NovelToon NovelToon
Kau Menolakku, CEO Itu Memilihku

Kau Menolakku, CEO Itu Memilihku

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Crazy Rich/Konglomerat / Nikah Kontrak
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: masadepan_

Aurelia Evandra datang membawa sebuah kontrak.
Bukan untuk ditandatangani olehnya, melainkan oleh Nathaniel Alister—pewaris keluarga Alister yang terkenal dingin dan tak pernah tunduk pada siapa pun.
Semua orang menganggap Nathaniel akan menolak tanpa berpikir dua kali.

Namun, Aurelia datang dengan syarat yang tak bisa diabaikan. Sebuah tanda tangan menjadi awal dari permainan berbahaya yang mempertemukan dua pewaris, dua keluarga besar, dan rahasia yang selama bertahun-tahun terkubur.

Awalnya hanya kontrak.

Hingga perlahan berubah menjadi ikatan yang tak seorang pun mampu putuskan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon masadepan_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Janji yang tidak pernah di tepati

Aurelia menatap Adriant dengan serius.

"Nikahi aku secepatnya." Aurelia menggenggam tangan Andriant erat. Mereka berdua sedang duduk saling berhadapan di atas sofa.

Adriant hanya tertawa kecil. Pria itu menggelengkan kepalanya pelan. Tangannya menggenggam tangan Aurelia, ia kemudian beralih mengusap punggung tangannya. Mereka saling menatap satu sama lain.

"Aku belum bisa, Lia." Usapan ditangan Aurelia terasa lembut. Adriant menatap Aurelia seakan perempuan itu adalah satu-satunya, dan seluruh hidupnya.

"Aku masih mengejar karir."

"Bisnis Papi aku juga lagi berantakan..." Tangan Adriant bergerak mengusap surai Aurelia. Ia juga menyelipkan rambut kebelakang telinga.

"Kamu sabar ya... Kita pasti menikah dan hidup bahagia. Tapi jangan terburu-buru." Adriant memajukan tubuhnya, ia melipat kedua kakinya di sofa.

Aurelia menepis pelan usapan Adriant di rambutnya. Wanita itu mengusap pipi Adriant menggunakan ibu jari. Matanya dipenuhi harapan yang besar, hatinya adalah milik Adriant sepenuhnya.

"Tapi aku nggak bisa nunggu lebih lama lagi." Aurelia menundukkan kepalanya. Ia memainkan jari-jarinya perlahan.

Adriant menyentuh dagu Aurelia dan mengangkatnya lembut. Tatapan mereka kembali bertemu. "Kenapa, sayang?" Suara itu terdengar begitu lembut, bahkan bisa mengalahkan kelembutan sutra jika hanya Aurelia yang mendengar.

"Papa mau jodohin aku."

"Kenapa kamu nggak nolak?" Adriant menarik lengannya. Raut wajahnya berubah seketika. Pria itu meraup wajahnya kasar.

"Kamu pikir aku mau?"

"Kamu pikir, aku bisa lawan Papa?" Aurelia berusaha menahan air mata yang sudah mengantri di pelupuk.

"Kamu bisa bilang dengan banyak alasan." Adriant mengeraskan rahangnya.

"Kamu bukan perempuan bisu, yang nggak bisa ngomong apa-apa."

Aurelia menyugarkan rambutnya kebelakang. Ia menggelengkan kepalanya pelan, dirinya benar-benar tidak habis pikir dengan apa yang baru saja ia dengar dari Adriant.

"Aku bisa ngomong." Aurelia menjauhkan tubuhnya. Wanita itu beranjak berdiri.

"Aku juga bisa lawan dia." Ia menatap ke langit-langit ruangan. Tangannya bergerak memijit pelipisnya yang tiba-tiba berdenyut.

"Tapi semakin aku melawan. Semakin sering juga Papa nyiksa aku..."

"Sekarang pilihannya cuma itu..." Aurelia menghela napas panjang.

"Terima perjodohan itu, atau nikah sama kamu." Aurelia melihat Adriant yang ikut berdiri. Pria itu mengusap dagunya pelan.

"Kalau aku nggak pilih keduanya, Papa gak akan biarin aku hidup."

Adriant terdiam sesaat. Ia menatap Aurelia yang sedang menahan air mata. Pria itu tahu, ia melihat dengan jelas mata Aurelia yang sudah berkaca-kaca, matanya memerah diikuti hidungnya.

Adriant dilanda kebingungan.

Dan Aurelia melihatnya dengan penuh rasa kecewa. Pundak wanita itu melemah, ia tahu apa jawaban Adriant tentang permintaannya itu. Memang terkesan buru-buru. Tapi hubungan lima tahun, tidaklah sebentar. Aurelia sudah lebih dulu mewanti-wanti hal ini. Tapi jawaban Adriant selalu sama, pria itu belum siap dengan berbagai alasan.

Seperti orang bilang, kalau cinta itu buta.

Aurelia merasakannya sendiri. Wanita itu telah memberikan seluruh hidupnya untuk Adriant. Ia benar-benar mencintai pria itu meskipun sudah berulangkali merasakannya sakit hati yang tidak bisa ia ungkapkan.

Hidup Aurelia hanya tentang memaklumi, perempuan itu sudah terbiasa memaafkan, dan selalu merasakan luka-luka yang tidak pantas ia dapatkan.

