Bianca, seorang gadis asal Indonesia yang hidup dengan prinsip "hidup santai, otak agak miring," tidak pernah menyangka liburan murahannya ke Italia akan berakhir dengan bencana kosmik. Saat sedang asyik memakan gelato di depan gereja kuno, Bianca tersandung kaki sendiri dan menabrak Lorenzo De Luca, sulung dari tiga raja mafia kembar yang paling ditakuti di Eropa.
Sebuah kutukan kuno dari artefak yang mereka bawa aktif, mengakibatkan jiwa Bianca tertukar ke dalam tubuh Lorenzo yang kekar dan bertato. Bianca yang "semprul" kini harus memimpin organisasi kriminal kelas kakap, sementara Lorenzo yang dingin harus belajar memakai skincare dan menghadapi drama teman-teman kos Bianca.
Kekacauan semakin memuncak ketika dua kembar lainnya—Valerio yang gila senjata dan Dante yang manipulatif—mulai mencurigai "kakak" mereka yang tiba-tiba suka joget TikTok di tengah rapat strategi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ry_chan04, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tiga Saudara yang Berebut Perhatian
Operasi medis darurat di dalam helikopter militer yang terbang membelah langit malam Venesia menuju pangkalan medis rahasia klan De Luca di pinggiran Milan berjalan dengan ketegangan yang sanggup menghentikan detak jantung. Beruntung, ketangguhan fisik dan sisa sinkronisasi sirkuit spiritual spiritual dari masa pertukaran tubuh tampaknya memberikan Bianca daya tahan ekstra. Peluru kaliber .408 dari senapan CheyTac itu ternyata bergeser dua milimeter dari arteri utamanya akibat embusan angin laut Venesia yang kuat.
Setelah melewati operasi kritis selama empat jam untuk mengangkat serpihan proyektil dan menjahit jaringan otot dadanya, Bianca akhirnya dinyatakan stabil. Ia dipindahkan ke ruang perawatan VIP yang disulap menjadi benteng pertahanan taktis dengan dinding berlapis baja kedap suara dan penjagaan berlapis dari pasukan elit De Luca.
Tiga hari setelah insiden berdarah di kastil Venesia, kesadaran Bianca perlahan kembali. Namun, hal pertama yang menyambutnya bukanlah ketenangan ruang pemulihan, melainkan sebuah medan pertempuran baru yang sama sekali tidak melibatkan senjata api, melainkan ego dari tiga pria paling berbahaya se-Eropa yang mendadak berubah menjadi bocah lelaki yang berebut perhatian.
Cahaya matahari pagi Italia yang hangat menerobos masuk melalui celah gorden jendela kamar perawatan yang besar. Bianca mengerjapkan matanya beberapa kali, menyesuaikan penglihatannya dengan langit-langit kamar yang putih bersih. Rasa nyeri yang tumpul masih terasa di dada sebelah kanannya, namun selang oksigen dan infus yang menempel di tubuhnya membuat kondisinya jauh lebih nyaman.
Ia mencoba menggerakkan kepalanya ke samping, dan pemandangan pertama yang ia tangkap adalah Lorenzo, Dante, dan Valerio yang sedang berdiri melingkari tempat tidurnya dengan ekspresi wajah yang sangat intens.
"Eh... Mas... Bos?" bisik Bianca, suaranya terdengar serak dan parau karena tenggorokannya yang kering.
Mendengar suara lemah itu, ketiga pria De Luca tersebut langsung menegakkan tubuh seketika, seolah-olah baru saja menerima perintah siaga satu dari markas pusat militer.
"Bianca! Kau sudah sadar?" Lorenzo melangkah maju paling depan, menggeser posisi Valerio dengan sikunya tanpa perasaan. Wajah sang Capo dei Capi yang biasanya kaku kini dipenuhi rasa lega yang teramat sangat, meskipun lingkaran hitam di bawah matanya menunjukkan bahwa ia tidak tidur selama tujuh puluh dua jam penuh. "Jangan banyak bergerak dulu. Luka jahitanmu masih sangat baru."
