Bu Rena adalah guru kelompok bermain (KB) Mentari, sosoknya yang ceria dan supel menjadikannya disukai banyak anak dan teman sejawatnya,
Berkisah tentang segala aktivitas kegiatan mengajarnya, kisah percintaannya, kegiatan dengan masyarakat sekitar dan kesabaran dia dalam menangani banyak anak yang berbeda karakter.
Hingga berakhir dengan kehilangan suami tercintanya yang menjadikan dia kuat harus dalam memulai hari barunya.
Akankah dia bertahan dengan keadaan yang ada? Menikmati kesendirian dan segala kesibukannya? Atau membuka lembaran baru dengan menerima seseorang yang mampu dijadikan sebagai Ayah pengganti untuk anak semata wayangnya Khayrullah Hizam?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon @Widiawati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Happy Saturday
Suara muadzin masjid besar sayup-sayup terdengar. Pertanda waktu subuh telah tiba. Sepasang manusia yang tengah terlelap dibawah selimut dan saling memberikan kehangatan pun mulai menggerakkan tubuh mereka, pertanda sebentar lagi persatuan tubuh akan terlepas.
"Bu.. Ibu.. bangun ,yuk kita sholat subuh! Mandi besar dulu!" Banu menciumi seluruh wajah sang istri, berharap sang istri beranjak bangun
"Mas dulu aja yang mandi, gantian." Rena membalikan badannya dan semakin menaikan selimutnya.
Aku pastikan akan terulang kembali adegan panas jika aku menerima ajakannya untuk mandi bersama.
Mencari alasan agar dia terbebas dari kejahilan sang suami. Hingga Banu beranjak masuk ke kamar mandi untuk membersihkan dan mempersiapkan diri guna melaksanakan sholat Subuh.
15 menit berlalu, sudah tidak ada suara gemericik air di kamar mandi. Akhirnya Rena beranjak untuk mengikuti jejak suami untuk segera mandi dan sholat Subuh.
Karena sekarang hari Sabtu, hari yang akan dilalui terasa sangat mudah. Tidak terburu-buru oleh waktu dan tentunya dapat menghabiskan waktu untuk bermain dengan anak salehnya.
Hari Sabtu jadwal Banu hanya sampai setengah hari. Maka masak hari ini agak dibanyakin.
Biasanya Banu makan dirumah. Dan hari ini menu masakan apa ya?
Rena berjalan keluar kamar menuju ke dapur. Membuka lemari pendingin melihat bahan masakan apa yang kira-kira bisa diolah. Ada wortel, kol, daun bawang, brokoli dan bakso yang tinggal beberapa biji.
"Bikin Sop aja deh." Rena meraih baskom yang ada di rak piring sambil mengeluarkan sayuran satu persatu dari kulkas.
"acalamualaikum iIbuuu!" Hizam mendekati Rena sambil mengucek matanya.
"Walaikumsalam anak salehnya Ibu, sudah bangun? Hebat sekali turun sendiri yaa!" Rena mendekati sang anak, kemudian meraih kepala plontosnya dan menciumi anaknya berkali-kali.
"Ibu macak apa?" sambil mendusel-ndusel kepala tanda dia enggan diciumi sang Ibu, dan mencoba melepaskan diri, kemudian berjalan menuju meja kompor.
"Ibu mau masak sop, sama goreng tempe.. Hizam mau? "
"Ya, mauu!" berjalan pergi meninggalkan sang ibu, masuk ke ruang tengah dan menyalakan televisi menonton kartun kesayangannya Udin dan Usin.
Sementara Rena memasak, Banu menyalakan pawon di gubuk kecil belakang untuk memasak air. Pawon adalah sejenis tungku, Bahan bakarnya bisa bambu bisa kayu. Banu masih menggunakan pawon untuk memasak air, bukan tanpa alasan. Selain lebih mengirit gas LPJ, air yang dimasak menggunakan kayu bakar terasa lebih segar. Padahal, mungkin bagi sebagian orang sama saja. Sebetulnya menggunakan pawon itu termasuk ribet dan membuang waktu. Bagaimana tidak, kalau menggunakan pawon, selama proses memasak harus di tunggu. Takut-takut kalau apinya mati atau yang lebih parah apinya meleber kemana-mana.
