Perjalanan celah dimensi antar ruang angkasa, seorang pangeran kerajaan menjadi pengamat takdir dari sang Penjaga cahaya dari kegelapan absolute yang terus melahap semuanya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon M.Khaidar Ali Fathan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertemuan Adik dan Kakak
Beralih ke kamar Devan. Devan yang tidak sabar dan tidak bisa berdiam diri terlalu lama akhirnya berinisiatif untuk berkeliling area istana sendiri.
"Kelamaan kayaknya kalau harus menunggu Tuan Putri ke sini. Aku akan coba memeriksa sendiri sungai yang dekat dengan taman kerajaan itu," gumam Devan.
Saat melangkah keluar dari kamar, ia berpapasan dengan pelayan yang tadi mengantarkan makanan. "Oh ya, maaf, Bi. Taman kerajaan ada di sebelah mana ya? Aku ingin sedikit berjalan-jalan."
"Oh, dekat saja, Tuan. Nanti setelah keluar dari sini, Tuan pergi ke arah utara kerajaan sedikit. Nanti langsung ketemu kok tamannya," jawab pelayan itu ramah.
"Oke, terima kasih, Bi."
Devan pun segera merapikan pakaiannya dan langsung bergegas menuju lokasi yang dimaksud. Sambil berjalan, ia sesekali melirik ke belakang untuk memastikan apakah ada prajurit yang sedang mengikutinya atau tidak.
Setelah sampai di area taman, Devan mulai menyusuri taman sambil terus mengawasi keadaan sekitar. Tak lama kemudian, ia akhirnya menemukan aliran sungai yang dicarinya.
"Kok gak ada ya serpihan-serpihan ruangan itu? Padahal ruangan itu besar," gumam Devan heran.
Karena pencarian di sekitar taman tidak membuahkan hasil sama sekali, Devan memutuskan untuk terus berjalan menyusuri aliran sungai tersebut ke arah hilir.
Sementara itu, beralih ke sekolah kerajaan saat waktu istirahat tiba. Alexa dan Kirana tengah duduk berdua menikmati makanan di area kantin. Di sela-sela aktivitas mereka, si Pengintai yang berada di dalam tubuh Alexa kembali berusaha masuk dan mengintip jalinan ingatan milik wanita malang tersebut.
(Oh, rajanya bernama Nexalion, dan adiknya bernama Kinanti. Tunggu, kenapa wajah Kirana seperti selalu tidak senang setiap kali nama Kinanti disebut atau saat dia datang? Wah, menarik nih.)
Tiba-tiba, suara Kirana memecah lamunan sang mata-mata.
"Alexa, habis makan temani aku pulang dulu ya. Baju olahragaku kayaknya ketinggalan. Aku tadi sempat memeriksa di dalam tas, ternyata gak kebawa."
"Oh, oke."
Kirana menatap temannya dengan Ekspresi bingung. "Kenapa, Alexa? Ada banyak pikiran ya?"
"Oh, enggak. Sedikit gak enak badan saja sih."
"Oh? Kalau gak enak badan mah gak usah memaksakan diri. Izin saja istirahat nanti, jangan dipaksa ikut kelas olahraga," ucap Kirana perhatian.
"Aman, Kirana."
Setelah menyelesaikan makan siang mereka, Alexa dan Kirana bergegas pergi menuju istana kerajaan.
Fakta Menarik:
Kebetulan, kompleks sekolah kerajaan tingkat Junior hingga High Senior berada di sebelah utara kerajaan meski letaknya agak renggang. Jadi posisinya berurutan: Istana Kerajaan, sekolah Junior, lalu sekolah High Senior. Tepat di belakang sekolah tersebut, terdapat aliran sungai dan taman-taman kecil yang berfungsi sebagai penghubung ketiga tempat tersebut.
"Biar cepat, bagusnya lewat jalur sungai taman kerajaan saja, Kirana, daripada lewat jalan biasa," usul Alexa memberikan saran.
(Tapi...) Kirana membatin dengan bimbang. (Itu kan jalur yang biasa dilewati adiknya untuk pergi ke sekolah. Sial, melihat mukanya saja sudah bikin aku muak. Tapi waktu istirahat sebentar lagi habis. Kayaknya jam segini dia juga masih di sekolahnya deh. Semoga saja aku gak bertemu dengan bocah itu.)
"Halo? Gimana, Kirana?" tanya Alexa membuyarkan lamunan temannya.
