Sebuah salah paham di malam khitbah menyatukan Farhan, seorang ustadz muda yang tenang, dengan Alika—mekanik jalanan yang liar dan pemberontak. Alika yang terbiasa hidup dengan debu aspal dan kunci pas harus beradaptasi menjadi istri dalam keluarga religius yang selama ini memandangnya sebelah mata. Di tengah ancaman masa lalu dan fitnah yang kejam, Farhan tidak mengubah Alika, melainkan membantunya "merestorasi" jati diri. Inilah kisah tentang pembuktian bahwa tangan yang hitam karena oli tetap bisa menggenggam surga dengan mulia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon istimariellaahmad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sang bayangan yang menjadi ratu
Langkah Alika menuruni tangga terasa begitu berat, namun setiap pasang mata di ruangan itu seolah terpaku padanya. Untuk pertama kalinya, Alika mengenakan kerudung—selembar kain sutra halus yang membungkus kepalanya dengan sempurna, membingkai wajahnya yang selama ini ia sembunyikan di balik helai rambut pirang yang liar.
Di ujung tangga, Farhan berdiri tegak. Pria itu tidak lagi menunduk. Ia menatap Alika dengan intensitas yang membuat napas Alika tertahan.
Jika selama ini orang-orang menganggap Alya adalah standar kecantikan yang sempurna, hari ini mereka dipaksa menelan ludah. Alika, dalam balutan kebaya yang telah dikecilkan sedemikian rupa, menunjukkan siluet tubuh yang lebih ramping dan proporsional. Gaun itu melekat pas, memperlihatkan keanggunan yang selama ini terkubur di balik pakaian-pakaian longgar atau kaus-kaus tipis yang biasa ia kenakan saat keluyuran.
Wajahnya yang identik dengan Alya kini memancarkan aura yang berbeda. Jika Alya adalah telaga yang tenang, maka Alika adalah samudra yang menyimpan badai. Ada sorot mata yang tajam, sedikit memberontak, namun tampak rapuh di saat yang bersamaan.
Farhan mengulurkan tangannya. Alika ragu sejenak, melirik ke arah Ayah yang berdiri di samping pelaminan dengan wajah kaku—masih tampak tak percaya bahwa putri yang ia anggap aib kini menjadi pusat perhatian.
"Jangan takut," bisik Farhan saat jemari Alika yang dingin akhirnya menyentuh telapak tangannya yang hangat.
Mereka melangkah perlahan menuju pelaminan di bawah hujan kelopak bunga mawar putih. Dekorasi mewah yang dipesan Farhan seolah menjadi panggung yang sah untuk memperkenalkan Alika kepada dunia. Bukan sebagai "kembaran yang nakal", bukan sebagai "anak yang disembunyikan", tapi sebagai seorang istri.
Saat mereka duduk bersanding, Farhan mendekatkan wajahnya ke telinga Alika. Aroma parfum oud dan kayu cendana dari tubuh pria itu menyeruak, membuat jantung Alika berdegup kencang.
"Kamu jauh lebih cantik dari apa yang saya bayangkan malam itu di trotoar," bisik Farhan lirih, hampir tak terdengar oleh orang lain.
Alika menoleh, matanya berkaca-kaca. "Kenapa kamu lakukan ini, Farhan? Kamu bisa dapatkan Alya yang sempurna. Kamu malah memilih memperbaiki barang rusak sepertiku."
Farhan tersenyum tipis, sebuah senyum tulus yang baru pertama kali Alika lihat. "Barang rusak itu hanya sebutan orang yang tidak tahu cara memperbaikinya, Alika. Bagi saya, kamu adalah permata yang tertutup debu. Dan hari ini, saya ingin semua orang melihat betapa berkilaunya kamu jika berada di tangan yang tepat."
Di sudut ruangan, Alika melihat Alya berdiri bersama Ibu. Alya tersenyum, meski matanya menyiratkan kegetiran yang tak bisa disembunyikan. Ia kehilangan calon suaminya, tapi ia melihat adiknya mulai menemukan "rumah" yang sebenarnya.
