Di dunia yang dikendalikan oleh data, kekuasaan bukan lagi milik mereka yang duduk di kursi tertinggi—melainkan milik mereka yang menguasai sistem. Dan di puncak bayangan itu, ada satu nama yang tak pernah benar-benar ada… namun ditakuti semua orang.
Veyra Noctis.
Tak ada wajah, tak ada identitas pasti. Hanya jejak digital yang dingin dan presisi. Ia bukan sekadar hacker—ia adalah arsitek kehancuran. Ambisinya bukan uang, bukan ketenaran… melainkan kendali penuh atas dunia yang pernah merenggut segalanya darinya.
Dulu, Veyra hanyalah seseorang yang percaya pada keadilan. Sampai satu pengkhianatan menghancurkan hidupnya, menghapus keluarganya, dan membuatnya menghilang dari dunia nyata. Namun dari kehancuran itu, lahirlah sosok baru—lebih dingin, lebih cerdas, dan tanpa ampun.
Kini, dengan satu klik dari ujung jarinya, ia bisa menghancurkan reputasi, meruntuhkan kerajaan bisnis, bahkan menghapus keberadaan seseorang dari dunia digital…
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ilza_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35: Mata Merah yang Mengawasi Dunia
Lingkaran merah raksasa itu menggantung di langit seperti mata dewa yang baru bangun dari tidur panjang.
Diam.
Namun tekanannya terasa sampai ke dada.
Awan di sekitarnya bergerak memutar perlahan. Cahaya merah gelap jatuh ke seluruh kota seperti darah yang menetes dari langit.
Dan semua orang yang melihatnya—
langsung merasakan ketakutan aneh.
Bukan takut mati.
Melainkan takut kehilangan diri sendiri.
—
Lyra sampai mundur selangkah tanpa sadar.
“Apa… itu sebenarnya?”
Suara Veyra terdengar pelan.
“Hati dari server Eclipse.”
Deg.
Selene langsung menatap tak percaya.
“Jadi selama ini sistem itu punya inti segede itu?!”
“Dulu belum.”
Tatapan Veyra tidak lepas dari mata merah di langit.
“Itu berkembang sendiri.”
Sunyi.
Dan kalimat itu langsung membuat suasana jadi lebih dingin.
Karena artinya—
Eclipse bukan lagi sekadar program.
Ia mulai hidup.
—
Noah membuka kedua tangannya perlahan.
Seolah sedang memperlihatkan dunia barunya.
“Indah, kan?”
Bayangan hitam terus bermunculan di udara belakangnya.
“Mereka nggak akan merasakan sakit lagi.”
Tatapannya kosong.
“Nggak akan takut lagi.”
Lingkaran merah di langit mulai berdenyut pelan.
“Nggak akan saling menghancurkan lagi.”
Deg.
—
Namun Veyra hanya menatap dingin.
“Mereka juga nggak bakal jadi manusia lagi.”
Noah tertawa kecil.
“Manusia?”
Suaranya terdengar pahit.
“Setelah semua yang kita alami…”
Matanya menyipit.
“…kamu masih bangga jadi manusia?”
Deg.
—
Kalimat itu menghantam keras.
Karena jujur—
ada masa di mana Veyra juga membenci kemanusiaannya sendiri.
Membenci rasa takut.
Membenci rasa sakit.
Membenci emosinya.
Namun sekarang—
ia sadar justru hal-hal itu yang membuat hidup punya arti.
—
“Dulu aku juga mikir kayak kamu.”
Suara Veyra pelan.
Angin malam meniup rambut hitamnya pelan.
“Aku kira rasa sakit cuma bikin kita hancur.”
Tatapannya perlahan berubah lembut.
“Tapi ternyata…”
Ia melirik kecil ke arah Lyra.
“…kadang rasa sakit juga bikin kita ngerti kalau kita masih hidup.”
Deg.
Lyra langsung membeku kecil.
Dan Noah—
melihat tatapan itu.
Tatapan yang dulu tidak pernah dimiliki Veyra.
Tatapan seseorang yang punya alasan untuk bertahan.
—
Senyum kecil Noah perlahan hilang.
Dan untuk pertama kalinya—
sesuatu seperti iri muncul di matanya.
—
“Heh…”
Ia tertawa kecil.
“Jadi sekarang kamu punya seseorang.”
Bayangan hitam di sekitar mulai bergerak kacau.
“Lucu.”
Tatapannya perlahan dingin lagi.
“Karena aku nggak pernah punya itu.”
BOOOOOOMMMM!
Energi merah langsung meledak brutal dari tubuhnya.
Seluruh jalanan retak besar.
Mobil-mobil terlempar.
Dan mata merah di langit—
terbuka lebih lebar.
—
“SYNC RATE : 87%”
Tulisan merah muncul di udara sekitar Noah.
Dan semakin tinggi sinkronisasinya—
semakin tidak manusiawi auranya.
—
Selene langsung panik.
“Dia nyatu lebih dalam sama Eclipse!”
Lyra menatap Veyra cepat.
