NovelToon NovelToon
System Pohon Ajaib Warisan Kakek

System Pohon Ajaib Warisan Kakek

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Mengubah Takdir / Dikelilingi wanita cantik
Popularitas:12k
Nilai: 5
Nama Author: ex

Lelah dengan kehidupan keras sebagai budak korporat di kota besar dan duka setelah kehilangan kedua orang tuanya, Lin Ye memutuskan untuk pulang ke Desa Qingshui, tempat kakeknya dulu tinggal.

Di sana, ia menemukan ladang dan rumah kakeknya yang sudah terbengkalai, kecuali sebatang pohon raksasa misterius di belakang rumah yang anehnya tetap subur dan hijau.

Saat tangan Lin Ye yang terluka menyentuh pohon tersebut, Sistem Warisan Alam yang terkunci sejak kematian kakeknya mendadak aktif, mengenali garis keturunannya sebagai pewaris sah.

Kini, dengan bantuan sistem yang memudahkan pekerjaan bertani dan kehadiran roh-roh alam fantasi, Lin Ye memulai kehidupan barunya yang santai namun penuh keajaiban untuk membangun kembali kejayaan ladang kakeknya, melawan intrik tetangga yang rakus, dan perlahan menjadi kaya raya di tengah kedamaian pedesaan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ex, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19

Trak. Trak. Trak.

Suara hantaman palu baja bertemu dengan kepala paku bergema di seluruh pekarangan rumah Lin Ye. Di bawah terik matahari siang yang menyengat, Paman Lu bekerja dengan sangat cekatan. Pria tua yang merupakan kepala tukang kayu terbaik di Desa Qingshui itu duduk menyilang di atas atap rumah, memasang lembaran papan kayu baru untuk menutupi lubang besar yang selama belasan tahun membiarkan air hujan masuk ke dalam.

Lin Ye berdiri di halaman depan, mengawasi pekerjaan itu dengan perasaan puas. Rumah yang tadinya terlihat seperti gubuk hantu yang siap rubuh kapan saja, kini mulai menunjukkan bentuk aslinya. Kayu-kayu lapuk di bagian depan telah diganti dengan papan jati yang kokoh.

"Paman Lu, istirahatlah sebentar. Matahari sedang terik-teriknya. Saya sudah membuatkan teh dingin dan membawa beberapa potong semangka dari pasar," panggil Lin Ye dari bawah sambil mengangkat sebuah nampan kayu.

Paman Lu menyeka keringat di dahinya dengan handuk kecil yang melingkar di lehernya. Dia mengangguk dan perlahan menuruni tangga kayu yang bersandar di dinding rumah.

"Terima kasih, Lin Ye. Cuaca hari ini memang sangat panas, tapi atapmu sudah hampir selesai. Sore ini rumahmu tidak akan bocor lagi meski badai besar datang melanda," kata Paman Lu sambil mengambil segelas teh dingin dan meminumnya hingga tandas.

"Pekerjaan Paman sangat rapi dan cepat. Saya sangat menghargainya," puji Lin Ye dengan tulus. "Bagaimana dengan sumur di belakang? Apakah anak-anak Paman menemui kesulitan?"

Baru saja Lin Ye bertanya, terdengar suara langkah kaki basah dari arah halaman belakang. Lu Kang, anak sulung Paman Lu yang bertubuh kekar, berjalan menghampiri mereka. Pakaian pemuda itu basah kuyup dari ujung rambut hingga ujung kaki. Tubuhnya dipenuhi noda lumpur hitam yang berbau tanah basah.

"Ayah, Tuan Lin, sumurnya sudah selesai dikuras. Lumpur dan tumpukan daun busuknya sudah kami angkat semua ke atas," lapor Lu Kang sambil mengatur napasnya yang terengah-engah.

"Kerja bagus, Kang. Bagaimana dengan debit airnya? Apakah mata air di bawah sana masih mengalir deras?" tanya Paman Lu.

"Mata airnya sangat jernih dan mengalir sangat deras, Ayah. Dalam waktu satu jam, airnya pasti akan kembali penuh hingga ke batas normal," jawab Lu Kang. Namun, raut wajah pemuda itu terlihat sedikit ragu, seolah ada sesuatu yang mengganjal pikirannya.

"Ada apa, Kang? Kenapa wajahmu tegang begitu? Katakan saja jika ada masalah dengan struktur sumurnya," desak Lin Ye yang peka melihat perubahan ekspresi pemuda itu.

"Bukan masalah struktur dinding sumurnya, Tuan Lin. Dinding bata sumur itu masih sangat kuat. Tapi, di bagian paling dasar, tepat di bawah lapisan lumpur tebal yang kami angkat tadi, saya menemukan sesuatu yang aneh," jelas Lu Kang.

"Sesuatu yang aneh seperti apa?" tanya Lin Ye, rasa penasarannya mulai terpancing.

"Tanah di dasar sumur itu tidak sepenuhnya berupa tanah liat atau batu biasa. Ada sebuah lempengan batu datar berukuran sangat besar, ukurannya sebesar meja makan. Batu itu menutupi separuh dasar sumur," Lu Kang mulai menjelaskan dengan gerakan tangan. "Yang membuat aneh adalah, batu itu memiliki ukiran. Ukirannya terlihat seperti pola garis-garis yang sangat rapi, bukan buatan alam. Dan di bagian pinggir batu itu, ada sebuah celah kecil seukuran telapak tangan. Saya mencoba mengintip ke dalam celah itu, dan sepertinya ada ruang kosong atau lorong yang sangat dalam di bawah sumur ini."

