Pernikahan lima tahun yang sia-sia, Liana Varella adalah seorang anak yang menjadi pembayaran utang ayahnya. Diusianya yang menginjak sembilan belas tahun, seharusnya dia melanjutkan kuliahnya, namun kini dia terikat oleh pernikahan yang hancur.
Suaminya, Alistair Sterling yang menjanjikan cinta hingga mati. Kini membawa seorang wanita lain dari keluarga konglomerat, hanya dalam waktu tiga tahun pernikahan. Dengan mudahnya dia membawa wanita lain ke rumah tangga mereka.
Hanya karena satu alasan, Liana dikira "Mandul" oleh keluarga Sterling hingga dihina, dan di abaikan keluarga besar itu. Di ambang ujung jurang, seseorang muncul dihidup Liana, dan berkata.
"Mengapa Tidak Bercerai?"
Liana tertegun, lalu berpikir keras hingga akhirnya dia sadar. Selama ini untuk apa dia bertahan jika suaminya menganggap dia tidak ada?
Penasaran? Ayo baca selengkapnya! Bahasa campuran, baku dan non baku....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arssya Assyi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
C006: Merapikan Kamar
...Selamat Baca...
Perjalanan malam itu berjalan hening namun damai. Di dalam mobil mewah yang melaju membelah kegelapan, tidak banyak kata yang terucap,
Namun kehadiran Alexander di sampingnya sudah cukup menjadi jaminan rasa aman bagi Liana.
Jantungnya yang tadinya berdebar kencang karena ketakutan dan rasa bersalah, kini perlahan tenang, digantikan oleh rasa penasaran akan tempat tujuannya.
Setelah perjalanan sekitar empat puluh lima menit, mobil perlahan melambat dan berbelok melewati gerbang tinggi berhias ukiran indah.
Di hadapan mata Liana, tampaklah sebuah bangunan megah yang berdiri gagah di tengah hamparan taman luas yang asri dan tertata rapi.
Ini adalah Mansion Pribadi Alexander Sterling.
Berbeda sekali dengan kediaman utama keluarga Sterling yang besar, kuno, dingin, dan penuh kesan kaku serta tradisi,
Rumah ini memiliki gaya arsitektur modern yang elegan namun tetap memancarkan kemewahan berkelas.
Bangunannya didominasi oleh dinding batu alam berwarna krem cerah dan kaca-kaca besar yang memantulkan cahaya lampu taman, memberikan kesan bersih, terbuka, dan hangat.
Atapnya yang berlekuk lembut dan balkon-balkon kecil yang dihiasi tanaman bunga menjadikan rumah ini terasa hidup, bukan sekadar tempat tinggal, tapi tempat untuk beristirahat dan merasa tenang.
Di sekelilingnya terdapat taman bunga berwarna-warni, kolam kecil dengan air mancur, dan pepohonan rimbun yang membuat udara di sini terasa jauh lebih segar dan damai.
"Ini rumahku," ucap Alexander pelan, memecah keheningan saat mobil berhenti tepat di depan pintu utama.
"Di sini hanya ada aku, beberapa pelayan kepercayaan, dan pengawal. Tidak ada aturan kaku, tidak ada bisikan, dan tidak ada mata-mata keluarga. Di sini... kau bebas, Liana."
Pintu mobil terbuka. Alexander turun lebih dulu, dan saat ia membantu Liana keluar, terlihat jelas di tangan kanannya, ia sudah menggenggam dan membawa sendiri koper sedang milik Liana itu,
Seolah benda kecil itu adalah harta paling berharga yang tidak mau ia serahkan ke orang lain.
Sementara itu, sopir dan pengawal bergerak sigap dari bagian belakang, mengangkat keempat koper besar yang menjadi seluruh sisa hidup wanita itu, mengikut mereka dari belakang.
Mereka masuk ke dalam rumah itu, dan Liana terkesima melihat keindahan interiornya: lantai marmer yang berkilau lembut,
Furnitur-furnitur kulit yang nyaman, lukisan-lukisan indah, dan pencahayaan yang hangat, tidak terlalu terang namun cukup membuat suasana terasa akrab.
Mereka berjalan menuju lantai dua, menelusuri lorong panjang yang luas, hingga berhenti di depan sebuah pintu besar yang terbuat dari kayu mahoni berukir halus.
