Theodore, sang Kakak, memberikan tantangan kepada Celestine untuk mencari calon suamimu sendiri dalam satu bulan, atau dia yang akan memilihkan.
Celestine setuju.
Baginya, pangeran-pangeran di ibu kota terlalu "lembut" karena dia ingin seseorang yang bau mesiu, darah, dan sihir kuat. Dia berangkat sebagai utusan diplomasi ke Kekaisaran Heavenorth, wilayah yang dikenal paling keras.
Demi menemukan pria impian yang memenuhi standar kejam namun ajaib nya, Putri Celestine melakukan perjalanan ke perbatasan Kekaisaran yang paling berbahaya, hanya untuk menemukan bahwa pria yang ia cari adalah seorang monster di medan perang dan penyihir dingin yang menjaga gerbang kematian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Karamellatee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#Bab 19: Harga dari sebuah kekuatan
Fajar menyingsing di atas Kerajaan Valley dengan warna yang lebih cerah dari biasanya. Di lapangan latihan akademi yang baru saja diresmikan, George berdiri tegak dengan pakaian latihan yang lebih ringan. Di hadapannya, lima belas pemuda dan pemudi pilihan berdiri dengan wajah tegang. Mereka adalah calon penyihir fajar, angkatan pertama yang akan menggabungkan kekuatan fisik ksatria dan kecerdasan alkimia.
"Kalian pikir menjadi penyihir hanya soal merapal mantra di balik tembok perpustakaan?" suara George memecah keheningan pagi.
"Tentu saja tidak, Jenderal! Kami siap melayani!" jawab salah satu pemuda dengan lantang, meski kakinya sedikit gemetar melihat aura dingin yang keluar dari tubuh George.
George berjalan perlahan di antara barisan mereka. "Salah. Kalian belum siap untuk apa pun. Di medan perang, musuh tidak akan menunggu kalian menyelesaikan kalimat sihir kalian. Jika tangan kalian tidak bisa memegang pedang, maka nyawa kalian hanya bergantung pada keberuntungan."
Celestine berjalan mendekat dari tepi lapangan, membawa sebuah baki berisi botol-botol ramuan berwarna biru bening. "George, jangan terlalu keras pada mereka di hari pertama. Mereka bahkan belum sarapan dengan layak."
"Sarapan adalah kemewahan bagi mereka yang sudah menang, Celestine," sahut George tanpa menoleh. "Bagaimana perkembangan ramuan penstabil mana yang kau janjikan?"
Celestine membagikan botol-botol itu kepada para murid. "Ini adalah inti dari penelitianku dan Master Eldric. Ramuan ini akan membantu kalian merasakan aliran mana tanpa harus membakar saluran energi kalian sendiri. Minumlah, dan rasakan perbedaannya."
Salah satu murid, seorang gadis bernama Maya, mengangkat tangannya dengan ragu. "Putri Celestine, apakah benar Jenderal George bisa membekukan air tanpa menggunakan mantra sama sekali?"
Celestine tersenyum dan melirik ke arah George. "Kenapa kau tidak bertanya langsung pada orangnya, Maya?"
George berhenti di depan Maya. Ia mengangkat tangan kristalnya yang putih bersih. "Aku tidak menggunakan mantra karena es ini adalah bagian dari diriku. Tapi bagi kalian, sihir adalah alat. Dan alat harus dirawat dengan disiplin fisik yang tinggi. Sekarang, lari sepuluh putaran mengelilingi akademi. Bawa pedang latihan kalian di atas kepala!"
"Sepuluh putaran? Dengan pedang di atas kepala?" gumam murid-murid itu dengan wajah pucat.
"Sekarang!" bentak George.
Begitu para murid mulai berlari dengan susah payah, Celestine mendekati George dan menyenggol lengannya. "Kau benar-benar menikmati peran sebagai instruktur yang kejam, ya?"