Sebenarnya menggunakan pawon juga salah satu menjaga kearifan budaya lokal. Di daerah tempat tinggalnya yang masih banyak terdapat kayu atau bambu tidak begitu sulit untuk mencarinya. Terkadang ada orang berbaik hati memberikan kayu kepada Rena.
Menjadi guru di desa menjadi posisi yang bisa dibilang masih WAH kenapa begitu? karena bisa dihitung banyaknya guru dalam satu desa di sini. Kebanyakan pekerjaan mereka adalah petani, sisanya pedagang dan buruh.
Selesai memasak, Rena menyiapkan makanan di meja makan. Mengajak sang buah hati dan suami untuk sarapan, sebelum kemudian dilanjutkan memandikan sang anak.
Ya, aturan di rumah adalah sarapan terlebih dahulu baru mandi. Bukan tanpa sebab dan tujuan mengapa harus makan dulu? karena menurut Banu, sekalian mandi dan gosok gigi jadi keluar rumah sudah bersih. Tidak akan ada lagi cabai atau sayuran di sela-sela gigi yang tertinggal.
Selesai memandikan Hizam, Rena melanjutkan pekerjaan rumah, dimulai dari menyapu berberes-beres hingga akhirnya teringat kembali dengan tugas yang diberikan oleh pak penilik untuk mengrekap data satu kecamatan.
Banu bersiap-siap untuk berangkat ke kantor, ternyata jam menunjukan sudah pukul 08.30 hingga akhirnya berpamitan kepada sang istri untuk berangkat.
Setelah salim dan cium kening, Banu pun memanasi Suprayitno, kemudian menjalankannya dengan tangan kiri melambaikan tangannya.
"Hati-hati dijalan Bapak!" Rena dan Hizam melambaikan tangan tanda selamat jalan.
Rena beranjak masuk kedalam rumah, tak lupa menutup pintu dan menguncinya.
Tanpa menunda lagi Rena membuka laptop dan memasang WA Web demi kelancaran dan kemudahan. Membuka Microsoft Excel dan mulai membuat tabel.
Sementara dengan Banu yang sudah berangkat ke kantor, Hizam diberikan pekerjaan oleh Ibu. Yaitu mewarnai bola, lebihan tugas yang telah diberikan kepada anak-anak waktu hari Rabu kemarin. Lumayan untuk mengalihkan perhatiannya selama sang ibu dan ayah berkutat dengan aktivitas mereka.
Siang pun beranjak, Jam menunjukan pukul 12.15. Tugas negara telah terselesaikan dengan baik, sang anak terlelap dengan sendirinya sesaat setelah diberikan susu, Mungkin juga lelah setelah bermain dengan crayon dan berakhir dengan crayon dipotong kecil-kecil dibuat seperti telur puyuh katanya!Memang daya imajinasi anak seusia Hizam sedang pesat-pesatnya.
Dan kini saatnya Rena untuk me time.
Memanjakan diri sendiri dengan memakai masker alami dari putih telur ayam kampung. Cukup ampuh untuk menghaluskan kulit dan mengangkat komedo tentu saja.
Cara pemakaiannya sangat mudah, tinggal mengolesi wajah dengan putih telur menggunakan kuas, setelah dirasa merata kemudian tempelkan tisue di area hidung maupun dagu yang terdapat banyak komedo. Lalu oleskan lagi tisue dengan putih telur agar menempel di wajah. Tunggu sampai mengering kemudian angkat tisue secara perlahan, lihat apa yang dihasilkan.
Selamat mencoba!
seharusnya cerita2 gini nih yg banyak peminatnya bukan hanya tentang CEO aja
aku suka menceritakan kehidupan dan kesederhanaan hidup ,natural ceritanya
makasih y thor
sehat selalu
semangat dan semoga selalu sukses
😍😘🤗
ehhh,,,atau jangan2 emang kisah nyata yaaa
jempol banyak2 dech pokoknya
pinginnya ada bonchap 😁😁😁😁😁😁
terima kasih thor....sukses selalu...
kapan malam pertamanya udah hamil aja😅😅😅nunggin part MP nyaa,,malah udah end,,makasiih tor