NovelToon NovelToon
Frekuensi Kematian

Frekuensi Kematian

Status: tamat
Genre:Action / Teen School/College / Tamat
Popularitas:120
Nilai: 5
Nama Author: Lovey Dovey

Di SMA Nambu, kelas 3-B adalah kelas paling viral-bukan karena prestasi, tapi karena jumlah problem child-nya. Malam itu, hukuman belajar tambahan untuk 30 siswa mereka berubah jadi mimpi buruk hidup-hari saat invasi makhluk asing berawal di sekolah mereka. Makhluk-makhluk fotofobia yang mengerikan, terluka oleh cahaya terang tapi memangsanya seperti ngengat, menjadikan sekolah sebagai arena berburu. Dipimpin oleh ketua kelas yang panik dan wakilnya yang berusaha tegar, mereka harus bertahan dengan satu aturan: JANGAN MENYALA.


Apakah mereka berhasil melawan makluk itu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lovey Dovey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Stasiun

Ruangan parkiran yang gelap itu kembali sunyi, hanya diisi oleh desahan dan gumaman persetujuan. Mereka selamat, tapi dengan harga yang mahal: mereka sekarang menyadari betapa rapuhnya nyawa mereka di dunia baru ini. Dan Stasiun Gangnam, yang tadi terasa seperti tujuan, sekarang terasa seperti mimpi mustahil di ujung neraka yang penuh dengan pemangsa yang memiliki pendengaran super dan tidak pernah memberi ampun.

Kegelapan parkiran bawah tanah terasa seperti gua yang lembap dan berminyak. Bau bensin, debu beton, dan ketakutan yang mengental memenuhi udara. Selama beberapa menit, tidak ada yang berbicara. Hanya suara napas yang berusaha kembali teratur, dan sesekali dengus untuk menahan tangis.

Lambat laun, pandangan mereka mulai menyesuaikan diri. Cahaya redup yang menyelinap dari celah pintu besi dan dari ventilasi di langit-langit menerangi tumpukan ban bekas, kotak-kotak kosong, dan beberapa mobil yang parkir dalam keadaan miring, seolah ditinggalkan dalam keadaan panik.

Jimin adalah yang pertama berdiri, tubuhnya masih sedikit goyah.

"Kita... kita gak bisa langsung lanjut. Kita istirahat bentaran. Minimal tenangin pikiran," ujarnya, suaranya masih serak.

"Di situ... ada toilet kayaknya," kata Shotaro yang matanya paling cepat beradaptasi dengan gelap. Dia menunjuk ke sudut jauh, di mana ada pintu kayu sederhana bertanda 'WC'.

Itu seperti penemuan harta karun di tengah keputusasaan. Beberapa kepala langsung menengok.

"Aku... aku perlu ke toilet," bisik Sunkyung, malu-malu.

"Gue juga," A-na, meski wajahnya masih cemberut.

"Gue cuci muka aja, muka gue lengket banget," rengek Haechan.

Jimin menghela napas. "Oke. Siapa yang mau ke Toilet, silakan. Tapi per kelompok. Minimal tiga orang. Satu jaga di luar, dua di dalam. Cepetan. Kita gak bisa lama-lama di sini."

Beberapa orang mulai bergerak. Kelompok pertama adalah Sunkyung, ditemani Minjeong (sesuai janjinya) dan Stella sebagai penjaga. Lalu kelompok kedua: A-na, Hina, dan Yeri.

Sementara sebagian sibuk dengan urusan sanitasi, yang lain duduk berkelompok di lantai dingin. Keheningan mulai pecah oleh bisikan-bisikan yang penuh beban.

...

"Gimana masih mau lanjut ?" gumam Chenle, memeluk lututnya. "Kalian liat tadi kan? Itu makhluk... dia kayak... kayak hantu teknologi. Langsung tau kita di mana dari suara dikit."

"Bukan hantu. Lebih kayak predator pinter," sahut Renjun, menggambar bentuk aneh di debu lantai dengan jarinya. "Predator yang sensitif banget sama suara dan cahaya."

