Malu terlahir tanpa status? Iya.
Tapi, aku tidak pernah malu terlahir dari rahim perempuan bernama Nimas Ayu. Sosok perempuan cantik mengalami gangguan jiwa yang 18 tahun lalu dihancurkan dan dilecehkan.
Kata-kata itu milik Arundaya Dirandra (Dira). Satu-satunya harapan dari ibu yang dipaksa gila oleh dunia. Dan ketika aib itu dibuka, Dira memilih berdiri. Bukan untuk membantah, melainkan untuk berkata “Aku Bangga Menjadi Putrinya.”
Visual ada di IG author: Cichio23
Bagi yang suka menghayal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cichio23, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 6 Kegundahan dan Rencana Licik
Dira yang menyadari Faza memperhatikan dirinya tanpa menggunakan kerudung. Langsung menarik kain apapun yang bisa digunakan sebagai penutup kepala.
Menyadari telah melakukan kesalahan. Faza memalingkan wajahnya dari Dira.
Melihat kecantikan Dira tanpa adanya kain penutup kepala. Jelas Faza merasa khilaf.
“Maaf, aku permisi pulang. Assalamualaikum,” pamit Faza tercekat.
Tenggorokannya tiba-tiba terasa kering. Membuat Faza memilih pergi tanpa menunggu balasan Dira.
“Nimas, sudah tenanglah, Nduk! Semuanya baik-baik saja.”
Suara Mbah Sekar mengalihkan pandangan Dira dari pikiran tidak menentu.
Kakinya lebih memilih menghampiri Mbah Sekar dibanding mengejar Faza untuk mempertanyakan keberadaan di rumahnya.
“Di tempat ini hanya ada orang-orang yang sayang padamu. Jadi, jangan takut ada yang menyakitimu.”
Buaian dan kata-kata lembut Mbah Sekar menenangkan Nimas. Terlihat dari mata Nimas yang mulai mengantuk dalam dalam buaian Mbah Sekar.
“Mbah.”
Suara Dira masih bergetar tidak percaya dengan kejadian barusan. Kakinya terasa sulit untuk melangkah. Karena pikiran Dira terpecah pada Nimas dan Faza.
Matanya hanya bisa menatap bayangan Faza yang mulai menghilang.
Klek!
Suara pintu terbuka lalu tertutup kembali. Mengalihkan pandangan Mbah Sekar dari Nimas yang sudah tertidur.
“Mbah, aku bisa jelasin soal laki-laki barusan...”
“Sudah siang, Nduk. Lebih baik kamu siap-siap berangkat,” potong Mbah Sekar tanpa melihat ke arah Dira.
Wajah sedih jelas menggelayuti Dira melihat respon mbahnya yang berbicara tanpa melihat ke arahnya. Nampak sekali jika ada rasa kecewa tergambar jelas pada diri Mbah Sekar.
“Dira izin ke kamar mandi, Mbah.”
“Iya, mandilah. Biarkan Mbah yang menyiapkan pesanan nasi uduk dan gorengan.”
“Baik.”
Langkah kaki Dira yang mulai menjauh dari kamar Nimas. Mengarahkan pandangan mata Mbah Sekar ke Nimas.
Tangan keriputnya sedikit renggang dari kepalan kuat di selimut Nimas. Mata tuanya yang sebelumnya menunduk. Kini kembali menatap Nimas.
“Putrimu sudah besar, Nimas. Sudah ada laki-laki berani datang ke rumah ini hanya untuknya. Laki-laki yang tanpa sengaja melihat Dira tanpa menggunakan kerudung,” ucap Mbah Sekar sambil menghembuskan nafas.
Semua kejadian di kamar Nimas. Jelas dalam penglihatan mata tua Mbah Sekar. Termasuk Dira dan Faza saling memandang cukup lama.
Setelah masuk kamar mandi dan mengunci pintu. Dira terduduk cukup lama di lantai dingin dan lembab. Ada rasa takut menggelayuti Dira.
“Kenapa dia pagi dini hari datang kesini? Mau ngapain sih dia? Kalau sampai Bu Siti melihatnya. Bisa ramai penuh dengan gosip miring,” gerutu Dira sambil menangis.
Rasa kesal Dira pada Faza benar-benar memuncak. Sebab, tidak hanya di sekolah saja dirinya dibuat susah oleh Faza. Melainkan juga di rumahnya.
“Oh iya, bukankah Mbah gak tahu jika aku dan Faza teman satu kelas? Untuk antisipasi, lebih baik aku menghindar saja.”
