NovelToon NovelToon
Rebith: Gadis Beracun Kesayangan Bos Mafia.

Rebith: Gadis Beracun Kesayangan Bos Mafia.

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Mafia / Balas Dendam
Popularitas:10.8k
Nilai: 5
Nama Author: FT.Zira

Dikhianati... Kemudian dibunuh...

Siapa sangka, kematian menjadi awal bagi Lea La Bertha- seorang ahli racun- mengetahui kebenaran yang selama ini ditutupi sang kekasih.

Kehidupan kedua yang ia dapatkan membuat dirinya memilih jalan berbeda dengan bergabung dalam lingkaran dunia mafia.

"Jika aku memintamu membunuh seseorang, apa kau akan melakukannya?" Angkasa.

"Jadikan aku sebagai tangan kananmu. Maka, aku akan lakukan semua perintahmu tanpa terkecuali," Lea.

Dengan ingatan dari kehidupan sebelumnya yang ia bawa, Lea bertekad mengubah takdirnya. Tetapi ia tidak pernah menyangka, perubahan itu justru membuka rahasia besar dari kedua orang tuanya yang sudah tiada.

Lalu, bagaimana jika cinta hadir diantara mereka? Akankah Lea percaya pada 'Cinta'?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon FT.Zira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

6. Kembali ke kampus

"Sudah sampai, Nona."

Suara itu pelan, namun cukup untuk membuat Lea yang duduk di jok belakang tersentak. Ia menoleh, menatap gedung universitas tempat ia tercatat sebagai salah satu mahasiswi tingkat akhir di sana. Pandangannya beralih pada pria bertato yang duduk di belakang kemudi.

Wajah pria tanpa ekspresi, otot tubuhnya tercetak jelas melalui t-shirt yang dia kenakan, sangat tidak cocok dengan tugas sedang dia emban untuk mengantar Lea ke kampus saat ini.

Dia membalikan badan, mengulurkan satu tangannya. "Bos meminta saya untuk memberikan ini pada, Anda," ujarnya.

Lea menurunkan pandangan, menatap kartu hitam yang pria itu sodorkan. Pria yang ditugaskan oleh pamannya untuk melindunginya- paman yang baru saja ia temui sekaligus paman yang baru ia kenal-, dan antar-jemput ke kampus menjadi salah satu dari tugas pria itu.

"Siapa namamu?" tanya Lea.

"Markus, Nona," jawabnya.

Lea mengangguk, menerima kartu hitam yang disodorkan dan segera menyimpannya.

"Aku ada satu permintaan," ucap Lea kemudian.

"Katakan saja, Nona," sahut Markus.

"Bisakah kamu tidak bersikap formal padaku?" pinta Lea.

"Maaf, Nona. Saya tidak berani," tolak Markus sopan namun tegas.

Lea menghembuskan napas cepat, memasang topi baseball ke kepalanya sebelum membuka pintu mobil dan melangkah keluar.

"Nona." Markus turut membuka pintu mobil, lalu bergegas keluar.

Lea menoleh. "Ada apa?"

"Saya perlu menyimpan nomor ponsel Anda, begitu pula sebaliknya," kata Markus sopan.

Alis Lea sedikit terangkat. Wajah pria itu tampak garang, sikap kakunya sangat kontras dengan perwakan tubuh besarnya. Andai Lea belum mengenal Markus, ia akan berpikir jika Markus memiliki tempramen buruk dan pemarah. Tinggi Lea bahkan tidak mencapai bahu pria itu.

"Untuk berjaga-jaga, Nona," Markus menyambung cepat ucapannya setelah melihat reaksi Lea.

"Baiklah." Lea mengeluarkan ponsel dari saku celana, memberikannya pada Markus yang segera menyambutnya dan memasukkan nomor ponsel pribadinya ke ponsel Lea.

"Maaf jika saya lancang, Nona. Saya memasukkan nomor satu orang lagi yang bisa Anda hubungi jika Anda membutuhkan sesuatu. apapun yang Anda inginkan, dia akan siap membantu Anda 24jam," tutur Markus seraya mengembalikan ponsel Lea.

