Lusia, seorang gadis pekerja keras yang manghabiskan seluruh waktunya hanya untuk bekerja demi keluarga kecilnya. Bagi orang sepertinya yang belum pernah menikmati indahnya memiliki kekasih, pergi berkencan adalah hal mewah yang harus ia relakan. Tak jarang perasaan iri mengusiknya setiap kali melihat sepasang kekasih saling berbagi kasih duduk mesra di Cafe tempatnya bekerja.
“Akankah ada pria yang akan menggenggam tanganku suatu saat nanti?”.
Berbanding terbalik dengan Rayn, seorang pelukis dengan nama pena Lotus. Rayn menderita Haphephobia akibat trauma kecelakaan yang pernah dialaminya. Ketakutan dan kecemasannya akan sentuhan orang lain memaksanya untuk hidup sendiri dan tidak pernah membiarkan orang lain menyentuhnya.
“Mustahil bagi seseorang untuk hidup sendiri tanpa kontak fisik dengan orang lain seumur hidupnya, tapi itulah hidup yang harus aku jalani.”
Bagaimana jadinya jika mereka bertemu dan harus tinggal satu rumah?
NOTE :
✅ Update setiap Minggu
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sella.Sung, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 06 - Tidak tahu Terima Kasih
Rayn kembali terdiam, tatapannya tertunduk dan matanya terpejam, seakan sedang berusaha meresapi sisa-sisa keheningan yang tersisa setelah kekacauan itu. Sementara di sampingnya, Lusia mulai gelisah, diamnya malah membuatnya semakin canggung.
Ia menghela napas pelan, lalu memberanikan diri mencairkan suasana. Perlahan, ia duduk bersisian, menyandarkan punggung ke dinding yang dingin, jaraknya cukup dekat untuk merasakan kehadiran Rayn, tapi tetap menjaga jarak agar tidak terasa mengusik.
“Apa kau sudah merasa lebih baik?” tanyanya dengan suara rendah, menoleh ke arahnya, mencoba menangkap secuil respon. Tak ada jawaban.
Lusia menunggu sejenak sebelum bertanya lagi. “Apa kau datang seorang diri?” Masih diam. Rayn tidak bergeming, seakan kata-kata itu tak menyentuhnya.
Lusia menatap ke depan, mencoba menahan rasa jengkel yang mulai tumbuh dari dadanya. Tapi ia tak menyerah. “Apa kau datang dengan kendaraan sendiri? Kalau belum merasa baik, aku bisa mengantarmu pu...lang…” ucapnya, namun kalimat itu terhenti di tengah jalan. Lusia sadar, untuk ketiga kalinya, ia seperti bicara pada dinding.
Rasa kesalnya memuncak. Ia mendesis pelan dan mengalihkan pandangan. “Baiklah, kau bisa melanjutkan merenung atau menenangkan dirimu sejenak. Aku akan berhenti bicara ataupun bertanya,” katanya singkat, terdengar tegas tapi tetap menjaga nadanya tetap sopan. Menurutnya akan percuma karena pria di sebelahnya seperti menganggapnya tak kasat mata.
Ia membungkam dirinya sendiri, mencoba menelan kekesalan yang perlahan tumbuh. Di sampingnya, Rayn masih memejamkan mata, seolah dunia luar tidak penting, termasuk keberadaan Lusia.
Lusia berusaha diam, menahan diri untuk tidak lagi mengganggu pria di sampingnya yang sejak tadi bungkam. Tapi diam itu justru mengusiknya, membuatnya semakin tidak tenang. Ia melirik Rayn sekilas, lalu mengembuskan napas pelan. Mungkin satu pertanyaan lagi tak akan membuatnya marah, pikirnya.
“Apa kau butuh sesuatu, atau….”
“Berhentilah bertanya seolah aku anak kecil yang kehilangan orang tuanya,” potong Rayn tiba-tiba, membuka matanya dan menatap lurus ke depan. Nada suaranya dingin, tegas, cukup untuk membuat Lusia langsung bungkam.
