WARNING ⚠️
(untuk umur 17 keatas)
...
Arkeas InjitAsmo hidup dalam keteraturan yang mewah. Baginya, hidup adalah tentang estetika dan wangi yang presisi. Namun, dunianya runtuh saat istrinya pergi dan ia harus mengurus Alisya sendirian di tengah kesibukan peluncuran parfum terbaru. Sepuluh pengasuh profesional sudah ia pecat dalam sebulan karena "bau badan mereka tidak estetik."
Masuklah Zollana, melamar pekerjaan. Karena sebuah insiden di mana Zollana tidak sengaja memecahkan Vas bunga kristal itu hingga hancur berkeping-keping, Arkeas justru menyadari satu hal: Alisya anaknya berhenti menangis saat berada di dekat Zollana.
Arkeas terpaksa mempekerjakan Zollana sebagai nanny sekaligus asisten rumah tangga dengan kontrak "Dilarang Ceroboh". Namun, nyatanya? Zollana justru membawa kekacauan yang berwarna di rumah minimalis Arkeas yang dingin.
...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kikyoooo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 6. Panic Attack Si CEO 17+
...🌹🌹🌹...
Malam itu, di dalam kamar utamanya yang luasnya hampir seukuran lapangan futsal, Arkeas InjitAsmo sedang melakukan hal yang sangat tidak CEO-able: Membenturkan kepalanya pelan ke bantal sutra mahalnya.
"Bego. Bego. Bego," gumam Arkeas. Suaranya tertahan bantal.
Pria yang baru saja memberikan ciuman kening paling lembut sedunia itu kini sedang meruntuki dirinya sendiri. Bayangan wajah Zolla yang kaget, mata bulatnya yang bergetar, dan aroma stroberi dari rambut gadis itu terus berputar-putar di otaknya bak video TikTok yang di-loop tanpa henti.
"Kenapa gue cium keningnya?! Kenapa nggak gue potong aja gajinya kalau dia berisik?! Kenapa harus pakai taktik meluluhkan hati?!" Arkeas bangkit, duduk di pinggir tempat tidur sambil mengacak-acak rambutnya yang biasanya klimis sempurna.
Arkeas merasa harga dirinya terjun bebas. Dia yang selalu memegang kendali, dia yang selalu dingin pada wanita manapun sejak perceraiannya, kini justru "nyosor" duluan ke seorang asisten mungil yang hobi mecahin vas bunga.
"Dia pasti mikir gue cowok gampang. Dia pasti mikir gue udah falling in love," Arkeas mengerang frustrasi. Ia mengambil ponselnya, hendak mengirim pesan "Itu cuma akting" ke Zolla, tapi jarinya berhenti di atas layar. "Nggak, kalau gue jelasin, malah makin kelihatan kalau gue kepikiran. Keep it cool, Keas. Be the ice king again."
...🌹🌹🌹...
Pagi harinya, suasana di dapur kembali "normal"—setidaknya menurut mata orang awam. Zolla sedang sibuk menyiapkan sarapan sambil bersenandung kecil lagu Lover milik Taylor Swift. Dia sengaja berisik, sesuai perintah "Bos Besar" semalam.
Arkeas muncul dari koridor. Kali ini dia memakai kacamata hitam. Ya, kacamata hitam di dalam ruangan pada jam tujuh pagi.
Zolla menoleh, lalu tertawa kecil. "Tuan Arkeas... itu kacamata nggak salah alamat? Masih pagi loh, Tuan. Atau jangan-jangan Tuan habis nangis semalaman gara-gara nyesel cium kening saya?"
Langkah Arkeas terhenti. Jantungnya mencelos, tapi wajahnya tetap diusahakan sedatar papan tulis. "Jangan percaya diri berlebihan, Zolla. Mata saya iritasi karena kelamaan lihat layar komputer semalam. Dan masalah semalam... itu cuma... apresiasi."
"Apresiasi?" Zolla mendekat, membawa secangkir kopi hitam. Ia berdiri tepat di depan Arkeas, membuat pria itu harus menunduk sedikit. "Apresiasi kok di kening, Tuan? Biasanya kan apresiasi itu dalam bentuk bonus saldo atau naik gaji."
Arkeas berdehem keras, menerima kopi itu dengan tangan yang sedikit gemetar (untung tidak kelihatan). "Itu teknik psikologi untuk menenangkan asisten yang labil seperti kamu. Jangan baper. It's just business."
"Ooh... business ya? Oke, kalau gitu saya mau 'bisnis' lagi dong nanti malam. Kening sebelah kiri belum dapet 'apresiasi'," goda Zolla sambil mengerlingkan matanya nakal.
