Karin seorang wanita karir, dia mendoktrin dirinya sendiri agar harus berkerja keras, tidak perlu memikirkan yang namanya pernikahan.
Dan ya, di umurnya yang sudah 30 tahun, dia masih jomblo alias belum menikah. Sedangkan teman-temannya yang seumuran sudah memiliki anak dua.
Karin merasa, menikah dan punya anak akan mengganggu pekerjaannya. Sehingga dihari cutinya, dia hanya tinggal di dalam kamar membaca novel.
"Ck. Makanya jangan menikah jika belum siap mengurus anak!" tegur Karin sambil melempar Tabnya ke atas kasur.
Dia sedang membaca novel online, yang berjudul ( Pembalasan Tiga Penjahat )
Karin tertidur setelah mambaca novel itu sampai tamat. Tapi saat membuka mata, dia sudah berada di tempat yang berbeda.
"Sial!"
Penasaran kan? Ayo ikuti perjalanan Karin yang menjelajahi dunia yang berbeda.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda Fii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6. Nasi Dedak
Setelah acara minta maaf selesai, mereka kembali bekerja. Dan Nan Wei melanjutkan merebus ubi dengan panci yang sudah tersedia di pondok jerami
Nan Wei meminta Zhao Xu dan Zhao Xi untuk mencuci ubinya di sungai yang tidak jauh dari ladang.
Zhao Xi akhirnya balik setelah Paman keduanya mencarinya di gunung. Dia merasa sedikit malu karena sudah salah paham dengan Ibunya.
"Hmm ada sungai, pasti ada banyak sesuatu yang bisa dimakan si sana!" kata Nan Wei dengan pelan sambil membolak-balik ubi yang dia bakar.
Di belakang pondok, ada Kakak pertama yang sedang membela kelapa untuk dikeruk. Karena sudah terbiasa, ratusan kepala itu selesai dalam waktu satu jam.
***
"Yuyu. Panggil Nenek dan yang lainnya untuk istirahat!" pinta Nan Wei setelah mendinginkan ubi rebusnya. Dia terpaksa merebusnya karena tidak ada kukusan.
"Baik Ibu!" Zhao Yu sangat senang mendapat tugas dari Ibunya, dia segera berlari ke tangah sawah untuk memanggil Neneknya.
"Jangan berlari!" kata Nan Wei dengan sedikit berteriak. Tapi suaranya menghilang di sapu angin.
"Anak-anak memang suka berlari." Xia Dalang sudah berada di sampingnya. "Kelapanya sudah selesai, mau dikasih ternak?" lanjutnya bertanya.
"TIDAK!" ucap Nan Wei dengan cepat. Enak saja barang sebagus itu dikasih ternak. "Kakak, bantu aku membawanya ke rumah. Kalian akan melihat hasilnya nanti malam!".
"Oh baiklah!" Xia Dalang setuju, dan dia tidak banyak tanya lagi.
Selang beberapa menit, Ibu Nan Wei dan yang lainnya datang dengan keringat di wajah. Tampak mereka sangat lelah dan kehausan.
Setelah mencuci tangan, mereka minum untuk mengilangkan dahaga. "Kenapa?" tanya Ibu Xia.
Ini baru pukul sepuluh, belum waktunya beristirahat. Mereka akan istirahat jika matahari sudah di atas kepala.
"Istirahat sebentar, jangan terlalu dipaksakan. Ini makan dulu, agar tenaga kalian lebih kuat!" kata Nan Wei sambil membuka penutup.
Seketika aroma harum langsung tercium, membuat perut mereka yang lapar makin keroncongan.
"Ubinya dibakar?"
"Ya. Ini cara baru, rasanya juga sangat enak. Makanlah!" pinta Nan Wei.
Mereka mengambil ubi bakar karena penasaran dengan rasanya. Karena selama ini, mereka tahunya ubi bisa di rebus atau dikukus saja.
"Waah ibu sangat enak!" seru Zhao Yu dengan mata berbinar. Dia lebih dulu mencobanya, Karena Nan Wei sudah menyiapkan untuknya.
Melihat Zhao Yu menikamatinya, mereka semua segara membuka kulitnya atas perintah Nan Wei. Sebenarnya bisa saja dimakan langsung dengan kulit, tapi yang dibakar Nan Wei, tidak dibersihkan terlebih dahulu.
"Astaga enak sekali..!" kata Ibu Xia.
"Ya rasanya juga sangat manis!" timpal Kakak ipar pertama.
Yang lainnya hanya mengangguk setuju dan lanjut menikmati ubi yang rasanya lebih enak dari yang pernah mereka makan.
Mungkin karena lapar, mereka sampai menghabiskan semua ubi yang Nan Wei bakar dan rebus.
Setelah beristirahat sejenak, Mereka melanjutkan pekerjaan. Sedangkan Nan Wei dan Kakak pertamanya mengeruk kelapa tua menggunakan besi tajam, karena tidak ada parut di zaman itu.