“Eemm, sorry…” gumam Lusia pelan, berusaha tersenyum, meski canggung. Ia menarik kembali dirinya dalam diam, mencoba bersabar sekali lagi.
Rayn perlahan bangkit, merapikan kemejanya yang tampak kusut akibat keributan dengan pria kasar sebelumnya. Ia menghela napas menyadari dua kancing atas kemejanya hilang, raut wajahnya menunjukkan ketidaknyamanan. Tentu saja hal ini membuat dada yang bidang dan perut berotot itu kini sedikit terbuka, memamerkan sisi maskulin yang sulit untuk tidak diperhatikan.
Lusia, yang duduk tak jauh dari tempatnya berdiri, secara refleks menatap ke arah itu. Hanya sekilas, tapi cukup untuk membuat wajahnya langsung merah padam. Ia buru-buru menutup mulut dengan kedua tangannya, menunduk, berharap Rayn tidak menyadari tatapan singkatnya tadi.
“Ups…” bisiknya lirih, nyaris tak terdengar.
Dalam hati, ia mengutuk dirinya sendiri. "Oh Tuhan, apakah ini ujian iman? Kenapa harus terlihat sejelas itu?"
Rayn memandangi Lusia yang masih duduk bersandar di dinding, lalu bertanya dengan nada sinis yang tak berusaha disembunyikan, “Apa kau akan tetap di sini?”
Pertanyaan itu membuat Lusia langsung tersadar. Ia buru-buru berdiri dan menjawab tegas, “Tidak! Kita akan kembali.” Ucapannya meluncur cepat, terdengar lebih lantang dari yang ia maksudkan, sampai-sampai Rayn pun sempat terkejut dan menoleh sebentar ke arahnya.
Tanpa berkata lagi, Rayn hanya mengangguk singkat, lalu berjalan mendahuluinya menuju lift.
Lusia hanya bisa terpaku sejenak sebelum akhirnya sadar bahwa Rayn benar-benar berniat meninggalkannya. “Yahh!” teriaknya refleks, merasa ditinggal tanpa aba-aba.
Langkah Rayn terhenti. Ia berbalik perlahan dan menatap Lusia dengan sorot mata tajam, menuntut penjelasan akan teriakan itu.
Lusia sontak gugup, suaranya melunak drastis. “Bu... bukankah kita bisa keluar bersama-sama?” ucapnya, senyum canggung yang dipaksakan hampir seperti permintaan maaf. Tatapan Rayn cukup membuatnya menelan kembali semua omelan yang nyaris ia lontarkan. Ia baru sadar, pria ini memang tak mudah ditebak dan bahkan lebih sulit untuk dihadapi.
Rayn melangkah tenang menuju lift tanpa menoleh lagi pada Lusia. Ia masuk terlebih dulu, lalu menahan pintu dengan jarinya, menunggu Lusia yang masih belum bergerak dari tempatnya.
“Kau tidak ingin masuk? Bukankah tadi kau yang bilang kita bisa keluar bersama-sama?” tanyanya datar, suaranya tak terbaca nada emosi apa pun.
Lusia hanya berdiri mematung, menatap Rayn dengan kesal namun tetap bungkam. Dalam hatinya ia mendesis, "Pria ini sungguh sesuatu...!"
Rayn menarik tangannya dari tombol, membiarkan pintu lift mulai menutup perlahan. “Baiklah, kau bisa tetap di sana. Aku akan menutup liftnya,” ucapnya santai.
“Tunggu, tunggu! Tidak sabaran sekali,” gerutu Lusia seraya menahan pintu dengan satu tangan. Wajahnya menampilkan ekspresi bingung antara jengkel dan tak percaya.
