Di tengah puing-puing yang membara, takdir mempertemukan Rangga dengan sosok misterius, Pertapa Gila Tanpa Tanding. Sang pertapa bukanlah orang sembarangan; di balik pakaian compang-camping dan tawa yang nyeleneh, ia adalah pemegang rahasia Pedang Naga Emas Seribu Langit, pusaka sakti yang konon mampu membelah awan dan menggetarkan bumi. Rangga kemudian dibawa ke lereng Gunung Kerinci yang berselimut kabut, sebuah tempat terpencil di mana waktu seolah berhenti berputar.
Selama lima belas tahun, Rangga dididik dengan keras di bawah gemblengan sang Pertapa Gila. Ia tidak hanya belajar olah kanuragan dan ilmu meringankan tubuh yang membuat gerakannya seringan kapas, tetapi juga ditempa secara spiritual untuk mengendalikan api dendam yang membara di dadanya. Sang pertapa mengajarkan bahwa kekuatan sejati bukan terletak pada tajamnya bilah pedang, melainkan pada kemampuan hati untuk tetap tegak di jalan kebenaran. Rangga tumbuh menjadi pemuda yang gagah perkasa..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Idwan Virca84, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 6: Darah di Ambang Maut dan Murka Sang Naga
Langit fajar di atas Perguruan Melati Putih tidak berwarna biru, melainkan kelabu pekat tertutup asap hitam. Bau belerang dan amis darah menyeruak di antara harum bunga melati yang kini layu terinjak-injak sepatu lars para penjagal. Jerit pekik kematian bersahutan dengan denting senjata yang memekakkan telinga.
Rangga Nata, yang masih mengenakan baju compang-camping penyamarannya, berkelebat bagaikan bayangan di antara kerumunan musuh. Namun, langkahnya terhenti saat matanya menangkap pemandangan yang menghancurkan hatinya.
Di tengah halaman utama, tiga sosok pendekar kawakan aliran putih—tokoh-tokoh tua yang setia membela kebenaran di tanah Andalas—tergeletak tak bernyawa. Dada mereka koyak mengerikan, meninggalkan bekas lima lubang hitam yang menghanguskan daging.
"Cakar Macan Mengincar Mangsa..." desis Rangga dengan rahang mengeras. Ia mengenali bekas luka itu. Itu adalah ilmu simpanan Macan Hitam yang sanggup menghancurkan jantung hanya dengan satu sentuhan.
"Rangga! Awas!" sebuah teriakan parau menyentaknya.
Rangga menoleh dan membelalak. Di dekat gerbang aula, Dewi Melati tampak bersandar lemah pada tiang kayu yang retak. Wajahnya pucat pasi, kebiruan di sekitar bibir. Di sampingnya, Selasih jatuh berlutut sambil memegangi dadanya. Napas gadis itu tersengal, dan dari sudut bibirnya mengalir darah hitam yang kental.
"Guru! Selasih!" Rangga melesat, tak lagi peduli pada penyamarannya. Ia menyambar tubuh Selasih sebelum gadis itu tersungkur ke tanah.
"Jangan... mendekat, Rangga..." rintih Selasih, suaranya nyaris hilang. "Pukulan mereka... mengandung racun... Ular Bangkai..."
Di depan mereka, berdiri dua sosok yang memancarkan aura kematian. Si Topeng Perak dengan tangan yang masih mengepulkan uap dingin, dan di sampingnya, seorang nenek tua bungkuk dengan rambut putih gimbal yang memegang tongkat berkepala tengkorak monyet. Dialah Nini Suro, tokoh hitam ahli racun yang paling dihindari di tanah Andalas.
"Ha ha ha! Lihatlah si pengemis gila ini, ternyata dia punya nyali juga mendekati mangsaku!" tawa Nini Suro melengking, memuakkan telinga.
"Pukulan Tapak Arwah milik Penasihat dan racun Jarun Perindu milikku tidak ada obatnya, Bocah! Sebentar lagi, melati-melati ini akan busuk!"
"Keparat kalian...!" suara Rangga bergetar hebat. Rasa sesal menghujam jantungnya. Jika saja ia tidak terlalu lama bermain sandiwara di Sungai Ular, mungkin ketiga pendekar tua itu masih hidup. Mungkin Dewi Melati dan Selasih tidak akan sekarat seperti ini.