"Aku hanya tidak ingin mereka mati sia-sia, Celestine," jawab George, ekspresinya melunak saat hanya ada mereka berdua. "Seraphina benar soal satu hal kemarin. Dunia sedang berubah. Azure mulai bergerak, dan aku yakin kerajaan-kerajaan lain juga sedang memperhatikan kekuatan baru Valley. Kita butuh tentara yang tidak hanya mengandalkan emas."
"Aku tahu," desah Celestine sambil memperhatikan para murid dari jauh. "Theodore juga merasa begitu. Dia baru saja menerima surat dari federasi dagang di Barat. Mereka mulai bertanya-tanya tentang teknologi es abadi yang kau gunakan untuk mengamankan kapal-kapal Malvic."
"Apa jawaban Theodore?" tanya George.
"Dia bilang itu adalah rahasia negara yang hanya bisa dibagikan melalui aliansi pernikahan atau kontrak militer yang sangat ketat," jawab Celestine dengan nada bercanda.
George menatap Celestine dengan lekat. "Aliansi pernikahan? Apakah dia sedang merencanakan sesuatu?"
Celestine tertawa kecil dan memalingkan wajahnya yang sedikit memerah. "Theodore selalu punya rencana, George. Tapi dia tahu bahwa hatiku bukan sesuatu yang bisa dia perdagangkan di atas meja diplomasi."
"Baguslah. Karena aku tidak akan membiarkan siapa pun menulis kontrak untukmu," kata George dengan nada serius yang membuat jantung Celestine berdegup lebih kencang.
Mereka berjalan menuju balkon pengawas yang menghadap ke seluruh kompleks akademi. Dari sana, mereka bisa melihat pembangunan gedung laboratorium baru yang akan menjadi pusat penelitian gabungan utara dan selatan.
"George, lihat tanganmu," bisik Celestine tiba-tiba.
George melihat tangan kristalnya. Di bawah sinar matahari pagi yang kuat, kristal putih itu memancarkan pola-pola emas yang bergerak lambat seperti aliran sungai. "Ini... ini baru. Aku tidak merasakannya saat di arena kemarin."
Celestine meraih tangan George dan memeriksanya dengan teliti. "Ini adalah kristalisasi mana matahari yang sempurna. Penyatuan kita semalam... sepertinya itu mengubah struktur dasarmu secara permanen. Kau bukan lagi sekadar ksatria es yang dipinjamkan cahaya. Kau mulai menghasilkan cahayamu sendiri."
"Apakah itu berbahaya?" tanya George.
"Sebaliknya. Ini artinya kau menjadi lebih stabil. Kau tidak akan lagi merasakan sakit saat mengeluarkan sihir tingkat tinggi. Tapi ini juga artinya kau akan menjadi incaran lebih banyak orang, George. Kekuatan untuk menghasilkan energi murni tanpa bantuan alat alkimia adalah impian setiap kerajaan," jelas Celestine dengan nada khawatir.
"Biarkan mereka datang," sahut George dingin. "Selama aku di sini, Valley akan tetap aman."
"Kau terlalu percaya diri," goda Celestine. "Tapi aku suka itu."
Sesi latihan berlanjut hingga siang hari. Murid-murid itu tampak kelelahan, namun mata mereka mulai menunjukkan kilatan tekad. Setelah membubarkan barisan, George mengajak mereka berkumpul di bawah pohon besar untuk sesi tanya jawab.
"Jenderal," tanya seorang murid bernama Elian. "Bagaimana rasanya hidup di tengah badai abadi? Apakah benar di sana tidak ada warna selain putih?"
George terdiam sejenak, ingatannya melayang kembali ke masa-masa sulit di Utara Jauh. "Di sana, warna adalah tanda kehidupan. Merah darah, jingga api unggun, atau biru es yang sangat tua. Putih memang mendominasi, tapi itu membuatmu lebih menghargai setiap warna kecil yang kau temukan. Sama seperti di sini, kemilau emas Valley akan terasa biasa saja jika kau tidak tahu rasanya hidup dalam kegelapan."
"Sangat dalam," bisik Maya pada teman di sampingnya.
