NovelToon NovelToon
Rayu Candu

Rayu Candu

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintamanis / Perjodohan / Balas Dendam / Nikahkontrak
Popularitas:234.6k
Nilai: 5
Nama Author: Armalik King

#Mature conten
#Harap bijak memilih bacaan
# Isi mengandung unsur 18+

Sebuah rayuan, bisa membuat seseorang terjebak dalam pusara angan-angan yang indah, melebihi logikanya tanpa sadar.

Disinilah kisah sang tokoh utama bermula. Elena tanpa sadar mulai masuk kedalam bujuk rayu yang akan mengubah hidupnya.

Bagaimana kelanjutan kisahnya?

Jangan lupa, untuk menekan tap Love, like serta komentnya ya, Terima kasih telah membaca.

Find me on IG @Armalik King
Facebook @Armalik King

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Armalik King, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tangisan Pilu

Matahari mulai tenggelam tergantikan oleh datangnya senja dan kemudian berakhir malam. Setelah seharian tadi hujan lebat, kini malam tampak terang dengan dihiasi oleh bintang-bintang dan rembulan di langit yang gelap. Sementara disebuah rumah besar yang hampir mirip dengan gedung itu, terlihat seorang wanita berkulit putih pucat. Ia duduk diatas ranjang tidur dengan berselimutkan kain tebal di kakinya.

Tetapi hal yang aneh terlihat dari raut wajahnya. Elena, menatap layar ponsel dengan mulut menganga. Bola mata hitamnya melirik ke kiri dan kanan. Tiba-tiba ponselnya terjatuh diatas ranjang tidur, begitu saja. Ia bersedekap dengan mengelus lengannya kencang, seolah barusan Elena melihat hantu. Kali ini Elena tampak begitu ketakutan dengan terlihat dari tangan dan bibirnya yang gemetaran.

“Aaakkkhhh...,” teriak Elena sekencangnya dengan air mata bercucuran.

Mendengar suara teriakan itu, segera sang pelayan pribadinya yaitu bibi Ruby berlari menghampiri kamar Elena. Untung saja sang bibi tak jauh dari kamar tidur Elena. Dan baru kali ini Elena bersikap begitu. Tak berapa lama, sang bibi pun mengetuk pintu dengan menyahut nama gadis yang selalu ia rawat seperti anaknya sendiri itu. “Nona Elena! Apa anda baik-baik saja?” tanya sang bibi dengan menggeprak pintu kamar Elena yang terlihat begitu panik.

Tak ada suara jawaban dari dalam, karena merasa khawatir, sang bibi pun memutuskan untuk membuka paksa kamar itu. Terdengar dari dalam kamar suara tangisan yang pilu. Setelah mencoba menabrakkan tubuh pada daun pintu kamar itu dan tak berhasil juga, sang bibi pun berlari menuju telepon yang tak jauh dari lift. Karena memang setiap ruangan terdapat telepon yang tersambung ke seluruh ruangan, dan itu agar mempermudah jika sang tuan besar atau sang ayah dari Elena membutuhkan pelayannya.

Sang bibi menghubungi telepon yang berada di ruangan para pelayan. Sampai terdengar suara seseorang yang menjawab panggilannya itu. “CEPATT! Segara bawakan kapak, atau pun tukang untuk membuka pintu! Sekarang juga! Nona Elena dalam keadaan gawat!” ucap sang bi Ruby dengan suara kencang dan panik.

Setelah panggilan itu, bi Ruby berlari kembali menuju pintu kamar Elena. Ia menggerakkan pintu dengan berusaha menenangkan Elena dari luar. “Nona, saya ada disini! Tolong buka pintunya, Nona!?” ucap sang bibi yang berusaha membujuk Elena dari luar pintu. Beberapa menit kemudian, sang bibi kembali menuju telepon khusus rumah itu, yang tertempel di dinding dekat lift. Kali ini, ia menghubungi ruangan sang sopir. Tetapi, sebelum panggilan itu terhubung, terlihat pintu lift terbuka. Dari dalam sana, beberapa orang keluar. Semua orang tampak panik. Seorang pria dengan membawa kapak dan beberapa alat perkakas ditangannya segera menghampiri bi Ruby.

