Selama tujuh tahun Khiana bersama anaknya hidup sebagai seorang pelarian dikarenakan sebuah tragedi di masa lalu.
Walaupun perasaannya hancur karena tragedi itu, tetapi ternyata dirinya masih belum bisa melupakan Kiral.
Selama tujuh tahun Kiral hidup dalam rasa bersalah dan penyesalan dikarenakan kesalahannya di masa lalu.
Walaupun ia tahu bahwa ia telah menghancurkan kepercayaan Khiana terhadapnya, tetapi sebenarnya ia menyimpan sebuah kebenaran yang tidak bisa ia katakan kepada siapapun saat tragedi itu terjadi.
Tujuh tahun berlalu. Keduanya masih sama-sama tersiksa dengan keadaan.
Tujuh tahun berlalu. Rindu keduanya semakin besar.
Tujuh tahun berlalu. Garis takdir mulai menuliskan pertemuan baru bagi mereka berdua.
Bagaimanakah takdir akan mempersatukan mereka kembali?
- update setiap Jum'at malam -
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon JasmineTea, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ep. 5 - Orang Paling Populer di Sekolah
Aku segera kembali ke kelas setelah mendengar bel masuk. Percakapan dengan Kiral masih terngiang-ngiang di kepalaku. Hal itu membuat ku sama sekali tidak fokus dengan apa yang sedang di jelaskan oleh guru di depan kelas sampai akhirnya bel tanda pulang pun berbunyi.
"Oi! Khiana? kenapa sih? dari tadi bengong terus? sakit ya?" Teman sebangku ku Nurul akhirnya bersuara setelah menahan rasa penasarannya sejak Aku kembali dari perpustakaan tadi. Ia berdiri sambil memperhatikan gerak-gerik ku yang sedang memasukkan semua buku ke dalam tas.
"Enggak kok" jawabku pendek. Semua buku akhirnya sudah masuk ke dalam tas. Aku berdiri dan melangkah ke luar kelas. Sementara itu Nurul mengekor di belakang ku.
"Terus kenapa bengong aja dari tadi?"
"Lagi capek aja Rul.. " jawab ku asal.
Kami berdua melangkah menuju area sekre. Aku dan Nurul adalah anggota ekskul karate. Hari ini adalah jadwal kami untuk berlatih.
"Tumben.. biasanya semangat setiap pelajaran Pak Amin.."
Aku hanya menjawab celetukan Nurul dengan senyum tipis. Sepertinya Aku sama sekali tidak boleh membicarakan percakapan ku dengan Kak Kiral tadi siang.
Ya. Tidak boleh. Tentu saja tidak boleh!
Bisa gawat Aku nantinya jika seisi sekolah mengetahui perjodohan ini. Apalagi ini menyangkut siswa paling populer di sekolah. Bisa-bisa nanti Aku jadi bulan-bulanan fans fanatik Kiral.
Lalu, Aku sengaja mempercepat langkah ku agar Nurul berhenti mencecar ku dengan pertanyaan-pertanyaan lainnya.
Tak lama kemudian kami berdua tiba di area sekre sekolah yang berada di belakang bangunan utama.
Area sekre ini di huni oleh berbagai club ekstrakulikuler. Mulai dari olahraga, kesenian, dan budaya.
Sekre club beladiri berada dekat dengan sekre club olahraga. Sebelum sampai di sekre club Karate, kami melewati sekre club Basket laki-laki yang sedang heboh dikerumuni oleh siswa perempuan.
"Buset.. heboh apaan lagi tuh?" Koar Nurul sambil menatap takjub kerumunan manusia itu. Perhatian nya sudah 100% teralihkan dari ku.
Sebenarnya kerumunan itu sudah sering terjadi di sini. Tapi entah kenapa setiap kali melihatnya Nurul masih belum bisa terbiasa.
Penyebab kerumunan itu tak lain dan tak bukan adalah si kapten club Basket laki-laki, sekaligus si murid paling populer dan jenius seantero sekolah, Kiral Raya Adipati.
Aku hanya melirik sekilas ke arah club Basket. Sama sekali tidak tertarik.
Kenapa bisa-bisanya ada orang yang super fanatik dengan orang lain seperti itu ya? Aku sama sekali tidak paham dengan konsep fans. Lagian Kiral kan juga sama seperti mereka. Hanya siswa biasa. Yaa.. walaupun bakatnya memang banyak sih.. tapi menurutku agak berlebihan juga kalau sampai berkerumun seperti itu.
Akhirnya Aku dan Nurul tiba di sekre club Karate. Kami anggota pertama yang datang. Sepertinya senior dan teman-teman kami yang lain masih di kelas mereka masing-masing.
Sambil menghempaskan tubuhnya di lantai, Nurul memulai celotehan hariannya. Topiknya seperti biasa adalah gosip terbaru di sekolah dan hampir selalu soal Kiral.
