pirang dengan nada suara yang sengaja dibuat sangat mendesah manja, seraya menyodorkan segelas alkohol dingin ke bibir Fandi.

Fandi merebut gelas kristal itu dengan kasar, lalu meneguknya hingga tandas tak tersisa dalam sekali tenggak. Rasa panas dari alkohol itu membakar tenggorokannya, memicu tawa sinis yang sangat keras dan memuakkan keluar dari mulutnya.

"Hahaha! Cuma masalah kecil dari orang-orang bodoh di rumah Wijaya!" maki Fandi dengan suara serak yang berat, matanya berkilat memancarkan aura kegelapan akibat pengaruh alkohol yang mulai menguasai kesadarannya. Dia merangkul kasar pinggang kedua wanita malam itu sekaligus, menarik tubuh mereka merapat tanpa belas kasihan. "Denger ya, manis... Mas baru aja bebas dari penjara pernikahan yang menyiksa! Istri Mas, si Fitri yang sok suci itu, ternyata cewek MANDUL yang nggak berguna?! Dua tahun nikah nggak bisa kasih anak, kerjanya cuma sok hebat jadi dokter spesialis jantung di rumah sakit! Mas bener-bener nggak pernah cinta sama cewek kaku kayak dia!"

Kedua wanita malam itu tertawa renyah, berpura-pura prihatin demi menguras isi dompet Fandi. "Wah, kasihan banget ya... Terus adeknya yang influencer seksi itu gimana, Mas? Tadi Mas sempet sebut namanya pas baru dateng."

Fandi kembali tertawa terpingkal-pingkal, sebuah tawa lepas penuh kepalsuan egois yang menertawakan kebodohan Shinta. "Shinta?! Hahaha! Shinta itu cuma bocah bodoh yang gampang banget dimanipulasi! Dia pikir Mas beneran cinta sama dia selama tiga tahun ini?! Enggak! Dia cuma Mas jadiin pelampiasan berahi di belakang kakaknya karena dia murah banget dan rela nyerahin tubuhnya kapan aja! Dua-duanya perempuan Wijaya itu bener-bener bodoh, gampang banget dikibulin pakai kata-kata manis!"

Fandi menghentikan tawanya mendadak. Pengaruh alkohol yang kian pekat di dalam otaknya justru meremukkan benteng kewarasannya, memaksa alam bawah sadarnya untuk mengeluarkan satu-satunya obsesi gila yang selama ini mengunci jiwanya. Wajah tampan, mata biru jernih, jilbab voal yang tertutup rapi, dan sifat tegas nan bar-bar milik Kalea Azzahra Putri mendadak melintas rapi, memenuhi seluruh ruang fungsional di dalam otaknya. Nama Kalea seolah berputar-putar tanpa henti, membakar dada Fandi dengan hasrat kotor yang luar biasa membara.

"Kalea... Kalea... cuma kamu cewek yang Mas mau... Cuma kamu yang pantes tidur di ranjang ini..." racu Fandi dengan tatapan mata yang mendadak liar kesetanan. Nama Kalea, wajah Kalea, silsilah Kalea, semuanya terus bergaung di kepalanya.

Tanpa membuang waktu, Fandi yang sudah dibutakan oleh kombinasi berahi gila dan alkohol langsung memutar tubuhnya kasar. Dia meraup wajah wanita malam berambut pirang di sebelah kanannya, lalu langsung mencium bibirnya dengan sangat kasar dan liar, sebelum akhirnya berbalik mencium wanita malam di sebelah kirinya secara bergantian dengan gerakan menjijikkan yang dipenuhi nafsu binatang.

Rentetan pergumulan panas dan adegan liar di atas sofa kulit hitam itu pun pecah seketika, mengikis seluruh batas moral kemanusiaan Fandi. Pakaian mereka satu per satu teronggok mengenaskan di atas lantai marmer apartemen. Suara erangan, desahan napas yang memburu liar, dan jeritan berahi yang kotor dari kedua wanita malam itu mulai bersahutan memenuhi ruangan remang-remang tersebut.

"Ahhhh... Mas Fandi... pelan-pelan, Mas... ahhhh..." desah wanita malam itu dengan suara parau yang tertahan.

"KALEAAA!!! AHAAA... KALEA SAYANG!!! KAU INDAH BANGET MALAM INI!!!" teriak Fandi kesetanan dengan suara serak yang menggelegar di sela-sela pergumulan liar mereka. Pria bajingan itu bener-bener sudah kehilangan kewarasannya; setiap kali dia menggerakkan tubuh kekarnya dan menyentuh kulit wanita malam sewaannya, di dalam imajinasi kotornya, dia merasa seolah-olah sedang mendekap paksa, merenggut kesucian, dan tidur bersama Kalea di atas ranjang ini. Fandi melakukan pelecehan batin yang luar biasa keji, terus-menerus memanggil nama Kalea dengan desahan nafsu yang menjijikkan. "Ahhh... Kalea... tatap mata Mas... kau cuma boleh jadi milikku, bukan milik Dokter Radit sialan itu... ahhhh..."