Alexander membukakan pintu itu lebar-lebar, dan saat Liana melangkah masuk, napasnya tercekat karena takjub.
Ini adalah kamar yang disiapkan khusus untuknya.
Ruangan ini sangat luas, jauh lebih besar dan jauh lebih indah dibandingkan kamar yang ia tempati selama lima tahun di kediaman utama.
Hal pertama yang menarik perhatiannya adalah pemilihan warna. Dindingnya dihiasi perpaduan sempurna antara warna emas lembut dan ungu muda,
Dua warna yang sangat ia sukai dan sering ia sebut-sebut diam-diam sebagai warna impiannya.
Perabotannya serasi, dari tempat tidur besar dengan kelambu halus, meja belajar, hingga rak-rak penyimpanan, semuanya bernuansa hangat dan feminin,
Seolah ruangan ini memang diciptakan dan dirancang khusus hanya untuk dirinya.
Namun, kejutannya belum berakhir. Di sisi lain ruangan itu, ada sebuah area yang dipisahkan sedikit, berisi meja panjang yang lengkap dengan kursi ergonomis,
Serta peralatan canggih yang belum sempat ia bayangkan. Ada layar besar, komputer canggih, pencahayaan khusus, mikrofon, dan segala perlengkapan yang sangat lengkap.
"Apa ini?" tanya Liana berbisik, matanya berkilat tak percaya.
Alexander tersenyum tipis, menatap reaksi wanita itu dengan puas. Ia berjalan masuk melewati ambang pintu, meletakkan koper sedang yang dibawanya sendiri itu di atas tepi tempat tidur besar.
"Aku tahu cita-citamu. Kamu ingin bebas, ingin berkarier, ingin mengekspresikan dirimu sendiri. Dunia sekarang sudah berubah, Liana."
"Banyak wanita hebat yang membangun nama dan kekayaannya sendiri lewat dunia maya. Ini adalah perlengkapan lengkap untuk memulainya."
"Neotube. Di sini, kamu bisa menjadi apa saja yang kamu mau, menjadi Neotuber yang sukses, berbicara, berbagi, membuat karya seni, atau apa pun yang membuatmu bahagia."
"Semuanya sudah tersedia, tinggal kau gunakan sesuka hatimu."
Mata Liana berkaca-kaca. Tak ada kata-kata yang mampu menggambarkan rasa harunya.
Di tempat lama, ia dianggap tidak berguna, tidak punya hak bermimpi. Di sini, belum apa-apa, mimpinya sudah disiapkan landasannya seindah ini.
Sopir dan pengawal masuk mengikuti di belakang, meletakkan empat koper besar yang mereka bawa rapi berjejer di sudut ruangan.
Setelah semuanya diletakkan, Alexander menoleh dan memberi isyarat singkat.
"Terima kasih, kalian boleh istirahat," perintahnya. Mereka mengangguk hormat, lalu keluar menutup pintu rapat-rapat, meninggalkan mereka berdua sendirian di ruangan indah itu.
"Nah, sekarang... saatnya mengisi ruangan indah ini dengan barang-barang milikmu," ucap Alexander dengan nada santai namun lembut.
Ia berdiri di samping tempat tidur, di sebelah koper sedang milik Liana, lalu membantu menggeser salah satu koper besar ke dekat meja rias cantik yang terpasang di dinding.
"Aku bantu membereskan ya? Agar cepat selesai."
Liana tersenyum malu namun mengangguk setuju. "Terima kasih, Paman... eh... Alexander." Ia memperbaiki panggilannya pelan, membuat senyum Alexander makin melebar.
Momen manis pun terasa diantara mereka. Suasana di ruangan itu terasa hangat, romantis, dan penuh keakraban sederhana.
Mereka berdua membuka koper satu per satu, saling bantu mengangkat, saling menyodorkan barang, diiringi obrolan ringan dan tawa kecil yang terdengar renyah.
Koper besar pertama dibuka. Isinya beragam alat kecantikan, perawatan diri, dan perlengkapan riasan.
Ada berbagai botol skincare yang tersusun rapi, catokan rambut, pengering rambut besar, sisir-sisir beragam jenis,
Kotak rias berisi bedak, lipstik, dan alat-alat lain yang biasa digunakan Liana sehari-hari.
