Di tengah kemegahan Klan Naga Api, Ren hanyalah aib dan sampah masyarakat. Dilahirkan dengan meridian yang tertutup rapat, ia dianggap tidak memiliki bakat sama sekali. Hinaan, pukulan, dan pengkhianatan menjadi makanan sehari-harinya, hingga akhirnya ia diusir dengan kejam dari klannya sendiri, dibiarkan mati di alam liar.
Namun, takdir memiliki rencana lain. Di ambang kematian, darah nenek moyang yang terpendam di dalam tubuhnya akhirnya berdenyut. Meridian yang dianggap cacat itu ternyata adalah Ruang Suci Naga, tempat bersemayamnya kekuatan purba yang telah tertidur ribuan tahun!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ichsan Ramadhan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 24: Kekuatan Pecah Gelombang Qi yang Mengguncang Bumi
Sejak ikatan batin itu terbentuk, dunia di mata Ren dan Xue Ying seolah berubah total. Segalanya terasa lebih tajam, lebih jelas, dan lebih hidup. Angin yang bertiup, suara serangga malam, hingga detak jantung satu sama lain, semuanya terhubung dalam satu kesadaran besar.
Namun, keajaiban itu belum berhenti di sana. Justru, itu hanyalah pemicu bagi sesuatu yang jauh lebih besar.
Di dalam tubuh Ren, Batu Prasejarah Pencipta Alam yang tadinya hanya berdenyut tenang, kini bergetar hebat seolah gembira menemukan pasangan yang tepat. Cahaya keemasan memancar dari celah-celah batu itu, menyebar ke seluruh pembuluh darah, membawa serta energi yang telah disimpan ribuan tahun lamanya.
Energi itu mengalir deras, melintasi ikatan batin yang baru terbentuk, masuk ke dalam tubuh Xue Ying, lalu berputar kembali ke tubuh Ren dengan kemurnian dan kekuatan yang berlipat ganda. Siklus itu berputar semakin cepat, semakin kencang, hingga kedua tubuh mereka menjadi seperti bejana yang penuh sesak, hampir meluap tidak mampu lagi menampungnya.
"Ren... aku... aku tidak bisa menahannya lagi..." rintih Xue Ying pelan. Wajahnya memerah padam, bukan karena malu, melainkan karena tekanan energi yang luar biasa besar yang memenuhi setiap sel tubuhnya. Meridian-meridiannya terasa melebar dan terbakar oleh arus kekuatan yang begitu murni dan dahsyat.
Ren sendiri pun sama. Keringat bercucuran di dahinya. Ia merasa seolah ada gunung berapi yang hendak meletus di dalam dadanya. Tulang-tulangnya bergetar, dan kulitnya bersinar terang hingga menerangi radius puluhan meter di sekitar mereka.
"Aku juga merasakannya, Xue Ying! Kekuatan ini... terlalu besar! Ini bukan sekadar kenaikan level biasa..." Ren berusaha menstabilkan napasnya, namun udara di sekitar mereka mulai berputar kacau, terbentuk pusaran angin yang menarik dedaunan dan debu ke arah tubuh mereka.
Biarkan saja, cucuku! Jangan ditahan! Suara Leluhur Naga Emas bergema menggelegar, penuh semangat dan kegembiraan. Inilah dampak dari Ikatan Batin ditambah kekuatan Batu Prasejarah! Kalian berdua sedang melewati ambang batas yang tidak bisa dicapai oleh orang biasa! Lepaskan semuanya! Biarkan kekuatan itu meledak keluar!
Ini adalah... Pemecahan Batas Diri! Sebuah lompatan besar yang akan mengubah kalian menjadi makhluk yang jauh melampaui manusia biasa!
Mendengar itu, Ren mengangkat wajahnya menatap kekasihnya. Di mata mereka, kilatan cahaya emas dan putih saling bertautan. Tanpa perlu bicara, tanpa perlu isyarat, mereka saling mengerti. Detak jantung mereka berpacu serempak, seolah menjadi satu mesin raksasa yang menyuplai tenaga tak terbatas.
"Xue Ying... ikuti aku! Lepaskan segalanya!" teriak Ren dengan suara menggelegar.