Suara erangan Ahhhh... ahhhhh... penuh kebusukan moral itu terus bergaung keras di dalam unit apartemen mewah sepanjang malam, membungkus pengkhianatan dan obsesi gila Fandi ke dalam kegelapan yang paling pekat. Fandi bener-bener merupakan sosok bajingan sejati yang dengan sangat tega melecehkan nama dan harga diri adik iparnya sendiri di dalam lubang kemaksiatan bersama wanita sewaan.

Bagaimana kalau Kalea sampai tahu kelakuan biadab ini? Sifat bar-bar dan ketegasan mutlak dari sang General Manager Hotel Grand Luminance itu dipastikan nggak bakal tinggal diam. Jika Kalea mengetahui namanya dijadikan pemuas fantasi kotor oleh mantan kakak iparnya yang buron ini, Kalea bersumpah bakal memotong lidah busuk Fandi dan menjebloskan pria bajingan itu ke dalam sel tahanan paling bawah tanah agar membusuk selamanya.

...****************...

Di dalam keheningan kamarnya yang bernuansa putih bersih, Kalea Azzahra Putri baru saja melipat sajadah setelah menyelesaikan ibadah sholat isya. Tubuh mungilnya masih terbalut mukena terusan berwarna putih katun dengan renda bordir tipis di bagian ujungnya, membuat wajah cantiknya yang bersih tanpa riasan tampak begitu adem, imut, dan memancarkan keanggunan alami yang luar biasa menenangkan.

Ting!

Sebuah suara notifikasi pesan masuk dari aplikasi WhatsApp mendadak berbunyi dari ponsel pintarnya di atas nakas. Kalea melangkah mendekat, meraih benda pipih itu. Layar menampilkan pesan pendek dari kontak 'Mas Radit'.

[Kalea, kamu udah tidur belum? Aku mau ngomong sesuatu. Tolong angkat ya, aku mau telpon sekarang.]

Belum sempat Kalea mengetikkan balasan lengkap, layar ponselnya mendadak berubah menampilkan panggilan video (video call) masuk dari nomor pria tersebut. Kalea sempat menggigit bibir bawahnya gugup, jantung wanitanya mendadak berdegup dengan ritme yang cepat dan liar. Setelah menata letak mukenanya agar tetap tertutup rapi, Kalea menekan tombol hijau menerima panggilan.

Layar ponsel seketika terbelah dua, menampilkan sosok Raditya Evan Baskara yang sedang duduk bersandaran di sofa kulit ruang kerjanya di rumah sakit. Kemeja hitamnya tampak sedikit terbuka di bagian kerah, dan rambut hitamnya agak berantakan, namun ketampanan maskulin sang Dokter Bedah genius justru memancar berkali-kali lipat lebih seksi malam ini. Begitu melihat wajah imut Kalea yang masih berbalut mukena putih bersih di layarnya, sepasang mata elang Radit mendadak melembut seutuhnya, lalu sebuah senyuman manis yang sangat tulus langsung terukir lebar di bibirnya, memperlihatkan keindahan kedua lesung pipinya secara sempurna.

"Assalamualaikum, Nona Mata Biru kesayanganku," sapa Radit dengan nada suara bariton yang sangat rendah, lembut, dan dipenuhi oleh kerinduan yang teramat sangat mendalam.

"Waalaikumsalam, Mas," jawab Kalea pelan, mencoba menstabilkan suaranya yang mendadak agak gugup menatap binar mata elang Radit dari balik layar. "Kamu kok belum pulang dari rumah sakit jam segini, Mas? Masih ada pasien darurat di ruang operasi?"

Radit terkekeh sangat tipis, menyandarkan kepalanya lekat menatap layar ponselnya. "Pekerjaanku udah selesai dari tadi, Kalea. Tapi aku sengaja nggak mau pulang dulu ke rumah karena aku bener-bener kangen banget mau liat wajah imutmu malam ini. Dan ya ampun... kamu cantik banget pake mukena putih begitu, auramu adem banget kayak ustadzah muda, bikin hatiku yang kaku ini langsung makin jatuh cinta."

"Ih! Mas Radit!!! Jangan mulai deh!" ketus Kalea langsung salah tingkah setengah mati, memutar kedua bola mata birunya dengan sangat malas untuk menutupi rasa malunya yang sudah meledak. Padahal di balik layar ponselnya, kedua pipi mulus Kalea udah langsung merona merah merona sangat tebal, persis laksana kepiting rebus yang baru diangkat dari wajan. "Nelpon malam-malam cuma mau ngegombalin aku ya?! Cepetan ngomong, ada masalah penting apa?!"