Dan menghabiskan ratusan kelapa, membutuhkan waktu setengah hari, itupun Nan Wei mendapat bantuan lagi dari Kakak ipar pertama dan kakak ipar kedua.
"Kakak. Bantu aku bawa pulang ke rumah!" pinta Nan Wei sambil merenggangkan badan.
"Baik!" Xia Dalang langsung mengiyakan.
"Aku ikut!" Kakak ipar pertama beranjak untuk bersiap. Dia belum percaya sepenuhnya atas perubahan Nan Wei. Jangan sampai dia mengambil kesempatan untuk menghancurkan barang-barang di rumah yang sedang kosong.
"Tidak perlu. Kamu di sini saja bantu Ibu! Kamu tidak lihat masih banyak yang belum dipanen?" Xia Dalang menolak.
"Biarkan Kakak ipar ikut pulang!" sahut Nan Wei. Karena sangat bagus jika ada yang membantunya, pekerjaannya akan cepat selesai.
"Tapi Adik..!"
"Kamu Kenapa sih? Nan Wei saja tidak keberatan aku ikut pulang!" Istrinya sudah mulai kesal. Karena Xia Dalang sangat tidak peka dengan apa yang dia khawatirkan.
"Emm baiklaaah..!"
Akhirnya mereka pulang bersama dengan membawa masing-masing kelapa yang sudah keruk.
***
Karena di rumahnya tidak ada sumur dan juga tidak kuali besar, Nan Wei terpaksa melakukannya di rumah orang tuanya. Karena kelapa membutuhkan air yang banyak untuk menghasilkan santan.
"Sebenarnya apa yang ingin kamu lakukan dengan kelapa ini?" tanya Kakak ipar pertama yang bernama Wu Dusi, tapi orang-orang lebih suka memanggilnya Wusi
"Kakak ipar akan tahu jika hasilnya sudah kelihatan. Dan aku yakin, Kakak ipar akan memujiku wanita yang sangat pintar!" kata Nan Wei sambil tersenyum misterius.
"Ck apa yang perlu dipuji?" Wusi menggeleng pelan, karena itu tidak mungkin terjadi. Emang apa yang akan dihasilkan kelapa tua itu? Selama ini, hanya hewan yang memakan buah itu.
"Baiklah. Sekarang Kakak ipar lakukan seperti ini!" Nan Wei memperlihatkan bagaimana cara menghasilkan air santan.
Wusi langsung mengerti, dan dia langsung duduk di samping Nan Wei untuk membantunya. Dan Xia Dalang membantu menimba air lalu menyalakan api.
Memeras kelapa juga membutuhkan waktu yang lama, karena Nan Wei mengulangnya sampai tiga kali, dan itu membuat Kakak ipar pertama terus mengoceh.
"Kakak Ipar, ini tinggal sedikit lagi. Aku bisa menyelesaikannya sendiri." Kata Nan Wei. Karena masih ada pekerjaan lain yang harus dilakukan.
"Hmm baiklah. Awas saja, jika semua ini tidak menghasilkan sesuatu yang berguna seperti yang kamu katakan, aku tidak akan pernah memaafkanmu!" Kata Wusi dengan wajah serius.
Karena dia sudah membantu Nan Wei Sampai tidak membantu mertuanya di ladang.
Nan Wei hanya bisa mengulang kalimat yang sama, yaitu memintanya untuk menunggu hasil.
Wu Si segera pergi menyiapkan makan malam, karena sebentar lagi Mertua dan yang lainnya akan pulang.
Tidak ada makanan spesial, hanya ada nasi putih yang sudah mulai menghitam yang dicampur dengan dedak. Sayuran di petik di kebun belakang.
***
Sebelum matahari terbenam, Ibu Nan Wei dan yang lainnya pulang dari ladang. Masuk di halaman rumah, mereka mencium aroma wangi. Aroma itu berasal dari santan yang sudah setengah matang.
Mereka semua segera mandi dan bersiap untuk makan malam sebelum gelap, karena mereka harus menghemat minyak lampu.
Nan Wei meminta mereka untuk makan terlebih dahulu, karena airnya sudah mulai berkurang, harus diaduk agar tidak gosong di dasar wajan.
Sebenarnya, dia hanya tidak ingin makan nasi yang dicampur dedak. Membayangkannya saja sudah membuat tenggorokannya sakit.
"Sistem. Beri aku sedikit makanan! Aku pasti membayarnya. Kamu lihat kan, sekarang aku sudah menemukan cara untuk menghasilkan uang." kata Nan Wei dengan nada mengeluh.
[ Dua roti / dua pisang ? ]
Nan Wei sangat senang mendengarnya, setidaknya ada makanan yang bisa mengganjal perutnya yang sudah keroncongan.
Dia hanya mencoba peruntungan, dan ternyata kali ini Sistem sedang berbaik hati. "Bagaimana jika masing-masing satu?"
[ Permintaan Dipenuhi. Barangnya tersimpan di Ruang Penyimpanan ]
"Waah terima kasih Sistem!" kata Nan Wei dalam hati karena mendengar seseorang jalan mendekat dari arah belakang.
.
.
.