Abraham yang seorang Komisaris Polisi dan Arshinta seorang guru TK. anak-anak Lucifer setelah dewasa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon linieva, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 6
“Shinta?” Ina melihat Arshinta berjalan ke arah nya, dia keluar dari posisi dan menghampiri Shinta.
Dua wanita itu saling berpelukan layak nya kakak adik.
“Pasti kak Ina marah-marah lagi ya?” tanya Shinta memegang tangan Ina.
“Pasti dengar dari luar ya….. sini duduk dulu.” Ina menggandeng tangan Shinta untuk duduk bersama di sofa.
“Iya, biasa lah, kegarangan kak Ina kan sudah terdengar dan terkenal. Kenapa sih, ada masalah apa?” Shinta membuka bungkusan yang di beli sebelum nya.
“Itu, ada model yang baru, mereka gak mau jadi model kita kalau permintaan nya tidak di turuti……. Ini kamu beli di mana?.... enak loh.”
Ina mengambil potongan kue yang sudah di potong dari toko nya.
“Songong banget ya, ganti aja kak…… ini aku beli di toko roti langganan ku, enak kan.” Jawab Shinta memakan nya juga.
“Iya, enak. Engak terlalu manis dan wangi. Besok-besok kamu bawakan lagi ya. Aku sangat suka.” Puji Ina memakan potongan berikut nya lagi.
“Terus gimana kak untuk model pengganti nya?” tanya Shinta ke topik awal.
“Aku sih sudah suruh Zafran untuk menghubungi Oksana dan Gwen, mereka ada waktu atau tidak. Secara mereka kan udah Go International banget kan. Susah atur jadwal nya.” Jawab nya yang masih memakan krim kue .
“Pasti mereka mau lah.” Shinta membersihkan tangan nya dengan tisu yang sudah tersedia di atas meja.
“Oh ya dek, kamu mau gak temanin kakak ke Singapura? Ada urusan dari perusahaan kita yang di sana. Kata paman Vicky ada rapat penting.” Ajak nya pada Shinta.
“Aduh… gimana ya kak, aku enggak bisa ninggalin sekolah. Kenapa coba ajak kak Abraham?” tanya nya.
“Kamu tuh ya, paling susah banget kalau dengan urusan perusahaan. Abraham ya mana mau lah. Kalian berdua itu sama saja. Ya udah deh, aku ajak Zafran dan Sakya saja.” Ina akhir nya menyerah membujuk Shinta, dia
meminum minuman dingin yang juga sudah di bawa Shinta.
******
Di rumah sakit tempat dokter Devran bekerja, ada beberapa dokter yang lain nya yang juga ikut panik dengan berita kalau Abraham sedang berusaha untuk menyelidiki kasus yang berusaha mereka tutupi. Belum pernah ada yang sangat penasaran dan berani.
“Kau bilang dia KOMPOL Abraham?” tanya Ryan, salah satu dokter yang bekerja sama dengan nya.
“Iya, dan dia juga membawa rekan nya, kalau tidak salah nama nya Adley. Awal nya aku tidak percaya, tapi mereka menunjukkan lencana nya, dan aku tidak bisa berkutik lagi.” Jawab Devran.
“Bisa saja kan itu lencana palsu. Apa kau tidak bisa cek lebih dalam?” tanya rekan nya yang lain.
“Iya aku mana bisa lah. Kalau seandai nya kalian sendiri yang melihat nya langsung pasti kalian juga akan merasakan sama seperti yang aku rasakan.” Devran yang kesal tidak ada yang percaya pada nya.
“Kita harus segera memberitahukan pada mereka, agar mereka bisa melindungi kita. Jangan sampai kita di bikin malu.”
“Kau benar, apalagi sampai di keluarkan dari rumah sakit ini, sia-sia semua pengorbanan ku.” Balas rekan nya yang juga merasakan
kepanikan.
“kata Kompol itu, mereka akan datang lagi ke sini, dan aku adalah orang pertama yang akan mereka interogasi. Jadi aku harus tanya sama bos kita, apa yang harus aku lakukan.” Ucap Devran berpikir untuk menghadapi Abraham yang dia tahu kalau pria itu tidak gampang untuk di hindari.
