NovelToon NovelToon
Istri Culun Sang CEO: Kebangkitan Sang Ratu Panggung

Istri Culun Sang CEO: Kebangkitan Sang Ratu Panggung

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Reinkarnasi / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:10.3k
Nilai: 5
Nama Author: Eireyynezkim

Dulu, ia adalah Thalia Alexandria—artis papan atas yang hidup dalam sorotan, dipuja dan dielu-elukan oleh jutaan penggemar. Namun, satu malam mengubah segalanya ketika ia ditemukan tak bernyawa di apartemennya sendiri. Saat membuka mata, dunia yang ia kenal telah lenyap. Ia bukan lagi sang bintang gemerlap, melainkan Thalia Anderson—gadis culun, pemalu, dan dipandang rendah oleh keluarganya sendiri. Lebih mengejutkan lagi, ia telah terikat pernikahan dengan Aiden Hugo Maverick, CEO muda yang dingin, kejam, dan sama sekali tidak mencintainya.

Dihina oleh ibu tiri, disakiti saudara tiri, dan dipermalukan di lingkungan kampus, hidup barunya terasa seperti neraka. Namun, mereka semua tak menyadari satu hal—di balik penampilan polos itu, tersembunyi jiwa seorang ratu panggung yang tak mudah ditaklukkan. Dengan tekad membara, Thalia berjanji akan membalikkan keadaan. Termasuk menaklukkan hati sang CEO yang dingin.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eireyynezkim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

19

Backstage studio televisi terasa seperti jantung yang berdetak kencang. Kru berlari kecil sambil membawa kabel dan talkback, makeup artist menepuk-nepuk spons pada pipi para peserta, sementara monitor di dinding memutar countdown menuju siaran langsung. Di salah satu sudut, Thalia duduk tegap di depan meja rias, rambutnya disisir rapi bergelombang ringan, bibirnya diberi warna lembut yang tidak mencuri perhatian lampu panggung.

Rina berdiri di belakangnya, memegang map tipis berisi rundown. "Nyonya Thalia, in-ear monitor sebentar lagi dipasang. Setelah itu soundcheck singkat. Ingat, Nyonya tampil paling akhir."

Thalia mengangguk. "Baik. Kita ikuti alurnya saja."

Suara sorak penonton dari hall utama terdengar mendam. Tirai hitam backstage bergoyang halus-di baliknya ada panggung dengan layar LED raksasa yang berkilau seperti permukaan laut disapu matahari. Aroma hairspray bercampur dengan wangi kayu instrumen. Semuanya membentuk orkestra kecil yang hanya dimengerti orang panggung.

Hari ini episode perdana "Who's The Best Singer?" (WTBS) ditayangkan langsung. Delapan peserta dipilih dari berbagai jalur: audisi terbuka, rekomendasi label, bahkan undangan khusus. Genre mereka berbeda-beda, latar belakang pun beragam -dan itulah yang membuat acara ini menjadi magnet bagi jutaan penonton.

Thalia melirik ke arah deretan kursi peserta. Di sana-dengan gaun satin hijau zaitun dan rambut bob klasik-duduk Zoey, penyanyi jazz yang namanya beredar di lounge eksklusif. Suaranya dikenal berasap dan hangat, tekniknya rapi, improvisasinya halus. Zoey tidak banyak bicara; ia hanya memejamkan mata sambil menggumamkan tangga nada, seakan menyapa piano yang belum disentuhnya.

Di sisi lain, seorang pemuda mengenakan hoodie hitam menyesuaikan cap di kepalanya. Garen, rapper muda pendatang baru yang meledak karena freestyle viral di media sosial. Nafasnya kuat, rimanya tajam; kesan yang ia berikan: anak jalanan yang merapikan hidup dengan kata-kata.

Tak jauh, ada pria berjaket denim penuh patch band. Jimmy, penyanyi rock yang dulu mengisi stadion. Popularitasnya menurun sejak skandal kencan dengan penggemar meledak dan membuatnya dituduh memanfaatkan fans. Hari ini, wajahnya menyimpan gurat lelah dan harap. Ia menatap tangan sendiri, lalu menatap panggung-seakan memohon kesempatan kedua.

