Setelah Andra menikah lagi, Armila berubah. Ia menjadikan suaminya ini ada, tapi tiada. Sapaan, rayuan dan keberadaanku serupa angin lalu.
Diamnya armila membuat Andra stres.
Pernikahannya dengan resti pun menjadi tidak harmonis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saskiah Khairani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
REM
RESTI
Enak saja cerainya tak jadi. Gagal, dong seluruh ambisiku. Agar hakim cepat memutuskan perceraian, satu-satunya jalan adalah menghambat kedatangan Mas Andra ke pengadilan di sidang pertama. Kalau pihak suami tak datang, mediasi akan dianggap gagal. Artinya hakim akan lebih cepat memberi keputusan cerai.
Ini dia ide yang yang harus kurealisasikan di persidangan pertama. Mas Andra harus upayakan untuk tidak datang.
Aku akan menyuruh di Mimin untuk mencari orang yang menghadang mobil mas Andra ketika akan ke pengadilan. Mereka bertugas menyerang, tapi tidak boleh sampai melukai parah. Pura-pura mau merampok agar tidak dicurigai sebagai drama.
Ke mana lagi perempuan ganjen itu kalau lagi diperlukan malah ngilang. Pasti ngegosip sama pembantu tetangga sebelah. Dasar bawel!
"Kang Dadang, paling ganteng, saya suka akang, suka sekali! Kang dadang kapan datang, Mimin rindu, akang, rindu sekali!"
Aku yang mau marah karena panggilan tak dijawab, tak jadi. Malah ketawa melihat bi Mimin joget sambil nyanyi dangdut di teras belakang.
"Srrrr, aah, srrrr, aaah!"
Lumayanlah hiburan gratis dengar lagu dangdut. Suara bi Mimin lumayan juga ternyata. Mungkin dia dulu mantan penyanyi dangdut keliling
"Eh, ibu! Maaf, Bu kagak liat! Ibu pasti terkesima, ya denger saya nyanyi? Ngaku aja, deh, Bu!"
Aku seperti biasa tak mau mengakui keadaan sebenarnya. Pantanglah muji orang, meski itu benar. Apalagi muji pembantu. Bisa jatuh derajatku.
"Ibu pasti mau nyuruh saya, ya? Apalah kiranya tugas hamba Yang Mulia Ratu?"
Setelah aku duduk di kursi dan dia di lantai, mulailah disampaikan apa yang harus dilakukan. Bi Mimin manggut-manggut dan langsung mengerti. Otak pembantu yang satu ini memang tak lambat, malah cukup cerdas menurutku.
"Harus yang ahli banget dan bisa jaga rahasia. Ingat kalau mereka membocorkan, aku takkan ampuni!"
"Siap, Ratu!"
"Yaudah, berangkat sana!"
"Uang bensinnya belum, Ratu!"
"Ya, ampun, Mimiiiiin, bisa gak, sih sehari aja gak minta duit!"
"Gak bisa, Bu. Itu udah jalan hidup saya. Pan duit ibu, mah banyak.
Apalagi entar mau jadi nyonya satu-satunya. Jangan lupa gaji saya naekin, ya, Bu!"
Meski ngomel-ngomel aku tetap mengeluarkan satu lembar uang berwarna merah. Tak apalah, yang penting urusan lancar.
*
Hari ini mas Andra akan menghadapi sidang pertama. Aku dan bi Mimin sudah siap dengan mobil sewaan untuk mengikutinya.
Meski sudah ada yang akan mengerjai mas Andra, aku ingin memastikan langsung bahwa rencana berjalan tepat. Tak boleh tiba-tiba salah langkah dan mas Andra datang ke tempat sidang.
Untuk berjaga-jaga, aku dan bi Mimin melakukan penyamaran. Kami memakai baju yang baru dibeli kemarin. Tak lupa, topi, masker dan kacamata hitam.
Mobil sewaannya aku yang kemudikan. Jadi kami hanya nyewa mobil tanpa supir. Makin sedikit yang terlibat, makin aman rahasia ini.
Langkah satu, mas Andra dibuat menabrak orang. Laki-laki yang disewa bi Mimin itu nyebrang mendadak saat mobilnya meluncur di jalanan. Terang saja terjadi rem dadakan dan tubuh penyebrang terhantam bagian depan mobil.
Pria itu sudah ahli melakoni ini. Jadi dia punya perhitungan akan berapa besar luka yang dideritanya.
Aku melihat dari kejauhan mas Andra dicecar oleh orang-orang yang melihat kejadian itu. Dengan terpaksa mas Andra harus membawa korban ke rumah sakit.. Tentu saja hal itu makan waktu cukup lama.
Karena mang Dadang sakit, ia jadi tak bisa meminta bantuan. Tentang sakitnya pria yang dikecengin bi Mimin itu juga rekayasa kami. Kemarin, pada makanannya diberi sedikit zat yang akan menyakiti pencernaan. Tidak membahayakan, tapi sanggup bikin dua hari tepar.
Mas Andra keluar dari rumah sakit setelah pengobatan korban dan negiosasi usai. Ia langsung tancap gas menuju arah pengadilan agama.
Langkah kedua dijalankan. Di tempat cukup sepi, ban mobil mas Andra dibuat bocor. Jelas mudah sebab di sepanjang jalan itu ditabur paku.
Panik dong, dia? Ya, paniklah, masa, enggak.
Aku dan bi Mimin joget joget di mobil sambil tertawa. Kami sangat senang sekali mengikuti sinetron ini.
Nah, ketika mas Andra sedang sibuk meriksa mobilnya, muncullah tiga lelaki bertampang seram. Mereka adalah preman sewaan bi Mimin.
Ketiganya langsung mengancam dengan senjata tajam. Tapi awalnya bergaya pura-pura mau nolong agar tak dicurigai orang-orang.
Aku deg-degan juga, sih melihat adegan membahayakan itu. Takut juga kalau mas Andra beneran dilukai.
"Mereka ngerti 'kan ini cuma drama?"
"Tenang, Bu mereka.bisa dipercaya, kok! Kita liatin aja, Bu, hajar-hajarannya!"
"Hah, kok pake dihajar? Kalau suami saya kenapa-napa gimana!*
"Gak, bakal mati, Bu, paling pingsan doang!"
"Haaah! Kamu jangan macem-macem, ya, Min!"
"Ibu jangan panik, nanti bapak dikasih obat bius jadi dihajarnya dikit aja!*
"Aaarg!"
"Ibu, jangan teriak, gitu. Diem napa!"
Bi Mimin membekap mulutku yang mengeluarkan jeritan tertahan ketika melihat mas Andra dipukul. Akhirnya aku pasrah melihatnya ditinju orang.
Maaf, ya, Mas, kamu sakit dikit.
Anggap saja itu pengorbanan cintamu padaku.
*
"Aduh, Mas, tega sekali yang nyakitin kamu!"
Aku menghambur ke arah mas Andra yang sedang dirawat di rumah sakit.. Aku pura-pura menangis padahal hati bahagia banget sebab lelaki ini gagal datang ke sidang.
Itu artinya perceraian mereka akan.
bahagia banget sebab lelaki ini gagal datang ke sidang.
Itu artinya perceraian mereka akan berjalan mulus.
Aduh, Mas semudah itu mengerjai kamu. Sebenarnya, aku yang terlalu jenius atau kamu yang tolol pake banget?