Mendengar laporan itu, Lin Ye berusaha keras menyembunyikan keterkejutannya. Pikirannya langsung bekerja cepat. Sebuah lorong rahasia di bawah sumur yang ditutupi batu berukir? Ini bukan hal yang normal ada di rumah seorang petani biasa.

"Lorong kosong? Apakah mungkin itu hanya gua air tanah alami?" tanya Paman Lu mencoba mencari penjelasan yang masuk akal. "Desa kita berada di kaki bukit, sering kali ada aliran sungai bawah tanah yang membentuk rongga."

"Mungkin saja, Ayah. Tapi lempengan batu berukir itu sangat berat. Saya berdua dengan adik mencoba menggesernya menggunakan linggis baja, tapi batu itu sama sekali tidak bergerak, seolah terkunci ke dinding sumur," keluh Lu Kang.

"Gua bawah tanah? Ukiran batu?" batin Lin Ye dalam hati. "Ini pasti bukan sesuatu yang alami. Ini pasti ada hubungannya dengan rahasia sistem kakek dan fitur tambang yang belum terbuka. Jika ada lorong di bawah sana, aku harus mencari cara untuk membukanya nanti."

Meski otaknya dipenuhi berbagai teori, Lin Ye tetap menjaga ekspresi wajahnya agar terlihat tenang dan santai di depan kedua tukang tersebut.

"Tidak perlu dipaksakan untuk digeser, Saudara Kang," kata Lin Ye dengan nada datar. "Seperti kata Paman Lu, itu mungkin hanya penutup alami untuk sungai bawah tanah yang dibuat oleh kakek saya dulu agar dasar sumur tidak mudah runtuh. Selama airnya mengalir bersih dan sumurnya bisa digunakan lagi, itu sudah lebih dari cukup bagi saya. Tolong jangan ceritakan hal ini kepada warga desa lain, saya tidak ingin ada anak kecil yang penasaran lalu diam-diam menyelinap dan jatuh ke sumur saya."

"Anda benar, Tuan Lin. Keselamatan yang utama. Kami tidak akan membicarakan hal ini kepada siapa pun," Lu Kang mengangguk setuju, merasa lega karena dia tidak dituntut untuk memindahkan batu seberat monster tersebut.

"Baiklah, karena pekerjaan hari ini sudah selesai dengan sangat memuaskan, ini adalah upah untuk kalian bertiga."

Lin Ye mengeluarkan dompetnya. Dia mengambil tiga lembar uang seratus yuan dan menyerahkannya kepada Paman Lu.

"Ini tiga ratus yuan. Upah harian yang kita sepakati adalah dua ratus yuan, tapi seratus yuan tambahannya adalah bonus dari saya karena kalian bekerja sangat cepat dan sumur itu membutuhkan tenaga ekstra. Anggap saja sebagai uang minum untuk kalian," kata Lin Ye sambil tersenyum.

Paman Lu menerima uang itu dengan tangan sedikit gemetar. Tiga ratus yuan untuk pekerjaan setengah hari adalah jumlah yang sangat fantastis di desa ini.

"Terima kasih banyak, Lin Ye. Kamu sangat bermurah hati. Jika kakekmu masih hidup, dia pasti sangat bangga padamu. Jika kamu butuh perabotan kayu baru atau ingin membangun kandang ayam nanti, jangan sungkan memanggilku lagi. Aku akan memberikan harga teman untukmu," kata Paman Lu dengan mata berbinar.

"Pasti, Paman Lu. Saya akan mengingat tawaran itu," jawab Lin Ye sopan.

Setelah mengemasi peralatan mereka, Paman Lu dan kedua anaknya pamit pulang. Rumah Lin Ye kembali sepi. Suasana sore mulai turun, membawa hawa sejuk yang perlahan menggantikan panasnya matahari siang.

Lin Ye berjalan ke halaman belakang. Dia melihat ke dalam sumur tuanya. Benar saja, air jernih mulai menggenang naik, memantulkan cahaya matahari sore. Airnya tidak lagi keruh berbau lumpur. Namun, dari atas sini, dia tidak bisa melihat lempengan batu berukir yang diceritakan oleh Lu Kang karena airnya menutupi dasar sumur.

"Aku akan mengurus rahasia sumur ini nanti. Aku butuh alat yang tepat dan mungkin instruksi dari sistem. Sekarang, aku punya jadwal lain," ucap Lin Ye pada dirinya sendiri.

1
SENJA
hilang sombongnya 🤣
SENJA
udah jadi baek beneran dia 🤣
Manusia Biasa: udah tobat wkwk
total 1 replies
Heri Susanto8246
😄😄 jadi ingat novel nelayan yang tidak pernah mendapatkan ikan saat memancing.
Gege
bukannya ada ruang penyimpanan sistem ya tor.. simpan saja sampe menggunung didalamnya...
Junior Ian
Bgus
Manusia Biasa
keren thor mekanik Sistem nya🤣 benar benar kaya game rpg
Manusia Biasa
jir kirain dapat ikan grade s atau gede🗿
Yui: harus out of the box kak/Smile/
total 1 replies
Amrye Jhon
next
Amrye Jhon
bagus
Amrye Jhon
mantap
Amrye Jhon
semangat
Amrye Jhon
lanjut
Amrye Jhon
next
Amrye Jhon
bagus
Amrye Jhon
mantap
Amrye Jhon
semangat
Amrye Jhon
lanjut
Amrye Jhon
next
Amrye Jhon
bagus
Amrye Jhon
mantap
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!