"Eh, oke deh, ayo."
Di sisi lain, setelah selesai makan siang di sekolahnya, Kinanti bergegas menuju ke sekolah sang kakak untuk mengantarkan baju olahraga yang tertinggal. Ia tidak sendiri, melainkan ditemani oleh kedua teman perempuan sesama bangsawan, Kenan Lyin dan Laura Gyle.
"Eh, Kin, kamu yakin memang mau memberikan sendiri baju olahraga kakakmu? Kenapa gak dititipkan ke pelayan saja?" tanya Kenan heran.
"Ya, tahu tuh. Putri kerajaan masa mengantarkan barang sendiri," timpal Laura.
Kinanti hanya tersenyum tipis. "Kebetulan aku ingin saja. Ini gak ada kaitannya dengan status putri kerajaan. Sudah, kalian ikut saja. Nanti akan kukenalkan ke anak yang baru kemarin aku temukan di dekat aliran sungai deh."
"Oh ya? Kau beneran menampung orang yang gak dikenal? Hati-hati, Kinanti, takutnya dia cuma memanfaatkan kamu doang. Ayah kamu sudah tahu belum?" tanya Kenan cemas.
"Kemarin aku sudah lapor Ayahku. Kata beliau, kalau sudah sembuh total nanti antarkan pulang saja sama pengawal. Tapi aku juga berpikir lagi sih. Cowok itu bilang dia lagi ada masalah keluarga. Niatnya aku sih mau jadi mediator antara dia sama keluarganya."
Laura langsung menyenggol lengan Kinanti. "Tuh, kan! Cowoknya kayak gak bener nih. Omong-omong, namanya siapa emang?"
"Namanya Devan Orb."
Tepat di sebuah belokan taman yang rimbun, tanpa diduga Kinanti dan teman-temannya bertabrakan dengan seseorang dari arah berlawanan.
BRUAAKKK!
"Aduh!" Kirana tersentak pelan.
Alexa yang berada di belakangnya langsung memegangi pundak temannya. "Kirana, kau tidak apa-apa?"
"Tidak apa-apa."
Di sisi lain, Kenan dan Laura juga langsung membantu teman mereka. "Kinanti, apakah kau tidak apa-apa?!"
"Tenang, aku tidak apa-apa," sahut Kinanti sambil merapikan gaunnya.
Sesaat kemudian, Kinanti dan Kirana saling tersadar. "Tunggu, suara ini?"
"Kakak!"
"Kau!" Kirana menoleh.
Kinanti buru-buru menyodorkan kain tebal di tangannya. "Oh ya, Kak. Ini baju olahragamu ketinggalan."
Kirana menatap adiknya dengan pandangan penuh rasa benci. "Oi, ngapain kamu yang mengambil bajuku?!" bentaknya sambil menarik kasar baju olahraga tersebut dari tangan Kinanti.
Hentakan kasar itu membuat keseimbangan Kinanti goyah. "Aduh!" (Kinanti pun tersentak jatuh ke tanah.)
"Sial, bajuku jadi bau pembunuh," cibir Kirana tanpa belas kasihan.
Melihat perlakuan kasar itu, Kenan dan Laura tidak tinggal diam dan langsung membela sahabat mereka. "Maaf, bukannya Ratu meninggal karena melahirkan Kinanti ya? Itu yang diberitahu oleh ayah dan ibu kami!"
"Anak kecil jangan sok tahu! Dia ini penyebab Mamaku meninggal! Mama yang mengajarkanku arti sederhana, di saat aku sangat muak dengan para bangsawan... Dan ternyata, si anak sial ini malah berteman dengan bangsawan," ketus Kirana sinis.
Kenan membalas dengan tatapan tidak kalah tegas. "Kami memang anak bangsawan, tapi kami terkadang kagum dengan Kinanti yang mengajak kami untuk selalu menganggap semua manusia itu sama. Kau yang malah terlihat seperti pembenci tanpa alasan!"
"Maaf, Kak. Sudahlah, Kak, aku yang salah. Tolong jangan seperti itu kepada teman-temanku," potong Kinanti, mencoba menahan air matanya agar tidak tumpah.
"Kau... Benar-benar!"
Napas Kirana memburu. Karena tersulut emosi, tangannya bergerak cepat melayang ke udara, bersiap untuk menampar wajah Kinanti.