Di kursi berikutnya, Anna duduk tegap seperti patung porselen. Ia penyanyi "sariosa"-seriosa gaya klasik-lahir dari pendidikan konservatori. Teknik bel canto-nya terkenal bersih; setiap nada tinggi seolah dipahat. Anna jarang tersenyum, tetapi ketika ia berkata, ucapannya tenang dan rapi seperti notasi partitur.

Menyamping sedikit, seorang pria muda berwajah manis melambai pada camera crew. David, putra penyanyi pop legendaris yang memimpin tangga lagu dua dekade lalu. Bakatnya memang ada, tetapi bayang-bayang besar nama keluarga membuatnya sering dicibir "hidup dari marga". Malam ini, ia bersikeras membuktikan suaranya berdiri di atas kakinya sendiri.

Ayana duduk dua kursi dari David. Wajahnya cantik menawan, citranya pernah dirancang sebagai calon diva. Kariernya sempat nyaris melesat-sampai skandal kecurangan suara di ajang penghargaan mematahkan sayapnya. Publik menuduhnya lip-sync, timnya membantah, tetapi luka di reputasi terbuka. Ayana menatap panggung seperti menatap tebing yang harus ia daki tanpa tali pengaman.

Satu lagi... Tiffany. Gaun putih sederhananya menonjolkan aura "gadis baik" yang hangat. Ia ramah pada kru, menyapa semua peserta, menanyakan kabar seolah-olah sudah lama akrab. Di mata penonton awam, Tiffany mudah dicintai: senyum lembut, nada bicara halus, tatap mata yang "peduli". Thalia memperhatikannya sesaat. Cantik. Sangat cantik. Tetapi entah mengapa, "ketulusan" yang dipamerkan terasa seperti lensa jernih, namun tetap menyaring.

Dalam hati, Thalia menautkan satu pikiran yang lama ia simpan: Jadi ini Tiffany-tokoh utama di cerita novel itu. Di versi cerita yang ia ingat, pria-pria hebat akan berputar pada Tiffany. Bahkan... suaminya. Apakah dunia tetap mendorongnya ke arah itu meski aku sudah berada di sini? Pertanyaan itu menggantung di dadanya.

"Jangan larut," ia menegur dirinya sendiri, lembut. "Fokus pada musik."

Seorang stage manager mengangkat walkie. "Semua peserta, siap di holding area. MC akan opening dalam tiga menit."

Rina merapikan in-ear Thalia. "Nyonya, napasnya diatur. Ingat, panggung besar, tapi kita sudah menyiapkan semuanya."

"Aku tenang," jawab Thalia. Dan itu benar. Bukan ketenangan kosong, melainkan kesadaran-ia pernah menelan panggung yang lebih buas dari ini.

Lampu redup. Musik tema WTBS mengalun. Dari balik tirai, Thalia melihat MC melangkah ke tengah panggung dengan tuxedo berkilap, tersenyum selebar studio.

"Selamat malam, pemirsa! Inilah episode perdana Who's The Best Singer?-ajang di mana delapan suara terbaik malam ini akan bersaing, dan Anda yang menonton akan menjadi bagian penentunya!. Dalam setiap episodenya akan ada 2 peserta yang tereliminasi"

Penonton bersorak. Kamera bergeser, LED membentuk huruf-huruf besar WTBS yang berputar.

"Malam ini," lanjut MC, "kita kedatangan empat juri profesional-legenda musik negeri ini. Pertama, Michael Grant komposer dan produser yang sudah tiga puluh tahun menelurkan album emas."

Sorak panjang. Seorang pria paruh baya dengan setelan gelap berdiri, mengangguk santun.

"Kedua, Diva Marissa Vale-penyanyi panggung bersuara penuh yang telah mengisi tur internasional."

Sosok anggun dengan gaun hitam berdiri, melambai pendek.

"Ketiga, Ken Tanaka-gitaris rock dan produser crossover yang jeli mengendus hit."

Pria berambut perak dengan kacamata bulat mengangkat ibu jari.

"Dan keempat, Isabella Cruz-penulis lirik sekaligus pelatih vokal senior, the woman behind many great voices."

Perempuan bergaun tipis warna champagne berdiri, senyumnya hangat.

"Skema penilaian kita malam ini sederhana," kata MC. "Online voting dari pemirsa memiliki bobot 80%, sementara penilaian juri berbobot 20%. Jadi, dukungan Anda menentukan. Pastikan Anda memilih, karena malam ini hanya beberapa yang akan melaju!"