Keputusan yang diambil Dira benar-benar terealisasi. Dira tampak menghindar dari tatapan mata penuh pertanyaan Mbah Sekar.
“Apakah pesanan nasi uduk dan gorengan hitungannya sudah pas, Mbah? Hari ini Dira masuk lebih awal.”
“Sudah pas semua di tempat masing-masing. Jika ada yang mau pesan nasi uduk untuk esok. Bilang saja libur.”
Penuturan Mbah Sekar menghentikan langkah Dira menghindar. Justru kini berjalan mendekati Mbah Sekar.
“Libur?”
“Iya, kita butuh istirahat,” jawab Mbah Sekar.
“Jangan sampai cucu tersayang dan cantiknya Mbah kecepatan. Nanti ada yang sedih,” tutur Mbah Sekar sambil tersenyum.
“Tenang saja, Dira gak akan membuat Mbah dan Ibu sedih.”
“Tidak hanya Mbah dan ibumu yang sedih. Melainkan juga pemuda yang subuh datang.”
Terlihat jelas Mbah Sekar mencoba untuk memahami perkembangan Dira. Seusia Dira memang sangat wajar mengenal lawan jenis.
Ya, meskipun ada rasa kesal menggelayuti diri Mbah Sekar mendapati Faza masuk tanpa izin. Namun, rasa kesal itu sedikit luntur saat melihat kepedulian Faza.
“Kalau tidak ada yang dibahas lagi. Dira izin berangkat, Mbah. Assalamualaikum,” pamit Dira dengan wajah merah menahan kesal.
Sambil membawa 3 kantong kresek berukuran besar serta tas di punggungnya. Dira keluar rumah untuk mengantar pesanan sekaligus berangkat ke tempat menuntut ilmu.
Tapi, baru juga beberapa langkah keluar dari pagar. Mbah Sekar dengan cepat manggilnya.
“Nduk, kenapa kamu jalan kaki?” tanya cepat Mbah Sekar menghampiri Dira.
“Sepeda Dira masih di bengkel, Mbah. Ini sekalian ingin mengambil sepeda. Makanya berangkat lebih pagi.”
“Gak perlu mengambil sepeda ke bengkel.”
“Kenapa tidak perlu Mbah? Dira gak mungkin jalan kaki.”
“Gak perlu kamu ambil sepedamu di bengkel. Sebab, sudah ada di rumah.”
Kening mengkerut yang ditunjukkan Dira. Menandakan jika dia belum menyadari keberadaan sepedanya di teras.
Mbah Sekar lebih memilih menarik tangan Dira masuk kembali ke teras, untuk memperlihatkan keberadaan sepeda cucunya.
“Itu sepedamu, Nduk. Barusan diantar sama pemuda bernama Faza,” jelas Mbah Sekar membuat detak jantung Dira tidak karuan.
Sebab, pemikiran mbahnya tidak mengenal Faza salah besar.
Bukankah kamu sempat bertemu dengannya. Dia datang hanya untuk...”
“Dira berangkat sekarang, Mbah. Sudah siang takut terlambat. Assalamualaikum,” pamit Dira memotong ucapan Mbah Sekar.
Lalu buru-buru mengambil sepeda agar tidak lagi membahas tentang Faza. Meninggalkan Mbah Sekar yang hanya bisa menghembuskan nafasnya.
“Nduk, kamu sudah tumbuh dewasa. Sangat wajar mulai dekat dengan yang namanya laki-laki. Mbah berharap apa yang terjadi pada ibumu tidak meninggalkan trauma.”
“Meskipun aku merasa ada sesuatu hal lain pada diri pemuda bernama Faza. Tapi, penglihatanku mengatakan dia pemuda baik,” gumam Mbah Sekar sambil terus melihat kepergian Dira.
Dira bergegas mengantar pesanan di beberapa warung berselimut rasa kesal di hatinya. Tujuannya saat ini jelas ingin menemui Faza untuk mencari tahu tujuan laki-laki itu datang di kediamannya tanpa memberitahu atau meminta izin. Serta diam-diam mengantar sepedanya hingga menimbulkan pertanyaan dari Mbah Sekar.
“Dia benar-benar laki-laki menyebalkan. Bukankah semalam aku sudah bilang mengambil sepeda sendiri. Kenapa dia harus repot-repot mengantar di pagi buta?” gerutu Dira sambil mengayuh sepeda.