Alexander ikut membantu mengeluarkan botol-botol kecil itu satu per satu, lalu menatap meja rias besar yang sudah tersedia.
Meja itu terbuat dari kayu halus dengan cermin besar berbingkai emas, dan laci-laci di bawahnya. Bersama-sama, mereka mulai menyusun barang-barang itu.
Liana mengatur letaknya agar mudah diambil, sementara Alexander dengan telaten menyusun botol-botol dan kotak ke dalam rak-rak kecil di meja itu.
Di saat-saat seperti ini, tidak ada lagi perbedaan status, mereka berdua seperti pasangan biasa yang sedang menata rumah baru mereka.
"Kamu punya banyak sekali perlengkapan ini," komentar Alexander sambil tersenyum, menyodorkan sepasang sisir cantik ke tangan Liana.
"Hanya barang-barang penting saja," jawab Liana sambil tertawa kecil.
"Dulu saya tidak boleh beli yang mahal atau banyak, jadi saya jaga barang yang ada sebaik mungkin."
Alexander diam sejenak, menatap wanita itu dengan tatapan penuh penyesalan yang dalam,
Namun ia tidak bicara apa-apa, hanya menyodorkan tangan untuk mengusap pelan puncak kepala Liana dengan sangat lembut.
Setelah koper pertama rapi sempurna di meja rias, mereka beralih ke koper sedang yang tadi dibawa Alexander sendiri dari mobil.
Isinya adalah benda-benda pribadi yang paling berharga bagi Liana. Ada laptop tipis berwarna perak, ponsel pintarnya, serta sebuah iPad besar lengkap dengan pena khusus digital.
"Ah, ini alat gambarmu," sahut Alexander saat melihat iPad itu. Ia ingat betul hobi Liana menggambar.
"Iya, saya suka menggambar... meski jarang sempat," jawab Liana pelan.
Selain alat elektronik, di dalamnya juga tersimpan tumpukan buku-buku novel favoritnya, buku harian yang sudah bertahun-tahun ia tulis,
Buku catatan kecil berisi ide-ide dan pemikirannya, hingga dokumen-dokumen penting termasuk rekam medis kesehatan dan kesuburannya yang dulu sempat dijadikan bukti tuduhan palsu bahwa ia mandul.
Namun, ada satu buku sampul tebal berwarna gelap yang paling menarik perhatian Alexander saat diangkat oleh Liana.
Tulisan emas di sampulnya tertulis jelas: "RATU YANG JATUH, DAN KEMBALI".
Jantung Alexander berdegup kencang. Ia ingat betul, dulu ia sering melihat Liana membaca buku ini berulang kali saat sedang sendirian di taman atau di kamarnya.
Dan sekarang... melihat buku itu ada di tangan wanita itu, di tempat baru ini... rasanya seperti takdir sedang berbicara.
"Kamu masih menyimpan buku ini?" tanya Alexander pelan.
Liana mengusap sampul buku itu dengan lembut, senyum tipis namun penuh makna terukir di bibirnya. "Iya. Dulu saya membacanya dan hanya berharap nasibku tidak seburuk tokoh di dalamnya."
"Tapi ternyata... sekarang saya sadar, buku ini seolah menuliskan takdir saya sendiri."
"Saya sudah jatuh sangat dalam, dan sekarang... berkat kamu, saya mulai kembali bangkit. Saya Ratu yang jatuh, dan kembali..."
Kalimat itu menggantung indah di udara, membuat suasana di ruangan itu makin terasa magis.
Semua buku, catatan, dan alat elektronik itu kemudian disusun rapi ke dalam rak dinding besar yang menempel rapi dan kokoh di salah satu sisi tembok kamar, tepat di samping meja kerja barunya.
Semuanya tertata apik, menempati tempat yang sudah disiapkan untuk menyambut mereka.
Berikutnya adalah koper besar kedua. Isinya adalah koleksi gaun-gaun milik Liana.
Gaun-gaun yang sederhana namun memiliki keanggunan tersendiri, gaun yang ia simpan dan rawat sebaik mungkin meski jarang ia kenakan dengan bahagia.
Alexander membantu mengangkat gaun-gaun itu satu per satu, lalu mereka berdua berjalan menuju ruangan khusus yang terhubung langsung dengan kamar tidur ini: Ruang Ganti Pribadi.