Raut wajah tampan Radit perlahan-lahan berubah menjadi sedikit kaku dan serius, meskipun tatapan matanya tetap memancarkan kehangatan penuh sayang. Dia menarik napas panjang, lalu mulai menceritakan secara jujur seluruh rentetan kejadian gila yang baru saja menimpa dirinya di dalam kamar rawat VIP tadi sore—mulai dari kedatangan Hendra Sanjaya, paksaan pakta perjodohan kilat dengan Natasha, tangisan histeris membawa kematian dari Mommy Ambarwati, sampai puncaknya taktik serangan jantung palsu ibunya yang memaksa Radit melontarkan janji palsu mau menikahi Natasha demi meredam situasi darurat medis tersebut.

Mendengar seluruh penjelasan jujur dari mulut Radit, Kalea terdiam membisu selama beberapa detik di balik mukenanya. Dia mengembuskan napas panjang yang sangat kasar dari lubuk dadanya, merasakan sesak luar biasa merayap mengunci rongga dadanya karena menyadari rintangan takdir mereka bener-bener terlalu berat.

"Mas Radit... dengerin aku ya," ucap Kalea dengan suara yang mulai bergetar hebat menahan luka batin. "Mending... mending kita akhiri aja semuanya sekarang. Aku nggak mau jadi anak durhaka yang bikin kamu musuhan sama ibumu sendiri cuma gara-gara statusku yang selalu direndahin orang sebagai anak haram ini. Lepasin aku aja ya, Mas..."

"Nggak! Aku menolak keras, Kalea!" potong Radit dengan suara bariton yang sangat tegas, kaku, dan penuh dengan penekanan wibawa seorang pemimpin yang mutlak dari balik layar. Radit memajukan wajah tampannya mendekati kamera ponsel, menatap lurus ke dalam manik mata biru Kalea dengan ketulusan yang luar biasa dalam. "Kalea sayang... tolong dengerin aku dulu. Janji manis yang aku lontarkan ke Mommy tadi sore itu cuma taktik darurat, cuma PURA-PURA, Kalea! Aku melakukan itu murni biar kondisi jantung Mommy cepet sembuh dan beliau bisa secepatnya pulang ke rumah berkumpul sehat lagi sama kita. Begitu Mommy udah aman di rumah, aku yang bakal cari cara buat ngehancurin perjodohan gila itu!"

Radit mengelus layar ponselnya seolah-olah sedang mengusap pipi Kalea dari kejauhan. "Rencanaku sekarang... di depan Mommy, Amanda, dan Natasha... kita berdua cukup PURA-PURA PUTUS dan saling menjauh dulu buat sementara waktu. Biar mereka mikir kalau mereka udah menang dan berhenti neror hidupmu. Tapi di belakang mereka, jalinan takdir kita tetep berjalan rahasia, Kalea. Aku bakal tetep jaga kamu, aku bakal tetep cari cara buat nikahin kamu secara sah tanpa ada gangguan dari mereka lagi. Kamu... kamu mau kan bertahan berjuang bareng aku sebentar aja?"

Kalea tidak langsung menjawab pertanyaan serius Radit. Otak cerdasnya sebagai manajer hotel berputar cepat menimbang risiko dari rencana gila sandiwara pura-pura putus ini. Dia menatap lurus ke dalam mata elang Radit yang memancarkan binar permohonan yang teramat sangat tulus tanpa ada kedok manipulasi sepeser pun. Perlahan, kehangatan perlakuan Radit meluluhkan kabut ketakutan di dadanya. Kalea akhirnya menganggukkan kepalanya perlahan, lalu mengulas sebuah senyuman manis yang sangat tulus di wajah imutnya. "Iya, Mas... aku mau percaya dan bertahan bareng kamu buat sandiwara ini."

Melihat senyuman manis merekah dari bibir ranum Kalea, Radit seketika mengembuskan napas panjang penuh kelegaan yang luar biasa besar di dalam dada ruang kerjanya. "Alhamdulillah ya Allah... Makasih banyak ya, Kalea sayang. Aku bener-bener lega banget denger jawabanmu."

Sifat menjahili dan menggoda Radit mendadak kembali bangkit melihat keluguan wanita berhijab di layarnya tersebut. Radit mengerlingkan sebelah matanya jenaka, menopang dagunya dengan tangan kanan menatap Kalea penuh binar pujaan romantis. "Omong-omong, Kalea... karena sekarang kita udah resmi jadi sepasang kekasih rahasia yang sah... kamu tahu nggak apa yang paling aku pengen lakuin setiap hari mulai besok?"