Sebelum Lorenzo sempat menyentuh tangan Bianca, Dante menerobos dari sisi kiri dengan membawa sebuah mangkuk porselen putih yang mengepulkan uap aroma kaldu yang sangat gurih.
"Lorenzo, menyingkirlah. Berdasarkan jurnal pemulihan pasca-trauma siber yang kuunduh dari server medis Pentagon, subjek yang baru sadar dari koma membutuhkan asupan glukosa dan protein cair sesegera mungkin," ucap Dante dengan nada teoritisnya yang kembali, meskipun matanya memancarkan kecemasan yang murni. "Aku sudah meretas sistem dapur rumah sakit ini dan memodifikasi resep bubur ayam lokal dengan kalkulasi nutrisi yang paling presisi untuk mempercepat regenerasi sel dadamu, Bianca. Makanlah ini."
"Dante, bubur buatanmu terlalu banyak mengandung natrium sintetik," sela Valerio dengan suara baritonnya yang dingin. Ia melangkah maju sambil membawa sebuah nampan perak berisi potongan buah-buahan segar yang dipotong dengan tingkat presisi geometris yang luar biasa. "Aku telah memotong apel dan pir ini menggunakan pisau komando taktisku yang sudah disterilisasi dengan alkohol sembilan puluh persen. Bentuk potongannya adalah kubus simetris berukuran satu sentimeter agar mudah dikunyah tanpa membebani otot rahangmu yang terhubung dengan saraf dada."
Bianca melongo menatap ketiga pria di depannya. Kepalanya yang masih agak keling akibat efek sisa obat bius mendadak merasa semakin pusing melihat dinamika konyol ini. "Aduh... bentar, bentar... Ini saya lagi di surga apa masih di Italia sih? Kok kalian mendadak jadi kayak pelayan restoran bintang lima begini?"
Meskipun Bianca masih lemas, sifat keras kepala dan lidah tajam khas Palmerah-nya tidak hilang. Ia menatap mangkuk bubur Dante, lalu beralih ke buah kubus milik Valerio, dan terakhir ke arah Lorenzo yang berdiri tegak seperti pengawal pribadi yang cemburu.
"Aku adalah pemimpin klan ini, dan secara protokol logistik, aku yang memiliki hak pertama untuk memastikan kenyamanan manajerku," ucap Lorenzo tegas, menatap tajam ke arah kedua adiknya. Ia mengambil segelas air putih hangat dari meja samping tempat tidur, lalu dengan sangat hati-hati menyodorkannya ke bibir Bianca. "Minum ini dulu, Bianca. Jangan dengarkan teori biner Dante atau kegilaan militer Valerio."
Bianca meminum air tersebut dengan perlahan, merasakan tenggorokannya yang kering kembali segar. "Makasih, Mas Bos... Tapi itu buburnya Mas Dante baunya enak banget deh, mirip bubur ayam depan ruko Palmerah yang sering lewat jam tujuh pagi."
Dante langsung melemparkan senyum kemenangan yang sangat menyebalkan ke arah Lorenzo dan Valerio. Ia duduk di kursi sebelah tempat tidur, mengambil sendok, dan meniup bubur tersebut dengan penuh perhatian. "Dengar itu? Sistem pencernaan Bianca memiliki ikatan algoritma yang kuat dengan seleraku. Buka mulutmu, Bianca... Ah."
"Tunggu dulu," Valerio menahan tangan Dante yang hendak menyuapi Bianca. "Bianca membutuhkan vitamin C murni untuk pembentukan kolagen pada bekas luka tembaknya. Apel kubusku harus masuk terlebih dahulu ke dalam sistem pencernaannya."
"Valerio, biarkan dia memakan karbohidratnya dulu! Otaknya membutuhkan energi untuk memproses realitas!" balas Dante, suaranya mulai meninggi, kehilangan seluruh ketenangan digitalnya.