"Ahhh.. akhirnya sampai.."
Aku meletakkan tas di lantai lalu berselonjor di dekat Nurul. Kami akan duduk sebentar sambil menunggu anggota club yang lain.
"Eh Na, tahu gak? katanya Kak Kiral tuh gak punya sosial media loh"
"Oh ya?" Jawabku malas.
"Iyaa! Bikin penasaran kan tuh orang? Bisa-bisanya ada manusia di zaman sekarang yang gak punya sosial media. Aneh banget kan?"
Aku hanya diam. Ya.. Aku juga bukan orang yang terlalu suka bermain sosial media sih. Aku hanya punya dua akun sosial media yang Aku buat untuk keperluan tugas sekolah. Di luar itu Aku hampir tidak pernah menggunakan sosial media. Jadi, ketika mendengar ada orang yang sama sekali tidak punya sosial media rasanya biasa saja.
"Terus ya, karena dia gak punya sosial media banyak banget anak-anak cewek yang nge posting foto-foto Kak Kiral yang di ambil diam-diam. Nih Aku juga punya.."
Nurul memperlihatkan layar ponselnya. Terlihat beberapa foto Kak Kiral yang memang terlihat diambil secara ilegal. Ada foto yang memperlihatkan dia sedang makan di kantin sekolah, membaca buku di perpustakaan, bertanding basket dan lain sebagainya.
"Gila.. cakep ya.. " ujar Nurul. Lagi-lagi Aku hanya diam tak merespon. Walau dalam hati mengiyakan ujarannya.
"Eh, Na! kalau nih yaaa kalau.. Aku punya pacar kayak Kak Kiral, gimana yaa?" Ucap Nurul sambil menggenggam kedua tangannya dan menatap langit-langit.
"Ahh.. pasti rasanya luar biasa! Dia tampan, pintar, jago olahraga, kaya terus kepribadian nya juga baik.. yaa.. walaupun kadang agak sedikit pendiam dan tertutup sih.. tapi itu yang bikin semua orang jadi penasaran"
Nurul mengganti posisi duduknya dan melanjutkan.
"Aku jadi penasaran, kalau dia punya istri nanti gimana ya?"
Deg.
Pertanyaan Nurul yang Aku yakin hanya asal bunyi saja terdengar sedikit menggemparkan ketenangan jiwa ku.
Aku jadi teringat soal kejadian di perpustakaan.
Soal perjodohan.
"Hah.. pastinya perempuan yang akan jadi istri Kak Kiral nanti adalah orang yang mirip dia juga ya.. pintar, cantik, anggun dan berasal dari keluarga yang terpandang. Beruntung nyaa.."
Ya. Pasti seperti itu. Perempuan yang pantas dengan Kiral adalah perempuan seperti itu.
Kalau Aku, Aku sama sekali tidak sepadan.
"Tapi.. Mama ku pernah bilang, jodoh itu bisa juga orang yang benar-benar berbeda dengan kita. Mereka dipersatukan agar bisa saling melengkapi satu sama lain.. hah.. Aku jadi ingin cepat-cepat bertemu jodohku.. "
"Oh iya!" seperti di sambar petir, tiba-tiba Nurul mengambil ponselnya dan mencari-cari sesuatu.
"Khiana! liat ini!" Kedua mataku membesar melototi sebuah foto yang di perlihatkan Nurul. Itu adalah foto Kiral yang diambil secara diam-diam saat dia baru saja turun dari dalam mobil bersama Ayahnya.
Dari penampilan kedua orang itu, Aku sangat yakin itu adalah setelan yang mereka pakai tadi malam di hotel.
"Lihat! ini adalah satu-satunya foto Kak Kiral yang berhasil diambil di luar sekolah dan pertandingan basket. Kamu liat itu? Cakep parahhh.. dia pakai setelan jas dong Khianaaa.. Aku baru dapet ini tadi pagi dari akun sosmed anak kelas 12. Katanya dia gak sengaja lihat Kak Kiral di Hotel tempat Ayah nya kerja tadi malam. Woahh.. lihat deh, wajah Ayahnya Kak Kiral oriental banget ya.. mirip orang Jepang atau Korea deh.. pantas saja wajah Kak Kiral juga agak mirip orang Jepang atau Korea.."
Hah.. foto itu benar-benar mengejutkan. Tapi untung saja semalam acara makan malam kami di adakan di dalam ruangan private. Jadi tidak sembarang orang bisa masuk. Lagi pula foto itu di ambil di luar saat Ayah dan anak itu baru saja tiba di hotel. Tidak mungkin kan ada yang melihat kami makan bersama?
Semoga saja tidak.
Lalu, percakapan kami berhenti saat beberapa anggota club Karate datang.
.
.
.
bersambung...