Backstage, Thalia merasakan getaran riuh sampai ke tulang. Garen memutar-mutar ring di tangannya, Zoey menutup mata lebih lama, Jimmy mengembuskan napas berat, Ayana mengencangkan genggaman pada mikrofon, David menepuk pipi sendiri, Anna menegakkan bahu, Tiffany mengecek senyum di cermin kecil. Thalia merenggangkan jari, memutar leher-semuanya sesuai urutan latihan.

"Dan inilah daftar peserta malam ini..." MC membiarkan jeda dramatis, lalu satu per satu nama muncul di LED. Sorak mengiringi setiap penyebutan. Thalia memperhatikan antusiasme penonton pada tiap nama, memetakan selera ruangan. Ketika "Thalia Anderson" meledak di layar, tepuk tangan tercampur seruan heran-penggemar yang mengenalnya dari Duta Kampus rupanya sudah memenuhi bangku.

Rundown malam ini menempatkan Zoey sebagai pembuka. Stage manager mengangkat tangan, memberi aba-aba standby.

Zoey berdiri. Ia menoleh sekilas ke barisan peserta, tatapannya bertemu Thalia. Senyum kecil saling bertukar-bukan janji, hanya saling paham.

MC menurunkan nada suaranya, "Kita mulai malam ini dengan nuansa jazz yang hangat. Inilah... Zoey!"

Tirai samping terbuka. Panggung mendadak berubah menjadi bar malam berlampu temaram: piano akustik menunggu, kontrabas berdiri gagah, drum set memantulkan kilau lampu ambar. Zoey melangkah, gaunnya memantul perlahan seperti gelombang tenang. Ia memegang mikrofon dengan jemari mantap, memberi angguk kepada pianis.

Nada pertama bukan teriakan, melainkan bisik yang beresonansi. Suara Zoey turun mendekap ruang-hangat, berasap, mengajak penonton duduk lebih dekat. Frasanya memanjang tepat, vibrato halus seperti garis pensil yang tak goyah. Ia masuk ke scat ringan; pianis menjawab dengan lick manis, drum memberi sentuhan sikat yang rapat. Penonton -yang tadi riuh-pelan-pelan diam. Juri saling berpandangan, lalu menunduk, mencatat: kontrol, gaya, taste.

Thalia meresapi permainan itu dari balik tirai. Ia menikmati, jujur. Zoey tahu mengambil ruang-cukup untuk dirinya, tidak merebut yang bukan miliknya. Itulah kedewasaan seorang penyanyi.

"Bagus sekali," Rina berbisik, menahan napas.

"Bagus," jawab Thalia, singkat. Ia tidak merasa terintimidasi. Setiap orang datang membawa kosmos masing-masing. Miliknya akan tiba saatnya.

Di bangku juri, Maestro Michael bertopang dagu; ia terlihat seperti ayah yang mendengar putrinya memainkan nocturne pertama. Diva Marissa mengangguk tiap kali Zoey menutup kalimat dengan lemah lembut; itu tanda phrasing-nya menyentuh. Ken Tanaka tersenyum ketika kontrabas menggambar walk sederhana tapi lezat. Isabella menulis: "Nada panjang stabil. Warna lembut. Penempatan kata enak."

Bridge lagu tiba. Zoey menurunkan volume, menengah, lalu menutup matanya sekejap. Puncak lagu tidak diambil dengan teriakan; ia memilih keindahan-menahan, memberi ruang. Ketika not terakhir dibiarkan menggantung, ruang studio menahan napas bersama-lalu meledak. Tepuk tangan tumpah dari balkon atas hingga pit depan.

Zoey menunduk. "Terima kasih."

Backstage, Tiffany bertepuk tangan pelan.

"Indah sekali," katanya pada siapa pun yang kebetulan mendengar. Senyumnya tetap seperti tadi -manis, rapi tetapi Thalia, ketika menoleh, menangkap secuil kilat yang terlalu cepat: kilat evaluasi. Menilai bukan dosa; topeng yang menutupi penilaian itulah yang biasanya menyesatkan orang lain.

Thalia mengembuskan napas pelan. Fokus.

Musik.

Rina menyodorkan botol kecil. "Air, Nyonya."