"Habisi dia, Penasihat! Aku ingin melihat bagaimana pengemis ini mati bergetar!" perintah Macan Hitam yang muncul dari balik asap, tertawa jemawa melihat kehancuran di depannya.
Si Topeng Perak melesat maju. Gerakannya seperti hantu, tangan pucatnya mengincar ubun-ubun Rangga dengan pengerahan tenaga dalam penuh.
"Mati kau!"
Namun, kali ini mereka tidak menghadapi pengemis gila yang konyol.
"HIYAAAAA!"
Rangga bangkit. Sebuah ledakan tenaga dalam murni meluap dari tubuhnya, menghempaskan debu dan puing di sekitarnya. Tangan kanannya bergerak ke punggung secepat kilat.
Sringggg!
Cahaya emas yang luar biasa terang membelah asap hitam. Pedang Naga Emas Seribu Langit akhirnya menunjukkan wujud aslinya. Udara di halaman perguruan mendadak terasa panas membara, menetralisir hawa dingin yang dibawa si Topeng Perak.
"Jurus Naga Menebas Badai!"
Rangga berputar secepat gasing. Bilah pedang emasnya membentuk lingkaran cahaya yang menyilaukan.
Trang! Crab!
"Aaakh!"
Si Topeng Perak menjerit nyaring. Meskipun ia sempat menangkis dengan tangan bajunya yang berisi pelat baja, ketajaman Pedang Naga Emas tak tertahankan. Dada si Topeng Perak tertebas silang, merobek jubah hitamnya dan memuncratkan darah. Topeng peraknya terbelah dua, menunjukkan wajah yang hancur mengerikan.
"Ilmu apa ini?!" Macan Hitam terkejut bukan main. Ia melihat penasihat saktinya terpental jauh dengan luka menganga.
Rangga hendak merangsek maju untuk menghabisi si Topeng Perak, namun rintihan Dewi Melati kembali terdengar.
"Uhuk... Rangga... selamatkan... murid-murid..."
Rangga tertahan. Ia menoleh ke arah Dewi Melati dan Selasih yang mulai kehilangan kesadaran. Racun Nini Suro bekerja sangat cepat. Jika ia mengejar Macan Hitam sekarang, kedua wanita itu pasti akan tewas dalam hitungan menit.
"Bangsat kau, Macan! Hari ini kau lolos!" teriak Rangga penuh amarah.
Macan Hitam, yang menyadari bahwa pemuda di depannya adalah murid Pertapa Gila yang memiliki senjata pusaka sakti, segera berubah pikiran. Ia melihat si Topeng Perak terkapar tak berdaya.
"Nini Suro! Bawa Penasihat! Kita mundur sekarang!" perintah Macan Hitam.
Dengan cepat, Macan Hitam menyambar tubuh si Topeng Perak, sementara Nini Suro melemparkan beberapa butir bom asap beracun ke arah Rangga untuk menghalangi pengejaran.
Bluar! Bluar!
Asap hijau pekat menutupi pandangan. Saat asap itu menipis, Macan Hitam dan sisa gerombolannya telah melarikan diri menuju hutan, meninggalkan kehancuran di Perguruan Melati Putih.
Rangga tidak mengejar. Ia segera berlutut di antara Dewi Melati dan Selasih. Tangannya bergerak cepat menotok beberapa jalan darah di tubuh mereka untuk menghambat laju racun.
"Maafkan aku... maafkan aku karena terlambat," bisik Rangga pilu. Air matanya menetes saat melihat Selasih yang sudah tak sadarkan diri di pelukannya.
Ia segera mengeluarkan botol kecil berisi cairan bening pemberian gurunya—obat penawar racun tingkat tinggi. Namun, ia tahu racun Nini Suro bukan racun sembarangan. Ia harus mengerahkan tenaga dalamnya untuk membantu mereka bertahan hidup.
Di tengah halaman yang porak-poranda, di antara jasad para pendekar yang gugur, Pendekar Naga bersumpah dalam hati. Kali ini, tidak akan ada lagi sandiwara. Macan Hitam harus membayar setiap tetes darah yang tumpah di bumi Andalas ini dengan nyawanya sendiri.
Bersambung...