Ia akhirnya masuk dan berdiri tepat di sebelah Rayn. Dalam diam, pikirannya kembali berputar—penuh gerutu dan pertanyaan yang belum terjawab. "Ada apa sebenarnya dengan pria ini? Apa dia punya dendam denganku? Dan kenapa aku juga jadi begini... Dia yang angkuh, tak tahu terima kasih, tapi kenapa aku yang terus mengalah?"
Begitu pintu tertutup, Rayn menekan tombol menuju lantai bawah tanah—area parkir. Lusia hanya melirik sekilas, lalu mengembuskan napas kesal.
"Apa karena pertunjukan dada seksi tadi? Haha, tidak mungkin. Jangan kau pikir itu bisa menaklukkan aku. Siapa yang peduli. Aku harus memperjelas situasi ini... Sepertinya pria ini sedikit korslet otaknya," batinnya sambil menatap Rayn dari samping dengan pandangan sinis. Namun pria itu tetap diam, berdiri tenang seolah tak terganggu oleh apa pun.
Rayn berdiri membisu di dalam lift, masih menatap ke depan tanpa ekspresi. Lusia berdiri di sebelahnya, mencoba menahan semua kekesalan yang menggunung di dada. Ketegangan di antara mereka menggantung pekat hingga suara Rayn akhirnya memecah keheningan.
“Terima kasih,” ucapnya singkat.
Lusia sontak menoleh cepat, seolah tak percaya akan kata yang akhirnya keluar dari mulut pria itu, kata yang sudah semestinya ia dengar sejak awal.
“Itu yang ingin kau dengar, bukan?” lanjut Rayn, tetap memandang lurus ke depan.
Tatapannya tak berubah, tapi ucapannya cukup menusuk. “Tatapanmu dari tadi sudah seperti ingin memukulku dengan kepalan tangan itu. Seolah aku pria yang tidak tahu terima kasih.”
Ia menoleh singkat, melirik tangan Lusia yang memang terkepal erat di sisi tubuhnya. Lusia melotot, setengah kesal, setengah tercengang. Untuk sepersekian detik ia nyaris berpikir bahwa Rayn benar-benar tulus. Nyaris.
“Wah… pria ini…” gumam Lusia pelan, hampir tak percaya.
Namun sebelum ia sempat menyusun kalimat balasan yang pas untuk melampiaskan frustrasinya. “Yaaah! Apa kau tahu kalau kau sungguh”
Ting…
Pintu lift terbuka. Lusia menghela napas keras, menggigit lidahnya sendiri karena sekali lagi kata-kata yang ingin ia lontarkan terputus begitu saja.
Rayn melangkah keluar dari lift tanpa menoleh, suaranya tenang namun menyisakan tajam yang tak bisa ditepis, terdengar datar namun cukup untuk membuat Lusia terdiam.
“Aku bisa merasakan kau tulus melakukannya. Dan jika benar setulus itu, kau seharusnya tidak perlu mengharapkan apa pun.”
Kalimat itu dilemparkan begitu saja, seolah menyinggung tanpa perlu berteriak, dan justru terasa lebih menyakitkan karena dilontarkan sambil tersenyum samar dari balik masker.
Lusia tercekat."Ada apa dengannya? Apa dia baru saja membaca pikiranku?" batinnya gemas, lalu buru-buru melangkah menyusul pria itu keluar dari lift. Ia sempat mengira Rayn akhirnya menunjukkan rasa terima kasih, namun nyatanya, itu hanya sindiran yang dibungkus halus dan disamarkan dalam sikap tenangnya.
Langkah kakinya terpaksa mengikuti, meskipun hatinya masih ingin tinggal untuk sekadar mencerna semuanya. Ia menepuk-nepuk kedua pipinya sendiri, seolah mencoba membangunkan diri dari semacam sihir aneh. “Sepertinya aku sudah terhipnotis,” bisiknya pelan.