"Siap! Bersama-sama!" jawab Xue Ying tegas.
Mereka berdua mengangkat tangan ke langit, kepala mendongak ke atas, dan mulut mereka terbuka serentak.
"HAAAAAAHHHHHH!!!!"
Dua suara teriakan menyatu menjadi satu ledakan dahsyat!
DODODODODORRRR!!!
Seketika itu juga, cahaya keemasan dan putih bersih meledak keluar dari tubuh mereka! Gelombang energi raksasa, yang disebut Gelombang Qi, menyebar ke segala arah dengan kecepatan kilat!
Tanah di bawah kaki mereka retak-retak membentuk jaringan raksasa yang menjalar hingga ratusan meter jauhnya. Pepohonan besar di sekelilingnya tercabut hingga akar-akarnya, terlempar ke luar seolah tertiup badai terkuat. Bukit kecil tempat mereka berdiri bergetar hebat, seolah terjadi gempa bumi berkekuatan besar!
Di langit, awan-awan malam yang tadinya tenang tersobek dan berputar kacau. Cahaya yang dipancarkan tubuh mereka begitu terang hingga membuat bintang-bintang di langit tampak redup di sebelahnya. Penduduk desa di puluhan kilometer jauhnya terbangun kaget, mengira matahari terbit di tengah malam.
Di dalam badai energi itu, sosok Ren dan Xue Ying melayang perlahan naik ke udara.
Di belakang Ren, bayangan raksasa seekor Naga Emas muncul, mengaum ke langit, memancarkan wibawa penguasa segala makhluk. Sisik-sisiknya berkilau, cakarnya tajam, dan matanya menyala api kebijaksanaan kuno.
Di belakang Xue Ying, muncul bayangan seekor Burung Hong Putih yang megah dan indah. Bulu-bulunya bersinar putih bersih, sayapnya mengepak lembut namun menciptakan angin penyucian, dan suaranya merdu namun menggetarkan hati.
Naga dan Hong... Dua makhluk paling agung dalam legenda, kini muncul berdampingan, menyatu dalam dua jiwa muda itu.
Ini bukan sekadar kenaikan tingkatan kultivasi. Ini adalah kebangkitan darah murni, panggilan warisan leluhur, dan penegasan takdir mereka di dunia ini.
Energi yang tadinya liar dan tak terkendali, perlahan mereda dan kembali masuk ke dalam tubuh mereka, namun kali ini jauh lebih padat, lebih murni, dan lebih terstruktur.
Tingkat kekuatan Ren yang tadinya berada di ambang Penduduk Bumi, kini melonjak melewati batas itu dengan mudah, terus naik hingga mencapai Puncak Penduduk Bumi, dan bahkan menyentuh ambang batas menuju tingkatan yang lebih tinggi lagi: Penakluk Langit!
Sementara itu, Xue Ying yang tadinya hanya selangkah di belakang Ren, kini telah menyamai bahkan setara dengannya. Kekuatan yang dulunya ia butuhkan bertahun-tahun untuk dicapai, kini ia miliki dalam sekejap mata, berkat ikatan dan aliran energi dari Batu Prasejarah.
Mereka berdua perlahan turun kembali ke tanah yang kini sudah rata dan berubah bentuk akibat ledakan tadi.
Hening kembali menyelimuti malam. Hanya tersisa suara napas teratur mereka dan suara debu yang jatuh perlahan ke tanah.
Ren membuka matanya. Dua sinar cahaya emas melesat keluar dan menghilang. Ia menatap tangannya sendiri, merasakan kekuatan yang melimpah ruah di setiap ujung jarinya. Ia merasa bisa merobek kain langit atau membelah gunung hanya dengan satu gerakan tangan saja.
Xue Ying di sampingnya juga sama terpukau. Ia menggerakkan jemarinya, dan seketika itu juga, udara di depannya terbelah, memunculkan celah-celah angin tajam yang berkilau.
"Ren..." suara Xue Ying bergetar takjub. Ia menoleh ke arah kekasihnya, matanya berbinar terang. "Kita... kita berubah. Kita menjadi jauh lebih kuat dari yang kubayangkan sebelumnya."