"Sihir bukan tentang seberapa besar ledakan yang bisa kalian buat," lanjut George. "Tapi tentang seberapa besar perlindungan yang bisa kalian berikan kepada orang yang kalian cintai. Ingat itu dalam setiap ayunan pedang kalian."
Setelah para murid pergi, Theodore datang menemui mereka di lapangan. Wajahnya terlihat lebih serius dari biasanya.
"George, Celestine, aku punya kabar baru," kata Theodore tanpa basa-basi. "Utusan dari Kerajaan Ironland akan tiba besok. Mereka tidak membawa kapal dagang, tapi mereka membawa armada perang kecil sebagai pengawalan."
"Ironland? Kerajaan pegunungan hitam di Timur?" tanya Celestine. "Mereka jarang sekali keluar dari wilayah mereka."
"Mereka mendengar tentang hancurnya mesin baja kura-kura milik Malvic," jawab Theodore. "Mereka menganggap itu sebagai penghinaan terhadap teknologi mekanik mereka, karena sebagian besar komponennya dibeli dari sana. Mereka ingin menantang George dalam duel teknologi versus sihir."
George mengepalkan tangannya. "Lagi-lagi tantangan. Apakah orang-orang di dunia ini tidak punya pekerjaan lain?"
"Inilah harga dari sebuah kekuatan, George," sahut Theodore. "Tapi kali ini beda. Mereka membawa prototipe zirah anti-sihir. Jika kau berhasil mengalahkan mereka, Ironland akan menjadi sekutu kita dalam hal penyediaan bahan baku logam. Ini adalah kunci untuk membangun akademi yang lebih besar."
"Aku akan menghadapinya," kata George mantap.
Celestine menatap George dengan cemas. "Zirah anti-sihir bukan main-main, George. Mereka menggunakan logam hitam yang bisa menyerap mana."
George menatap Celestine dan tersenyum tipis, sebuah senyuman yang penuh dengan kepercayaan diri. "Biarkan mereka membawa logam apa pun yang mereka punya. Mereka lupa bahwa aku punya sesuatu yang tidak bisa mereka serap dengan teknologi."
"Apa itu?" tanya Theodore ingin tahu.
George menarik tangan Celestine dan mengangkatnya sedikit. "Aku punya cahaya matahari yang tidak akan pernah padam, bahkan di dalam logam tergelap sekalipun."
Theodore tertawa dan menepuk bahu George. "Jawaban yang bagus! Baiklah, aku akan menyiapkan penyambutan yang layak. Celestine, pastikan perlengkapan George dalam kondisi terbaik. Besok akan menjadi hari yang panjang."
Malam itu, di dalam ruang kerjanya, George menatap pedang hitamnya. Ia merasakan kekuatan baru yang mengalir di lengannya, pola emas yang terus bergerak seirama dengan napasnya. Ia menyadari bahwa perjalanannya di Valley baru saja dimulai. Tantangan demi tantangan akan terus berdatangan, namun ia tidak lagi merasa terancam.
"Kau sedang melamun lagi," Celestine masuk membawa secangkir teh hangat.
"Aku hanya berpikir, apakah dunia akan pernah benar-benar damai?" tanya George.
"Mungkin tidak," jawab Celestine sambil duduk di sampingnya. "Tapi selama ada orang-orang seperti kita yang mau berjuang untuk kedamaian itu, dunia setidaknya punya kesempatan. Jangan terlalu banyak berpikir, Jenderal. Kau butuh istirahat untuk besok."
George menyesap tehnya, merasakan kehangatan yang menjalar ke seluruh tubuhnya. Di luar sana, angin malam Valley berhembus pelan, membawa harum bunga mawar dan janji akan hari esok yang lebih cerah. Sejarah agung Valley sedang ditulis kembali, dan George menyadari bahwa setiap goresan pedangnya adalah tinta yang akan dibaca oleh generasi mendatang.
"Terima kasih telah bersamaku, Celestine," bisik George sebelum memadamkan lentera.