Arkeas hampir saja menyemburkan kopinya. Ia langsung berbalik badan, membelakangi Zolla agar gadis itu tidak melihat telinganya yang sudah merah padam selevel kepiting rebus. "Zollana! Jaga bicara kamu atau saya tambahkan bunga pada hutang vas kamu!"
"Eh, katanya hutang saya lunas semalam? Tuan mau narik kata-kata sendiri? Red flag banget deh kalau nggak konsisten," sahut Zolla santai sambil menyuapi Alisya yang sedang tertawa melihat kelakuan Papanya.
...🌹🌹🌹...
Siang hari, Arkeas harus bersiap untuk acara launching produk barunya di sebuah mal mewah. Karena asisten pribadinya sedang cuti, Zolla terpaksa ikut untuk membantu mengurus Alisya dan keperluan pakaian Arkeas.
Di ruang ganti eksklusif butik ternama, Arkeas sedang mencoba setelan jas custom-made warna midnight blue. Namun, ada masalah kecil: kancing di bagian punggung jasnya sedikit macet karena benang yang tersangkut.
"Zol! Masuk sini bentar!" teriak Arkeas dari balik tirai.
Zolla masuk dengan Alisya di gendongan sampingnya. "Apa lagi, Tuan Sempurna?"
"Ini kancingnya macet. Tolong benerin. Saya nggak bisa lihat ke belakang," Arkeas berdiri membelakangi cermin besar.
Zolla mendekat. Karena tubuhnya mungil, dia harus berjinjit sedikit untuk menjangkau bahu Arkeas yang lebar. Alisya diletakkan sebentar di sofa kecil di dalam ruang ganti itu.
Zolla mulai mengutak-atik kancing jas Arkeas. Jarak mereka sangat intim. Zolla bisa merasakan kehangatan punggung Arkeas yang kokoh. Sementara Arkeas, melalui pantulan cermin di depannya, bisa melihat wajah serius Zolla yang sangat dekat dengan lehernya.
Aroma stroberi dari rambut Zolla kembali menyerang pertahanan Arkeas. Napas Zolla yang teratur terasa hangat di kulit tengkuknya.
"Selesai, Tuan," bisik Zolla. Tapi saat dia hendak mundur, Arkeas tiba-tiba berbalik.
Posisi mereka terkunci. Zolla terjepit di antara tubuh Arkeas dan lemari pakaian yang tinggi. Arkeas menunduk, matanya menatap tajam ke arah mata Zolla. Kacamata hitamnya sudah dilepas sejak tadi.
"Zolla..." suara Arkeas memberat, jenis suara yang bikin lutut perempuan mana pun lemas.
"Ya, Tuan?" Zolla menelan ludah. Jantungnya mulai marathon.
"Masalah kening semalam... saya nggak nyesel," ucap Arkeas pelan, sangat pelan hingga hampir menyerupai bisikan gaib. "Tapi saya marah sama diri saya sendiri karena... karena saya pengen ngelakuin lebih dari itu."
Zolla tertegun. Gengsi Arkeas baru saja runtuh di depan matanya sendiri. "Lebih... gimana, Tuan?"
Arkeas mendekatkan wajahnya. Hidung mereka bersentuhan. Suasana di ruang ganti yang sempit itu mendadak jadi sangat panas dan penuh ketegangan dewasa. Arkeas menatap bibir mungil Zolla yang sedikit terbuka.
"Tuan..." Zolla berbisik pelan, tangannya tanpa sadar meremas kemeja Arkeas.
Tepat saat bibir Arkeas hanya berjarak satu senti dari bibir Zolla...
"Daaa! Babababa! Mamama!" Alisya berteriak kencang sambil menepuk-nepuk tangannya di sofa, seolah-olah sedang memberikan tepuk tangan untuk adegan live di depannya.
Arkeas langsung menjauh secepat kilat, wajahnya kembali kaku tapi kali ini dengan rona merah yang mustahil disembunyikan. Ia merapikan jasnya dengan kasar.
"A-ayo keluar. Alisya sudah mulai rewel. Kamu... kamu jangan dandan aneh-aneh di acara nanti. Ikuti saya dari belakang saja," ucap Arkeas terbata-bata, lalu hampir menabrak pintu saat mencoba keluar.
Zolla menarik napas panjang, mencoba mengoksigenasi otaknya yang hampir meledak. Ia menatap Alisya. "Dek Alisya... Papa kamu itu beneran glitch ya? Kadang dingin kayak kulkas, kadang panas kayak kompor mbledug."
Alisya hanya tertawa riang, sementara di luar, Arkeas sedang membasuh wajahnya dengan air dingin di wastafel, merutuki nasibnya yang kini benar-benar sudah berada di bawah kendali seorang asisten mungil bernama Zollana.
...
(Bersambung ke Episode 7...)