Ren mengangguk pelan, lalu tersenyum lebar. Ia melangkah mendekat, rasanya tubuhnya sangat ringan seolah tidak punya beban.
"Ya, Xue Ying. Gelombang Qi tadi... aku merasakan sendiri bagaimana bumi ini berguncang karena kekuatan kita. Kita baru saja menembus batas yang dianggap mustahil oleh pendekar biasa."
Ren menunduk menatap tanah yang retak-retak luas di sekeliling mereka.
"Dan ini baru permulaan. Kalau begini kekuatan kita sekarang... aku tidak bisa membayangkan seberapa dahsyatnya kita nanti saat mencapai puncak sejati."
Tiba-tiba, kesadaran Ren menangkap sesuatu. Jangkauan indranya kini melebar hingga ratusan li jauhnya. Ia bisa mendengar percakapan orang di desa jauh, ia bisa merasakan keberadaan makhluk hidup di hutan belantara, dan ia juga bisa merasakan... bahaya yang mendekat dengan cepat.
Ren mengerutkan kening, senyumnya perlahan menghilang, digantikan oleh tatapan tajam dan dingin.
"Xue Ying..."
"Apa, Ren? Kau merasakan mereka?" Xue Ying pun langsung sadar. Karena ikatan batin, apa yang dirasakan Ren, dirasakan juga olehnya.
"Ya," Ren mengangguk, matanya menatap tajam ke arah selatan, ke arah asal kedatangan angin malam yang dingin dan berbau darah itu. "Pasukan Pemburu Bayangan yang dikirim kakekku... mereka sudah dekat. Hanya tinggal beberapa kilometer lagi dari sini."
Ren mengepalkan tangannya. Kekuatan baru yang meluap-luap di tubuhnya seolah meminta jalan keluar, meminta untuk diuji, dan meminta untuk menaklukkan musuh.
Ia menoleh ke arah Xue Ying, tatapannya penuh keyakinan dan keberanian.
"Mereka datang tepat waktu. Baru saja kekuatan kita meledak dan bertambah besar... sekarang ada yang mau jadi kelinci percobaan."
Xue Ying tersenyum miring, senyum seorang pendekar wanita yang percaya diri dan ganas. Ia mengelus gagang pedangnya, dan seketika itu juga, pedang itu keluar dari sarungnya setengah jalan, memancarkan cahaya putih dingin yang tajam.
"Pas sekali. Aku juga ingin tahu... seberapa kuat kita sekarang. Dan aku ingin tahu... apakah mereka masih berani menganggap kita sampah setelah melihat kekuatan yang baru saja mengguncang bumi ini."
Ren tertawa lepas, tawa yang megah dan menantang. Ia mengangkat tangan kanannya, dan di telapak tangannya, api emas berkobar hidup, panas namun tidak membakar, agung dan menakutkan.
"Biarkan mereka datang. Biarkan mereka membawa semua kejahatan dan niat membunuh dari Klan Naga Api itu."
Ren melangkah maju satu langkah, dan di belakangnya, bayangan Naga Emas samar-samar kembali muncul, mengaum ke arah selatan seolah menantang siapa saja yang berani melangkah masuk ke wilayahnya.
"Karena malam ini... kita akan memberi mereka pelajaran pertama. Bahwa mencoba menyakiti kita... adalah kesalahan terbesar dalam hidup mereka."
"Dan malam ini juga... kita akan membuat bumi ini berguncang lagi. Kali ini... dengan darah musuh kita!"
Angin malam berhembus kencang lagi, namun kali ini membawa hawa perang yang panas dan tak terelakkan. Di atas bukit yang berubah wajah itu, dua sosok muda berdiri tegak, kekuatan mereka meluap-luap, siap menyambut badai yang datang.
Mereka bukan lagi anak-anak yang lemah yang harus bersembunyi atau lari. Mereka kini adalah raja-raja muda yang baru saja bangkit, membawa kekuatan yang cukup untuk mengguncang seluruh benua.
.🙏🏾🙏🏾🙏🏾 maafkan saya sedikit sok tau🤭