Tiap kali Rayn membuka suara, Lusia merasa seolah lidahnya terikat. Bukan karena takut, tapi lebih karena ia tidak pernah siap. Dalam diam, ia mulai mempertanyakan dirinya sendiri. Apa dirinya yang terlalu mudah pasrah, atau mungkin juga tak sanggup memaki.
Langkahnya tanpa sadar semakin cepat, dan sebelum sempat memperhatikan arah, tubuhnya membentur punggung Rayn yang tiba-tiba berhenti.
Dukk!
Lusia mengerang pelan, terkejut oleh tabrakan kecil itu. "Aw… kenapa kau berhenti?” tanya Lusia cepat, sedikit malu karena terlalu tenggelam dalam pikirannya sendiri.
Rayn berhenti melangkah dan memutar tubuhnya kembali. Pandangannya jatuh pada Lusia yang masih sibuk mengelus kening, memulihkan diri dari benturan tak terduga. Dengan wajah datar dan nada suara tetap tenang, Rayn bertanya di mana mobil gadis itu diparkir.
Lusia mendongak cepat, sedikit terkejut. Tatapannya mencurigai maksud tersembunyi di balik pertanyaan itu. "Untuk apa kau mencarinya?" tanyanya balik, alis terangkat, nada suaranya setengah waspada.
Rayn tidak langsung menjawab. Ia hanya mengangkat kunci mobilnya perlahan ke arah Lusia. "Bukankah tadi kau bilang akan mengantarku pulang?" ucapnya tenang, seraya mengacungkan kunci mobilnya seperti sebuah pengingat yang tak terbantahkan.
Lusia mengerjapkan mata, butuh beberapa detik hingga Lusia mengingat perkataannya sendiri. Ia buru-buru mengangguk kecil, lalu menambahkan, "Oh… iya, tentu. Aku bisa memberimu tumpangan. Kurasa itu yang terbaik, melihat kondisimu sekarang."
Lusia memutar bola matanya, lalu menatap kunci mobil yang masih disodorkan padanya. "Kalau begitu… kenapa kau memberiku kunci mobilmu?"
"Untuk kau bawakan besok," jawab Rayn singkat, lalu tanpa peringatan, ia menggenggam tangan Lusia dan meletakkan kunci itu di telapaknya.
Lusia terperanjat, menunjuk dirinya sendiri. "Ke… ke… kenapa harus aku yang melakukannya? Kau bisa ambil sendiri besok, atau suruh orangmu yang urus."
Namun yang benar-benar menarik perhatian Rayn bukan bantahan Lusia, melainkan fakta bahwa ia baru saja memegang tangan gadis itu. Memberikan kunci hanyalah dalih. Dalam hatinya, ia hanya ingin memastikan bahwa sentuhan itu tidak memicu ketakutan yang selama ini menghantuinya.
Dalam diam, Rayn bertanya dalam hati, "Apa yang terjadi?" Ia sendiri belum bisa menjelaskan. Hidup Rayn telah lama dibayangi oleh ketakutan mendalam terhadap sentuhan fisik. Baginya, bersentuhan dengan orang lain bukan hanya tidak nyaman, tapi menyakitkan, namun kali ini berbeda.
Lusia masih tidak habis pikir. Pria macam apa yang sedang ia hadapi sekarang? Rayn, dengan santainya, memegang tangannya alih-alih sekadar menyerahkan kunci. Refleks, Lusia langsung menarik tangannya, seolah sadar dirinya telah terlalu dekat dalam momen yang tidak sepantasnya.
"Wahhh... ini tidak benar. Ini tidak benar, Lusia!" batinnya, gelisah. Ia menggeleng cepat, lalu mengepalkan tangan dengan kunci mobil Rayn tergenggam erat, seolah benda kecil itu bisa menstabilkan denyut jantungnya yang mulai tak beraturan.
