Bagaimana jadinya jika Ninja Elit hidup di bawah kekuasaan Singasari.
Hattori, Di eksekusi oleh Klan nya sendiri karena tahu terlalu banyak informasi. Jiwanya terbangun di tubuh Sena, pemuda 15 tahun yang tewas pada detik yang sama dengannya di Lembah Harau, pada masa Ekspedisi Pamalayu di Sumatera.
Awalnya Hattori hanya ingin membalaskan dendam sederhana Sena, membunuh Purwa dan Jeliteng. setelah itu ia ingin hidup damai dan membagun keluarga, tapi takdir malah menyeretnya dalam konflik lebih besar.
Ia jadi buronan Singasari dan juga jadi incaran para gerilyawan Sumatera, Pasukan Harimau yang tengah berjuang mengusir Singasari dari tanah Sumatera.
Hingga sebuah penghianatan memaksanya ke tanah Jawa, di jantung Singasari. Mencabut akar semua masalah...meruntuhkan ke
Singasari.
Ini memang bukan kisah Gajah Mada.
Tapi ini kisah dari mana sang legenda berasal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zamo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Insting Pemburu
Dini hari, lembah Harau tenggelam dalam kabut tipis, bagaikan selimut malam dimana waktu sedang lelap-lelapnya untuk tidur. Seorang prajurit yang melarikan diri dengan berguling menuruni bukit, tubuhnya penuh luka, napasnya tersengal. Matanya liar, tangan gemetar saat melapor.
“Hantu… Harau… bukan hantu… satu orang… membantai semuanya…”
Purwa mendengarkan dalam diam. Lalu ia menghantam meja kayu dengan tinjunya.
Brakk---!
Meja itu hancur berkeping-keping, benda-benda di atasnya terhambur berserakan.
“Siapkan semua yang tersisa,” perintahnya dingin. “Dua puluh orang. Ikut aku naik sekarang.”
Di saat yang sama, di puncak Harau, Sena mengamati dalam diam, puluhan obor berbaris rapi, teratur dan tak tergesa-gesa.
“Datanglah,” bisiknya seolah ia sedang bicara dengan orang nan jauh di bawah sana.
Api unggun di Puncak Harau belum sepenuhnya padam ketika pasukan yang di pimpin langsung oleh Purwa Wangsa tiba di puncak.
Bara merah menyala redup di antara abu, seolah masih bernapas, menunggu ditiup angin untuk hidup kembali. Di sekelilingnya, bau darah bercampur tanah basah mengambang di udara, berat dan menusuk hidung.
Dua prajurit yang tertancap bambu di lubang ranjau masih hidup. Mereka tergolek miring di tepi jalur setapak, kaki dan paha tertusuk bilah bambu runcing yang menahan tubuh mereka seperti di pasak.
Akhh.. Ahh..
Sakit.. Akhhhh..
Setiap tarikan napas memicu jeritan. Tidak teratur. Tidak ritmis. Namun cukup keras untuk memantulkan gemanya di dinding granit Harau.
Satu orang yang pingsan dan terikat erat di dalam semak-semak mulai siuman dan berusaha melepas ikatannya, menimbulkan suara gemeresak dan semak yang bergoyang seolah hidup di gelapnya malam.
Purwa berdiri paling depan. Tubuhnya tegap, bahu kirinya sedikit lebih rendah akibat luka lama yang tak pernah pulih sepenuhnya. Bekas sayatan melintang di pipinya tampak lebih jelas di bawah cahaya obor, membuat wajahnya terlihat seperti topeng batu yang retak.
Mayat-mayat yang tergelatak dimana-mana, seolah sedang menyambut pasukan Purwa begitu mereka tiba.
Beberapa prajurit memalingkan wajah.
Tapi.. tidak dengan Purwa Wangsa. Ia mendekat, berlutut di hadapan salah satu korban. Mata prajurit itu sudah merah, air liur, darah dan air mata bercampur di dagu. Tusukan di kerongkongan memutus jalur napas dan pita suara sekaligus.
Purwa berdiri dan menoleh ke belakang. Dua puluh prajurit yang ia bawa berdiri dalam formasi longgar. Tidak ada wajah muda di antara mereka. Semua veteran. Semua pernah membunuh. Semua pernah melihat teman mereka mati.
“Rapatkan barisan.” Suara Purwa berat, rendah dan dalam.
Tidak ada yang membantah. Dalam waktu beberapa detik, formasi rapat sudah terbentuk.
Di atas pohon meranti, Sena mengamati semuanya dari ketinggian. Tubuhnya menempel pada dahan meranti tua, napasnya ditahan setipis benang. Matanya menyipit. Ia membaca gerak Purwa.
‘Tidak panik.. Ia berpengalaman,’ batinnya. ‘Dia seorang pemburu.’ Untuk pertama kalinya sejak kembali hidup, Sena merasakan sesuatu yang nyaris menyerupai kegembiraan dingin.
Purwa mengangkat tangan. "Regu depan, maju sepuluh langkah. Regu tengah, siaga dan pertahankan jarak. Regu belakang, waspadai semua pergerakan dan suara di belakang."
Langkah kaki berat regu depan serempak menghantam tanah. Tidak ragu. Tidak terburu-buru. Mereka bergerak seperti pisau tumpul yang ditekan perlahan, tidak elegan, tapi menghancurkan.