Aurelia menatap Adriant. Mata Pria itu terlihat kalang kabut. Ia menangkap pergerakan Adriant yang gelisah.

Tubuh Adriant berusaha mendekat. Ia terlihat dengan napas memburu. Tangannya membelai pipi Aurelia dengan gerakan pelan, beberapa usapan itu tercipta, sampai ibu jarinya berhenti di bibir Aurelia.

"Aku bakal nikahin kamu."

"Tapi, setelah kita melakukan hal yang belum pernah kamu berikan ke aku, sayang." Adriant memajukan wajahnya, ia mulai memiringkan kepala dan memegangi tengkuk Aurelia.

Napas Aurelia memburu. Gadis itu membeku sesaat. Tapi pikirannya masih jernih, ia segera mendorong Adriant dengan gerakan cepat.

Aurelia melihat Adriant yang terkejut, pria itu menatap tajam kearah Aurelia.

"Kamu bisa nolak untuk menikah sama aku. Tapi jangan pernah, kamu minta apa yang nggak pernah aku mau lakukan." Aurelia menatap Adriant dengan napas yang memburu. Air mata gadis itu akhirnya jatuh membasahi pipi yang sejak tadi menunggu.

Wanita itu segera mengusapnya kasar. Ia mengepalkan kedua tangannya hingga buku-buku jarinya memutih.

"Kamu berubah, Lia." Raut Adriant seakan tersakiti. Ia menggelengkan kepalanya berulang kali, menatap Aurelia dengan raut kecewa. Sesekali pria itu menghela napas kasar.

"Aku nggak berubah. Aku masih sama."

Aurelia menyelipkan rambutnya kebelakang telinga. Ia berusaha menahan air matanya agar tidak jatuh lebih deras.

"Aurelia yang mencintai Adriant."

"Perempuan yang tergila-gila sama kamu."

"Perempuan yang mengijinkan kekasihnya berduaan sama perempuan lain." Aurelia menepuk-nepuk dada Adriant pelan. Tenaga wanita itu seakan terkuras habis. Ia benar-benar belum merasakan kebahagiaan yang ia harapkan sewaktu masih kecil.

"Aku masih sama. Adriant." Aurelia berjongkok, gadis itu menutup wajahnya, ia terisak dihadapan Adriant yang masih berdiri mematung.

Aurelia tidak mengerti arti cinta sesungguhnya. Ia tidak pernah merasakan perlakuan lembut, ia tidak tahu letak cinta yang benar itu seperti apa. Tubuhnya tidak bisa memberikan reaksi tentang apa yang hatinya rasakan. Ia tidak bisa berteriak ketika merasa lelah. Ia tidak bisa berkata, bahwa dirinya merasakan sakit dengan perlakuan seseorang. Yang ia tahu... Hatinya sakit, tapi ia harus memaklumi. Pengkhianatan, kekerasan, dan perlakuan tidak adil adalah bentuk dari kehidupan Aurelia Evandra.

 

Di bagian kota lain. Terlihat Nathaniel sedang makan malam sendirian. Ia mengenakan pakaian santai dengan rambut yang selalu terlihat rapih.

Ia berada di salah satu villa miliknya, yang sudah dua bulan ini ia tempati. Tubuhnya duduk tegap, tangannya tengah sibuk memotong daging yang tersedia di atas piring. Ia memotong menjadi bagian kecil, sebelum memasukinya kedalam mulut. Tanpa menghasilkan suara berisik yang mengganggu.

Gerakannya terlihat telaten, pelan, tapi berstrategi. Tangannya dengan teliti memotong dan memilih bagian mana yang akan ia makan.

Dibelakangnya... ada satu pria berdiri, yang akan sigap membantu jika memang diperlukan.

Makanan sudah berhasil ia habiskan. Pelayan dibelakangnya menyodorkan tissu. Nathaniel menerimanya dan membersihkan sisa makanan di bibirnya. Detik berikutnya pula, pelayan itu menyodorkan tangan untuk menerima tissu bekas yang sudah diremas berbentuk bulat.

Barulah Nathaniel meminum minuman yang sudah disediakan. Pria itu berdehem kecil. Lalu Attar datang membawa map.

"Tuan."

Nathaniel menyuruh pelayanan itu untuk pergi.

"Evandra Capital belum memberi keputusan. Karena anda tidak menyetujui beberapa persyaratan yang mereka berikan."

Nathaniel tersenyum tipis.

"Tidak apa."

"Investor yang berhati-hati justru lebih menguntungkan."

Attar bertanya.

"Masih banyak perusahaan lain yang lebih mudah di ajak kerja sama. Kenapa Anda begitu yakin memilih Evandra?"

Nathaniel melihat ke luar jendela.

"Karena saya tidak sedang mencari modal."

"Lalu apa, tuan?" Attar tidak berniat lancang, ia hanya bertanya karena ini terkait pekerjaan.

"Saya mencari seseorang yang mampu berpikir sejajar dengan saya." Kedua tangannya berada di atas meja. Kaos putih itu terlihat sangat pas ditubuhnya, punggungnya pria itu sangat terbentuk, otot-otot di lengannya membuat kaos itu terlihat kecil.

"Evandra Capital memiliki potensi itu, Attar."

1
Lalapouu
dmi apaa makin seru
Lalapouu
siapa?
Lalapouu
betull ituuu
Muhtarom Ardianto
semangat
Muhtarom Ardianto
wow
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!