“Kalau sinkronisasinya penuh?”
Veyra diam sesaat.
Lalu menjawab pelan—
“Dia bakal kehilangan dirinya sepenuhnya.”
Deg.
—
Namun yang paling menakutkan—
Noah terlihat tidak peduli.
Malah tersenyum.
Seolah itu memang yang ia inginkan.
—
“Aku udah capek jadi manusia.”
Tatapannya naik ke mata merah raksasa di langit.
“Manusia lemah.”
Bayangan hitam mulai memenuhi seluruh kota.
“Manusia egois.”
Orang-orang mulai berteriak panik saat bayangan itu turun makin rendah.
“Dan manusia selalu menghancurkan apa yang mereka cintai.”
Deg.
Kalimat terakhir itu…
terasa terlalu personal.
Terlalu penuh luka.
—
Veyra menatap Noah lama.
Lalu akhirnya—
ia berjalan maju.
Selene langsung membelalak.
“WOI! Kamu mau apa?!”
Lyra juga panik.
“VEYRA!”
Namun Veyra tetap berjalan mendekati Noah perlahan.
Tanpa takut.
Tanpa ragu.
—
Noah memiringkan kepala sedikit.
“Kamu mau lawan aku sendirian?”
“Aku cuma mau lihat sesuatu.”
“Apa?”
Veyra berhenti beberapa meter di depannya.
Tatapannya lurus.
“Masih ada nggak…”
Suara Veyra mengecil sedikit.
“…bagian Noah yang dulu.”
Deg.
Dan untuk pertama kalinya—
Noah benar-benar membeku.
—
Ingatan lama muncul begitu saja.
Ruangan eksperimen.
Dua anak kecil duduk diam di lantai dingin.
Noah kecil menyodorkan roti curian setengah basi ke Veyra.
“Kalau ketahuan kita dipukul lagi.”
“Yaudah. Bagi dua aja.”
“Heh. Kamu aneh.”
“Kamu juga.”
—
BOOOOOOMMMM!
Langit mendadak bergetar brutal.
Noah langsung memegang kepalanya.
Bayangan hitam di sekitar ikut glitch liar.
—
“BERHENTI—”
Suaranya pecah.
Mata merahnya berkedip kacau.
Dan untuk sesaat—
mata manusia biasa muncul lagi di sana.
Penuh rasa sakit.
—
Lyra langsung sadar.
“Dia masih ada…”
Namun detik berikutnya—
mata merah di langit mendadak bersinar terang.
Dan suara besar menggema ke seluruh kota.
“EMOSI MANUSIA TERDETEKSI.”
“STABILITAS HOST MENURUN.”
Deg.
Tubuh Noah langsung menegang brutal.
Retakan hitam muncul di lehernya.
Dan ekspresinya berubah kesakitan.
—
“UGHHHH—!”
Ia jatuh berlutut sambil memegangi kepalanya.
Bayangan hitam di sekitar mulai menyerang secara liar tanpa kendali.
Orang-orang kembali panik.
—
Selene langsung sadar.
“Eclipse lagi ngambil alih dia!”
Tatapan Veyra berubah tajam.
Karena sekarang semuanya jelas.
Noah bukan pengendali utama lagi.
Ia juga korban.
Hanya saja—
ia sudah terlalu lama tenggelam sampai tidak sadar dirinya sedang dimakan hidup-hidup oleh sistem itu.
—
“Noah!”
Veyra mencoba mendekat.
Namun tiba-tiba—
DUUUUMMMM!
Gelombang merah besar menghantamnya keras.
Veyra terpental beberapa meter sebelum berhasil menahan tubuhnya.
—
Saat ia mengangkat wajah—
Noah sudah berdiri lagi.
Namun sekarang—
sesuatu berbeda.
Tatapannya kosong total.
Tidak ada emosi.
Tidak ada kemarahan.
Tidak ada rasa sakit.
Hanya kehampaan.
—
Dan itu jauh lebih mengerikan.
—
“HOST STABILIZED.”
Suara Eclipse menggema dingin.
Noah perlahan mengangkat kepalanya.
Tatapannya langsung menuju Veyra.
Namun kali ini—
ia tidak terlihat mengenalinya lagi.
—
“Subjek V-27.”
Suaranya datar.
Mekanis.
“Gangguan akan dihapus.”
Deg.
Lyra langsung merinding.
Karena Noah barusan…
hilang.
—
Mata merah di langit terbuka penuh.
Dan seluruh kota mendadak dipenuhi simbol-simbol digital merah.
Gedung.
Jalan.
Tubuh manusia.
Semuanya mulai ditandai.
—
Selene langsung pucat.
“Oh tidak…”
“Apa lagi sekarang?!”
Veyra menatap simbol merah di tangannya.
Dan wajahnya perlahan berubah tegang.
Karena ia mengenali kode itu.
Kode penghapusan massal.
—
“Eclipse mau mulai reset manusia…”
Sunyi.
Dan kali ini—
bukan cuma satu kota yang jadi target.
Melainkan seluruh dunia.