Siham tahu suaminya tidak pernah mencintainya. Dia tahu ada nama wanita lain yang masih bertahta di hati Dewangga. Namun, menemukan kotak berisi sajak-sajak cinta Dewangga untuk masa lalunya adalah luka yang tak bisa lagi ia toleransi. Siham memutuskan untuk pergi, tapi tidak dengan tangan kosong. Dia meninggalkan satu sajak luka setiap harinya sebagai 'hadiah' perpisahan. Saat Dewangga akhirnya mulai merasa kehilangan, Siham sudah menjadi puisi yang tak sanggup lagi ia baca
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SAJAK LUKA UNTUK MAS DEWANGGA
Pagi yang seharusnya tenang di kediaman Dewangga mendadak pecah oleh deru mobil yang berhenti mendadak di depan rumah. Siham, yang baru saja selesai meneguk obat peredanya di dapur, dikejutkan oleh suara pintu utama yang dibuka paksa. Langkah kaki yang tergesa-gesa dan penuh emosi itu terdengar sangat familiar.
Dewangga, yang masih mengenakan jubah mandinya dan sedang menyesap kopi di ruang tengah, menoleh dengan kening berkerut. Belum sempat ia menyapa, sosok Mama mertuanya sudah berdiri di depannya dengan napas memburu dan mata yang merah padam karena amarah. Di belakangnya, Papa mertua menyusul dengan wajah yang sangat kecewa dan kaku.
"Ma? Papa? Ada apa pagi-pagi begini—"
PLAK!
Satu tamparan keras mendarat di pipi kanan Dewangga. Suara tamparan itu begitu nyaring hingga menggema ke seluruh ruangan, membuat Siham yang baru saja muncul dari arah dapur terpaku di tempatnya. Gelas di tangannya hampir saja terlepas.
Dewangga terhuyung ke samping, memegangi pipinya yang memerah panas. Matanya membelalak kaget. "Mah... apa-apaan ini?"
"Apa-apaan kamu bilang?!" teriak Mama dengan suara bergetar. "Tega-teganya kamu, Dewangga! Tega-teganya kamu mengkhianati istrimu sendiri! Kamu pikir Mama tidak tahu apa yang kamu lakukan di belakang Siham?!"
Siham berdiri mematung di dekat meja makan. Jantungnya berdegup kencang. Ia bingung, bagaimana mertuanya bisa tahu soal ini? Seingatnya, ia belum menceritakan apa pun kepada siapa pun kecuali pembicaraannya dengan Dena tempo hari.
Dewangga, yang harga dirinya merasa diinjak-injak di depan istrinya sendiri, langsung mengalihkan tatapan tajamnya ke arah Siham. Matanya berkilat penuh kebencian dan tuduhan.
"Kamu, kan?!" bentak Dewangga ke arah Siham. "Kamu yang mengadu ke Mama? Kamu sengaja melakukan ini untuk menghancurkan namaku di depan orang tuaku sendiri karena kamu dendam soal Agata?!"
Siham menggeleng pelan, lidahnya terasa kelu. "Mas, aku tidak—"
"Jangan salahkan Siham!" potong Papa dengan suara bariton yang berat dan penuh wibawa. Papa melangkah maju, berdiri di antara Dewangga dan Siham.
"Istrimu ini terlalu baik, Dewangga. Dia terlalu banyak diam dan menelan lukanya sendiri sampai dia tidak sanggup lagi mengadu pada kami."
Dewangga mendengus sinis. "Lalu kalau bukan dia, siapa lagi? Tidak ada orang lain yang tahu soal komunikasi itu kecuali dia!"
"Kami tahu dari Agata sendiri!" teriak Mama lagi, air matanya mulai luruh. "Dia menghubungi Mama! Dia mengirimkan semua bukti pesan-pesan menjijikkanmu itu, Dewangga. Dia bilang dia tidak mau disalahkan jika nanti kamu menyusulnya ke London karena kamu yang terus-menerus mengejarnya!"
Dewangga seketika membatu. Tangannya yang memegang pipi perlahan turun. Wajahnya yang tadi merah padam karena marah, kini berubah pucat pasi seolah seluruh darahnya ditarik paksa dari tubuhnya.
"Agata... menghubungi Mama? Dia... dia ada di Indonesia?" tanya Dewangga dengan nada suara yang tiba-tiba melemah dan penuh harap yang sangat miris.
Papa menggelengkan kepala, menatap putranya dengan pandangan yang sangat meremehkan. "Dia tidak di sini, dan syukurlah dia tidak di sini. Dia menghubungi kami karena dia merasa terganggu dengan obsesi gilamu itu. Dia sudah punya kehidupannya sendiri di sana, Dewangga! Dia sudah melupakanmu, sementara kamu... kamu menghancurkan istrimu yang nyata demi bayangan masa lalu yang sudah memberikan luka paling dalam untukmu!"