Bi Ruby pun menutup telepon itu dan bergegas berlari menuju pintu kamar Elena. Seketika para pekerja pria di rumah itu segera membuka pintu dengan segala cara. Hingga suara gaduh pun terdengar keseluruh ruangan di lantai dua rumah mewah itu. Karena Elena mengunci pintu memakai kunci slot dari dalam dan bukan kunci pintu tuas, maka bi Ruby tak bisa membuka pintu itu dengan kunci cadangan. Terpaksa lah, pintu itu harus di bongkarnya.

Beberapa menit kemudian, mereka pun berhasil membuka pintu Itu. Walau pun membutuhkan waktu yang tak sebentar. Bergegas sang bibi masuk kedalam kamar tidur itu. Ia tak menemukan Elena di atas ranjang tidurnya, melainkan ia tergeletak tak sadarkan diri disamping ranjang tidur sebelah kiri. Dan samping itu memang jarang terjamah karena tertutup dinding yang jendela kamar itu berada.

“Astaga! Nona!” teriak sang bibi terkejut. Seketika semua orang yang ada disana mulai membantu untuk mengangkat Elena dan membaringkannya di atas tempat tidur.

Sang bibi meminta tolong untuk membawakan air hangat dan benerapa teh herbal pada pelayan lain. Setelah semua orang kembali ke pekerjaannya masing-masing, dan yang tersisa hanyalah sang bibi untuk menemani Elena sampai ia tersadar. Bibi Ruby memijit pelan tangan dan seluruh tubuh Elena dengan penuh perhatian. Sesekali bi Ruby berbicara pada Elena bahwa ia itu harus melepaskan semua bebannya, dengan cara menangis atau pun marah-marah.

“Nona, bibi sangat khawatir jika anda begini... dan mungkin mendiang tuan besar dan nyonya pun akan khawatir dan kesusahan jika mereka melihat anda seperti ini,” ucap sang bibi dengan masih memijit tubuh Elena.

Sang bibi mencoba menghidupkan lilin aroma terapi yang disukai oleh Elena. Tetapi, hal yang tak diduga terjadi. Elena tiba-tiba terbangun dan berteriak sekerasnya. Mengetahui itu, sang bibi pun bergegas mendekati ranjang Elena setelah menghidupkan beberapa lilin yang ada di ruangan kamar itu. “Nona, kenapa?” tanya sang bibi.

“Apa anda baik-baik saja?” tanya sang bibi kembali dengan panik.

Sang bibi segera memberikan Elena segelas air putih. Elena pun meminumnya dan tampak begitu berkeringat seolah ia dikejar sesuatu. “Apa anda bermimpi buruk?” tanya sang bibi sambil meletakkan gelas kosong, yang telah diminum airnya oleh Elena.

Elena tak menjawab apa pun, hanya ia tiba-tiba saya menunduk dan menangis. Kali ini tangisannya sangat sendu. Elena berkata bahwa ia merindukan kedua orang tuanya. Mendengar ucapannya itu, sang bibi bergegas memeluk Elen dan mengusap lembut kepalanya. “Nona, mendiang tuan dan nyonya pun pasti merindukan anda. Dan mereka kini telah bahagia serta tenang bersama Tuhan diatas sana...” tutur sang bibi yang ucapannya terpotong oleh jawaban Elena.

“Ta-tapi, hiks... mengapa mereka begitu saja meninggalkan saya?” kelit Elena dengan masih menangis di pelukkan sang bibi. Sang bibi kini melepaskan tangan yang satunya dan mengusap lembut Elena. “Karena Tuhan mencintai mereka... mungkin saja semua yang terjadi adalah, yang terbaik untuk anda dan juga orang tua nona... terlepas dari itu, saya adalah pelayan pribadi nona sedari anda masih sangat kecil. Jadi saya telah merasa anda adalah anak saya sendiri. Bagiman pun saya mengetahui luar dan dalam dari nona, kalau bukan keterikatan batin, mungkin saya pun akan pindah bekerja ke majikan yang lainnya, benar kan?” tutur sang bibi yang menyeka air mata Elena dengan tangannya.