Ruangan ini sangat luas, seukuran kamar tidur anak pada umumnya, dengan gantungan baju berderet panjang, rak sepatu bertingkat, dan kotak-kotak penyimpanan berlabel rapi.
Saat gaun-gaun itu digantungkan, ternyata jumlahnya terlihat sedikit sekali jika dibandingkan luasnya ruangan itu.
Masih ada ratusan tempat gantungan kosong yang tersedia, seolah menunggu untuk diisi dengan ribuan baju baru yang kelak akan dibeli Alexander khusus untuk Liana.
"Luangkan saja di sebelah kiri," kata Alexander memberi petunjuk. "Sisi kanan sepenuhnya kosong untuk apa pun yang nanti kamu inginkan."
Mereka kembali ke ruang utama, membuka koper besar ketiga. Isinya adalah pakaian-pakaian kasual dan sehari-hari.
Ada rok beragam panjang, celana panjang dan pendek, baju rajutan yang lembut dan hangat, baju kaos polos berwarna-warni, baju panjang santai, dan berbagai pakaian nyaman lainnya.
Semuanya dibawa masuk ke ruang ganti, dilipat rapi dan disusun ke dalam laci-laci besar yang tersedia. Liana merasa bahagia sekali,
Karena akhirnya ia bisa menaruh pakaiannya di tempat yang layak, bukan lagi di dalam lemari sempit yang penuh dengan baju-baju Seraphina yang jauh lebih banyak.
Dan tibalah mereka di koper besar keempat, koper terakhir.
Saat resleting koper itu ditarik terbuka, dan Liana mulai mengangkat lapisan kain di atasnya... Alexander yang sedang berdiri di sebelahnya membantu, tiba-tiba terdiam.
Di dalam koper itu, terlihat jelas isinya: seluruh koleksi pakaian dalam milik Liana, mulai dari yang biasa, baju tidur, baju dinas malam yang berenda halus dan transparan,
Hingga pakaian renang berpotongan terbuka berupa bikini cantik yang tersimpan rapi.
Wajah Alexander yang biasanya tenang, dingin, dan berwibawa di depan semua orang, seketika memerah padam hingga ke telinganya.
Matanya terbelalak sesaat, lalu dengan gerakan kaku dan cepat ia langsung memutar badan memunggungi Liana, tangannya mengusap leher belakangnya yang terasa panas karena malu luar biasa.
"Ah... a-aku... aku taruh dulu yang lain di ruang ganti... kau... kau bereskan bagian ini saja ya sendiri..." ucap Alexander dengan suara sedikit tercekat dan lebih tinggi nada bicaranya, berusaha menutupi rasa malunya yang tak tertahankan.
Melihat sosok tinggi besar itu yang tadi sangat berani menciumnya dan mengaku cinta, sekarang jadi salah tingkah dan malu setengah mati, Liana tak bisa menahan diri lagi.
Ia tertawa kecil, tertawa renyah dan bahagia, tertawa lepas untuk pertama kalinya dalam lima tahun terakhir.
"Baiklah, baiklah... aku bereskan sendiri yang ini," jawab Liana sambil menahan tawa, hatinya terasa sangat ringan dan bahagia melihat sisi manis dan polos dari pria yang dicintainya itu.
Dengan hati-hati dan senyum yang tak luntur dari bibirnya, Liana memindahkan isi koper terakhir itu ke dalam lemari khusus yang ada di bagian paling dalam ruang ganti pribadinya.
Ruangan itu begitu besar dan luas, bahkan setelah semua barangnya dimasukkan dan disusun rapi, tempat kosongnya masih terasa sangat banyak,
Seolah mengingatkan bahwa masa depan dan kebahagiaannya di sini masih terbentang luas dan tak terbatas.
Setelah semuanya beres, semua barang sudah menempati tempat barunya, dan ruangan itu kini sudah terasa hidup dengan kehadiran barang-barang milik Liana,
Mereka duduk sejenak di tepi tempat tidur yang empuk dan nyaman itu. Semuanya sudah selesai. Semuanya sudah aman.
Malam itu berlalu dengan damai, diiringi mimpi-mimpi indah Liana yang akhirnya bisa tidur nyenyak tanpa rasa takut atau sedih.