Bara Pratama hanyalah seorang pemulung yang dihina dan dibuang oleh kekasihnya demi pria kaya. Namun, nasibnya berbalik total saat darah dari luka pukulannya tanpa sengaja mengaktifkan sebuah tungku berkarat yang terhubung dengan Sistem Daur Ulang Multiverse. Melalui sistem ini, Bara bisa memproses rongsokan tidak berharga menjadi pil kultivasi, material langka, dan barang pusaka bernilai tinggi dari dimensi Sekte Harmoni. Berbekal kekuatan dan kekayaan baru yang terus mengalir dari tumpukan sampah, Bara siap menghancurkan kesombongan orang-orang yang dulu menginjaknya dan memulai hidup baru sebagai sosok yang tidak bisa diremehkan oleh siapa pun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6
Dulu saat dia masih menjadi pemulung lemah yang bodoh, dia pasti akan gemetar ketakutan dan lari saat diancam akan dilaporkan ke kantor polisi.
Tapi hari ini tubuhnya sudah diperkuat oleh pil sistem dan mentalitasnya tidak lagi selemah pemulung miskin di masa lalu.
Bara menatap lurus ke dalam bola mata penjaga toko itu dengan sorot mata yang luar biasa tajam dan mengancam.
Aura intimidasi yang tidak disengaja memancar kuat dari tubuh Bara yang kini jauh lebih bugar dan berotot padat.
"Jadi kau benar-benar mau memanggil polisi sekarang?" suara Bara merendah menjadi setengah berbisik namun terdengar sangat mematikan.
Bara lalu meletakkan kedua telapak tangannya dengan keras di atas permukaan meja etalase kaca dan mencondongkan tubuhnya ke depan menantang pria itu.
Krak!
Tanpa disadari oleh Bara sendiri, cengkeraman tangannya yang terlalu kuat membuat pinggiran meja etalase kaca tebal itu retak memanjang.
Penjaga toko itu langsung mundur selangkah dengan wajah pucat pasi saat melihat ketebalan kaca anti peluru etalasenya retak hanya karena ditekan oleh tangan kosong Bara.
"Panggil saja polisinya sekarang, mari kita lihat siapa yang akan lebih dulu masuk ruang gawat darurat rumah sakit sebelum polisi itu tiba di sini," ancam Bara dengan senyum miring yang sangat menyeramkan.
Tubuh pria paruh baya itu tiba-tiba gemetar hebat merasakan tekanan aura membunuh dari pemuda berpenampilan gembel di depannya ini.
Dia perlahan menyadari bahwa pemuda di depannya ini bukanlah orang miskin sembarangan yang bisa digertak begitu saja.
Kekuatan tangan yang bisa meretakkan kaca etalase setebal itu murni adalah tenaga monster yang sangat mengerikan.
"T-tunggu dulu, jangan gegabah dan berbuat kasar anak muda," suara penjaga toko itu langsung berubah gagap dan dipenuhi ketakutan.
"Kita... kita pasti bisa bicarakan masalah harga ini baik-baik sebagai sesama pembisnis yang mencari untung."
"Jangan panggil aku anak muda, sebutkan harga aslinya dengan benar sekarang atau aku akan menghancurkan seluruh mejamu ini menjadi debu," gertak Bara tanpa basa-basi lagi.
Pria itu menelan ludahnya dengan susah payah dan buru-buru mengambil kalkulator di atas mejanya dengan tangan yang terus gemetar.
"Baik... baiklah, harga beli emas murni saat ini adalah satu juta seratus ribu untuk per gramnya."
"Barangmu beratnya lima puluh gram yang berarti total semuanya adalah lima puluh lima juta rupiah."
"Tapi karena kau tidak punya surat resminya sama sekali, aku hanya bisa memotong biaya administrasi risiko sebesar lima juta rupiah dari totalnya."
"Jadi total uang tunai bersih yang bisa aku bayarkan langsung padamu adalah lima puluh juta rupiah tanpa ada potongan lagi."
Pria itu menyebutkan nominalnya dengan sangat cepat karena takut Bara akan benar-benar mengamuk dan menghancurkan tokonya.
Bara menarik kembali kedua tangannya dari atas meja yang sudah retak memanjang itu dan berdiri tegak dengan sikap santai.
"Bagus, lima puluh juta rupiah adalah harga yang sangat adil untuk kita berdua," ucap Bara sambil tersenyum puas layaknya seorang pemenang.
"Tunggu apa lagi? Cepat transfer uangnya ke nomor rekeningku ini sekarang juga."
Bara langsung menyebutkan deretan nomor rekening bank miliknya yang selama ini selalu kosong melompong tanpa isi.
Penjaga toko itu tidak berani membantah ucapan Bara lagi dan langsung memproses transaksi pembayaran tersebut di depan komputernya dengan keringat dingin yang mengucur deras.
Ting!
Satu menit kemudian, ponsel usang di saku celana Bara berbunyi menandakan ada notifikasi pesan dari bank masuk.
Bara membuka layar ponsel tersebut dan melihat saldo di rekeningnya kini benar-benar bertambah menjadi lima puluh juta rupiah utuh.
Ini adalah pertama kalinya seumur hidup Bara melihat angka nol yang begitu panjang dan banyak berbaris di dalam layar ponselnya sendiri.
"Uangnya sudah masuk dengan selamat, senang berbisnis denganmu malam ini, Tuan Manajer," ucap Bara sambil memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku celana dengan gaya angkuh.
Bara kemudian berbalik badan dan melangkah pergi dengan sangat santai keluar dari toko emas tersebut meninggalkan pria penjaga toko yang masih berdiri kaku ketakutan.
Bara menghirup udara malam pusat kota dengan dada yang membusung bangga dan penuh kelegaan.
Uang lima puluh juta yang ada di rekeningnya malam ini adalah kunci utama untuk mulai membuka gerbang kehidupan barunya.
"Sekarang saatnya mencari makan malam yang sangat enak dan membeli beberapa pasang baju baru yang layak dipakai," gumam Bara sambil tersenyum lebar menatap jalanan.
Dia menatap tajam ke arah gedung-gedung pencakar langit yang menjulang tinggi di kejauhan dengan tatapan penuh ambisi yang menyala-nyala.
Bara bersumpah di dalam hatinya bahwa suatu hari nanti dia akan menguasai kota ini dan menundukkan semua orang yang pernah meremehkannya, terutama Dela dan Aris.