Raisa anak kedua dari keluarga dengan ibu tunggal bernama Sri, Sri telah lama menjadi tulang punggung keluarga setelah suami nya meninggal saat Raisa masih kecil.
Kakak nya yang lebih tua bernama Ratna menikah dengan Rio dari keluarga yang berada.
masalah muncuk ketika Ratna dan Rio yang sudah lima tahun menikah masih belum juga memiliki keturunan karna kesuburan Ratna kurang,, tekanan yang di berikan keluarga Rio membuat Ratna memiliki niat untuk membuat Raisa hamil anak suami nya ..
Niatan itu di ungkap kan Ratna kepada ibu dan adik nya walau pun tanpa sepengetahuan suami nya sendiri..
Apa yang harus di lakukan Raisa untuk bisa membantu kesulitan Ratna kakak nya,, Apa dia akan menerima nya dan setuju menjadi pelakor apa menolak nya..?
Jangan lewatkan cerita nya untuk mengetahui kelanjutan nya🥰🥰
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti_1234, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPISODE 6: "PERAWATAN DAN PERJUANGAN"
*****
Sinaran matahari pagi menerangi kamar perawatan di rumah sakit tempat Ratna sedang menjalani tahap pertama dari perawatan baru yang disarankan oleh Dokter Arif. Dia berbaring di ranjang dengan wajah yang sedikit pucat namun penuh dengan harapan. Rio sedang duduk di sisi ranjangnya dengan tangan yang menggenggam erat tangan istri nya, sementara Raisa dan Sri Wahyuni berada di dekatnya dengan wadah makanan yang sudah disiapkan.
“Bagaimana perasaanmu sekarang, sayang?” tanya Rio dengan suara lembut.
“Cukup baik saja,” jawab Ratna dengan senyuman lembut. “Hanya saja sedikit merasa lelah dan mual kadang-kadang menyerang.”
Dokter Arif masuk ke kamar dengan wajah yang ramah dan profesional. “Halo, Ratna,” ucapnya dengan senyuman hangat. “Bagaimana perasaanmu hari ini? Apakah ada keluhan khusus yang ingin kamu sampaikan?”
“Tidak ada yang terlalu serius, Dokter,” jawab Ratna dengan lembut. “Hanya saja seperti yang aku bilang tadi, aku merasa sedikit lelah dan kadang-kadang merasakan mual.”
Dokter Arif mengangguk perlahan sambil melihat rekam medis istri Rio. “Itu adalah efek samping yang normal dari perawatan ini. Jangan khawatir terlalu banyak ya. Yang penting kamu cukup istirahat dan mengonsumsi makanan yang bergizi agar tubuhmu bisa menangani perawatan dengan baik.”
Dia kemudian melihat ke arah Rio dan Raisa dengan wajah yang lebih serius. “Untuk keluarga juga perlu bersiap secara emosional. Perawatan ini akan berlangsung beberapa minggu kedepan, dan mungkin ada masa-masa yang sulit. Tetapi dengan dukungan yang baik, Ratna memiliki peluang besar untuk sembuh.”
Rio mengangguk dengan mata yang sedikit berkaca-kaca. “Kami akan selalu ada di sini untuknya, Dokter. Segala yang bisa kami lakukan untuk membantu, kami akan lakukan.”
Setelah Dokter Arif keluar, Sri Wahyuni meletakkan wadah makanan di atas meja sisi ranjang. “Aku bikin bubur ayam dan sup bayam seperti yang kamu suka, Nak,” ucapnya dengan suara penuh kasih. “Coba makan sedikit saja ya, agar tubuhmu kuat.”
Ratna mengangguk dan mencoba untuk duduk dengan bantuan Rio. Raisa mengambil sendok dan mulai memberi makan kakaknya dengan hati-hati. “Kakak harus makan banyak ya,” ujar Raisa dengan nada lembut. “Nanti kamu bisa cepat sembuh dan kita bisa pulang bersama.”
Sementara itu, di kantor PT. Pratama Properti yang terletak di pusat kota Semarang, suasana terasa lebih tegang dari biasanya. Bapak Darmawan sedang berkumpul dengan beberapa anggota dewan direksi di ruang rapat. Di depan mereka terpampang laporan keuangan perusahaan yang menunjukkan tren penurunan pendapatan selama tiga bulan terakhir.
“Situasi ini tidak bisa dibiarkan terus seperti ini,” ucap Bapak Darmawan dengan suara tegas. “Proyek perumahan di kawasan baru kita mengalami hambatan karena masalah izin, sementara penjualan unit yang sudah jadi juga melambat.”
Pak Hendra, Direktur Operasional, menghela nafas panjang. “Kita sudah melakukan berbagai upaya, Pak. Mulai dari promosi hingga penyesuaian harga, tetapi permintaan masih rendah. Selain itu, beberapa kontraktor juga mulai menuntut pembayaran yang tertunda.”
