Di sebuah kabupaten kecil di provinsi Jawa Barat, di Negara Nusantara, Arkan Wijaya baru saja lulus SMA, namun saat pulang dia mendapati rumahnya kosong, kedua orang tuanya tidak ada, dia mencari kesana kemari namun tidak ada kabar tentang mereka, hanya menemukan secarik kertas bertuliskan "Arkan kamu sudah dewasa, carilah jalanmu sendiri, kami tidak bisa terus menjagamu, dan ada kewajiban yang harus kami lakukan, suatu saat nanti mungkin kamu akan mengerti, maafkan kami Arkan." Dan di samping kertas itu ada cincin emas berbentuk kepala dan permata kecil berkilau di kedua matanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon suryadharma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3 Bayang-Bayang Black Viper
Pagi menyingsing dengan cahaya jingga yang menyapu halaman rumah Arkan. Tiga pria bertopeng yang semalam babak belur sudah dibawa polisi. Cerita yang mereka berdua buat sederhana: perampokan gagal. Tapi Arkan tahu, ini baru permulaan. Black Viper bukan geng biasa. Nama itu terasa asing, namun warisan di benaknya berbisik bahwa organisasi seperti itu sering menjadi antek-antek klan kultivator gelap.
Sela keluar dari dapur sambil membawa dua piring nasi goreng spesial buatannya. Rambutnya masih basah setelah mandi, aroma sabun strawberry menempel lembut di tubuhnya. Ia memakai kaos oversized Arkan yang kebesaran, membuatnya terlihat semakin imut dan seksi sekaligus.
“Makan dulu. Kamu butuh tenaga,” kata Sela sambil duduk di sebelah Arkan. Matanya yang polos menatap pemuda di sampingnya dengan rasa kagum yang tak disembunyikan. “Semalam… kamu seperti bukan manusia lagi.”
Arkan tersenyum tipis, tangannya yang kekar meraih tangan Sela. “Aku masih manusia. Hanya… ada naga di dalam sini sekarang.” Ia menunjuk dadanya. “Dan naga ini lapar.”
Mereka makan sambil berbincang. Sela menceritakan lebih detail tentang keluarganya. Ayahnya, Juanda Hartono, adalah pengusaha tambang dan properti yang punya hubungan luas di Jawa Barat hingga Jakarta. Tapi belakangan ini, ada tekanan dari kelompok misterius yang ingin menguasai lahan tambang baru di pegunungan selatan Cikampek—lahan yang konon menyimpan “energi kuno”.
“Tadi pagi ayah telepon. Dia marah besar dan sedang dalam perjalanan ke sini dengan tim keamanan,” kata Sela. “Dia ingin aku pulang ke Jakarta hari ini juga.”
Arkan meletakkan sendoknya. Wajah tampannya berubah tegas dan dominan. “Kamu boleh pulang. Tapi aku ikut. Aku tidak akan biarkan kamu sendirian lagi.”
Sela menggigit bibir, pipinya merona. “Kamu… serius? Ayahku orangnya keras.”
“Aku lebih keras,” jawab Arkan sambil tersenyum penuh percaya diri.
Setelah sarapan, Arkan memutuskan untuk berlatih sebelum ayah Sela tiba. Ia membawa Sela ke belakang rumah, area sawah kosong yang jarang dilewati orang. Matahari sudah tinggi, angin sepoi membawa aroma tanah basah.
“Perhatikan ini,” kata Arkan.
Ia berdiri tegak, menutup mata, dan mulai mengalirkan Naga Qi sesuai teknik kultivasi dasar. Udara di sekitarnya bergetar. Daun-daun kering di tanah melayang pelan. Arkan mengulurkan tangan kanan, membentuk Sword Qi. Sebilah pedang energi berwarna emas muda muncul di genggamannya. Panjangnya hampir satu meter, tepiannya bergetar tajam.
“Teknik Pedang Naga – Langkah Pertama: Naga Muda Mengaum!”
