Joshua Halim, anak ketua yayasan sekaligus cowok paling berkuasa di Seventeen International School, tiba-tiba menyatakan cinta, Yeri Marliana L. menolaknya tanpa ragu.
Penolakan itu melukai ego Joshua. Terlebih lagi, ia sedang berada di tengah taruhan dengan gengnya VOCAL (Vanguard Of Commanding Alpha Leaders), dan Joshua tidak pernah menerima kekalahan.
Sejak saat itu, ia terus mendekati Yeri dengan berbagai cara, memaksa jarak di antara mereka semakin sempit. Di sisi lain, Yeri justru harus menghadapi konsekuensinya: diincar, dijahili, dan dibully.
Tapi Yeri bukan tipe yang lemah. Ia melawan semuanya tanpa ampun. Namun keadaan berubah saat neneknya membutuhkan biaya operasi besar. Dalam kondisi terpojok, Joshua datang dengan tawaran yang tak bisa ia abaikan—ia akan menanggung seluruh biaya, asalkan Yeri mau menjadi pacarnya.
Dan di balik hubungan yang dimulai dari taruhan dan paksaan itu, satu hal mulai keluar dari kendali—perasaan yang seharusnya tidak pernah ada.
Story by Instagram & Tiktok @penulis_rain
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rain (angg_rainy), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 6
Masuk rumah sakit, suasananya langsung beda total, penuh dengan suara langkah buru-buru, monitor berbunyi pelan, dokter dan suster yang sibuk. Yeri ngos-ngosan bopong Joshua yang setengah nempel di badannya sampai perawat datang membawa kursi roda.
“Taruh disini aja, mbak,” kata perawatnya.
Joshua langsung ditarik masuk ke ruang IGD, sementara Yeri cuma bisa berdiri di luar sambil megang kepala, ada rasa kesel tapi juga... takut. Campur aduk.
Nggak lama, dokter keluar sambil lepas sarung tangan. “Saudaranya?” tanya dokter itu.
Yeri langsung gelagapan. “Eh bukan… temennya… semacem itu lah.”
Dokternya ngangguk, baca berkas sebentar lalu ngomong, “Pasien ini asam lambungnya naik parah. Sampai iritasi. Ditambah dia dehidrasi berat. Minum kopi delapan gelas tanpa makan itu tindakan sangat berbahaya.”
Yeri langsung melotot. “Tuh kan! Gue udah bilang!”
Dokternya nggak peduli sama drama ocehan barusan, dia cuma nambah kalimat diagnosa, “Kami sarankan pasien dirawat. Minimal satu malam sampai cairan infusnya masuk dan kondisi stabil.”
Yeri nyengir kecut. “Dirawat? Serius dok?”
“Serius,” jawab dokter datar. “Tolong isi data dan administrasi di loket sana ya.”
Yeri hampir pengen nangis frustasi di tempat. “Astaga… kenapa hidup gue selalu diganggu cowok ini sih!”
Tapi tetap aja dia disodorin map berisi form administrasi. Mau nggak mau, Yeri ambil dan jalan ke meja pendaftaran sambil manyun kayak abis kehilangan duit. Karena, ya, duitnya emang bakal abis buat nolongin ini cowok berobat.
Di loket, petugasnya nanya, “Hubungan dengan pasien?”
Yeri berkedip pelan, mikir keras. Musuh bebuyutan? Korban? Orang yang hidupnya dirusakin?
Tapi ujungnya dia cuma ngomong pakai akal sehat yang waras, “temen sekolah.”
Petugas ngetik sesuatu. “Nama pasien?”
Yeri ngerasain satu dentuman di dada. “Joshua Halim,” jawabnya dengan suara yang entah kenapa terdengar lemah.
Petugas ngangguk. “Baik. Tunggu sebentar ya, nanti kartu berobatnya kami kasih.”
Yeri mundur, nyender ke dinding. Kepalanya mumet. Tangannya pegel. Emosinya campur aduk.