"Monster kalik" celetuk sion

"Eh Kita musti kasih mereka nama gak sih wkwkwk," celetuk Haechan tiba-tiba, usai kembali dari cuci muka dengan wajah masih basah. "Gak mungkin kita panggil 'itu' atau 'makhluk' 'monester' terus kan?. Serem. Gue sih udah punya usul: si 'Klepek-Klepek'."

haechan berkata begitu dengan wajah serius, tapi nama yang diusulkan begitu konyol sehingga beberapa orang langsung melotot dan tertawa.

"'Klepek-Klepek'?!" ulang Ningning, nyaris ketawa getir. "Apaan tuh? Kayak nama ikan goreng!"

"HEH BUKAN!! Sayap mereka kan bunyinya kayak klepek-klepek gitu, kan??" balasan Haechan, sambil mempratekkan gerakan terbang dengan serius.

"Bukan klepek-klepek, itu whoosh-whoosh! Lebih serem!" bantah Jisung.

"Gue denger kayak kretek-kretek," timpal Chenle.

"Bukan, lebih ke grep-grep," sahut Shotaro.

"Udah, gak usah ribut soal nama," potong Jaemin, mencoba menenangkan. "Nanti aja kalo udah perlu. Sekarang fokus-"

"Gimana kalo 'Mata Banyak'?" usul Giselle tiba-tiba, memotong. "Soalnya mereka punya banyak titik cahaya kayak mata."

"Aduh, panjang banget, sell," keluh Haechan. "Mending 'Klepek-Klepek', singkat."

"'Siluman' aja," suara rendah Sungchan menyela.

"'Pemangsa Gelap'," usul Mark.

"Terlalu generik," balas Renjun.

Perdebatan kecil itu, meski terdengar konyol, adalah pelarian yang dibutuhkan otak mereka dari trauma. Mereka berdebat dengan serius, dengan berbagai usulan nama yang semakin aneh ('Kecoak Terbang' dari Haechan lagi, 'Nightcrawler' dari Giselle, 'Drakula Gaib' dari Chenle), tapi tidak ada yang disepakati.

"udah, udah," Jimin akhirnya mengakhiri. "Gak usah dipaksain. Yang penting kita tau sifat mereka. Lebih penting dari namanya."

Obrolan itu mereda, digantikan oleh bisikan-bisikan lain yang lebih muram. Mereka berbagi sisa air, mengunyah biskuit kering dengan pelan, sambil mata mereka selalu waspada ke arah pintu besi yang menjadi satu-satunya penghalang antara mereka dan dunia luar yang dipenuhi oleh 'mereka' yang belum punya nama.

Setelah semua urusan kamar mandi selesai dan wajah-wajah mereka (meski masih pucat) sedikit lebih bersih, Jimin mengumpulkan mereka kembali.

"Kita istirahat 30 menit lagi. Makan dan minum sedikit. Lalu kita lanjut. Tujuan masih sama: Stasiun Gangnam. Sekarang kita lebih tau sifat musuh. Dan kita tau aturannya lebih keras lagi: sunyi mutlak, hindari cahaya, dan waspada ekstra terhadap apa pun di bawah kaki kita." Dia menatap mereka satu per satu.

"Masih pada mau lanjut kan?"

Di kegelapan parkiran, di antara wajah-wajah yang masih diliputi ketakutan, mereka saling pandang. Lalu, satu per satu, anggukan kecil mulai bermunculan. Ya, mereka takut. Sangat takut. Tapi di antara mereka, di dalam ikatan sebagai teman sekelas yang sekarang adalah satu-satunya keluarga yang tersisa, ada sesuatu yang lebih kuat dari ketakutan: tekad untuk tidak meninggalkan siapa pun, dan keinginan untuk hidup, meski harus menghadapi makhluk-makhluk tanpa nama itu.

"Oke," kata Jimin. "30 menit istirahat. Lalu kita lanjut lagi."

....

Tiga puluh menit istirahat berlalu bagai angin. Saat Jimin mengumumkan waktu untuk bergerak lagi, ketegangan yang sempat sedikit mereda langsung kembali mengeras seperti baja di udara parkiran yang lembap.