Arkan melesat maju dengan kecepatan yang membuat Sela terbelalak. Dalam sekejap, ia sudah berada 15 meter di depan. Pedang Qi-nya menebas udara. *Swoosh!* Sebuah pohon kelapa kecil di pinggir sawah terpotong rapi menjadi dua, tanpa suara keras. Potongan atasnya jatuh beberapa detik kemudian.
Sela bertepuk tangan, matanya berbinar. “Keren sekali! Ajari aku, Arkan.”
Arkan mendekat, berdiri di belakang Sela. Tubuh kekarnya hampir menempel di punggung gadis itu. Ia memegang tangan Sela dari belakang, membimbing aliran energinya yang masih lemah. “Rasakan. Bayangkan ada api kecil di perutmu. Tarik napas… lepaskan pelan.”
Sela merinding. Sentuhan Arkan yang dominan membuat jantungnya berdegup kencang. Benih Naga Qi yang Arkan berikan semalam mulai bereaksi. Gadis itu berhasil mengeluarkan sedikit energi ke telapak tangannya, membuat daun kering di depannya terbakar kecil.
“Bagus. Kamu pintar,” puji Arkan di telinga Sela. Suaranya dalam dan hangat.
Momen itu terganggu oleh deru mobil mewah yang mendekat. Beberapa SUV hitam berhenti di depan rumah. Dari mobil pertama keluar seorang pria paruh baya berpakaian jas mahal—Juanda Hartono. Wajahnya tegas, alis tebal, dan aura penguasa bisnis yang kuat.
“Sela!” panggilnya keras. Kemudian matanya menyipit melihat Arkan yang berdiri dekat sekali dengan putrinya. “Kamu ini siapa?”
Arkan melangkah maju tanpa gentar. “Arkan Wijaya, Om. Saya yang menolong Sela dua malam lalu.”
Juanda menatap Arkan dari atas ke bawah. Ia merasakan sesuatu yang berbeda dari pemuda ini—bukan aura biasa. “Terima kasih. Tapi sekarang Sela pulang bersama saya ke Jakarta. Urusan ini berbahaya.”
“Ayah…” Sela mencoba bicara, tapi Juanda mengangkat tangan.
Arkan tersenyum tipis, aura dominannya keluar pelan. “Om, dengan hormat, Black Viper tidak akan berhenti hanya karena Sela disembunyikan di Jakarta. Mereka sudah tahu rumah saya. Lebih baik kita hadapi bersama.”
Juanda mengerutkan kening. Ia mengajak Arkan bicara empat mata di dalam rumah. Di ruang tamu, Juanda mengeluarkan sebuah map tebal.
“Kamu tahu Black Viper?” tanya Juanda.
Arkan menggeleng. “Baru dengar semalam.”
Juanda menceritakan bahwa Black Viper adalah organisasi bawah tanah yang menguasai perdagangan gelap dan lahan tambang. Tapi rumor di kalangan atas menyebut mereka memiliki “orang-orang aneh” yang bisa melakukan hal-hal di luar nalar—seperti kekuatan super.
Arkan tersenyum dalam hati. *Jadi dunia ini memang sudah tahu sedikit tentang kultivasi.*
Tiba-tiba, ponsel Juanda berdering. Wajahnya berubah pucat setelah mendengar laporan. “Tambang di pegunungan diserang semalam. Banyak penjaga tewas… ada yang bilang ada ‘binatang besar’ berbentuk naga hitam.”
Arkan dan Sela saling pandang. Naga hitam? Itu pasti musuh dari warisan Naga Emas.
“Aku ikut ke lokasi itu,” kata Arkan tegas. “Saya bisa bantu.”
Juanda ragu, tapi melihat keyakinan di mata Arkan dan permintaan putrinya, ia akhirnya setuju. Mereka berangkat sore itu juga dengan konvoi dua mobil. Arkan dan Sela satu mobil, diikuti tim keamanan Juanda.