Lea hanya mengangguk singkat. Kini, di dalam ponselnya ia sudah menyimpan tiga nomor orang yang baru ia kenal selama 24jam, anehnya ia justru merasa itu bukanlah hal buruk meski ia tahu tiga orang yang ia simpan nomor ponselnya adalah orang-orang berbahaya.

"Saya akan datang menjemput sesuai jadwal yang Anda berikan," ucap Markus lagi.

Lea berbalik, membawa langkahnya memasuki gerbang kampus. Sementara Markus kembali masuk ke dalam mobilnya dan berlalu pergi.

.

.

.

Perubahan penampilan yang Lea lakukan berhasil menarik perhatian semua mata yang ia lewati saat Lea berjalan di koridor menuju ruang kelasnya.

Tidak ada lagi Lea berpenampilan feminim dengan dress selutut dan rambut terurai. Tidak ada lagi Lea yang berjalan sambil tersipu mendengar pujian manis dari teman-temannya setiap kali berjalan di koridor. Kini, hanya ada Lea berwajah datar yang berpenampilan layaknya pria dengan jaket hoodie dan rambut terikat yang tertutup topi.

Tatapan dingin yang Lea berikan bahkan mampu membuat beberapa teman pria yang selama ini selalu berada di sekitar Sania mengatup rapat bibir mereka setelah merasakan betapa dinginnya tatapan Lea terhadap mereka.

"Le ...a?"

Waktu seakan berhenti berjalan. Suara pelan itu membuat wajah Lea yang semula menunduk membaca buku terangkat, kemudian membeku saat netranya menemukan sosok sahabatnya yang di kehidupan sebelumnya selalu ada untuknya.

"Thalia ..."

Bibir Lea bergetar saat menyebut nama sang sahabat. Gadis berkulit kuning langsat dengan rambut hitam pekat diikat dua dan berkacamata. Satu-satunya orang yang senantiasa menemani dirinya saat ia disibukkan dengan pekerjaan lab, bahkan rela mendampingi dirinya tidak tidur beberapa hari hanya demi penelitiaan yang diklaim Samuel sebagai miliknya. Namun, kebersamaan mereka berakhir sejak Thalia gagal diselamatkan saat terjadi kecelakaan besar di lab.

Cekatan, memiliki daya ingat tinggi dan cantik, itulah sosok Thalia, meski saat ini kecantikan itu masih tertutup dengan penampilan sederhana yang Thalia miliki.

"Ada apa denganmu?" dahi Thalia berkerut tajam, menempelkan punggung tangannya di dahi sahabatnya untuk memastikan sesuatu.

"Kamu demam? Tapi tidak panas," ucapnya seraya menempelkan punggung tangan ke dahinya sendiri untuk membandingkan. "Atau salah minum obat?"

"Penampilanmu hari ini ... kamu mau cosplay dimana? Berperan menjadi preman? Atau anak brandalan?" cecar Thalia tanpa filter.

Lea meletakkan satu tangannya di wajah, berusaha menahan tawa sekaligus menyembunyikan perasaan lega bisa melihat sahabatnya kembali.

"Apakah aku terlihat buruk, Lia?" Lea balas bertanya, satu alisnya terangkat.

"Bukan terlihat buruk," desah Thalia segera duduk di kursi yang berada di depan meja sahabatnya. "Jujur saja, kamu terlihat keren. Tapi ..." pandangan Thalia mengamati Lea dari atas sampai bawah.

"Tapi pria idamanmu itu tidak akan menyukai penampilanmu yang seperti ini. Dia lebih menyukai kau menjadi boneka barbie-nya," kata Thalia mengingatkan, setengah mencibir.

"Apa hubungannya penampilanku dengan apa yang dia suka dan tidak dia suka?" Lea balas bertanya.

Dahi Thalia berkerut tipis, kembali menempelkan punggung tangannya di dahi sahabatnya, namun semua tetap sama. Suhu tubuh sahabatnya normal

"Apa kamu yakin baik-baik saja, Lea? Atau kepalamu terbentur sesuatu?" tanya Thalia lagi. "Bukankah kamu sangat mengilai-nya? Kau yang seorang bucin akut tiba-tiba berbicara seperti ini membuatku bertanya-tanya apakah kau Lea atau bukan."