“Kenapa juga tadi gue nolongin dia,” gumamnya kesel.
Tapi begitu Yeri balik lagi ke depan ruang IGD, dia ngeliat Joshua udah dipasang infus. Wajahnya pucat, matanya merem, nafasnya pelan. Beda banget dari Joshua yang biasanya tengil dan sok jagoan.
Dada Yeri tiba-tiba merasa berat dan sedikit simpati. “Idih. Ngapain gue kasian,” gumamnya sambil geleng-geleng. “Nyusahin banget, sumpah.”
Perawat keluar dan manggil Yeri. “Keluarganya? Ayo, pasien mau dipindah ke ruang rawat.”
Yeri nyolot, “Ogah! Saya nggak mau suster, jadi keluarganya!”
“Tapi kan yang ngisi datanya kamu,” jawab perawat sambil lewat.
Yeri langsung nutup muka. “Maksudnya, saya cuma temen sekolahnya.”
Akhirnya, dia ikut dorong tempat tidur Joshua ke ruang rawat. Sampai di kamar, Joshua dipindahkan ke ranjang. Infus diturunin. Monitor dipasang.
Yeri berdiri di samping pintu, siap banget buat cabut.
Tapi pas dia mau pergi, Joshua mengigau kecil, suaranya lirih dan pelan banget.
“Jangan pergi ....”
Langkah Yeri berhenti. Dia nengok. Cowok itu masih tidur, tapi wajahnya meringis kesakitan.
Yeri mendesah panjang. “Lo tuh… mau mati apa gimana sih,” gumamnya.
Tapi dia tetap narik kursi. Duduk. Karena entah kenapa… pergi sekarang rasanya nggak benar. Walaupun besok dia bisa kehilangan reputasi dengan terpaksa bolos sekolah.
“Ya tuhan. Ribet banget sih.”
***
Esok pagi, cahaya matahari mulai ngintip lewat jendela kamar rawat. Suasana tenang banget, cuma ada suara mesin infus sama langkah perawat sesekali.
Yeri… kebangun karena lehernya pegel. Kepalanya ternyata nyender di pinggir ranjang. Dia ngucek mata, masih setengah ngantuk, sampai akhirnya sadar kalau Joshua udah bangun.
Dan bukan cuma bangun. Dia lagi duduk setengah baring, bersandar di bantal, sambil ngeliatin Yeri dengan senyum aneh.
Yeri langsung refleks bangun tegak. “ANJIR!” Mukanya langsung merah campur malu dan kaget. “Lo… lo udah bangun dari kapan?!”
Joshua santai banget, bahkan senyum di bibirnya tambah lebar. “Dari tadi.”
“Terus kenapa lo nggak bangunin gue?!” Yeri langsung sewot.
Joshua ngangkat bahu. “Udah gue bangunin.”
“Hah?!”
“Lo yang tidurnya kayak orang pingsan. Nggak bangun-bangun.”
Yeri langsung ngelus muka frustasi. “Gue capek, semalam kerja, terus harus ngurusin lo yang hampir mati gara-gara kopi.”
Dia langsung berdiri, nyari tasnya yang dia taruh di kursi. “Oke, gue pulang ya. Udah pagi juga.”
Belum sempat dia melangkah, Joshua tiba-tiba narik pergelangan tangannya.
“Stay,” katanya pelan.
Yeri nengok tajam. “Apaan lagi sih?”
“Bentar lagi nyokap gue dateng,” lanjut Joshua santai. “Lo di sini aja.”
Yeri langsung nepis tangan Joshua. “Nggak mau. Urusan lo sama nyokap lo, bukan gue.”
“Nyokap gue bisa kasih lo uang terima kasih.”
Yeri langsung berhenti. Pelan-pelan dia noleh lagi, matanya berubah dingin.
“Lo pikir gue nolongin lo buat duit?”
