Apakah kau percaya pada cinta?
Morgan dipertemukan dengan Vivian, seorang wanita yang pernah dia cintai dulunya. Setelah 7 tahun berpisah, akhirnya mereka bertemu.
Perjalanan cinta mereka menghadapi banyak sekali tantangan, hingga jarak dan waktu benar-benar memisahkan mereka.
Namun semakin jauh mereka dipisahkan, mereka semakin menyadari bahwa mereka saling membutuhkan.
Apakah mereka berhasil dipersatukan kembali? Bagaimana perjalanan cinta mereka akan terjadi?
Penuh dengan nuansa romantis bercampur pelajaran hidup yang menarik, ikuti kisahnya disini!
Update setiap hari pukul 23:00 - 02:00
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Theofanny, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mata Birumu
Suasana Restoran West Side Paris yang tenang ditemani dengan taburan sinar matahari yang masuk melalui jendela-jendela kaca di setiap sudut lantai dua restoran itu.
“Hei-hei kak, lihatlah kearah sana. Kurasa pria itu sedang berjalan kearah kita karena tidak ada pengunjung lain disini selain kita.” Jeasy melirik kearah pria bermata biru yang sedang berjalan dan memandang kearah mereka berdua.
Vivian memandang seorang pria dengan mata biru yang cukup familiar karena mereka telah bertemu tadi pagi, tapi Vivian tidak cukup yakin pada hal itu karena hanya mata birunya yang sempat diingatnya, wajahnya tidak. Kemudian pria itu semakin mendekat dan mendekat.
“Mata biru itu … kurasa aku mengingatnya! Ya, kurasa itu adalah dia yang telah menolongku tadi pagi, aku takkan melupakan tatapan mata biru yang telah menolongku itu. Tapi kenapa dia berjalan kearah ku? Apakah dia mengingatku?” Pikir Vivian setelah meyakinkan dirinya bahwa pria itu adalah pria yang menolongnya.
“Kak, apakah kau tahu siapa dia? Dia Morgan Collins, dia adalah artis terkenal kak!” Jeasy berbisik kepada Vivian yang sedang memandang pria yang semakin mendekat itu.
Ketika pria itu semakin dekat, ponsel Vivian tiba-tiba berdering. Vivian yang mendengar ponselnya berdering ingin segera beranjak dari lokasi itu dan berusaha menjauh darinya.
Bagaimana tidak, Vivian merasa sangat gugup ketika pria itu mendekat. Jantungnya berdebar tak karuan seperti akan melompat.
Vivian berdiri dan berjalan secara buru-buru. Ketika Vivian berdiri, ia tersandung pinggir meja hingga dirinya hampir terjatuh, ya hampir, karena ketika tubuh Vivian hendak terjatuh sepasang tangan yang hangat menopang tubuhnya dari bawah.
Saat Vivian memandang kearah samping tubuhnya, ternyata pria bermata biru itu yang menyelamatkannya dari kecelakaan kecil.
Vivian berada dalam dekapannya saat itu mata Vivian memandang tepat kearah pria bermata biru itu.
Ketika Vivian memandang matanya, Vivian dapat melihat dengan jelas bahwa kedua mata biru pria itu terlihat indah karena terpancar sinar matahari yang masuk melalui jendela kaca restoran itu.
Vivian sempat terhanyut saat berada dalam dekapan pria yang menyelamatkannya itu.
Vivian juga dapat mencium aroma parfum Bulgari Black dari arah pria itu, salah satu aroma yang sering digunakan Ayah Vivian.
“Ehm.” Jeasy berusaha merusak suasana romantis itu agar Jeasy juga mendapatkan perhatian dari artis itu.
“Eh maaf,” buka Vivian setelah sadar dari halu-nya yang menyenangkan. Vivian segera berdiri merapikan rambutnya dan tersenyum pada pria yang menyelamatkannya itu.
“Aku Morgan Collins.” Pria itu menyebutkan namanya lalu menyodorkan salam pada Vivian.
Vivian langsung menjabat tangan Morgan, “aku Vivian. Terima kasih telah menyelamatkanku, lagi?” Alis Vivian meninggi ketika menanyakan itu. Vivian ingin memastikan bahwa Morgan adalah pria yang sama dengan pria tadi pagi.