"Oke, waktu kita terbatas. Kita harus lanjut sebelum siang mulai bergeser dan bayangan menghilang," kata Jimin, berusaha terdengar meyakinkan.

Tapi kali ini, perlawanan datang dengan lebih keras.

"LANJUT? Lu serius, Jimin?" A-na berdiri, suaranya meninggi meski masih berbisik. Wajahnya, yang baru saja sedikit tenang setelah cuci muka, sekarang kembali memerah.

"Lu gak liat di luar tadi? Itu bukan cuma satu! Itu kota kiamat! Mayat di mana-mana! Dan satu dari 'mereka' aja hampir bunuh kita semua! Bayangin kalo ada lebih banyak?!"

"A-na, kita udah bahas ini-" Jimin mulai.

"GUE GAK PERNAH SETUJU!" potong A-na, histeris terkontrol. "Kalian yang maksa! Di sekolah kita punya ruang tertutup! Di sini pun kita relatif aman! Kenapa musti keluar cari mati?!"

"Karena kita bakal mati kelaparan atau kehausan di sini NA!" balas Minjeong, kali ini suaranya juga meninggi.

"Air cuma segini! Makanan hampir habis! Lo mau minum oli mobil besok?!"

"Mending minum oli daripada dimakan hidup-hidup!" teriak Juun, yang selama ini pendiam, ikut terbawa. Air mata mengalir di pipinya. "Gue gak kuat... gue gak mau liat itu lagi..."

"Tapi kita gak bisa tinggal diam aja hei!" Mark mencoba menengahi, tapi suaranya terdengar lemah. "Instruksi dari pemerintah-"

"Instruksi pemerintah?!" sergap Hina, dengan logika dingin yang dipenuhi kepanikan. "Instruksi yang nyuruh kita jalan kaki menyebrangi kota zombie alien? Itu instruksi bunuh diri massal! Mungkin mereka cuma mau ngumpulin yang masih hidup di satu tempat biar gampang dikontrol, atau... atau biar gampang dibersihin sama 'mereka'!"

Teori konspirasi Hina, meski liar, menusuk langsung ke jantung ketakutan terdalam mereka: ketidakpercayaan. Apakah mereka bisa percaya pada otoritas yang sama yang gagal melindungi mereka?

"Kita gak tau apa-apa, Na," kata Stella, mencoba meraih tangan Hina. "Tapi kita juga gak tau kalo bertahan di sini bakal aman. Itu namanya judi."

"Dan kalau kita milih keluar itujadi judi yang lebih buruk!" bantah Koeun. "Di sini kita udah tau medannya. Gelap, tertutup. Diluar? Terbuka, tak terduga. Gue setuju sama A-na. Gue milih tinggal."

"Gue juga," dukung Yuha dengan suara kecil.

"Gue... gue ikut yang mayoritas aja deh," gumam Oh Sion, tidak memutuskan.

Kelas kembali terpecah. Debat berlangsung dengan bisikan-bisikan sengit yang penuh emosi.

"Kalian egois!" tuduh eunseok pada kelompok yang ingin tinggal. "Kalo kita pecah, kita lemah! Mereka bisa habisin kita satu-satu!"

"Egois? Lo yang egois maksa kita ikut rencana gila lo!" balas A-na.

"GUYS! DIAM!" teriak Jaemin tiba-tiba, suaranya memotong seperti pisau. Semua terdiam. "Setiap suara keras adalah undangan buat 'mereka'. Kalian mau debat sampe mereka dateng ke sini?"

jaemin menarik napas dalam-dalam. "Ini bukan soal siapa benar atau salah. Ini soal pilihan hidup dan mati. Jimin, Mark, dan yang mau lanjut, punya alasan: cari sumber daya, cari bantuan, ikuti saran satu-satunya yang kita punya. A-na, Hina, dan yang mau tinggal, juga punya alasan: takut, dan ini tempat yang udah kita 'kontrol'."

Jaemin menatap kedua kubu. "Tapi kita gak boleh pecah. Itu bunuh diri lambat. Jadi, kita voting sekali lagi. Tapi kali ini, yang kalah, harus ikut yang menang. No debate. Karena kita cuma punya dua pilihan: bertahan bersama di sini, atau bergerak bersama ke stasiun. Gak ada pilihan ketiga."