Kalea mengernyitkan dahinya bingung, wajah malunya kembali mencuat. "Mau ngapain emangnya, Mas?"

"Aku mau bilang kalimat ini terus biar kamu bosen," bisik Radit dengan nada suara yang mendadak berubah menjadi sangat rendah, seksi, dan dipenuhi getaran asmara yang luar biasa manis meluap-luap. "Dengerin baik-baik ya... I love you, Kalea sayang... I love you so much, my beautiful blue eyes... Kamu bener-bener pemilik hati seorang Raditya Evan Baskara untuk selamanya."

DEG!!!

Mendengar untaian kalimat gombalan romantis bertubi-tubi bercampur kata 'I love you kalea sayang' keluar langsung dari mulut pria sekaku Radit, seluruh pertahanan ego Kalea runtuh berhamburan. Rasanya tubuh mungil Kalea mau terbang melayang menyentuh langit malam saking bahagianya mendengarkan ungkapan cinta semanis itu dari pria yang dia kagumi. Kalea langsung menutupi wajah cantiknya yang sudah semerah buah tomat matang menggunakan kedua telapak tangannya di balik layar ponsel, memicu tawa renyah lepas dari mulut Radit yang sangat puas melihat tingkah laku malu-malu kucing dari pacar rahasianya tersebut.

Kalea terdiam dalam sunyinya setelah Radit meredakan tawanya. Di dalam lubuk hatinya yang terdalam, Kalea merasakan sebuah gejolak kebingungan batin yang samar. Dia menatap layar ponselnya, bertanya-tanya pada dirinya sendiri.

"Ya Allah... Apakah debaran kencang dan rasa bahagia luar biasa ini tandanya aku udah mulai mencintai Mas Radit juga? Apakah aku beneran udah jatuh hati sama dokter sombong ini? Aku... jujur aku belum tahu pasti gimana bentuk perasaanku yang sesungguhnya saat ini..." batin Kalea bingung menimbang rasa.

Radit yang memiliki tingkat kepekaan tinggi sebagai seorang dokter genius seolah bisa membaca keraguan yang melintas di balik mata biru jernih Kalea. Radit tersenyum manis kembali, menggelengkan kepalanya lembut penuh pengertian yang dewasa. "Kalea... dengerin aku. Aku sama sekali nggak bakal pernah memaksamu buat langsung membalas mencintaiku, sayang. Aku sangat paham kalau hatimu masih butuh waktu buat sembuh dari trauma masa lalu. Seperti yang pernah aku bilang waktu itu... biar waktu dalam sandiwara dan rumah tangga kita nanti yang bakal menumbuhkan benih cintamu buat aku. Aku bakal setia menunggu cinta itu datang dari kamu, Kalea."

Mendengar kalimat pengertian yang luar biasa dewasa dan menenangkan dari mulut Radit, kabut keraguan di dada Kalea menguap lenyap berganti rasa hormat yang mendalam. Mereka berdua terus melanjutkan obrolan manis penuh rentetan dialog candaan, saling ledek yang jenaka, serta pembicaraan strategi pura-pura putus di dalam panggilan video call yang penuh dengan getaran asmara tersebut selama kurang lebih satu jam lamanya, membuat waktu malam yang sunyi terasa berjalan begitu cepat.

"Udah jam sembilan malam lewat nih, Kalea sayang. Kamu harus segera tidur ya, biar besok di hotel kerjamu nggak ngantuk," ucap Radit lembut bersiap mengakhiri sambungan teleponnya dengan ekspresi penuh berat hati. "Jangan lupa sebelum tidur baca doa ya."

"Iya, Mas Radit... kamu juga cepetan pulang ke rumah ya, jangan begadang terus di rumah sakit, nggak baik buat kesehatan kamu," balas Kalea dengan nada suara yang melembut penuh perhatian yang tulus.

Radit melayangkan sebuah kecupan jauh ke arah kamera ponselnya sambil tersenyum jahil menawan, memperlihatkan lesung pipinya yang dalam seutuhnya. "Siap, calon istriku tercinta. Dengerin kalimat terakhirku malam ini ya... I love you, Kalea sayang... tidur yang nyenyak ya. Assalamualaikum."

Kalea tersenyum sangat manis, binar mata birunya berkilat indah di balik layar ponsel menatap wajah tampan Radit untuk terakhir kalinya malam ini. "Waalaikumsalam, Mas Radit..." jawab Kalea pelan sebelum akhirnya sambungan video call itu terputus dengan sempurna.

Kalea meletakkan kembali ponselnya di atas nakas, lalu merebahkan tubuh mungilnya di atas ranjang dengan perasaan campur aduk yang dipenuhi oleh getaran letupan kebahagiaan batin yang luar biasa manis yang belum pernah dia rasakan seumur hidupnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!