"Sepuluh tahun tanpanya adalah sunyi yang menyiksa. Tapi kepulangannya adalah badai yang tak terduga."
Dulu, Alea hanyalah gadis kecil yang menangis tersedu-sedu saat Uncle Bima—sahabat termuda ayahnya—memilih pergi ke luar negeri. Janji untuk memberi kabar ternyata menjadi kebohongan besar selama satu dekade penuh.
Kini, di usia 18 tahun, Alea bukan lagi "burung kecil" yang lemah. Namun, tepat saat ia akan memulai lembaran baru di bangku kuliah, pria yang pernah menghancurkan hatinya itu kembali muncul. Bima kembali bukan sebagai paman yang lembut, melainkan sosok pria dewasa yang posesif, penuh teka-teki, dan gemar melontarkan godaan yang membuat jantung Alea berpacu tidak keruan.
Terpaut usia 15 tahun, Bima tahu ia seharusnya menjaga jarak. Namun, melihat Alea yang kini begitu memesona, "paman" nakal ini tidak ingin lagi sekadar menjadi sahabat ayahnya.
"Sst, little bird... kau sudah cukup bersinar. Sekarang, waktunya pulang ke sangkarmu."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja_Puan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 7. Lampu Merah
Keheningan di dalam rumah mewah itu terasa begitu padat, seolah-olah udara pun enggan bergerak di antara pilar-pilar marmernya.
Sejak ledakan emosi di sore yang kelam itu, Alea berubah menjadi sosok yang pendiam dan tak tersentuh.
Ia turun untuk sarapan hanya karena kewajiban, namun tidak ada lagi sapaan manja "Selamat pagi, Daddy" yang biasa menggema, karena Baskara masih berada di luar kota.
Yang ada hanyalah denting sendok perak yang beradu dengan piring porselen, memecah kesunyian yang mencekam di antara dirinya dan Bima.
Bima pun menepati janjinya. Pria itu benar-benar menarik diri dari segala bentuk intimidasi fisik. Tidak ada lagi tangan yang tiba-tiba mencengkeram pergelangan tangan, tidak ada jilatan di telinga, bahkan suaranya selalu dijaga agar tetap rendah dan sopan.
Bima hanya duduk di seberang Alea, mengamati gadis itu dari balik cangkir kopinya. Ia mengamati little bird-nya yang kini memilih untuk mengunci diri dalam sangkar bisu yang ia ciptakan sendiri.
Tatapan Bima tidak lagi menelanjangi, melainkan penuh dengan observasi yang hati-hati, seolah ia sedang mencoba menjinakkan kembali seekor burung yang sayapnya baru saja ia lukai.
Ketegangan yang menyesakkan itu akhirnya pecah saat deru mobil Baskara terdengar memasuki halaman depan.
Alea, yang sejak tadi hanya mengaduk-aduk sarapannya, langsung berdiri. Wajahnya yang mendung seketika cerah. Ia merindukan ayahnya—satu-satunya sosok yang ia rasa bisa menjadi pelindungnya dari aura gelap Bima.
Namun, saat pintu utama terbuka, bukan hanya Baskara yang melangkah masuk dengan senyum lebarnya.
Di belakangnya, berdiri seorang pemuda dengan kemeja flanel biru yang rapi dan senyum cerah yang sangat familiar.
"Revan?" Alea bergumam pelan, dan detik itu juga, sebuah senyum merekah di bibirnya. Binar cerah yang sudah lama tidak dilihat Bima kembali menghiasi wajah Alea.
"Revan! Kau... kau ke sini?"
"Tadi tidak sengaja bertemu Om Baskara di depan kompleks, jadi sekalian diajak mampir," jawab Revan ramah, matanya menatap Alea dengan kekaguman yang tak disembunyikan.
Di sudut ruangan, Bima yang sedang menyesap kopi hitamnya merasakan rahangnya mengeras seketika. Gelas di tangannya bergetar halus karena cengkeraman yang terlalu kuat.
Melihat Alea memberikan senyum semanis itu pada pria lain—pria yang kemarin membuatnya murka—terasa seperti disiram bensin ke dalam api yang baru saja ia usahakan untuk padam.
Namun, Bima menarik napas panjang melalui hidungnya. Ia teringat janjinya semalam. Ia tidak boleh meledak. Tidak di depan Baskara.
"Bima, kau sudah bangun?" Baskara menyapa sahabatnya dengan antusias sembari melepas jasnya.
"Lihat siapa yang datang. Ini Revan, teman dekat Alea sejak SMA. Dia anak yang sangat berbakat."
Bima meletakkan cangkir kopinya perlahan, lalu berdiri. Posturnya yang tinggi menjulang dan kemeja hitam yang melekat pas di tubuhnya menciptakan aura dominasi yang instan.
Revan, yang masih ingat betul bagaimana Bima memperlakukannya di kantin kemarin, mencoba menegakkan punggungnya.
"Revan, perkenalkan. Ini Bima, sahabat sekaligus rekan bisnis Om yang paling kucintai kepintarannya. Dia baru pulang dari luar negeri," ujar Baskara memperkenalkan.
Keduanya berdiri berhadapan.
Revan mengulurkan tangan dengan sopan, mencoba bersikap layaknya tamu yang beradab.
"Halo lagi, Pak Bima."
Bima menerima uluran tangan itu. "Bima saja. Kita tidak terpaut usia sejauh itu," sahut Bima dingin.
Keduanya saling menjabat tangan, namun itu bukan sekadar formalitas. Alea yang berdiri di samping ayahnya bisa melihat otot lengan mereka menegang hingga urat-uratnya menonjol.