Namun, ketenangan itu tidak bertahan lama. Di pintu masuk gedung, sekelompok anak muda dengan pakaian nyentrik dan suara bising mulai berdatangan. Mereka adalah teman-teman nongkrong Alika yang sengaja datang setelah mendengar kabar mengejutkan ini.
Malam pertama itu tidak diisi dengan gairah, melainkan keheningan yang canggung namun sarat makna. Kamar pengantin yang harum semerbak bunga melati terasa seperti penjara bagi Alika. Ia masih mengenakan kebaya, duduk di pinggir ranjang dengan tangan yang gemetar hebat. Ia takut. Walaupun ia sering keluyuran dan pulang larut malam, Alika tahu batas. Ia nakal, ia membangkang, tapi ia tak pernah membiarkan laki-laki menyentuh kulitnya, apalagi lebih dari itu.
Farhan masuk setelah selesai berbincang dengan para tamu dan keluarga di bawah. Ia menutup pintu pelan, lalu melepas jas beskapnya, menyisakan kemeja putih yang pas di tubuh tegapnya.
Alika refleks menjauh, merapatkan duduknya ke ujung kasur. "Jangan... jangan mendekat," bisiknya dengan suara serak. "Aku belum siap. Aku dipaksa menikah, Farhan. Aku bukan Alya yang penurut."
Farhan berhenti melangkah. Ia tidak tampak marah atau tersinggung. Pria itu justru menarik sebuah kursi kayu yang ada di sudut kamar, meletakkannya beberapa meter di depan Alika, lalu duduk di sana. Ia menjaga jarak yang sangat sopan.
"Alika, lihat saya," kata Farhan lembut namun tegas.
Alika mendongak pelan, matanya yang tajam kini tampak basah.
"Saya tahu kamu bukan Alya. Saya juga tahu kamu nakal karena ingin diperhatikan, bukan karena kamu wanita murahan," ujar Farhan tenang. "Malam ini, dan malam-malam setelah ini, saya tidak akan mengambil hak saya sebagai suami jika kamu tidak mengizinkannya. Saya menikahimu bukan untuk memilikimu secara paksa, tapi untuk melindungimu."
Alika tertegun. "Tapi... Ayah bilang aku harus melayanimu. Dia bilang aku sudah jadi milikmu."
Farhan tersenyum tipis, sebuah senyum yang menenangkan. "Ayahmu benar secara hukum, tapi bagi saya, cinta dan kesiapanmu jauh lebih berharga daripada sekadar kewajiban. Saya ingin kamu merasa aman di samping saya, bukan merasa terancam."
Farhan bangkit, mengambil bantal dan selimut cadangan dari lemari. "Malam ini, saya akan tidur di sofa. Kamu istirahatlah. Lepas semua jarum-jarum di kepalamu itu, pasti sangat berat dan sakit."
Alika memperhatikan Farhan yang mulai merebahkan diri di sofa yang ukurannya jauh lebih kecil dari tubuhnya. Rasa benci yang tadi meluap di hati Alika perlahan mulai terkikis oleh rasa heran. Pria ini sangat berbeda dari bayangannya.
"Farhan?" panggil Alika lirih.
"Ya?"
"Kenapa kamu yakin aku berharga untuk dilindungi? Padahal semua orang, termasuk orang tuaku sendiri, sudah membuangku?"
Farhan menatap langit-langit kamar sebentar sebelum menjawab. "Karena mawar yang tumbuh di antara semak berduri tetaplah mawar, Alika. Ia hanya butuh tangan yang tidak takut terluka oleh durinya untuk bisa mencium harumnya."
Alika terdiam. Ia mulai melepas satu per satu jarum di kerudungnya. Untuk pertama kalinya, ia merasa tidak perlu menjadi Alya untuk mendapatkan rasa hormat dari seorang laki-laki.
Happy reading sayang...
Baca juga cerita bebu yang lain...
Annyeong love...