Lea tersenyum, menurunkan tangan Thalia dari dahinya. Wajar jika sahabatnya terkejut dengan perubahan sikapnya saat ini, itu karena di kehidupan sebelumnya ia sangat menjaga penampilan demi menyenangkan pria yang ia suka. Thalia juga pernah mengingatkan dirinya untuk tidak terlalu mempercayai Samuel, tapi otak bucinnya mengalahkan logika yang ia miliki, membuat dirinya buta dengan apa yang ada di depan mata.

"Aku sangat baik, bahkan jauh jauh lebih baik dari sebelumnya," jawab Lea.

"Tapi penampilanmu-..."

"Aku hanya sedang bosan dan ingin ganti penampilan," potong Lea cepat.

Thalia mendesah pelan, masih setengah tidak percaya dengan perubahan tiba-tiba sahabatnya. "Siap-siap saja, Sania akan berbicara sepanjang kereta saat melihatmu seperti ini."

"Biarkan saja." Lea mengangkat bahunya tak acuh. "Kali ini aku janji, tidak akan ada lagi Lea si boneka. Jika aku kembali ke sikapku yang dulu, tampar aku sekeras mungkin."

"Aku pegang kata-katamu," ucap Thalia dengan wajah serius dan satu jari teracung tepat di depan wajah Lea. "Aku tidak peduli apa yang terjadi, tapi aku senang melihatnya berubah," lanjut Thalia dalam hati.

"Kamu bisa pegang kata-kataku," sahut Lea dengan tekad.

Sayangnya, ketenangan itu tak bertahan lama ketika tiba-tiba suara seseorang menyela percakapan mereka. Bukan dengan nada heran, tetapi murka yang ditahan.

. . . .

. . . .

To be continued..

1
j4v4n3s w0m3n
lanjut ahhhh seruuu jgn lama kak upnya🤭👍
vania larasati
lanjut
Zhu Yun💫
Makanya jangan mata keranjang 🤣🤣🤣
Zhu Yun💫
Angkasa kebakaran jenggot nggak tuh ntar kalau lihat ini 🤭🤭🤭
Zhu Yun💫
Yah jiwa kepo Vito meronta-ronta 🤭🤭🤣🤣
Dewi Payang
Akupun akan bereaksi sama jika jadi Thalia😂
Dewi Payang
Mantap Lea👍🏻
🌸Sakura🌸
wow
Zenun
Vito sangat mudah dijebak karena dia pemain wanita
j4v4n3s w0m3n
rayuan mematikan bener bener lea ngeri ngeri sedep🤣🤭👍
aku
si Lea ngeri2 sedep 🙄🙄
vania larasati
lanjut
Zhu Yun💫
Yakin akan melepasnya pergi nih 🤧🤧🤧 nanti anu loh 🤣🤣🤣
Zhu Yun💫
Rugi kalau nggak bawa ke ranjang duluan, nanti nyesel loh 🤣🤣🤣🔥🔥🔥
〈⎳ FT. Zira: jangan ada anu dulu diantara kita🤧🤧
total 1 replies
Zhu Yun💫
Yang ada burung mu siap-siap dipotong iya 🤣🤣🤣
〈⎳ FT. Zira: hilanglah masa depan😭
total 1 replies
Zhu Yun💫
Angkasa mengalami reinkarnasi juga kah... /Slight//Slight//Slight//Slight/
〈⎳ FT. Zira: entahlah🤣🤣
total 1 replies
Zhu Yun💫
Kalau ingin naik ke atas ranjangmu dikasih ijin nggak 🤭🤭🤣🤣🤣
Zhu Yun💫
Maklum, Lea pengen ngintip kamu mandi 🤣🤣🤣✌️
Zhu Yun💫
Ya itu kan modusnya Angkasa juga 🤣🤣🤣
Zenun
hayolooo, nanti Lea dilirik sama bos lain
〈⎳ FT. Zira: hayolooo🤣
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!