Mereka saling mencengkeram dengan kekuatan penuh, sebuah adu kekuatan tersembunyi yang dilakukan di bawah radar Baskara.
Mata Bima seolah sedang mengirimkan peringatan murni bahwa wilayah ini miliknya, sementara Revan berusaha keras untuk tidak menunjukkan rasa gentarnya.
"Ayo duduk, ayo! Biar Alea buatkan teh hangat," ajak Baskara, membawa mereka ke ruang tengah yang luas.
Suasana menjadi sangat kontras. Baskara tampak sangat menikmati kehadiran Revan.
Di antara semua teman Alea, Revan memang yang paling dekat dengan ayahnya. Pemuda itu cerdas, sopan, dan memiliki pembawaan yang sangat dewasa untuk usianya.
"Kau tahu, Bima," ujar Baskara sembari menyandarkan punggungnya di sofa, "Revan ini luar biasa. Di usianya yang baru delapan belas tahun, dia sudah mengerti banyak soal analisis pasar. Tadi di jalan kami mengobrol banyak soal tren properti tahun depan. Jarang ada anak muda yang punya visi sejelas dia."
Alea duduk di samping ayahnya, menatap Revan dengan mata yang berbinar antusias.
"Revan memang sering membantu Daddy-nya mengurus laporan keuangan perusahaan keluarganya, Dad. Dia bahkan juara olimpiade ekonomi tingkat nasional."
Bima, yang duduk di kursi tunggal dengan posisi kaki yang menyilang angkuh, merasa seperti orang asing di rumahnya sendiri.
Setiap pujian yang keluar dari mulut Baskara untuk Revan terasa seperti belati yang menggores egonya.
Sinyal merah menyala di kepalanya. Pria muda ini bukan sekadar teman kampus; dia adalah ancaman nyata bagi posisinya, baik di mata Baskara maupun di hati Alea.
"Mempelajari bisnis di usia muda memang bagus untuk... latihan," potong Bima tiba-tiba, suaranya berat dan penuh wibawa, memotong tawa Revan.
Ia menyandarkan punggungnya, menatap Revan dengan pandangan meremehkan yang sangat halus.
"Tapi dalam dunia nyata, teori di sekolah tidak akan pernah bisa mengalahkan insting dan kekejaman lapangan."
Bima sengaja menjeda kalimatnya untuk menyesap kopi, memberikan efek dramatis.
"Dulu, saat usiaku baru menginjak dua puluh tahun, aku tidak lagi 'membantu' ayahku atau belajar laporan keuangan. Aku sudah membangun perusahaanku sendiri dari nol di Singapura. Tanpa koneksi keluarga, tanpa bantuan satu sen pun dari orang tua. Di usia dua puluh dua, aku sudah mengakuisisi tiga perusahaan kompetitor yang usianya jauh lebih tua dariku."
Baskara tertawa bangga, tidak menyadari persaingan yang sedang terjadi.
"Ah, kalau soal itu, memang tidak ada yang bisa mengalahkanmu, Bima. Kau adalah monster bisnis sejak kau masih sangat muda. Itulah kenapa aku selalu memercayaimu."
"Pengalaman memang guru terbaik, Bima," timpal Revan dengan nada yang tetap tenang dan sopan, tidak terpancing oleh kesombongan Bima.
"Itulah kenapa saya sangat menghormati orang-orang sukses seperti Anda. Saya harap suatu saat nanti saya bisa sehebat Anda, atau bahkan mungkin melampaui pencapaian Anda dengan cara yang lebih... modern."
Bima mendengus kecil, sebuah seringai tipis muncul di sudut bibirnya.
"Semoga saja. Tapi dunia bisnis tidak hanya butuh otak yang cerdas, tapi juga mental yang keras dan sanggup menghalalkan segala cara. Sesuatu yang kurasa jarang dimiliki oleh anak-anak yang tumbuh di bawah ketiak orang tua mereka."
Alea memutar bola matanya, merasa muak dengan cara Bima yang terus merendahkan Revan.
"Tidak semua orang harus jadi monster atau kejam untuk sukses, Uncle. Revan punya cara yang lebih manusiawi, dan Daddy sangat menyukai cara itu, kan, Dad?"
Kata-kata Alea yang secara terang-terangan membela Revan membuat Bima terdiam. Rahangnya kembali mengeras hingga terdengar bunyi kertakan gigi yang halus.
Ia melihat bagaimana Alea menuangkan teh untuk Revan dengan gerakan yang sangat lembut—sebuah perhatian kecil yang bahkan tidak didapatkan Bima pagi ini meskipun ia sudah meminta maaf setengah mati.
Bima menyadari satu hal yang sangat menyakitkan: meskipun ia sukses besar, meskipun ia memiliki kekuasaan dan kekayaan yang tak terhitung, di mata Alea saat ini, ia hanyalah pria kasar yang telah menghancurkan kepercayaannya.
Sementara pemuda di hadapannya adalah sosok "cahaya" yang baru saja mengembalikan senyum di wajah little bird-nya.
Bima menatap Revan yang sedang tertawa bersama Baskara, lalu beralih pada Alea yang tampak begitu nyaman.
Dalam hatinya, Bima bersumpah bahwa pertempuran ini baru saja dimulai. Jika Revan ingin bermain sebagai ksatria berbaju zirah, maka Bima tidak keberatan menjadi naga yang akan membakar segalanya demi menjaga apa yang menjadi miliknya.