Mama mendekati Siham, lalu memeluk menantunya itu dengan erat. Siham bisa merasakan tubuh Mama yang gemetar hebat karena marah dan sedih.
"Siham... maafkan Mama, Nak. Maafkan Mama karena sudah mendidik anak ini menjadi pria yang tidak punya nurani," bisik Mama di telinga Siham. "Kamu tidak pantas diperlakukan seperti ini. Kamu istri yang baik hati, kamu wanita yang hebat... tapi anak Mama terlalu buta untuk melihat itu."
Siham hanya bisa diam dalam pelukan Mama. Ia tidak merasa menang, ia justru merasa sangat lelah. Rahasia yang ia simpan rapat-rapat kini meledak dengan sendirinya tanpa ia perlu berbuat apa-apa.
Dewangga masih terdiam di tengah ruangan, tampak hancur oleh kenyataan bahwa Agata-lah yang justru mengadukan dirinya. Rasa malu dan pengkhianatan dari wanita yang ia puja selama bertahun-tahun itu terasa lebih menyakitkan daripada tamparan Mamanya.
"Dengar, Dewangga," ucap Papa dengan nada dingin yang menusuk. "Jika sampai Mama atau Papa mendengar kamu masih menghubungi perempuan itu lagi, atau jika kamu berani menyakiti Siham lebih dari ini, jangan harap kamu masih bisa menyandang nama keluarga ini. Kamu tidak pantas melakukan hal serendah ini kepada Siham. Dia sudah cukup menderita menjagamu dan menjaga nama baikmu di kantor dan di depan kolega."
Siham melihat ke arah Dewangga. Suaminya itu tampak seperti pria kecil yang kehilangan arah. Ego sang CEO yang angkuh itu runtuh seketika di bawah kaki orang tuanya.
"Masuk ke kamar, Siham," ucap Mama lembut sembari mengusap air mata Siham. "Biarkan Mama dan Papa yang bicara dengan pria tak tahu diri ini."
Siham mengangguk pelan. Ia berjalan melewati Dewangga tanpa menoleh sedikit pun. Langkahnya tetap tegap, meskipun di dalam dadanya, ia merasakan sesak yang luar biasa. Begitu sampai di dalam kamar dan menutup pintu, Siham langsung menuju wastafel kamar mandi.
Ia terbatuk lagi. Kali ini bukan hanya sedikit, tapi gumpalan darah yang lebih banyak dari sebelumnya. Napasnya tersengal-sengal. Ia mencengkeram pinggiran wastafel, menatap pantulan wajahnya yang sangat pucat di cermin.
"Ternyata begini akhirnya, Mas," bisiknya dalam hati. "Bahkan masa lalumu sendiri yang menghancurkanmu, sementara aku... aku hanya tinggal menunggu waktu untuk benar-benar pergi."
Di luar kamar, sayup-sayup terdengar suara bentakan Papa dan tangisan Mama yang terus memarahi Dewangga. Namun bagi Siham, suara itu terdengar sangat jauh. Fokusnya kini hanya satu: menyelesaikan naskah Aksara Renjana yang bab terakhirnya akan ia beri judul "Kepulangan yang Sempurna".
Siham duduk di depan laptopnya, jarinya mulai mengetik dengan cepat di tengah suara keributan di luar. Ia menulis tentang seorang istri yang dimaafkan oleh semesta melalui cara yang tak terduga, sementara sang suami sedang memanen badai yang ia tanam sendiri.
Pagi itu, di rumah yang megah namun terasa seperti penjara, Siham sadar bahwa martabat Dewangga sedang hancur lebur di tangan orang tuanya sendiri. Dan itu adalah awal dari keadilan yang mulai bekerja, tepat sebelum Siham benar-benar menutup buku kehidupannya.
gk bhgia gk samawa lah.
ortu dewangga kl mau nikah in anak biar move on dulu biar gk ngrusak orang lain.
yg laki blm move on yg wanita kecintaan dah Wes.
2th sdh cukup lah. kcuali pingin jd orang kaya walau sakit ttp bertahan. enak ortumu sdh mati semua, km sendiri an sakit tinggal nunggu Hari mati.
hidup sekali di sia sia kan. kl wanita Pinter mah ogah lah, pasti milih cepat cerai Dan berobat biar hidup lbih berguna. gk bucinin suami yg jelas jelas mncintai wanita lain.
kalaupun gk bisa ninggalin warisan hrse gk ninggalin penderitaan. ortu siham ki ortu gagal. demi mantu kaya Raya dng Alasan balas budi.
kenapa di buat semenderita itu thor