"Selalu, George. Selalu," jawab Celestine dalam kegelapan yang tenang.
................
Pagi hari sebelum kedatangan utusan Ironland suasana di barak militer terasa jauh lebih sibuk. George sedang mengawasi beberapa pandai besi istana yang mencoba menyesuaikan pelindung dada pada zirahnya. Celestine masuk dengan langkah cepat sambil membawa sebuah gulungan kertas besar berisi denah teknis yang terlihat sangat rumit.
"George bisakah kau melepaskan plat bahu kiri itu sebentar?" tanya Celestine tanpa basa basi.
"Ada apa lagi Celestine bukankah ini sudah cukup kuat. " jawab George sambil mencoba menggerakkan lengannya.
"Kuat saja tidak cukup untuk melawan Ironland. Aku baru saja mendapat informasi dari mata-mata dagang di perbatasan. Zirah anti sihir mereka bekerja dengan prinsip resonansi terbalik. Semakin besar mana yang kau keluarkan semakin besar tekanan balik yang akan menghantam tubuhmu sendiri." jelas Celestine sambil membentangkan denah itu di atas meja kayu.
George mengerutkan kening. "Jadi mereka ingin aku menghancurkan diriku sendiri dengan kekuatanku sendiri?"
"Tepat sekali. Itu adalah taktik pengecut tapi sangat efektif melawan penyihir tingkat tinggi. Itulah sebabnya aku ingin memasang sirkuit pengalih pada plat bahumu. Jika mereka mengaktifkan medan resonansi itu mana yang terpantul akan dialirkan ke tanah bukan kembali ke inti kristalmu." ujar Celestine.
"Kau benar-benar memikirkan segalanya ya sahut George sambil memberikan plat bahunya kepada salah satu pandai besi."
"Aku harus memikirkannya George. Aku tidak mau melihatmu terluka hanya karena kesombongan mekanik mereka. Oh ya Theodore ingin kau bertemu dengannya di balkon mawar sepuluh menit lagi. Dia bilang ada tamu tak diundang yang ingin bicara padamu sebelum delegasi resmi tiba." kata Celestine.
"Tamu tak diundang? Siapa lagi sekarang. " tanya George sambil memakai kembali pakaiannya.
"Dia tidak menyebutkan nama. Hanya bilang kalau orang ini datang dari arah pegunungan abu-abu. Cepatlah aku akan menyelesaikan modifikasi zirahmu di sini. "ujar Celestine.
George berjalan menuju balkon mawar. Di sana Theodore sedang berdiri bersama seorang pria tua yang mengenakan jubah lusuh penuh debu perjalanan. Pria itu memiliki bekas luka bakar yang besar di sepanjang lehernya.
"George perkenalkan ini adalah Master Borin. Dia adalah mantan kepala insinyur di Ironland yang membelot sepuluh tahun lalu," kata Theodore dengan nada serius.
"Jenderal sebuah kehormatan bisa bertemu dengan legenda hidup dari utara." ujar Borin dengan suara parau.
"Apa yang membawamu ke sini Master Borin?" tanya George sambil menyilangkan tangan di dada.
"Aku datang untuk memperingatkanmu. Delegasi yang datang besok dipimpin oleh Jenderal Kross. Dia bukan hanya seorang prajurit tapi seorang fanatik teknologi. Zirah yang dia bawa bukan sekadar anti sihir. Itu disebut Pemakan Jiwa. Zirah itu menggunakan batu bara hitam yang diekstraksi dari kedalaman bumi untuk menyerap esensi mana secara permanen, " kata Borin dengan mata yang gemetar.
"Menyerap secara permanen? Maksudmu mana itu tidak akan kembali ke pemiliknya. " tanya George.
"Benar Jenderal. Jika kau menyerang dengan kekuatan penuh dan zirah itu menyerapnya kau akan kehilangan kemampuan sihirmu selamanya. Jangan lawan dia dengan sihir. Gunakan pedangmu sebagai ksatria bukan sebagai penyihir saran. " Borin.