Sunyi. Semua memproses ultimatum Jaemin. Mereka melihat sekeliling, pada wajah-wajah teman yang sama-sama takut namun punya insting survival yang berbeda.

"Voting cepat," kata Jimin, stem. "Siapa yang milih bertahan di sini, dengan resiko kehabisan sumber daya dalam beberapa hari? Angkat tangan."

Dengan gemetar, tangan A-na, Hina, Koeun, Juun, dan Yuha terangkat. Lima orang.

"Siapa yang milih bergerak ke Stasiun Gangnam, dengan resiko diserang di jalan?"

Satu per satu, tangan-tangan lain terangkat. Sisa dua puluh lima orang, termasuk beberapa yang awalnya ragu seperti Oh Sion dan Jiwoo.

"Hasilnya jelas," kata Jaemin. "Kita bergerak bersama. Yang lima tadi, kita butuh kalian. Keahlian kalian. Kewaspadaan kalian. Kita gak bisa kehilangan siapa pun lagi."

A-na melihat Stella, Hina, dan Yeri yang memilih pergi. Dia melihat keempat temannya yang lain. Akhirnya, bahunya turun. Kekalahannya diterima dengan getir. "Oke. Tapi kalo kita mati, gue sumpahin kalian di akhirat."

"Ditrima," jawab Minjeong singkat. "Sekarang, kita siapin diri. Kita keluar dalam dua menit."

Persiapan terakhir dilakukan dalam diam yang bermusuhan. Ikatan mereka retak, digantikan oleh kepatuhan yang dipaksakan. Mereka mungkin akan bergerak bersama, tetapi rasa persatuan yang tadi sempat terbangun, kini terkoyak lagi oleh ketakutan dan perbedaan pilihan. Mereka menghadapi dunia luar tidak hanya sebagai sekelompok korban, tetapi juga sebagai sekelompok remaja yang saling menyalahkan, dipersatukan hanya oleh insting dasar untuk tetap hidup-meski mereka tidak lagi sepenuhnya percaya pada jalan yang sama.

Perjalanan menyusuri sisa-sisa Seoul adalah mimpi buruk yang berjalan. Setiap langkah dihantui bayangan mayat, bau busuk, dan ketakutan akan bunyi 'klepek-klepek' atau 'whoosh' yang tiba-tiba muncul. Mereka bergerak seperti tikus yang terluka, bersembunyi di balik setiap puing, menghindari setiap lapangan terbuka. Perdebatan dan perpecahan di parkiran tidak lagi terdengar, digantikan oleh kerja sama yang dipaksakan oleh survival instinct. Mereka saling menjaga, menarik yang terjatuh, dan menahan napas setiap kali harus menyebrang.

...

Setelah berjam-jam berjalan dengan kaki lemas dan jiwa yang lelah, mereka akhirnya melihat papan besar bertuliskan 'Gangnam Station'. Harapan yang nyaris padam tiba-tiba menyala.

"Di sana! Itu dia!" bisik Shotaro dengan getir.

"Alhamdulillah..." gumam Stella.

Dengan sisa tenaga terakhir, mereka menyusup masuk ke dalam stasiun bawah tanah yang sunyi. Suara langkah mereka bergema di ruang tiket yang kosong. Lampu darurat menyala redup, memberikan cahaya hijau yang menyeramkan.

Tapi, stasiun itu... kosong. Sepi mati.

Tidak ada kerumunan orang yang dievakuasi. Tidak ada tentara. Tidak ada pusat komando. Hanya beberapa kereta listrik yang terparkir diam di rel, pintunya terbuka lebar, seperti mulut-mulut yang ternganga.

"Di... di mana semua orang?" Chenle bertanya, suaranya kecil dan ketakutan.

"Mereka... mungkin udah dievakuasi duluan? Naik kereta lain?" usul Yeri, tapi nadanya tidak yakin.

"JANGAN JANGAN KITA KETINGGALAN!" teriak A-na, suaranya memecah kesunyian dan membuat semua orang kaget.