“Ya, lagi. Lututmu ternyata tidak kau bersihkan lukanya. Duduklah,” jawab Morgan lalu turun kebawah, sepertinya Morgan ingin mengambil sesuatu dari mobilnya dibawah.
Vivian melihat Morgan membawa obat antiseptik ditangannya ketika Morgan kembali padanya.
Vivian melihat Morgan langsung meraih lutut kirinya dan merawatnya dengan lembut. Vivian sengaja membiarkannya karena Vivian memang tidak memberikan lukanya antiseptik sama sekali sebelum Vivian memasang plester dari Morgan tadi pagi.
Morgan terlihat mengganti plester lama Vivian dengan plester baru bergambar animasi hewan yang terlihat imut bagi Vivian.
Vivian duduk dan melihat Morgan berlutut di hadapannya seperti seorang pangeran yang akan melamarnya saat itu.
Dalam benak Vivian, ketika Morgan merawatnya sebenarnya Morgan terlihat menawan hingga membuat kedua pipi Vivian menjadi merah merona.
Vivian dapat merasakan bahwa lututnya dirawat dengan baik dan penuh dengan kelembutan, seperti tindakan Morgan adalah memang seharusnya seperti itu.
Bagaimana tidak, seluruh gadis juga akan merasakan hal yang sama jika ada seorang pria berlutut di hadapannya dan melakukan sesuatu yang membuat mereka merasa lebih baik.
“Aku menyadari kau belum memberikan antiseptik pada lukamu ketika kulihat masih ada sedikit tanah di sekujur lututmu. Kau tahu, luka sekecil ini bisa memburuk jika kau tidak merawatnya dengan benar,” ungkap Morgan sambil menatap mata Vivian lalu kembali membersihkan sedikit tanah di lutut kiri Vivian dengan kapas.
Vivian merasa lebih baik setelah Morgan memberikan perawatan pada luka kecilnya, meskipun agak perih terkena antiseptik.
Setelah Morgan selesai merawat luka pada lutut Vivian, Morgan lalu berdiri dan tersenyum pada Vivian. Namun fokus Vivian tertuju pada lesung pipi yang ada pada pipi kiri Morgan, kemudian Vivian menatap mata Morgan seolah bersiap akan mendapat sebuah ciuman dari Morgan.
Namun naas, itu hanyalah angan Vivian yang frontal dan random. Bahkan jika Morgan menciumnya sekarang, Vivian takkan menghindar.
“Terima kasih. Aku merasa lebih baik.” Vivian tersenyum pada Morgan setelah tersadar dari angannya yang random.
“Aku Jeasy! Adik sepupu Vivian. Senang bertemu denganmu Morgan.” Jeasy langsung merusak suasana dengan kepolosannya ketika melihat pria setampan Morgan ada didekatnya.
“Hai Jeasy. Baiklah, karena kurasa kita telah berkenalan, maka urusanku disini sudah selesai. Aku akan kembali ke tempatku. Semoga harimu menyenangkan, Vi & Jeassy!” Morgan membalikkan badannya dan menjauh dari tempat Vivian dan Jeasy.
“Oh kakakku yang cantik, seorang pria yang menawan telah bertekuk lutut dihadapanmu. Sungguh, jika aku jadi kau, aku mungkin akan meleleh saat itu juga.” Jeasy terlihat ingin membahas sesuatu tantang kejadian romantis tadi dengan nada yang riang.
“Jeasy, habiskan makananmu. Aku harus secepatnya kembali ke rumah karena ada yang ingin segera ku kerjakan,” Jawab Vivian tenang seolah tidak ingin membahas kejadian romantis tadi.
Meskipun itu membuat detakan jantung Vivian menggila, Vivian tidak ingin memperlihatkan pada Jeasy bahwa Vivian sangat senang akan hal tadi.
“Baiklah kak,” tutup Jeasy dengan kecewa lalu segera menghabiskan makanannya.
…
Malam hari yang tenang dan penuh dengan gemerlap cahaya dari bulan dan bintang-bintang yang menyinari seluruh Kota Paris.
Vivian duduk di balkon lantai dua kamarnya sambil memandang langit malam yang indah.
Dalam rayuan gemerlap malam, Vivian terhanyut dalam keindahan itu. Entah kenapa, dia kembali merasa bahwa dirinya belum lengkap, belum sempurna, seperti ada satu bagian yang kosong dalam dirinya.
