Punya ijazah S1 Akuntansi dengan predikat Cum Laude ternyata tidak berguna di hadapan tagihan rumah sakit yang mencapai ratusan juta. Demi menyelamatkan nyawa ibunya, Arini terpaksa membuang gengsinya dalam-dalam dan melamar menjadi kepala pelayan di penthouse mewah milik Adrian—seorang CEO muda kaya raya yang terkenal sedingin es kutub utara.Kerja keras Arini yang super rapi dan cerdas perlahan menarik perhatian sang Kakek pemilik takhta konglomerasi. Salah paham pun terjadi. Demi mempertahankan posisinya sebagai pewaris tunggal, Adrian terpaksa berbohong dan mengenalkan pelayannya itu sebagai calon istri.Sebuah kontrak pernikahan satu tahun akhirnya disodorkan di atas meja marmer.Gaji ratusan juta, seluruh utang lunas, dengan satu syarat mutlak: Dilarang saling jatuh cinta.Mampukah Arini bertahan menghadapi sikap dingin sang konglomerat di bawah satu atap yang sama? Ataukah pernikahan pura-pura ini justru akan mencairkan hati sang es kutub utara yang selama ini membeku?
Bab 6 (Sisi lain dari Sang Es Kutub Utara)
Ketegangan yang tertinggal dari dalam mobil mewah tadi masih menggantung di udara bahkan setelah mereka melangkah masuk ke dalam penthouse. Keheningan malam menyergap. Adrian langsung berjalan menuju ruang kerjanya tanpa mengucapkan sepatah kata pun, sementara Arini memilih untuk segera membersihkan diri dan mengganti gaun hijau zamrudnya dengan piyama katun yang nyaman.
Tepat pukul sebelas malam, lampu utama kamar telah dimatikan. Arini sudah berbaring di posisinya, di sisi kiri ranjang king size dengan guling tebal yang masih setia menjadi garis pembatas di tengah kasur. Namun, malam ini rasa kantuk seolah enggan datang. Otaknya terus memutar ulang pertanyaan bernada rendah dari Adrian di dalam mobil tadi. Hanya karena kontrak, Arini?
Setengah jam berlalu dalam kesunyian sebelum pintu kamar mandi akhirnya terbuka. Adrian melangkah keluar hanya dengan mengenakan celana tidur hitam panjang tanpa atasan. Rambutnya yang biasanya tertata rapi kini basah dan jatuh berantakan di dahinya. Arini refleks memejamkan mata erat-erat, berpura-pura sudah tidur lelap demi menghindari kecanggungan. Ia bisa merasakan kasur sutra itu sedikit ambles saat Adrian merebahkan tubuh bidangnya di sisi kanan ranjang.
Satu jam berlalu. Suasana kamar begitu sunyi hingga hanya menyisakan deru napas mereka yang saling bersahutan. Namun, ketenangan itu tidak bertahan lama.
Arini yang hampir terlelap mendadak terusik oleh suara lenguhan tertahan dari arah samping. Ia membuka matanya perlahan dan menoleh. Di balik temaram lampu tidur, tubuh Adrian tampak menegang. Keringat dingin membasahi pelipis dan dadanya yang bidang. Pria itu menggelengkan kepalanya ke kanan dan ke kiri dengan napas yang memburu, seolah-olah sedang terjebak dalam labirin mimpi buruk yang amat menyiksa.
"Tidak... jangan pergi..." bisik Adrian dengan suara serak yang bergetar hebat. Topeng angkuh dan dingin yang biasa ia kenakan di siang hari kini runtuh total, menyisakan sosok pria rapuh yang dipenuhi luka masa lalu.
Arini terpaku. Logikanya berteriak agar ia tidak melanggar Pasal 4 tentang batas urusan pribadi. Namun, melihat tubuh Adrian yang mulai menggigil kesakitan, rasa empati di dalam diri Arini mengalahkan segalanya. Ia mengabaikan guling pembatas itu dan menggeser tubuhnya mendekat.
"Tuan Adrian? Bangun, Tuan," panggil Arini lembut sambil menepuk pelan pundak Adrian yang kokoh namun terasa dingin.
Sentuhan itu justru membuat Adrian tersentak. Mata elangnya terbuka lebar, namun tatapannya tampak kosong dan dipenuhi trauma yang mendalam. Tanpa peringatan, tangan kekar Adrian bergerak cepat mencengkeram kedua pergelangan tangan Arini, lalu membalikkan posisi tubuh mereka dalam satu gerakan instan. Kini, Adrian berada di atas tubuh Arini, mengunci pergerakan gadis itu di atas kasur sutra.
Napas Adrian yang memburu terasa hangat menerpa wajah Arini. Jarak wajah mereka hanya tersisa beberapa sentimeter. Arini bisa merasakan debaran jantung Adrian yang berdegup menggila, sama kencangnya dengan debaran jantungnya sendiri saat ini.
"Lepaskan saya, Tuan. Ini saya, Arini," bisik Arini dengan suara bergetar, mencoba menyadarkan pria di atasnya.
Mendengar nama itu disebut, fokus di mata Adrian perlahan kembali. Ia menatap wajah Arini yang berada di bawahnya dengan saksama. Tatapannya melunak, berganti menjadi sebuah tatapan penuh intensitas yang membuat atmosfer di dalam kamar itu mendadak terasa begitu panas dan menyesakkan. Cengkeraman tangan Adrian pada pergelangan tangan Arini perlahan melonggar, berubah menjadi usapan lembut yang menjalar turun ke jemari tangan Arini, menguncinya erat di atas kasur.
"Arini..." gumam Adrian rendah, suaranya terdengar begitu serak dan seksi di tengah keheningan malam.
Pandangan Adrian terkunci rapat pada bibir merah muda Arini yang sedikit terbuka karena terkejut. Dinding es yang selama bertahun-tahun membentengi hatinya dari rasa cinta seolah mencair dalam sekejap karena kehangatan yang dipancarkan oleh gadis di bawahnya ini. Tanpa bisa ditahan lagi oleh logika bisnis ataupun pasal kontrak, Adrian perlahan menundukkan kepalanya, mengikis habis jarak yang tersisa di antara mereka.