"GARA-GARA DEBAT DEBAT DI PARKIRAN! KITA TERLAMBAT! SEKARANG KITA SENDIRI DI SINI!" ucap ian

"Bukan cuma kita," kata Jimin tiba-tiba, suaranya datar. Dia menunjuk ke arah dekat pintu masuk stasiun sisi lain. Di sana, tergolek beberapa sosok dengan seragam hijau dan biru-tentara dan polisi. Beberapa masih memegang senjata. Dan yang lebih mengerikan... luka-luka di tubuh mereka terlihat masih segar. Darah di lantai belum sepenuhnya kering.

Semua wajah memucat.

Minjeong mendekat dengan hati-hati. "Ini... ini terjadi belum lama. Beberapa jam yang lalu, mungkin."

"Jadi mereka bukan nggak datang buat nungguin kita," bisik Jaemin, mencerna kenyataan pahit. "Mereka datang... dan dibantai. Stasiun ini bukan tempat aman. Ini... tempat perangkap. Atau medan perang."

Realitas itu lebih menghancurkan daripada kekosongan. Mereka tidak ditinggalkan. Mereka datang ke tempat dimana bahkan pasukan bersenjata pun jatuh. Harapan mereka yang terakhir, runtuh.

"Jadi... jadi kita gimana sekarang?" rengek Jisung, suaranya penuh keputusasaan.

Belum ada yang sempat menjawab, telinga Haechan yang tajam menangkap sesuatu. Suara yang samar, seperti gesekan logam di keramik, datang dari terowongan gelap di ujung stasiun.

"Denger itu?" bisiknya, mata membelalak.

Semua terdiam. Suara itu semakin jelas. Bukan lagi bisikan. Itu suara kaki yang diseret, dan... napas berat yang parau.

Lalu, dari kegelapan terowongan, muncul sebuah sosok. Tinggi, kurus, dengan kulit abu-abu mengkilap. Titik-titik cahaya birunya berkedip-kedip di kegelapan stasiun. Salah satu 'mereka'. Dan dia baru saja membunuh para penjaga terakhir di tempat ini.

"SI KLEPEK-KLEPEK DATANG!" teriak Haechan histeris, tanpa bisa menahan diri.

Kepanikan meledak. Teriakan histeris memenuhi ruang stasiun. Makhluk itu langsung mengangkat kepala, titik cahayanya berkedip liar, dan dengan lengkingan marah, ia melesat ke arah mereka.

"KERETA! MASUK KERETA! SEKARANG!" pekik Jimin, sambil mendorong Yeri dan Sunkyung ke arah kereta terdekat yang pintunya terbuka.

"CEPeT! SEMUAA!" teriak Jaemin, menarik Ningning dan Chenle.

Tiga puluh orang berhamburan seperti tikus, menyelamatkan diri ke dalam gerbong kereta. Jeno yang berada di paling belakang, langsung menarik tuas penutup pintu begitu yang terakhir-Anton-melompat masuk. Pssshh! Pintu geser kereta menutup rapat.

Tidak sampai dua detik kemudian.

BAAAMMM!

Tubuh makhluk itu menghantam kaca pintu kereta dengan keras. Seluruh gerbong bergetar. Kaca itu retak, tetapi lapisan pengamannya menahannya. Wajah-atau sesuatu yang menyerupainya-dengan titik-titik cahaya biru yang berkedip cepat, terlihat jelas di balik kaca. Cakarnya yang panjang mencakar-cakar permukaan, mengeluarkan suara screeetch yang menusuk telinga.

"GORDEN! TUTUP SEMUA GORDEN JENDELA!" instruksi Jaemin.

Mereka yang masih shock, bergerak. Tangan-tangan gemetar menarik gorden-gorden abu-abu yang ada di setiap jendela, memutus pandangan dengan monster di luar. Wonbin dan Sohee berlari ke gerbong sebelah, memastikan pintu penghubung tertutup dan gordennya tertutup.

"MATIKAN LAMPU! APA PUN YANG BERCACHAYA!" teriak Jimin.

...

1
tׁׁׅׅhׁׁׅׅ֮֮ɑׁׅᥣׁׅ֪ɑׁׅׅ
oalah👏👏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!