Theodore menatap George. "Ini masalah besar George. Jika kau tidak menggunakan sihir esmu kau akan bertarung melawan monster baja dengan otot biasa. "
George terdiam sejenak menatap tangan kristalnya yang putih bersih. "Aku mengerti. Terima kasih atas informasinya Master Borin."
Setelah Borin pergi Theodore memegang bahu George. "Apakah kau yakin bisa menang tanpa menggunakan esmu?. "
"Sejak awal aku adalah seorang ksatria Theodore. Es ini adalah tambahan bukan pondasiku. Jika dia ingin memakan manaku maka aku akan memberinya sesuatu yang tidak bisa dia telan. " jawab George dengan dingin.
Beberapa jam kemudian George kembali ke barak dan menemukan Celestine sedang tertidur di kursi kayu dengan kepala bersandar pada meja. Di sampingnya zirah George sudah selesai dimodifikasi dan tampak berkilau lebih terang dari sebelumnya.
George menyelimuti Celestine dengan jubahnya namun gadis itu terbangun.
"Oh kau sudah kembali. Bagaimana pertemuannya? " tanya Celestine sambil mengucek matanya.
"Dia memperingatkanku tentang zirah Pemakan Jiwa. Aku memutuskan untuk tidak menggunakan sihir sama sekali besok. " jawab George.
"Apa? Kau gila? Kross itu sangat kuat. Dia menggunakan tenaga uap tingkat tinggi untuk menambah kecepatan serangannya. Tanpa es kau tidak akan bisa mengejarnya. " seru Celestine kaget.
"Celestine percayalah padaku. Jika aku menggunakan sihir aku akan jatuh ke dalam jebakannya. Aku butuh kau untuk satu hal. " ujar George.
"Apa itu tanya? " Celestine.
"Berikan aku pedang yang paling berat dan paling tajam yang ada di gudang persenjataan. Aku ingin pedang yang tidak terbuat dari logam konduktor mana. Aku ingin besi murni." kata George.
"Besi murni akan sangat berat George. Kau akan cepat lelah. " ujar Celestine khawatir.
"Berat itu bagus. Berat itu nyata. Logam yang menyerap mana tidak akan bisa menyerap beratnya sebuah hantaman besi murni," jelas George.
Celestine menatap mata George cukup lama, mencari keraguan di sana, namun ia tidak menemukannya. "Baiklah, jika itu maumu. Aku akan meminta Master Eldric mencari koleksi pedang kuno dari era sebelum alkimia ditemukan. Tapi berjanjilah, kau tidak akan memaksakan diri."
"Aku berjanji, Celestine," sahut George lembut.
Malam itu, mereka berdua menghabiskan waktu di perpustakaan istana, mencari kelemahan pada sendi-sendi mekanik zirah Ironland.
"Lihat di sini, George. Di bagian belakang lutut biasanya terdapat katup pembuangan uap. Jika kau bisa menusuk bagian itu, tekanan dalam zirahnya akan kacau," tunjuk Celestine pada sebuah sketsa tua.
"Sulit untuk mencapai bagian belakang saat dia terus menyerang dari depan," ujar George.
"Maka kau harus membuatnya menyerangmu terlebih dahulu. Gunakan momentumnya untuk berbalik," kata Celestine.
"Kau bicara seolah-olah kau yang akan bertarung besok," canda George.
"Aku merasa aku yang bertarung, George. Setiap kali kau masuk ke arena, jantungku terasa ingin melompat keluar," sahut Celestine jujur.
George menggenggam tangan Celestine. "Aku akan kembali, Celestine. Seperti yang sudah-sudah."
Keesokan paginya, pelabuhan udara Valley kembali riuh. Sebuah kapal perang berbentuk kotak kaku dengan warna hitam legam mendarat. Jenderal Kross turun dengan suara dentuman logam di setiap langkahnya. Seluruh tubuhnya tertutup zirah baja hitam yang mengeluarkan uap panas.
