Alvino Jordy Admaja adalah seorang laki-laki yang hampir sempurna. Ia memiliki ketampanan diatas rata-rata, begitu juga dengan harta warisan yang ia yakini tak akan habis 7 turunan. Namun justru itu semua menjadi bumerang untuknya mencari pendamping hidup.
Semua wanita yang mendekat hanya melihatnya dari segi fisik dan juga harta. Ia terkenal playboy di luar rumah tapi terkenal jones di keluarganya sendiri, akibat tak pernah membawa ataupun mengenalkan pacarnya.
"Kapan kamu kenalin pacar kamu ke mama Vin ?". ~ Mama Dina
"Kapan-kapan ma". ~ Alvin
Mencari istri tidak semudah membeli barang branded. Hatinya tertambat pada seorang gadis berjilbab. Namun tetap tidak semudah itu meminang gadis cantik dengan lesung pipit yang selalu menjadi penyejuk hati.
Penasaran ? Ikuti keseruannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cahaya_bintang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Peraturan Baru
Alvin menarik dasinya dengan cara kasar dan juga melepas jas yang ia kenakan sedari pagi hingga sekarang. Meeting telah usai setelah dua jam lamanya ia harus berpura-pura tegas kepada petinggi perusahaan agar tak ada yang menyepelekan. Tapi di balik itu semua ia lelah, namun tak dapat mengeluh kepada siapapun.
Perusahaan yang papa Rey berikan ke Alvin kadang dianggapnya sebagai suatu tanggung jawab yang merepotkan. Tak jarang terlintas di fikiran untuk beralih profesi yang tak harus membuatnya merasa jenuh tiap hari. Tapi semua itu tak mungkin, perusahaan yang di bangun oleh opa dan di kembangkan oleh papanya harus ia jalankan dengan baik sama, halnya dengan saudaranya yang lain.
"Habis ini elo ada meeting sama klien satu jam lagi." Angga dengan buku agenda yang berisi jadwal Avin tiap hari di pegangnya, mengingatkan sang atasan sekaligus teman untuk bersiap sekalipun masih ada waktu satu jam.
"Ini kapan selesainya ? kayaknya dari minggu kemarin meeting mulu, nggak ada apa jadwal refreshing gitu apa dinas sekalian liburan, jenuh gue." Rasa wibawa sekaligus tampang garang sirna seketika saat ia berada di ruangannya sendiri, dan Angga selama ini juga telah mengetahui baik luar maupun dalam sifat Alvin sebenarnya.
"Jangan ngeluh mulu, harus santai ngejalaninnya." Ujarnya tapi tak sadar bahwa itu membuat Alvin lebih sebal.
"Elo enak tinggal atur jadwal gue, lha gue yang pusing hadapin para petinggi yang minta untung mulu tapi kalau di suruh kerja molor terus bawaannya." Bosan dengan ruangan dan segala jadwalnya, Alvin beranjak dri kursi singgahsana yang selama ini ia duduki.
"Mau kemana ?." Tanya Angga berusaha untuk mencegah Alvin, tapi tak bisa.
"Gue mau cari angin bentar, jangan khawatir gue masih ingat nanti meeting lagi kan ?." Alvin langsung pergi meninggalkan Angga di ruangannya, ia sangat percaya lelaki itu tak akan macam-macam, waktu satu jam di gunakan semaksimal mungkin untuk menyegarkan fikiran sebelum otaknya meledak karena terlalu banyak asupan meeting.
"Meeting mulu gue perasaan, nggak mikir apa gue cuma manusia biasa, untung ini otak buatan Tuhan, coba buatan negara tetangga pasti udah meledak, mana nggak ada garansi pula." Gerutunya saat memasuki lift khusus dan melangkah ke lantai satu untuk mencari angin atau sesuatu yang dapat membuat fikirannya segar seperti embun di pagi hari.
Ia melangkah di pelataran kantor dan sepi karena ini masih jam kerja, semua karyawan tengah sibuk mengerjakan tugasnya di depan layar komputer. Terlihat dari kejauhan ada seorang gadis yang duduk di kursi dibawah pohon, ia merasa tak asing dan mendekat untuk mencari tau.
"Hani ??."
"Mas Alvin ?."
Keduanya saling terkejut saat kembali bertemu, ia kali kedua dan tak menyangka akan bertemu disini dengan raut wajah Hani yang dari terlihat sendu. Alvin duduk di sebelah tapi masih ada jarak diantara keduanya, batas sopan agar tak disangka hendak macam-macam.