Dengan napas kasar, Lusia akhirnya meledak. “Hei, kau!” serunya, menahan gejolak yang ingin ia luapkan sejak tadi. “Maafkan aku, tapi apakah kau sadar jika kau sangat....”
“Sangat tidak tahu malu!” potong Rayn cepat, suaranya tenang namun mengena. “Jika kau berniat memaki, seharusnya tak perlu menyisipkan kata maaf. Karena pada akhirnya, kau tetap akan memaki."
Lusia terpaku. Lidahnya kelu. Ia tak tahu harus merespons apa.
“Oh… My God… bagaimana dia selalu bisa membaca pikiranku dari tadi sehingga aku mati kata,” gumamnya dalam hati. Setiap kalimat yang ia siapkan, selalu dibabat habis sebelum sempat keluar. Rayn seperti memiliki kunci untuk membuka dan membungkam pikirannya sekaligus.
“Kau sadar juga. Lalu bagaimana bisa kau memintaku mengantar mobilmu juga?” tanya Lusia dengan nada tajam, masih kesal karena merasa dipermainkan.
Rayn menoleh ringan, tatapannya tetap tenang. “Aku hanya sedang membantumu untuk tidak setengah-setengah dalam berbuat kebaikan,” jawabnya kalem. “Jika kau sungguh berniat menolongku, kuharap kau bersedia melakukannya hingga selesai. Jadi sekarang, bisakah kau tunjukkan kepadaku di mana mobilmu?” tanyanya sambil melirik ke arah parkiran, seolah menantikan arah telunjuk dari Lusia.
Lusia menghela napas berat, mencoba menahan emosi. “Seharusnya aku membiarkanmu babak belur kena pukulan tadi,” gerutunya sambil merogoh tas dan mengambil kunci mobil. “Setidaknya itu bisa mewakili perasaanku sekarang,” lanjutnya dengan nada setengah menggigit.
Tanpa menunggu Rayn, ia menekan remote mobilnya dengan kasar. Lampu hazard sebuah kendaraan menyala tak jauh dari tempat mereka berdiri, bukan mobil biasa, melainkan sebuah foodtruck. Lusia melangkah cepat ke arahnya, masih dengan gumaman kesal yang tak berhenti keluar dari bibirnya. Ia menggerutu tentang betapa menyebalkannya Rayn, pria pendiam yang ternyata mulutnya bisa lebih tajam dari pisau jika sudah bicara.
Namun, di balik masker hitamnya, Rayn tersenyum tipis. Senyuman yang tidak bisa ditebak artinya, mungkin puas, mungkin geli, atau mungkin hanya menikmati permainan kecil ini. Ia mengikuti Lusia tanpa protes, bahkan saat menyadari bahwa mobil yang akan membawanya pulang bukan sedan elegan, melainkan sebuah foodtruck yang penuh stiker. Tanpa komentar, ia membuka pintu dan masuk dengan tenang, seolah semua ini bagian dari rencana yang memang ingin ia jalani.
*** To Be Continued***
Hallo para pembaca setia Rayn & Lusia 👋😃
✅ Terus Dukung Karya ini dengan menjadikan FAVORITE yah..
❤ Berikan Like kalian hanya dengan klik Like pada symbol Love, GRATIS 😍
📝Lengkapi kehaluan Author dengan KOMENTAR kalian di setiap BAB nya ya…. ( saran dari kalian juga bisa menjadi inspirasi cerita Author)
🎀 PLEASE BERIKAN VOTE pada karya ini agar semakin di Up Up Up dan Up lagi oleh platform.
Terima Kasih atas semua dukungannya 🙆
hebatnya bahkan setelah saya tinggal sekian lama saya masih ingat cerita dan tokoh2nya
salut buat author, penuturannya pasti betul2 dipikirkan dan ditulis dalam mood yg baik dan stabil jadilah literasi yg baik. jadi buat para readers jangan suka desak2 author utk rajin update, krna hasil karya yg baik tidak dibuat tergesa-gesa