Erlangga Mahardika Pratama—seorang CEO muda yang dikenal dingin dan tak tersentuh—terbiasa mengendalikan segalanya dalam hidupnya. Hingga satu hari, sebuah kegagalan cinta menghancurkan pertahanannya, dan mempertemukannya dengan Zea Anindhita Kirana, gadis sederhana yang datang tanpa rencana… namun perlahan mengisi ruang kosong di hatinya.
Hubungan mereka tumbuh dalam diam—penuh tarik ulur, perbedaan dunia, dan luka yang belum sembuh. Di tengah kehangatan yang mulai tercipta, kebahagiaan itu justru direnggut oleh sebuah kebohongan kejam.
"Kadang, cinta datang bukan untuk dimulai... tapii untuk di perbaiki"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon M. ZENFOX, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pagi yang Hancur
Cahaya matahari pagi menyelinap kejam di antara celah tirai sutra, menusuk tepat ke arah kelopak mata Erlangga yang masih terasa berat. Pria itu mengerang, merasakan denyut di kepalanya seolah ada godam yang menghantam tanpa henti. Setiap inci tubuhnya terasa remuk, sebuah keletihan yang luar biasa, seolah semalam ia baru saja melalui pertempuran hidup dan mati yang menguras seluruh energinya.
Tangannya meraba kening yang basah oleh keringat dingin. Begitu ia membuka mata, langit-langit kamarnya yang mewah di apartemen lantai tiga puluh delapan itu perlahan terlihat jelas. Namun, sebelum kesadarannya pulih seutuhnya, ia membeku. Dinginnya udara AC menyentuh kulitnya yang telanjang di balik selimut. Jantungnya tiba-tiba berdetak liar, memukul rongga dada dengan ritme yang menyakitkan.
Dengan gerakan kasar dan panik, ia menegakkan tubuh, mengabaikan pusing luar biasa yang menderanya. Saat itulah matanya menangkap pemandangan yang membuat dunianya seolah runtuh seketika, di atas seprai putih yang berantakan itu, terdapat bercak darah segar yang kontras dengan warna kainnya.
Seketika, potongan-potongan ingatan semalam menghantam kepalanya tanpa ampun, seperti kaset rusak yang diputar paksa. Lift yang dingin. Tatapan Zea yang penuh kekhawatiran. Pelukannya yang terlalu erat di dalam kamar yang gelap. Isak tangis yang sempat ia dengar namun ia abaikan. Perlawanan yang perlahan melemah karena kalah tenaga. Suara lirih Zea yang memanggil namanya, memohon sisa-sisa kesadarannya untuk berhenti dan dirinya, yang kehilangan kendali sepenuhnya di bawah pengaruh zat obat sialan milik Mr. Dong.
Wajah Erlangga memucat seputih kertas. “Tidak…” suaranya nyaris hilang, tertahan di tenggorokan yang terasa mencekik.
Ia menoleh ke samping dengan leher yang kaku, dan napasnya tertahan. Di ujung kasur, Zea duduk memeluk lututnya sendiri. Tubuhnya terbungkus selimut tipis yang ditarik paksa untuk menutupi kehancuran yang ia tinggalkan. Bahu gadis itu bergetar hebat. Isak tangisnya yang tertahan kini pecah, memenuhi sunyinya kamar yang biasanya terasa angkuh itu. Air mata membasahi wajah Zea yang pucat pasi, matanya sembap mencerminkan malam yang panjang dan mengerikan.
Dunia Erlangga seolah berhenti berputar. Penyesalan yang belum pernah ia rasakan seumur hidupnya terjadi, bahkan saat Lea mengkhianatinya, masalah ini menghantamnya jauh lebih keras.
“Zea…” suaranya serak, penuh dengan nada memohon yang menyedihkan.
Ia mencoba mengulurkan tangan, ingin menyentuh bahu gadis itu untuk sekadar meminta maaf atau memastikan dia baik-baik saja, namun—
Plak!
Zea menepis tangan Erlangga dengan tenaga terakhir yang ia miliki. Matanya merah, menatap Erlangga dengan luka yang begitu dalam hingga Erlangga merasa jantungnya diremas. Tatapan yang biasanya polos, jahil, dan memanggilnya "Om" itu kini hanya menyisakan kebencian yang murni.
“Jangan sentuh saya!” Suara Zea pecah, penuh dengan amarah yang bergetar.
“Zea… dengar dulu, aku benar-benar tidak bermaksud—”
“Dengar apa lagi?!” Zea memotong dengan teriakan yang serak. Ia menatap Erlangga, air mata baru kembali jatuh melintasi pipinya yang sembap. “Kamu mau jelasin apa lagi, Erlangga Mahardika? Kamu mau bilang kalau ini cuma kecelakaan bisnis? Kamu mau bilang kalau kamu dijebak?”
“Zea, zat yang diberikan Mr. Dong itu… aku benar-benar kehilangan kendali atas tubuhku sendiri. Aku tidak sadar semalam melakukan apa—”
“JADI ITU ALASANMU?!” Teriakan Zea menggema, memantul di dinding-dinding kamar yang dingin. Tubuhnya gemetar hebat hingga selimut yang membungkusnya nyaris merosot. “Karena kamu dijebak, karena kamu nggak sadar, jadi kamu bisa seenaknya ngelakuin itu ke saya?! Saya nolong kamu! Saya lihat kamu hampir tidak berdaya di lift, saya bawa kamu ke sini karena saya pikir kamu sakit, saya pikir kamu butuh bantuan manusia, bukan supaya kamu berubah jadi binatang dan menghancurkan saya!”