Sena berpindah posisi seiring suara teriakan prajurit di lubang ranjau. Ia tidak lagi menggunakan suara atau tipuan murah. Tidak ada tawa hantu. Tidak ada lagi jebakan maut. Ia menurunkan keberadaannya, membiarkan hutan menelannya. Tubuhnya yang kini berselimut lumpur dan lumut, menyatukannya dengan tanah.
Suara jangkrik dan serangga malam menambah suasana semakin mencekam. Seorang prajurit regu depan tersandung akar yang melintang di tanah basah. Tubuhnya terhuyung. Refleks menghunus tombaknya.
Rekan di kanan kirinya ikut bereaksi spontan, napas mereka tertahan, tangan mereka menggenggam erat senjata. Mata mereka menatap gelap di sekelilingnya, mereka menelan ludah, bulir keringat sudah membasahi kening mereka.
Srak.. srak..
srak… Srak..
Regu depan dengan siaga menghunus tombak panjang ke arah semak yang bergerak.
Ditambah suara-suara jeritan kesakitan dari rekan mereka di lubang ranjau membuat mereka menelan ludah, rasa takut, cemas merayap pelan di punggung mereka.
Sena merayap bersamaan suara jeritan. Seolah itu adalah sandi untuk memandunya, kapan harus bergerak dan kapan harus berhenti.
Purwa mengangkat tangannya, seluruh pasukan langsung berhenti. Matanya menyapu sekitar. "Dia sedang mengawasi," gumamnya. "Dia.. menunggu."
Srak..srak..srak..
Gemersak semak menganggu fokus pasukan, Purwa memberi kode dan prajurit di depan langsung menusukkan tombak panjang tiga kali.
Jleb.. Jleb-jleb..
Saat tombak terangkat darah menetes dari mata tombaknya. Jantungnya berdegup kencang, ia tak tahu apa yang ditusuknya.
“Periksa.” Perintah Purwa singkat.
Saat salah satu prajurit menyibakkan semak. Betapa terkejutnya dia, ”Tuan..dia pasukan kita.”
Purwa mendengus, seluruh prajurit mengencangkan pegangan senjata, tanpa mereka sadari, satu orang di barisan paling jauh sudah hilang.
“Tetap rapatkan barisan, formasi kura-kura.” Perintah Purwa singkat, tapi ada lubang di formasi itu, yang berarti satu orang tidak menempati posisinya.
“Lapor tuan, satu orang menghilang.”
Purwa mengangkat obor, pandanganya menyapu, menilai medan yang benar-benar tidak menguntungkan pasukannya.
Jeritan prajurit di lubang ranjau kembali pecah lebih keras. Purwa menoleh dan tiba-tiba jeritan terhenti. Semua mata kini lebih fokus, mereka menajamkan mata untuk menangkap pergerakan sekecil apapun.
Hening. Kedaan benar-benar sunyi.
Tanpa ada yang menyadari, di regu belakang, Sena telungkup hanya berjarak satu langkah di depan mereka. Dia tidak langsung menyerang, dia menunggu.
Hingga seekor burung malam terbang melintas. Suara kepakan sayap membuat para prajurit mengangkat tombaknya setengah hati.
Sena berdiri perlahan, menguatkan genggaman sembilu bambu di tangan kanannya.
Jleb..
Sembilu bambu masuk dengan mulus ke tenggorokan satu prajurit barisan belakang, tangan kirinya membekap mulut mangsanya, dan menjatuhkan diri bersamanya.
Bugh.. Srak..
Suara jatuhan itu mengagetkan barisan regu belakang, tombak mereka bergetar, mereka tahu, satu rekan telah menghilang lagi. Panik, mereka spontan bergerak maju ke regu tengah.
Purwa mengangkat tangan tinggi-tinggi. "Diam," perintahnya.
Dari balik kabut tipis, jeritan muncul kembali, tapi lebih lemah.
‘Dia bergerak.’ Purwa tersenyum miring. ‘Arah timur,’ batinnya. Ia menoleh ke salah satu prajurit. "Bakar sisi barat.”
Regu tengah langsung bergerak membakar area di sisi barat. Api menyala, perlahan mulai merangkak naik dan menyebar ke samping.
Sena membeku di tanah, dia tak percaya, Purwa bisa tahu posisinya, ‘Tidak, dia tak tahu posisiku, dia hanya membatasi pergerakan ku? ’. Pikirnya cepat menilai situasi.
Sena perlahan naik ke atas pohon meranti. Tubuhnya merangkak pelan seperti macan dahan, berpindah pohon demi pohon. Setiap teriakan kesakitan prajurit di Ranjau Lubang adalah denyut jantung hutan. Sena bergerak ke arah barat, dimana api di nyalakan, karena dia tahu Purwa akan menyisir sisi timur.
Purwa memerintah formasi paruh lembing membentuk huruf ‘V’, dengan kerapatan satu langkah, prajurit paling belakang berjalan mundur untuk mengamankan belakang basiran.
Naasnya prajurit itu hampir tergelincir di tanah basah. Kesalahan kecil itu tak di sia-siakan Sena, ia melucur dari atas pohon, mendarat tepat di bahu mangsanya dan melakukan teknik guntingan leher.
Krakk..
Tidak ada jeritan. Hanya suara napas yang terputus ketika leher itu dipelintir dengan satu sentakan pendek. Tak ada yang sadar, suara api dan ranting yang terbakar menyamarkan suara jatuhnya. Sena berguling ditanah dan merayap perlahan.
Purwa berhenti. Ia mengendus udara. "Anyir," katanya pelan. "Dia di dekat sini."