"Kok ada disini ? Kerja disini ?." Setelah sekian lama Alvin tak menyadari adanya Hani dalam kantornya, entah ia yang terlalu sibuk atau tak memperhatikan karyawan satu-satu. Tapi keberadaan Hani benar-benar membuatnya terkejut, karena ternyata bumi itu sempit sekali.
"Maunya kerja disini tapi lamaranku ditolak karena aku pakai hijab, seharusnya peraturan mengenai hijab ditiadakan toh nggak akan mempengaruhi kinerja seseorang apalagi Indonesia itu mayoritas agama islam, eh aku kok malah ngomong macam-macam maaf ya mas."
"Eh nggak apa-apa." Sejenak Alvin seolah tertampar atas ucapan Hani yang sebelumnya tak pernah terfikirkan, ia memang bos sekaligus pemilik perusahaan tapi tak pernah peduli atau ingin tahu perihal seragam kerja ataupun peraturan mengenai penampilan. Sebagai seorang pemilik ia merasa banyak kekurangan padahal ia kira kinerjanya telah maksimal.
"Terus sekarang kamu mau ngelamar dimana ?." Alvin bertanya lagi, tapi raut wajah sendu kembali tampil. Entah mengapa ia benar-benar ingin tau mengenai Hani dan kehidupannya padahal mereka kali kedua ini bertemu apalagi Hani tak mengetahui bahwa dirinya adalah pemilik perusahaan.
"Entahlah mas soalnya ini perusahaan yang terkahir yang aku tau sedang membuka lowongan kerja, tau sendiri mencari pekerjaan itu hal yang mudah tapi mendapatkannya yang susah."
"Kalau begitu kau harus terus berusaha siapa tau diterima." Alvin terganggu saat hp-nya berdering di saku kemeja lengan panjang yang ia kenakan, lupa bahwa ada nada getarnya juga sehingga terasa menggelitik, ia berdecak kala melihat nama Angga yang berada di layar.
Teringat bahwa waktu satu jam jeda sebelum rapat lainnya di mulai telah habis, Alvin berpamitan kepada Hani untuk kembali ke kantor. Begitu juga Hani yang katanya masih belum menyerah mencari kerja, rasa kasihan dan juga kagum Alvin membuatnya mengingat harus merubah peraturan mengenai pakaian pegawai di kantornya.
"Elo itu ganggu tau nggak !!." Alvin dengan nada kesalnya masuk ke dalam ruangan diikuti Angga yang berada di belakang, ia mengambil dasi dan juga jas lalu kembali di pakai. Kali ini rapat dengan klien, yang telah beberapa kali berkerja sama dengannya, ia yakin akan mudah mendapatkan tender ini.
"Oh ya, elo ke bagian personalia dan ubah peraturan mengenai pakaian pegawai, mulai sekarang yang pakai kerudung dibolehin kerja disini mulai hari ini, sekaligus buat para pelamar yang sebelumnya di tolak buat di seleksi ulang."
Perintahnya kepada Angga, tapi meski begitu Alvin tak langsung memperkerjakan Hani begitu saja di kantornya. Ia akan melihat apakah Hani layak masuk kantor atau tidak, jika memang Hani berhasil masuk itu juga bukan karena bantuannya tapi karena usaha Hani sendiri.
"Tumbenan elo peduli sama peraturan kantor, biasanya juga acuh yang penting kerja keras." Angga menatap Alvin dengan tatapan curiga, tapi wajahnya malah diusap Alvin tanpa dosa.
"Udah jangan kebanyakan mikir, ayo ke ruang rapat, kan elo yang berisik nelfon gue dari tadi buat ngingetin rapat."
Alvin berjalan lebih dulu dan masuk ke dalam lift khusus dengan Angga di belakang menuruni dua lantai tempat meeting diadakan. Berbeda dengan sebelumnya dimana banyak orang pada meeting yang membahas tentang perkembangan perusahaan, kini hanya ada 2 orang saja yang menunggu disana ditambah Alvin dan Angga jadi 4 orang.
Waktu telah berlaku dan banyak berubah, lelaki itu kini menjadi pria dewasa dengan segala tanggung jawab yang diemban. Rasa percaya dari generasi sebelumnya membuatnya harus selaku siap sedia menjadi pemimpin baik.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Alvin akan update tapi nggak setiap hari, jika novel Hidup Kembali udah selesai baru novel ini up tiap hari. 🙏🙏🙏
Terima kasih untuk novel² Thor yang sudah menghibur kami para reader..
mohon maaf lhr n btn jg...👍
paparey
jan
kristen
ya
kok
lwbaran