Di perjalanan menuju pegunungan, Arkan mengajari Sela teknik meditasi dasar. Gadis itu duduk bersila di kursi belakang, tangan mereka saling genggam. Naga Qi Arkan mengalir pelan ke tubuh Sela, membantu gadis itu membuka meridian pertamanya. Sela merasakan tubuhnya hangat, indranya semakin tajam.
“Arkan… aku merasa berbeda,” bisik Sela sambil membuka mata. Wajah cantiknya semakin bersinar.
Arkan mengusap pipinya lembut. “Kamu akan semakin kuat. Kita akan kuat bersama.”
Sesampainya di lokasi tambang, suasana mengerikan. Beberapa kontainer hancur, tanah berlubang besar seolah dicakar makhluk raksasa. Mayat penjaga berserakan. Tim keamanan Juanda langsung panik.
Arkan menutup mata, menggunakan Penglihatan Jiwa. Ia melihat sisa-sisa aura hitam pekat di udara.
“Mereka masih di sekitar sini,” kata Arkan pelan. “Dan bukan manusia biasa.”
Tiba-tiba, kabut hitam muncul dari hutan sekitar. Dari dalam kabut itu keluar empat sosok berjubah hitam. Pemimpin mereka memiliki aura kuat—setara Foundation Establishment awal. Di bahunya ada tato naga hitam yang melingkar.
“Juanda Hartono… serahkan gadis itu dan hak tambang, atau mati semua,” kata pemimpin itu dengan suara serak.
Juanda mundur ketakutan. Tim keamanannya mengeluarkan senjata, tapi Arkan mengangkat tangan.
“Ini urusanku,” katanya dingin.
Arkan melangkah maju sendirian. Aura Naga Emas-nya meledak. Emas keemasan bertabrakan dengan aura hitam lawan. Angin kencang menerpa.
Pemimpin Black Viper tertawa. “Anak kecil berani main-main dengan kekuatan roh?”
Ia melompat tinggi, tangannya berubah menjadi cakar naga hitam. Arkan tidak mundur. Ia menggunakan Teknik Tubuh Naga sepenuhnya. Kulitnya mengkilap seperti sisik emas tipis. *BAM!*
Tinju mereka bertemu. Arkan terdorong mundur dua langkah, tapi lawannya terpental jauh dan muntah darah.
“Teknikmu… dari mana?!” teriak lawan itu shock.
Arkan tidak menjawab. Ia memanggil Sword Qi lagi. “Naga Muda Mengaum!”
Pedang emas melesat cepat. Lawan mencoba menghindar, tapi Arkan sudah menggabungkan kecepatan tubuh naga. Dalam tiga gerakan, dua anak buah lawan jatuh. Pemimpinnya yang terluka parah mencoba kabur dengan kabut hitam.
Sebelum hilang, ia berteriak, “Pewaris Naga Emas… Sekte Naga Hitam akan memburumu! Orang tuamu sudah di tangan kami!”
Arkan membeku. Orang tuanya?
Ia mengejar, tapi kabut itu terlalu cepat. Hanya tersisa aura dingin di udara.
Sela berlari mendekat, memeluk Arkan dari belakang. “Kamu baik-baik saja?”
Arkan mengepalkan tangan. Matanya berkobar. “Mereka punya orang tuaku. Aku akan hancurkan mereka semua.”
Juanda Hartono yang menyaksikan semuanya dari kejauhan kini memandang Arkan dengan hormat sekaligus takut. “Pemuda… siapa sebenarnya kamu?”
Arkan menoleh, suaranya penuh dominasi Raja Naga.
“Aku adalah Pewaris Naga Emas. Dan mulai sekarang, tidak ada yang bisa sentuh orang-orang yang kucintai.”
Malam itu, di tenda darurat tambang, Arkan duduk meditasi dalam-dalam. Ia merasakan terobosan mendekat. Sela duduk di sampingnya, menjaga. Di kejauhan, langit mulai mendung. Petir kecil berkilat.
Warisan Naga Emas mulai memanggil ujian pertamanya.