Elena tak menjawab ucapan dari sang bibi. Ia hanya menangis sesenggukan dan tampak memikirkan sesuatu. “Saya pikir bahwa nona mengalami hal yanh sangat sulit, karena saya mengetahui betul mengenai anda... jadi, lepaskan saja apa yang membuat anda terbebani itu! Menangislah agar anda merasa lebih baik,” ujar sang bibi kembali yang mencoba menenangkannya.

 Sang bibi pun berkata bahwa Elena terlalu banyak hal yang dipendamnya. Ia harus mencoba mengeluarkan masalah itu dengan cara berbicara dengan orang lain atau mencurahkan segala isi hati pada seseorang yang dipercayakan. “Jika nona masih sulot dengan itu, nona bisa pergi melupakan semuanya sementara. Seperti pergi ke suatu tempat untuk berlibur,” ungkap sang bibi kemudian.

Mendengar ucapan sang bibi, kini Elena lebih tenang. Meskipun berbagai masalah menghampirinya tetapi ia harus bahagia. Karena itu yang di harapkan kedua orang tuanya yang telah tiada. Malam pun semakin larut, Akhirnya, Elena meminta untuk tidur malam ini. Dan ia tak ingin di dampingi sang bibi. Meskipun tuas pintu telah rusak karena kejadian tadi, tetap saja sang bibi akan tertidur di sofa yang tak jauh dari kamar tidurnya itu, katanya untuk berjaga-jaga.

Elena melirik jam yang ada di atas nakas miliknya. Ia meraih ponselnya kembali. Seketika perasaan yang amat sakit dihatinya, menjalar ke seluruh tubuhnya dan membuat tubuhnya gemetaran. Dengan segala kekuatan yang tersisa, Elena kembali membuka pesan masuk dari sang kekasih hati Xander. Karena mungkin saja ia salah membaca atau menafsirkan pesan itu. Raut wajahnya mulai serius dengan ditandai oleh alisnya yang mengernyit.

Terlihat ketika rapi dari nomor kontak yang di beri nama kekasihku. Dalam pesannya Xander berkata bahwa memang ia tak ingin menikah dengan wanita semacam Elena. Terlebih lagi ia tak bisa bermain dengan baik di ranjang. Dan beberapa kata menyakitkan lainnya, yang membuat hati Elena tercabik. Di akhir pesannya, ia berkata bahwa dirinya pergi bersama wanita yang bisa memuaskan hasrat serta bisa membuatnya tak ingin pergi dari sisinya.

To be continue...

1
acthur2u🔥
lanjytin tur GK BLH pingsan dulu
acthur2u🔥
sip lanjt lagi
acthur2u🔥
lanjut bosq
Thenten
Hai kak Salam dari Menikahi Mafia Kejam ya. Aku udah Fav cerita kkak tolong Fav balik ya. Terimakasih ❤
Katarina Sutirah
lanjut
ste4v7💂
up banyak2 tor
miknik👾r*b*t
ckckck aku prihatin
miknik👾r*b*t
oh, ternyata
miknik👾r*b*t
nah mesti di basmi hama itu
miknik👾r*b*t
hmm, sepertiny
miknik👾r*b*t
goshting
miknik👾r*b*t
update plis
miknik👾r*b*t
n3xt
miknik👾r*b*t
lagi lagi terus
miknik👾r*b*t
lagi up banyak
miknik👾r*b*t
woow
miknik👾r*b*t
begitu kah?
miknik👾r*b*t
up lagi
miknik👾r*b*t
ok fine
miknik👾r*b*t
lanjtkan lagi
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!