“Baru juga kenal sehari tapi sudah membuatku kerepotan sendiri. Untung Bu Siti tidak sempat melihat keberadaannya. Kalau sampai Bu Siti melihat. Benar-benar akan menimbulkan masalah baru.”
Menggerutu sepanjang perjalanan menuju sekolah dengan wajah cemberut. Tidak terasa sepeda Dira sudah masuk parkiran.
Cetek!
Setelah menstandarkan sepedanya di parkiran. Mata tajam Dira menelisik mencari keberadaan motor milik Faza.
“Sepertinya dia belum datang. Awas saja kalau bertemu denganku. Aku harus memberikan peringatan keras padanya,” ancam Dira sambil berjalan menuju kantin untuk mengantar nasi uduk dan juga gorengan.
Tingkah laku cukup aneh yang dilakukan oleh Dira saat mencari motor Faza. Mencuri perhatian salah satu sosok perempuan yang ada di dalam mobil. Sosok tersebut mengepal kuat tangannya hingga kukunya tampak memutih.
“Jadi itu perempuan miskin tidak tahu malu yang telah menyakiti hati putri tercantik, Mami,” ucap perempuan paruh baya sambil mengusap lembut wajah kesal Sisil.
“Iya, Mi. Pokoknya Mami harus memberikan peringatan keras padanya. Aku tidak ingin targetku lepas begitu saja. Karena aku yakin targetku ini berbeda dibandingkan yang lainnya.”
“Memangnya laki-laki itu memiliki kelebihan apa hingga membuat putri Mami tergila-gila? Hingga marah-marah sepanjang malam.”
“Faza itu memiliki banyak kelebihan yang gak aku dapatkan dari deretan mantanku. Tampan, misterius, dan tentunya membuat diriku selalu penasaran,” ungkap jujur Sisil.
“Oh iya, bukankah mami pernah bilang jika hanya pecundang yang gagal mendapatkan keinginannya? Karena alasan itulah aku tidak ingin menjadi pecundang. Aku harus mendapatkan Fazaku secepatnya. Meskipun suatu saat nanti aku akan membuangnya selayaknya sampah tidak berharga jika sudah bosan.”
Mendengar ucapan putrinya yang sangat ambisius. Sosok perempuan paruh baya itu langsung tersenyum.
“Kenapa Mami tersenyum? Bukankah begitu yang seharusnya dilakukan?” tanya Sisil sambil memberikan tatapan liciknya.
“Iya, memang seharusnya begitu. Sama seperti yang Mami lakukan untuk mendapatkan Papimu. Meskipun Mami hanya mendapatkan cinta tanpa kekayaan berlimpah,” balas Mami Sisil mengatai suaminya yang gajinya tidak mencukupi gaya hidupnya.
Sisil yang mendengar ucapan maminya lebih memilih memalingkan wajahnya. Sebab, apa yang dirinya lakukan sama persis dengan maminya. Rasa tertarik pada lawan jenis secara berlebihan.
“Tapi, kenapa baru sekarang kamu meminta bantuan sama Mami?”
“Karena baru kali ini perempuan sialan itu cari gara-gara denganku.”
“Baiklah, kamu tenang saja, Sayang. Semua pasti akan berakhir sesuai dengan keinginanmu.”
“Jadi, apakah Mami akan membantuku?”
“Iya, tentu saja. Mami pastikan sebelum papimu pulang dinas dari luar negeri. Kamu akan mendapatkan semua keinginanmu. Asal...”
“Asal apa, Mi?” tanya cepat Sisil penasaran.
“Asal kamu bisa menyediakan perempuan baru untuk kelangsungan bisnis Mami.”
“Kenapa Mami tidak sekalian menjadikan perempuan gembel dan menjijikan itu sebagai barang dagangan? Aku perhatikan dia cukup menarik untuk menggoyang para tamu istimewa Mami.”
“Ide yang sangat bagus dan kamu harus merealisasikan rencana itu.”
“Tentu saja Mamiku, Sayang.”
“Ya sudah, sekarang kamu masuk seperti biasa. Biarkan nanti Mami yang akan menghubungi pimpinan maupun wali kelas kamu. Mami sudah tidak sabar meluapkan kekesalan yang akhir-akhir mengganggu.”
“Baik, Mi. Aku tunggu kabar baik dari Mami. Semakin cepat, semakin baik. Karena itu yang aku inginkan.”
Sambil melenggang Sisil menuju kelasnya. Karena sudah terbiasa menjadi orang nomor satu di lingkungan. Maka, Sisil tidak menerima kekalahan.
Ceritanya keren 👍