Bapak Darmawan menggaruk kepalanya dengan cemas. Dia tahu bahwa masalah keuangan ini tidak hanya akan berdampak pada perusahaan, tetapi juga pada masa depan keluarga—terutama dengan biaya perawatan Ratna yang tidak sedikit. “Kita harus menemukan solusi cepat. Apakah ada ide lain yang bisa kita usulkan?”
Pak Sudarto, Direktur Keuangan, maju dengan sebuah proposal. “Saya telah melakukan analisis dan melihat bahwa kita bisa menjalin kemitraan dengan perusahaan konstruksi besar dari Jakarta. Mereka memiliki akses ke sumber daya yang lebih banyak dan bisa membantu kita menyelesaikan proyek yang terhambat. Tentunya dengan pembagian keuntungan yang adil.”
Sebelum diskusi bisa melanjutkan, telepon Bapak Darmawan berbunyi. Dia melihat layar dan langsung menjawab—adalah Rio yang menelepon dari rumah sakit.
“Pak, ada kabar tentang hasil tes darah Ratna yang baru keluar,” ujar Rio dengan suara sedikit gemetar. “Dokter Arif bilang bahwa respons tubuhnya terhadap perawatan cukup baik. Beberapa indikator sudah menunjukkan perbaikan.”
Rasa lega langsung melintas di wajah Bapak Darmawan. “Alhamdulillah, Rio. Beritahu Ratna agar dia tidak menyerah ya. Kita semua berdoa untuknya.”
Setelah memutus panggilan, Bapak Darmawan melihat ke arah seluruh anggota dewan direksi. “Kita memiliki alasan lebih kuat untuk mengatasi masalah perusahaan ini. Keluarga kita sedang berjuang, dan kita harus memastikan bahwa perusahaan tetap kuat untuk mendukung mereka.”
Mereka sepakat untuk segera menghubungi perusahaan konstruksi yang diusulkan dan menyusun proposal kemitraan secara detail. Selain itu, mereka juga akan melakukan evaluasi ulang terhadap strategi pemasaran dan mengoptimalkan penggunaan sumber daya yang ada.
Kembali ke rumah sakit, sore hari telah menjelang. Ratna sudah selesai makan dan sedang beristirahat dengan kepala dinaikkan. Rio masih berada di sisi ranjangnya, sedang membaca berita dari ponselnya ketika tiba-tiba ada kunjungan tak terduga.
“Pak Budi?” terkejut Rio saat melihat bosnya masuk ke kamar bersama seorang wanita yang mengenakan jas biru.
“Maaf ya kalau mengganggu,” ucap Pak Budi dengan senyuman ramah. “Kami baru saja selesai rapat di gedung sebelah dan ingin mampir mengunjungi Ratna.”
Wanita bersamanya mengeluarkan sebuah keranjang bunga dan sebuah tas berisi makanan sehat. “Saya adalah Rina, sekutu hukum perusahaan,” ucapnya dengan senyuman hangat. “Kami mendengar kabar tentang ibu dan ingin memberikan dukungan kecil.”
Ratna bangkit sedikit dan memberikan senyuman terima kasih. “Terima kasih banyak atas kunjungannya, Pak Budi, Bu Rina. Ini sangat berarti bagi saya.”
“Kita semua berdoa untuk kesembuhanmu, Ratna,” ucap Pak Budi. “Dan jangan khawatir tentang pekerjaanmu ya. Tempatmu di perusahaan tetap ada, dan kita akan memberikan dukungan apa pun yang kamu butuhkan.”
Setelah Pak Budi dan Bu Rina pergi, malam mulai tiba. Raisa dan Sri Wahyuni sudah kembali ke rumah untuk merapikan hal-hal dan menyiapkan makanan untuk besok hari. Rio tetap menemani Ratna, menggenggam tangannya sambil bercerita tentang rencana mereka setelah dia sembuh—mulai dari liburan ke tempat wisata yang mereka idamkan hingga merencanakan masa depan anak mereka yang belum lahir.
“Kamu tahu kan, sayang,” ucap Ratna dengan suara lembut. “Saya merasa sangat bersyukur memiliki kamu semua. Dukungan kalian adalah kekuatan saya untuk terus berjuang.”
Rio mencium dahinya dengan lembut. “Kita adalah keluarga, Ratna. Kita akan melewati semua ini bersama. Tidak ada yang bisa memisahkan kita.”
Di luar jendela kamar perawatan, bulan mulai muncul di langit yang semakin gelap. Cahaya lembutnya menerangi kamar, seolah menjadi simbol harapan bahwa masa sulit yang mereka alami akan segera berlalu, digantikan oleh hari-hari yang lebih cerah dan penuh kebahagiaan.
......................
...****************...
...----------------...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...