"Kalian berdua, keluar dari ruangan ini sekarang juga sebelum aku meledakkan laptop dan pisau taktis kalian," ancam Lorenzo dengan suara rendah yang sarat akan otoritas absolut. Ia merebut mangkuk bubur dari tangan Dante dan nampan buah dari tangan Valerio dengan gerakan kilat. "Aku yang akan menyuapinya sendiri. Ini adalah perintah tertinggi Capo."
Bianca yang melihat ketiga pria bertubuh kekar dan penuh tato itu saling melotot memperebutkan sendok bubur hanya bisa menghela napas panjang. "Astaga... Mas Lorenzo, Mas Dante, Mas Val... Tolong ya! Saya ini cuma tertembak di dada, tangan saya dua-duanya masih utuh dan bisa gerak! Siniin mangkuknya, saya bisa makan sendiri!"
Dengan wajah cemberut, ketiga bersaudara De Luca itu terpaksa menyerahkan mangkuk bubur dan buah tersebut kepada Bianca, lalu berdiri berjejer di samping tempat tidur dengan tangan terlipat di dada, seperti tiga orang tentara yang sedang dihukum oleh komandannya.
Di tengah keheningan yang canggung saat Bianca menikmati bubur buatan Dante, pintu kamar perawatan mendadak terbuka dengan suara gebrakan yang cukup keras. Reno masuk dengan wajah ceria, mengenakan jaket bomber tim Aegis Esports dan membawa sebuah gawai tablet berukuran besar.
"Mbak Bianca! Wah, udah bangun ya? Puji syukur alhamdulillah!" seru Reno dengan logat Indonesianya yang kental, langsung memecah atmosfer ketegangan elit khas Eropa di dalam kamar. "Ini lho, Mbak... Di ruko Palmerah lagi heboh banget. Ibu Sukeni nyariin Mbak Bianca karena iuran sampah bulanan belum dibayar, terus si Kopral Gatito... waduh, itu kucing oranye makin tuman, Mbak!"
Bianca menghentikan suapannya, matanya langsung berbinar mendengar kabar dari tanah air. "Eh, Reno! Kopral Gatito kenapa? Dia nggak ngerusak sofa ruko lagi kan?"
Reno menyalakan layar tabletnya dan menampilkan sambungan video langsung (live streaming) dari kamera pengawas di lantai dasar ruko Palmerah. Di layar tersebut, tampak Kopral Gatito sedang duduk dengan santai di atas kursi gaming utama milik kapten tim Aegis, sambil mengunyah sisa ikan asin dengan ekspresi wajah yang sangat merdeka. Di sebelahnya, Ibu Sukeni sedang berkacak pinggang sambil mengomel ke arah kamera.
"Si Gatito kemarin malam berhasil meretas lemari penyimpanan sosis premium milik Mas Valerio di dapur lantai bawah, Mbak," lapor Reno sambil terkekeh. "Terus dia juga boker di atas keset depan pintu kamar Mas Lorenzo. Kayaknya dia protes karena ditinggal lama-lama ke Eropa."
Lorenzo yang melihat kelakuan kucing oranye itu di layar tablet langsung memijat pelipisnya perlahan. "Kucing sialan... Setelah urusan di Milan ini selesai, aku sendiri yang akan memasukkannya ke dalam program latihan disiplin militer klan."
"Tidak bisa, Lorenzo," sela Dante sambil melihat ke arah layar gawai Reno. "Berdasarkan analisis log aktivitas server ruko, Kopral Gatito justru menjadi maskot keberuntungan tim Aegis. Sejak dia sering tidur di atas mesin server, traffic pendaftaran sponsor baru kita naik sebesar tiga puluh persen. Dia memiliki nilai komersial yang tinggi."
"Gatito hanya membutuhkan teknik bela diri cakar taktis agar bisa menjaga ruko dari serangan tikus got Palmerah," tambah Valerio dengan wajah tanpa ekspresi yang sangat serius.
Bianca tertawa lepas untuk pertama kalinya sejak insiden penembakan tersebut, meskipun ia harus sedikit meringis karena luka di dadanya ikut bergetar. "Hahaha... aduh, jangan bikin saya ketawa dong, ini jahitan rasanya mau lepas! Tapi makasih ya, Ren... Mendengar kabar dari ruko rasanya bikin saya pengen cepet-cepet pulang ke Jakarta."