"Terima kasih."

Floor manager bergerak cepat di sisi panggung, memberi aba-aba untuk kamera pindah sudut. MC naik lagi untuk menyapa juri dan meminta komentar singkat.

"Zoey mengingatkan kita bahwa jazz bukan soal banyaknya nada, tetapi cara bernapas di antara nada," ujar Maestro Michael.

"Matang," kata Diva Marissa singkat, senyumnya menegaskan.

Sorak penonton kembali menggelembung. Nama Zoey melonjak di ticker pemungutan suara yang melintas di LED samping.

Thalia menutup mata sejenak, merasakan ruang pernapasan sendiri: panjang, stabil, seperti garis horizon. Ia mengulang dalam hati cue masuknya nanti, memetakan kamera utama, kamera close-up, dan tempat ia akan menjejak nada puncak. In-ear terasa nyaman. Nafas panas dari lampu panggung merembes sampai ke balik tirai.

Di kursinya, Ayana gelisah, memainkan tepi gaun. David memutar-mutar cincin jari. Anna membetulkan posture. Garen memeriksa metronome di ponsel, lalu mematikannya. Jimmy menatap kosong ke lantai, mungkin mencari nyali yang dulu tersisa di panggung lain. Tiffany membetulkan anting kecilnya, menyapa makeup artist dengan sapaan manis.

Suara MC kembali memenuhi studio. "Itu dia pembuka malam ini, Zoey, dengan vibe yang membuat kita ingin duduk lebih lama." Ia menoleh ke kamera utama. "Ingat, pemirsa-voting online dibuka sekarang. Bobot Anda 80% akan menentukan siapa yang bertahan. Empat juri kita menyumbang 20%. Jadi, jangan lupa memilih."

Rina menepuk pelan bahu Thalia-sekali, tidak berlebihan. "Nyonya, giliran kita masih jauh, tetapi warming up lagi sebentar."

Thalia berdiri, meregangkan tengkuk. Dari sela tirai ia melihat panggung kembali siap untuk nama berikutnya. Lampu-lampu mulai berubah warna; tim band bergerak cepat mengganti set.

Ia memejamkan mata, membiarkan riuh penonton mengalir melewati dirinya seperti angin melewati hutan. Pada akhirnya, semua ini kembali pada suara: apakah ia jujur, apakah ia berdiri.

1
CaH KangKung,
MC... josss
CaH KangKung,
👣👣
Fajar Fathur rizky
cepat hancurkan Abraham thor
Iry
siap
Mifta Nurjanah
lanjut
𝐀⃝🥀Weny♬⃝❤️🅠🅛
secangkir kopi buat kamu thor😊
𝐀⃝🥀Weny♬⃝❤️🅠🅛: sama🤗
total 2 replies
Lili Inggrid
lanjut
𝐀⃝🥀Weny♬⃝❤️🅠🅛
thor, bab ini tadi ceritanya ada yang di ulang²🤭
Iry: baiklah beb
total 3 replies
Sugiarti Arti
bagus
𝐀⃝🥀Weny♬⃝❤️🅠🅛
thor kasih visualnya dong😊
𝐀⃝🥀Weny♬⃝❤️🅠🅛: iya dong thor biar gak penasaran 🤭
total 2 replies
𝐀⃝🥀Weny♬⃝❤️🅠🅛
jos jis thalia👍🏻
Anonim
bagus iii ceritanya
lanjuttttt/Kiss/
Ma Em
Semangat Thalia pasti kamu pemenang nya dan sukses jadi bintang kalahkan semua saingan mu dan bersinar lah dgn prestasimu apalagi Nadine yg tdk ada apapa nya buat mereka yg dulu selalu menghinamu malu .
PrettyDuck: Halo pembaca setia Noveltoon 🤗
Aku baru menamatkan cerita berjudul "Beautifully Hurt" ✨️
Kalau berkenan silahkan berkunjung dan nikmati ceritanya 💕

Apa jadinya kalau Dinda (21) dipaksa menikah dengan Rendra (35) ? Putra tunggal presiden yang reputasinya sedang hancur karena skandal panas dengan seorang aktris.
Di balik pernikahan yang penuh tekanan, rahasia, dan sorotan publik, Dinda harus bertahan di dunia yang sama sekali bukan miliknya 💔
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!