Kinanti hanya bisa memejamkan matanya pasrah. Namun, tamparan itu tidak mendarat.
Devan, yang sedari tadi berjalan menyusuri pinggiran sungai, tiba-tiba muncul dari balik semak-semak dan dengan cekatan langsung mencengkeram pergelangan tangan Kirana, menahan gerakan tersebut di udara. Kinanti yang perlahan membuka matanya langsung kaget melihat Devan berdiri di depannya.
"Berhenti," ucap Devan dingin.
Kirana geram, mencoba menarik tangannya. "Cih! Siapa kau?"
"Wanita kerajaan tidak seharusnya bersikap seperti preman jalanan, apalagi menampar saudara sendiri," balas Devan dengan nada tegas. (Secara perlahan-lahan, ia melepaskan cengkeraman tangannya dari pergelangan tangan Kirana.)
Kirana mengusap pergelangan tangannya yang memerah, lalu menatap tajam ke arah Devan dan Kinanti bergantian. "Oh, jadi si pembunuh ini sudah punya pangerannya ya? Makan tuh pangeran bangsawan! Cih, Alexa, ayo kembali!"
Alexa yang sejak tadi hanya menonton langsung tersenyum canggung. "B-baik, Kirana." (Bakal seru nih!)
Alexa dan Kirana pun berbalik arah untuk kembali ke sekolah. Sepanjang jalan, Kirana terus memasang raut wajah penuh dendam.
Setelah keadaan mereda, Devan berbalik dan mengulurkan tangannya pada Kinanti. "Kau baik-baik saja, Kinanti?"
"Aku baik-baik saja. Terima kasih ya, Devan," jawab Kinanti sambil menerima bantuan Devan untuk berdiri.
Sementara itu, Laura dan Kenan hanya bisa terpaku terpukau dengan sikap berani dan kata-kata yang diucapkan Devan barusan.
"Teman-teman?!" panggil Kinanti, melambaikan tangan di depan wajah kedua sahabatnya.
Laura dan Kenan langsung tersentak dari lamunan mereka. "Eh, ya! Kamu gak apa-apa, Kinanti?!"
"Aman. Eh ya, ini si Devan yang tadi aku ceritakan itu. Devan, perkenalkan, ini dua temanku, Laura dan Kenan."
"Salam kenal," ucap Devan ramah.
"Ya, salam kenal," sahut Laura dan Kenan bersamaan dengan pipi yang sedikit memerah.
Kinanti memperhatikan postur tubuh Devan sejenak. "Eh ya, dari badan kamu kayaknya kita sepantaran deh? Kamu umur berapa?"
"Aku enam belas."
"Oh, berarti sama, kami beda satu tahun.
Kami lima belas," balas Kinanti.
Laura yang mulai penasaran langsung menyenggol lengan Devan sedikit. "Eh, kamu punya saudara gak? Hehe."
(Hmmph, kayaknya kalau yang satu ini, aku tidak masalah memberi tahu kepada mereka. Kakakku sekarang di bumi sudah ditunjuk jadi pangeran mahkota sih.)
"Aku punya kakak bernama Draka Orb," jawab Devan jujur.
"Hehe, omong-omong umurnya berapa?!" tanya Laura lagi, matanya berbinar.
"Kayaknya sembilan belas sih sekarang."
"Berondong berarti ya, hehe," goda Laura.
Kinanti langsung menyenggol balik bahu sahabatnya itu. "Yeuh, ngapain ngomongin kakaknya?"
Laura kemudian mendekatkan wajahnya ke telinga Kinanti, lalu berbisik pelan. "Dari tampilannya sih ganteng, terus bijaksana lagi. Kamu kan sudah dapat adiknya, nah aku bisa kali dapat kakaknya, hehe."
"Hadeh..." Kinanti hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya.
Kenan yang tidak sengaja teringat bahwa mereka harus cepat cepat kembali ke kelas sebelum waktu istirahat habis.
"Waduh! Kayaknya kita harus balik nih, kayaknya waktu istirahat sebentar lagi habis."
"Sekali lagi terima kasih ya, Devan. Nanti siang aku akan temani kamu jalan-jalan di kerajaan. Dadahhh!" seru Kinanti sembari melambaikan tangan. Mereka bertiga pun segera berlari untuk kembali menuju sekolah.
Devan ikut melambaikan tangan, menatap kepergian mereka dengan senyuman tipis.
"Dadah..."