Melihat senyuman Bianca yang kembali merekah, ketegangan ego di antara ketiga bersaudara De Luca perlahan-lahan mencair. Mereka menyadari bahwa terlepas dari latar belakang mereka sebagai penguasa dunia bawah tanah Italia yang kejam, keberadaan gadis biasa dari Palmerah ini telah memberikan mereka sesuatu yang tidak pernah bisa dibeli dengan jutaan euro atau kekuasaan politik: sebuah rumah spiritual yang seutuhnya.
Lorenzo melangkah mendekati tempat tidur Bianca, memberikan isyarat kepada Dante, Valerio, dan Reno untuk sedikit mundur. Ia menatap Bianca dengan pandangan mata yang dipenuhi oleh komitmen yang mutlak.
"Kita akan kembali ke Jakarta dalam waktu dua hari, Bianca," ucap Lorenzo dengan nada baritonnya yang tenang namun mengikat. "Pesawat jet pribadi kita sudah disiapkan, lengkap dengan fasilitas ruang medis berjalan demi memastikan perjalananmu melintasi benua aman tanpa ada hambatan logistik sedikit pun."
Lorenzo menaruh tangan kanannya yang besar di atas selimut yang menutupi kaki Bianca. "Faksi Prancis telah dihancurkan total di Eropa, dan dewan klan di Roma kini berada di bawah kendali penuh sekutu setia kita. Mulai detik ini... tidak akan ada lagi urusan masa lalu dari Italia yang bisa mengganggu kehidupan kita di ruko Palmerah. Markas tim Aegis Esports akan menjadi wilayah kedaulatan mutlak klan De Luca yang baru."
Dante ikut melangkah maju, membetulkan letak kacamata minusnya, lalu menatap Bianca dengan senyuman tipis yang hangat. "Aku sudah memperbarui seluruh sistem keamanan siber ruko Palmerah dengan enkripsi tingkat militer berlapis lima. Mulai sekarang, tidak akan ada satu pun entitas digital atau pembunuh bayaran yang bisa melacak keberadaanmu di dunia nyata maupun dunia maya, Bianca. Kau berada di bawah perlindungan algoritmaku selamanya."
Valerio hanya mengangguk perlahan dari sudut ruangan, namun tangannya melakukan gerakan hormat militer yang sangat khidmat ke arah Bianca. "Logistik pertahanan fisik ruko sudah kuperhitungkan. Aku sudah memesan kaca antipeluru tingkat tinggi untuk seluruh jendela di ruko Palmerah, termasuk untuk area dapur tempatmu membuat wedang jahe."
Bianca menatap ketiga bersaudara itu bergantian, merasakan kehangatan yang luar biasa menjalar di dalam dadanya, menggantikan rasa dingin akibat peluru yang sempat bersarang di tubuhnya beberapa hari lalu. Meskipun mereka adalah sekelompok mafia elit yang menakutkan bagi seluruh dunia, bagi Bianca, mereka kini adalah pelindung, sahabat, dan bagian dari keluarga barunya yang paling aneh namun paling ia sayangi.
"Makasih ya... Mas Lorenzo, Mas Dante, Mas Val... dan kamu juga, Reno," ucap Bianca dengan mata yang sedikit berkaca-kaca karena terharu. "Yuk, kita pulang ke Palmerah. Saya udah nggak sabar pengen ngelihat Mas Lorenzo bayar iuran sampah ke Ibu Sukeni sambil pakai jas mewah begitu."
Ruang perawatan VIP di pinggiran kota Milan pagi itu ditutup dengan tawa kecil dan kelegaan yang seutuhnya. Badai darah di Eropa resmi berakhir, membuka jalan bagi klan De Luca untuk kembali pulang ke sebuah belantara gang sempit di Jakarta Barat, di mana takdir baru, turnamen esports yang besar, dan petualangan romansa taktis yang sesungguhnya kini telah menanti kepulangan mereka dengan segala kehangatan lokal yang tak ternilai harganya.