Erlangga terdiam. Lidahnya kelu. Untuk pertama kalinya dalam hidup, Sang CEO Mahardika yang selalu punya strategi cadangan, kini berdiri telanjang di depan kesalahannya sendiri tanpa satu pun pembelaan yang berarti.
“Zea… aku tahu ini salah. Aku akan tanggung jawab. Apa pun. Apa pun yang kamu minta, sebutkan saja. Uang, rumah, kendaraan, perlindungan, apa pun,” ucap Erlangga, suaranya parau, mencoba menggunakan cara yang paling ia pahami 'negosiasi'.
Ucapan itu justru membuat Zea tertawa pahit di tengah tangisnya. Sebuah tawa yang terdengar jauh lebih menyakitkan daripada makian mana pun. “Tanggung jawab? Kamu pikir semuanya bisa kembali seperti semula cuma karena kamu punya uang banyak? Kamu pikir harga diri saya, hidup saya, bisa dibeli dengan kata tanggung jawabmu yang picik itu?!”
Zea segera bangkit dari tempat tidur dengan gerakan yang kaku. Ia jelas sedang menahan rasa sakit fisik yang luar biasa pada tubuhnya. Dengan tangan yang masih gemetar, ia menyambar pakaian cleaning service-nya yang berserakan di lantai, memakainya dengan terburu-buru seolah kamar mewah itu adalah neraka yang paling beracun.
“Zea, tunggu, setidaknya biarkan aku mengantarmu atau—”
“Jangan dekat-dekat saya!” Zea berteriak lagi saat Erlangga mencoba mendekat. Suaranya membuat Erlangga mematung di tempat. Zea menatapnya satu kali lagi, tatapan yang akan menghantui mimpi Erlangga selamanya. “Mulai hari ini… kita anggap tidak pernah saling kenal. Jangan pernah berani muncul di depan saya lagi. Jangan pernah cari saya. Anggap malam ini adalah dosa yang ingin saya lupakan sampai saya mati.”
Kalimat itu menghantam Erlangga lebih keras daripada tamparan apa pun. Sebelum ia sempat memproses rasa sakit itu, Zea sudah berbalik, berjalan cepat keluar kamar meski langkahnya pincang dan goyah karena rasa sakit di bagian bawah tubuhnya.
“ZEA! TUNGGU!” Erlangga menyambar jubah mandinya dan mengejar dengan panik, namun ia terlambat.
Saat ia sampai di koridor apartemen, pintu lift di ujung sana baru saja tertutup sempurna. Di balik celah sempit sebelum pintu logam itu mengunci, Erlangga sempat melihat wajah Zea yang tertunduk, menangis hancur.
“Brengsek! Sialan!” Erlangga memukul dinding koridor dengan tinjunya hingga buku jarinya berdarah, namun rasa sakit itu tidak sebanding dengan lubang yang mendadak muncul di dadanya.
Ia berlari ke lift satunya, menekan tombol lobby berkali-kali dengan kalap. Detik terasa seperti jam yang berjalan mundur. Begitu tiba di lobby, ia menerjang keluar, mengabaikan tatapan bingung para staf apartemen. Matanya menyapu seluruh area dengan liar. Pintu masuk, ruang tunggu, pangkalan taksi, semuanya kosong.
Ia mendekati petugas keamanan lobby dengan napas tersengal dan wajah yang tampak gila. “Perempuan yang baru saja keluar dari lift, ke mana dia pergi?!”
Petugas itu tampak ketakutan melihat wajah sang CEO yang biasanya rapi kini berantakan. “Eh… yang cleaning service itu, Pak? Dia baru saja lari keluar, wajahnya sangat pucat dan menangis. Saya tanya apa dia butuh bantuan, tapi dia hanya terus lari menuju jalan raya.”
“CCTV. Sekarang juga! Bawa aku ke ruang kontrol!” bentak Erlangga tanpa ampun.
Di dalam ruangan kontrol yang dingin, rekaman diputar ulang. Erlangga menatap layar dengan mata yang tidak berkedip. Ia melihat sosok Zea berjalan keluar lobby. Langkahnya jelas menunjukkan rasa sakit, tangannya sesekali memegang dinding untuk menopang tubuhnya yang hampir ambruk. Namun ia tidak pernah menoleh ke belakang. Tidak sekali pun. Di layar, terlihat sebuah taksi biru lewat, Zea menghentikannya dengan gerakan panik, masuk ke dalamnya, dan menghilang di tengah arus lalu lintas Jakarta yang mulai padat.
Rekaman berhenti pada bayangan taksi yang menjauh. Ruangan mendadak sunyi senyap, hanya menyisakan suara deru napas Erlangga yang berat dan penuh tekanan. Dadanya terasa sesak, seolah ada tangan tak kasat mata yang meremas jantungnya kuat-kuat.
Ini bukan soal Lea lagi. Ini bukan soal pengkhianatan Mr. Dong. Ini adalah kehancuran yang ia ciptakan sendiri dengan tangannya. Ia telah merusak satu-satunya anomali yang pernah membuatnya merasa menjadi manusia, bukan sekadar mesin pencetak uang.
Erlangga Mahardika Pratama, pria yang dianggap memiliki segalanya di kota ini, kini menyadari satu kenyataan pahit. Di balik kekuasaan dan kekayaannya yang melimpah, pagi ini ia resmi menjadi manusia paling rendah, paling hina, dan paling brengsek yang pernah ada. Ia telah menghancurkan cahaya yang mencoba menolongnya di tengah kegelapan, dan ia tidak tahu bagaimana cara memperbaikinya.