Vivian belum pernah sama sekali merasakan apa yang dinamakan cinta, karena dia tidak mengerti apa itu cinta, jadi dia takkan mengerti apapun tentang ruang kosong dalam hatinya.
Getaran yang dirasakannya tadi ketika Morgan berlutut didepannya membuat Vivian memikirkannya sepanjang hari, Vivian bingung apa arti dari getaran itu.
Tiba-tiba benak Vivian yang menyebalkan malah menampilkan lagi sepasang mata biru yang tadi berlutut dihadapannya sehingga membuat Vivian kembali melirik plester imut darinya.
Lengkungan bibir yang tersenyum merekah pada wajah Vivian ketika kembali mengingat momen indah itu.
Bagaimana bisa dirinya bertemu Morgan ditempat yang sama? Apakah kau percaya pada takdir?
“Aneh,” gumam Vivian dalam benaknya ketika menyadari bahwa dirinya sedang menggosok-gosokan jari-jemarinya pada plester imut itu.
Vivian menutup matanya lalu menghirup udara malam yang sejuk. Vivian lalu mulai berpikir, “bagaimana rasanya sebuah cinta yang terbalaskan? Maksudku bagaimana rasanya bahagia dengan orang yang kucintai? Selama ini aku belum memahami apapun tentang cinta, yang kutahu cinta itu adalah perasaan bahagia ketika berada disamping seseorang yang selalu ada dalam hati dan pikiranku.”
***
Malam yang sama, Morgan juga sedang duduk melamun didepan jendela kaca apartemennya.
Melihat malam yang indah dengan pemandangan Kota Paris yang menawan, bintang-bintang yang kelap-kelip seperti sedang berkedip padanya.
Tanpa sadar Morgan mengingat kejadian hari ini. Pertemuan antara matanya dengan mata berwarna rose dari Vivian yang berbinar-binar.
Morgan mengingat kejadian tadi dengan sangat jelas, bahkan saat Morgan menutup matanya, bayangan wajah mempesona dari Vivian muncul terus-menerus.
“Harus kuakui, dia cantik, tidak, dia sangat cantik. Kecantikannya memiliki kesan, seperti ada yang berbeda pada dirinya tapi aku tak dapat menjelaskan pada diriku sendiri apa itu,” pikir Morgan melihat kearah luar jendela lalu kembali menyeruput kopinya yang masih hangat.
Ketika Morgan menutup matanya, rambut golden, tatapan halus dari sepasang mata rose, wajah yang mempesona lengkap dengan pipi yang berseri, terbayang dalam benaknya.
“Aku telah bertemu dengan banyak gadis cantik diseluruh dunia, namun baru kali ini aku melihat seseorang dengan kecantikan yang dapat kuingat dengan jelas.” Morgan lalu merebahkan dirinya di sofa dan mulai tidur ditengah suasana yang hangat.
“Kuharap, aku meminta, kali ini saja, hanya kali ini pencarian ku akan berhenti padamu ….”
yuk mampir juga di novel ku
yang berjudul
SAMA RUPA BEDA NASIB
aku nyicil baca dan like nya y, aku jadikan favorite dulu
salam dari aku dan mantan kekasih suamiku
aku tunggu feedbacknya
Semangat Up Kak 🌸🌸
Eh, ada si Gwen, Aerin ikut gk?
Morgan cepat sembuh ya...
kasihan vivian, apalagi dia sedang hamil 😢
kok jd kesel ya sama william😌
Wah wah, pesen ngga sepanjang biasanya aja harus diselidiki.. wah 😆🤣
wah wah, Cie yang di temenin Jeremy.. Cie Cie.. yang dimasakin..
uhh indah bgt oemandangannya suka deh huhu😢
hai kakak, maaf ya aku baru mampir lagi huhu😭
Adudu Will kamu itu keren masa gitu 😭
angela, masalah lacak melacak emang jagonya. tapi maaf, vivian udah tau.
kaget juga dia ternyata william yang melakukannya
di tunggu respek nya. 2 like 👍👍
(Baru kali ini liat Wiliam di suruh suruh)🤣🤣
Semoga penyakit Morgan cepet sembuh,biar Vivian gak nangis-nangisan lagi🙂🙂