"Raja Theodore, mana jenderalmu yang katanya bisa membelah mesin kura-kura itu?" tantang Kross dengan suara yang terdistorsi oleh helm bajanya.
"Sabar, Jenderal Kross. Dia sedang bersiap di arena," jawab Theodore dengan tenang.
George muncul dari lorong arena. Kali ini dia tidak mengenakan jubah biru agungnya. Dia hanya memakai celana kulit ksatria dan zirah dada sederhana. Di punggungnya terikat sebuah pedang raksasa yang terlihat sangat tua dan kasar. Tidak ada pendaran cahaya dari tangannya.
"Kenapa kau tidak mengeluarkan esmu, ksatria utara? Apakah kau takut zirahnya akan melahapmu?" tanya Kross sambil tertawa mengejek.
"Aku tidak butuh es untuk menghadapi tumpukan rongsokan sepertimu," jawab George sambil menghunus pedang besarnya.
Pertarungan dimulai dengan ledakan uap dari punggung Kross. Dia melesat maju seperti peluru hitam. George tidak menghindar dengan sihir, tapi dia menangkis serangan itu dengan bilah pedang besarnya. Benturan logam melawan logam menciptakan percikan api yang menerangi seluruh arena.
Kross terus menyerang dengan pukulan-pukulan berat yang dibantu oleh tekanan uap. Setiap hantaman membuat tanah di bawah kaki George retak. Namun George tetap tenang. Dia menggunakan berat pedangnya untuk menjaga keseimbangan.
"Gunakan sihirmu! Kenapa kau tidak menggunakan sihirmu?" teriak Kross frustrasi karena serangannya selalu tertangkis.
"Sihir adalah untuk keindahan, Kross. Untuk menghancurkan besi, aku hanya butuh ini," ujar George sambil mengayunkan pedangnya sekuat tenaga, menghantam perisai lengan Kross.
Suara dentuman keras terdengar. Perisai baja hitam itu penyok ke dalam. Kross terhuyung ke belakang. Dia tidak menyangka kekuatan fisik George begitu besar tanpa bantuan mana.
"Sialan! Aktifkan Pemakan Jiwa sekarang!" perintah Kross pada asistennya di pinggir arena.
Zirah hitam itu mulai mengeluarkan aura gelap yang mencoba menarik energi dari sekelilingnya. Namun, karena George tidak mengeluarkan sihir apa pun, zirah itu mulai menyerap energi panas dari dalam mesinnya sendiri karena tidak ada target mana di luar.
"Apa yang terjadi? Kenapa suhunya naik drastis?" tanya Kross panik saat melihat indikator uapnya mulai memerah.
"Kau terlalu bergantung pada mesinmu, Kross. Saat tidak ada sihir yang bisa kau makan, mesinmu mulai memakan dirimu sendiri," jelas George.
George memanfaatkan kepanikan Kross. Dia melompat dan melakukan putaran di udara, menghujamkan pedang besarnya tepat ke katup pembuangan uap di bagian belakang lutut Kross, seperti yang disarankan Celestine.
Suara desisan uap yang sangat keras memenuhi arena. Zirah Kross mendadak mati total, membuat pria itu jatuh tersungkur karena berat logam yang dia kenakan. Kross tidak bisa bergerak sedikit pun.
George berdiri di atas tubuh Kross sambil menempelkan ujung pedangnya di leher pria itu. "Permainan berakhir, Jenderal."
Seluruh arena sunyi. Theodore berdiri dan bertepuk tangan perlahan. Celestine berlari turun ke arena, wajahnya penuh dengan senyuman kemenangan.
"Kau berhasil, George! Tanpa sihir sedikit pun!" seru Celestine sambil memeluk George.
"Kemenangan ini adalah kemenangan ksatria, Celestine," sahut George sambil menyeka keringat di dahinya.
Delegasi Ironland akhirnya setuju untuk menandatangani pakta kerja sama tanpa syarat lebih lanjut. Mereka menyadari bahwa Valley memiliki pahlawan yang tidak bisa dikalahkan hanya dengan teknologi pembenci sihir.