****
Pukul 10 malam Abraham baru pulang ke rumah nya. Dia sengaja tidak satu rumah dengan Eva dan Lucifer, karena jarak rumah yang lumayan jauh dengan tempat nya bekerja.
Dia tidak mau mengganggu waktu istirahat keluarga nya.
Arshinta dan Rina juga begitu, dia memiliki tempat tinggal sendiri.
Sesekali mereka berdua datang berkumpul sekeluarga.
Terkadang Eva dan Lucifer hanya menghabiskan waktu berdua, berjalan keluar kota atau keluar negeri lain nya. Seperti sepasang pengantin baru. Dan tentu saja, orang tua mereka tidak keberatan dengan pilihan anak-anak nya.
“Hhhaaaddduuuhhhhh…… capek banget. Kayak nya besok mau pijit refleksi dulu ah… badan udah pada kayak rontok.” Ucap nya sendiri melempar kan tubuh nya di atas tempat tidur.
Abraham belum mandi, tapi sudah berbaring dengan mengecek ponsel nya.
“Hallo, Adley…… besok kita pijit yuk.” Ajak Abraham dalam panggilan telepon nya.
“Tumben? Biasa nya kerja terus.” Ledek Adley yang juga berada di rumah nya.
“Iya, badan ku sudah mengeluh nih. Takut nya entar kalau di paksakan bisa mati muda aku. Hilang salah satu pria tertampan di dunia.” Canda Abraham dengan tawa kecil.
“Ppprrreeeetttt….. ya udah ayo. Jam berapa?” tanya Adley yang awal nya menertawai Abraham memuji diri.
“Jam 4 sore aja. Sekalian kita makan malam, biar romantis, hahahahaha….” Tawa Abraham dengan suara keras.
“Ya ampun Bram…. Bram… terlalu lama menjomblo kamu ini. Tampan tapi kok gak punya pacar ya, heran.”
“Bukan gak punya, tapi masih belum ada. Aku itu pria istimewa loh, lain dari pada yang lain. Hahahaha…..” puji nya lagi sambil tertawa.
“Ckckckckckck….. ya udah kalau begitu, besok kau jemput saja aku. Aku males ke tempat mu, jauh.” Pinta nya pada Abraham.
“Oke, sampai jumpa besok ya. Aku tutup nih ponsel nya.” Setelah kalimat terakhir, Abraham bergegas kekamar mandi untuk membersihkan diri.
******
“Hhhhuuuhhhuuuhhuu….hhuuuuhhhuuuu…..hhhuuhhhuuu…..” terdengar suara tangisan anak kecil.
Satmaka yang mendengar langsung turun dan segera keluar dari kamar nya.
“Rakha, kenapa dia menangis?” dengan terburu-buru berlari kekamar putera nya.
“Rakha, kamu kenapa nak?” tanya Satmaka yang sudah membuka pintu dengan panik dan langsung menyalakan lampu yang tidak jauh dari pintu.
“Papa…… papa…… Aka takut pa…” anak kecil itu menjerit memanggil papa nya.
Satmaka segera memeluk Rakha, dan mengusap-usap kepala Rakha agar berhenti menangis.
“Aka, kamu kenapa nak? Kamu mimpi buruk lagi ya?” papa nya mengangkat wajah anak nya, agar bisa melihat wajah Aka.
“Iya pa, ada peyempuan yang nayik-nayik Aka, dia suyuh Aka ikut dia pa…… Aka takut pa…..hhhuuuhhhuuu….” Rakha yang masih menangis, mengucek-ucek mata nya.
“Sayang kamu jangan nangis lagi ya, papa ada di sini sekarang, gak ada yang bisa mengganggu kamu lagi.” Anak itu kembali di peluk.
“Aka takut pa, dia sangat jeyek dan seyam. Aka takut di bawa…” ucap nya dengan tangis yang perlahan pelan.
“Papa, Aka mau bobok sama papa. Boleh ya pa..” pinta Rakha berharap.
Satmaka melihat wajah anak nya itu yang mata nya sudah bengkak karena menangis.
“Iya sayang, kamu bobok sama papa ya.” Setelah mengusap air mata anak itu, Satmaka menggendong Rakha dan membawa nya ke kamar.