Beranjak dari takhtanya sebagai penguasa berdarah di perbatasan selatan.
Lin Xiao kini melangkahkan kaki ke dalam pusaran konspirasi mematikan Kota Awan Suci, tempat di mana eksistensi Jiwa Murni berkeliaran layaknya prajurit biasa dan Empat Sekte Suci mengendalikan langit.
Di musim kedua ini, tirai misteri Makam Para Raja perlahan ditarik lebih lebar melalui sebuah ekspedisi menegangkan ke dalam reruntuhan dimensi kuno yang tidak hanya menguji batas kekuatannya untuk menembus ranah Jiwa Murni, tetapi juga menguak luka, penyesalan, serta masa lalu dari para roh kaisar yang bersemayam di dalam tubuhnya.
Ditemani oleh Xue Mingyue, raksasa setia Meng Shan, dan seorang gadis bercadar misterius yang menyimpan rahasia terdalam dari pusat benua, Lin Xiao harus menyeimbangkan ambisi penaklukannya dengan ikatan emosional yang semakin kuat, membuktikan bahwa di balik arogansi dan kekejaman seorang Kaisar Bayangan, terdapat jiwa manusiawi yang terus berjuang mendobrak takdir para dewa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ex, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13
Prang.
Pedang energi kebanggaan kaisar kuno itu hancur berkeping-keping menjadi debu cahaya, tidak mampu melukai sehelai pun rambut Lin Xiao.
Kaisar Pedang Haus Darah membelalakkan matanya ngeri saat melihat tangannya sendiri mulai retak dan hancur layaknya porselen yang rapuh.
"A-apa yang terjadi pada tubuh rohku?! Kenapa aku sama sekali tidak bisa menyentuhnya?!" jerit kaisar pedang itu melompat mundur dengan wajah panik.
Lin Xiao melangkah maju dengan sangat santai, dominasi absolut sebagai kaisar bayangan memancar kuat dari setiap pori-pori jiwanya.
"Kalian pikir Makam Para Raja yang agung ini memilihku hanya sebagai wadah kosong untuk kalian manfaatkan di kemudian hari?" tanya Lin Xiao dengan nada merendahkan.
"Sejak pertama kali aku menyerap warisan pertama kalian, akulah yang menjadi rantai yang mengikat jiwa-jiwa menyedihkan kalian."
Lin Xiao mengangkat tangan kanannya tinggi-tinggi ke udara dan menjentikkan jarinya dengan pelan namun menggema.
Krak. Krak. Krak.
Ribuan batu nisan di sekitar mereka mendadak meledak serempak, melepaskan rantai-rantai besi berwarna hitam pekat yang melesat layaknya sekawanan ular berbisa.
Rantai-rantai itu langsung melilit leher, kaki, dan pergelangan tangan kelima kaisar kuno tersebut secara paksa.
"Aaaarrghh! Ini adalah Rantai Kutukan Makam!" ratap Kaisar Bayangan Pemakan Bulan meronta-ronta dengan putus asa saat tubuhnya ditarik hingga berlutut.
"B-bagaimana mungkin kau bisa mengendalikan inti utama dari formasi Makam Para Raja?!" jerit Roh Penguasa Glasial yang wajahnya kini memucat pasi.
Lin Xiao berjalan perlahan sambil menunduk, menatap wajah kelima kaisar yang kini sedang bersujud paksa di ujung sepatunya.
"Karena kehendak dan kegilaanku untuk membantai para dewa di benua ini jauh lebih kuat dari sisa-sisa ambisi kalian yang sudah lapuk dimakan usia." bisik Lin Xiao dengan kejam.
"Kalian harus mengingat fakta ini baik-baik, di dalam ruang batin ini, akulah dewa kematian yang sesungguhnya."
Lin Xiao menarik rantai itu semakin kencang, membuat kelima entitas kuno tersebut menjerit kesakitan karena fondasi jiwa mereka perlahan terkikis habis.
"Maafkan kami! Kami bersumpah demi langit dan bumi tidak akan pernah mengulangi pemberontakan bodoh ini lagi!" mohon Kaisar Roh Kematian dengan suara bergetar ketakutan.
"Tolong lepaskan kami, Tuan Lin Xiao! Kami akan menjadi anjing penurut yang akan melayanimu seumur hidup!" tangis Kaisar Pedang Haus Darah kehilangan seluruh harga diri dan arogansinya.
Mendengar permohonan menyedihkan dan sumpah setia yang terpaksa tersebut, Lin Xiao perlahan mengendurkan tarikan rantai kutukannya.
"Itulah kalimat penuh kesadaran diri yang ingin kudengar dari mulut kalian sejak lama." ucap Lin Xiao dengan senyum puas yang sangat mengerikan.
"Sekali lagi kalian berani mencoba menggigit tangan yang memberi kalian makan, aku akan meleburkan sisa jiwa kalian hingga tidak tersisa untuk bereinkarnasi." ancam sang kaisar bayangan secara mutlak.
Kelima kaisar itu mengangguk dengan sangat patuh, teror yang mereka rasakan terhadap inang mereka kini jauh melampaui rasa bangga sebagai ahli masa lalu.
Ilusi pemberontakan yang dirancang oleh anomali ruang tersebut telah dihancurkan sepenuhnya oleh tekad baja milik pemuda dari Kota Jade River ini.
Sring.
Pemandangan tanah gersang dan puing batu nisan itu mendadak memudar layaknya lukisan yang tersiram air.
Lin Xiao kembali merasakan hembusan angin dimensi yang dingin menerpa kulit wajahnya secara nyata.
Dia membuka matanya dan menyadari bahwa dia masih berdiri tegap di atas jembatan batu melayang, tepat di tempat dia memijak sebelum badai kabut ungu itu datang.
Di sekelilingnya, kabut tebal itu mulai menipis dan berhamburan pergi karena ilusi utama di jembatan ruang ini telah berhasil dia patahkan dari dalam.
Lin Xiao mengedarkan pandangannya dan melihat ketiga rekan ekspedisinya sedang berdiri kaku mematung hanya beberapa meter darinya.
Xue Mingyue memejamkan matanya erat-erat dengan keringat dingin bercucuran, mulutnya terus menggumamkan permohonan maaf kepada anggota klannya yang hancur.
Nona Yue berdiri gemetar dengan napas memburu, tangan kanannya mencengkeram kerah gaunnya seolah sedang meronta menolak sebuah paksaan perjodohan yang mengerikan.
Sementara itu, Meng Shan sedang mengayunkan kapaknya secara membabi buta ke arah udara kosong sambil berteriak histeris meminta tolong.
"Sepertinya monster pembuat ilusi di jembatan ini masih menahan mereka di dalam mimpi terburuk masing-masing." gumam Lin Xiao menilai situasi rekan-rekannya dengan datar.
'Jika aku tidak segera turun tangan, mereka bertiga akan mati kehabisan energi spiritual karena terus melawan bayangan masa lalu mereka sendiri.' batin Lin Xiao.
Pemuda itu melangkah santai menuju rekan-rekannya, bersiap untuk mengganggu tidur panjang mereka dengan cara yang paling tidak menyenangkan.
Ujian mental dari Domain Bintang Jatuh ini mungkin menjadi neraka yang mematikan bagi kultivator elit biasa di pusat benua.
Namun bagi monster yang pikirannya lebih kelam dari kematian itu sendiri, ilusi pemberontakan ini hanyalah lelucon murahan yang sangat membosankan.