Joshua heran sambil ngangkat alis, seolah itu memang hal paling normal. “Bukannya biasanya gitu? Orang-orang baik sama gue karena mau duitnya.”
Dan itu… langsung nyulut emosi Yeri.
“Jangan samain gue sama mereka,” ucap Yeri tajam, suaranya rendah tapi nusuk. “Gue bukan temen-temen lo yang matre itu.”
Joshua agak terdiam. Tapi cuma sebentar.
“Ya udah,” katanya santai lagi, seolah nggak terlalu peduli. “Besok gue kasih langsung duitnya ke lo.”
Yeri langsung menggeleng keras. “Nggak perlu!”
Joshua mengerutkan kening. “Kenapa sih lo ribet banget?”
Yeri narik napas panjang, berusaha nahan emosi. “Gue nolongin lo karena kita satu spesies alias manusia, bukan karena gue butuh duit lo.”
“Manusia nggak akan punah kalau cuma gue yang mati kan? Kenapa lo seperhatian itu, sayang?” Joshua mengedipkan matanya manja.
Yeri nggak perduli sama ocehan Joshua barusan. Gadis itu cuma ngambil tasnya, dan ngehampirin pintu untuk keluar. “Udah cukup ya Josh, gue minta satu hal,” lanjut Yeri tanpa nengok. “Lupain aja kalau gue yang nolongin lo semalam.”
Joshua diam. Tatapannya nempel di punggung Yeri.
“Kenapa?” tanyanya pelan.
Yeri akhirnya nengok sedikit, tapi matanya nggak selembut tadi malam.
“Karena gue nggak mau punya urusan sama lo lagi.”
Yeri langsung buka pintu dan keluar tanpa nunggu jawaban. Langkahnya cepat di koridor rumah sakit, napasnya agak berat, tapi hatinya… ngerasa lega yang aneh.
Sementara di dalam kamar, Joshua masih diam di tempatnya. Matanya kosong beberapa detik. Lalu dia menyeringai tipis.
“Menarik… kenapa dia beda dari cewek lain?” gumamnya pelan.
***
Pintu kamar rawat kebuka selang beberapa menit Yeri pergi, terus langsung terdengar suara langkah cepat.
“Joshua?! Sayang, kamu nggak apa-apa?!”
Sally, ibunya Joshua langsung masuk duluan, masih pake blazer kerja butik ysng mahal, tapi wajahnya keliatan panik parah.
Di belakangnya, ayahnya Joshua, Riza nyusul dengan napas sedikit ngos-ngosan seolah habis lari dari parkiran. “Dokternya bilang kamu semalaman diinfus, Josh! Kamu kenapa?”
Joshua cuma melirik santai, seolah mereka berdua lebay banget.
“Aku baik-baik aja kok,” jawabnya pendek. “Cuma… salah minum doang.”
Sally langsung duduk di pinggir ranjangnya, ngecek pipi Joshua, keningnya, bahkan narik selimutnya buat liat apakah ada alat medis lain.
“Salah minum? Joshua, kamu itu minum kopi kayak lagi ikut lomba. Kamu pikir lambungmu baja?”
Riza berdiri di samping, ngusap kepala anaknya pelan. “Kamu bikin Mama sama Papa panik, kamu tau? Sekretaris bilang kamu dilarikan ke IGD tengah malam.”
Joshua ngangkat bahu, gaya sok kalem. “Sedikit kok.”
Sally langsung ngelirik tajem. “Delapan gelas kopi, Joshua?”
Joshua pura-pura batuk kecil, mengalihkan pandangan. “Kebanyakan dikit.”
Riza mendesah, tapi senyumnya lembut. “Ya udah, yang penting kamu aman. Hari ini kamu istirahat aja. Kerjaan Papa bisa nunggu.”
Joshua sempat melirik kursi tempat Yeri tidur semalaman tadi. Kursi itu kosong. Dan entah kenapa… itu bikin dadanya terasa aneh.
‘Jadi kangen sama tu cewek bar-bar.’ Batinnya.