"Dedikasi Aruna Pradipta adalah mahasiswa Teknik yang jago musik dengan otak serupa prosesor komputer. Baginya, cinta adalah variabel yang tidak logis. Namun, dunianya yang presisi hancur berantakan saat bertemu Reyna Salsabila, mahasiswa Akutansi yang kebanyakan tugasnya sebagai auditor keuangan bar-bar yang hobi makan seblak dan punya suara frekuensi tinggi.
Dari lab riset di Desa Pinus hingga drama sosialita di Singapura, mereka terjebak dalam audit perasaan yang penuh sabotase saus sambal dan teror terasi. Apakah logika Dedik sanggup menghitung besarnya cinta untuk partner sialannya? Atau justru Reyna yang akan meng-audit hati sang Robot Aquarius?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dedik Januari Purnomo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 7: Jangan Main-Main sama Anak Teknik (Apalagi yang Aquarius)
Arlan ketawa ngeremehin. Dia ngangkat kamera DSLR-nya tinggi-tinggi, seolah-olah itu piala kemenangan.
"Hapus? Sayang banget, Ded. Foto kalian berdua di tengah hutan bambu begini estetis banget, lho. Tiara pasti suka liat kedekatan mahasiswa bimbingannya yang... melampaui batas profesional."
Gua melongo. "Lan! Lo beneran mau ngadu ke Kak Tiara?! Itu kan cuma salah paham!"
"Salah paham atau bukan, itu terserah yang liat, Rey," sahut Arlan santai.
Dedik masih berdiri tegak di depan Arlan. Mukanya lempeng, nggak panik sama sekali. Dia malah masukin tangan ke saku jaket denimnya, terus ngeluarin alat rekam kecil yang tadi dia pake buat rekam suara bambu.
"Logikanya gini, Lan," suara Dedik tenang banget, tapi ada nada ngeledek di sana. "Lo itu perwakilan sponsor dari lembaga Jakarta. Reputasi itu segalanya buat orang kayak lo, kan?"
Arlan ngerutin dahi. "Terus? Apa hubungannya sama reputasi gua?"
Dedik neken tombol play di alat rekamnya.
“...Kasiin foto ini ke Tiara, kira-kira dia bakal seneng nggak ya? Secara, dia kan pengennya proyek ini profesional...”
Suara Arlan yang tadi kedengeran jelas banget keluar dari speaker kecil itu. Dedik matiin lagi rekamannya, terus natap Arlan datar.
"Gua udah rekam semua omongan lo dari awal lo muncul di semak-semak tadi. Termasuk niat lo buat pake foto privasi mahasiswa untuk provokasi asisten dosen."
"Menurut lo, kalau rekaman ini gua kirim ke lembaga lo di Jakarta dengan subjek 'Percobaan Intimidasi dan Sabotase Riset Mahasiswa', karier lo sebagai 'perwakilan kreatif' masih aman?"
Skakmat! Muka Arlan yang tadinya penuh kemenangan langsung berubah jadi pucat. Dia nggak nyangka si "anak teknik" ini selicik itu.
"Lo... lo rekam gua?!" Arlan geram.
"Gua emang lagi kerja, Lan. Semua suara di radius lima meter gua rekam buat data. Termasuk suara lo yang berisik itu," Dedik benerin kacamatanya.
"Gimana? Trade-off yang adil, kan? Lo hapus fotonya, gua hapus rekamannya. Atau kita sama-sama viral di grup dosen?"
Gua pengen ngakak kenceng banget liat muka Arlan yang kayak orang ketelen biji kedondong. Sumpah, Dedik kalau udah main otak emang serem banget!
Arlan narik napas kasar. "Oke! Fine! Gue hapus!"
Dia mencet-mencet tombol di kameranya dengan emosi, terus nunjukin layarnya ke kita.
This image is deleted.
"Puas lo?" tanya Arlan sinis.
"Sangat," jawab Dedik enteng. Dia juga mencet tombol di alat rekamnya. "Data sampah udah gua bersihin."
Arlan muter balik badan, jalan ngejauh sambil ngomel-ngomel nggak jelas. "Gila lo, Ded! Awas lo ya!"
Begitu Arlan ilang di balik rimbun bambu, gua langsung nepuk pundak Dedik keras-keras. "GILA! DED! Lo pinter banget aktingnya! Emang lo beneran mau ngirim itu ke Jakarta?"
Dedik nengok ke gua. Dia buka tutup baterai alat rekamnya. "Sebenernya baterainya abis pas lo mulai nyanyi tadi, Rey."
Gua melongo. "Hah?! Terus yang tadi bunyi?"
"Itu cuma fitur preview memori sementara yang sisa dikit. Gua cuma gertak sambal. Logikanya, orang kayak Arlan itu penakut kalau udah menyangkut jabatan."
Gua ketawa kenceng banget sampai perut gua sakit. "Sumpah, lo licik banget! Aquarius emang tipu-tipu ya!"
Dedik nggak bales ketawa gua. Dia malah natap gua dalem, bikin tawa gua pelan-pelan berenti. "Gua nggak main-main soal lo, Rey. Gua nggak bakal biarin dia atau siapa pun ngerusak fokus lo. Apalagi pake cara kotor kayak gitu."
Duh, jantung gua balik lagi marathon. Kenapa sih dia hobi banget bikin suasana jadi serius begini?
"Udah ah! Ayo balik ke balai desa, ntar Kak Tiara nyariin," gua narik lengan jaketnya, nyoba nutupin muka gua yang pasti udah merah kayak tomat mateng.
Pas kita jalan balik, tiba-tiba hujan turun deres banget. Langit yang tadi cerah langsung berubah gelap total. Sialan, Sagitarius emang nasibnya gini banget kalau urusan cuaca!
"Neduh, Rey! Di sana!" Dedik nunjuk sebuah gubuk kecil tempat istirahat petani bambu.
Kita lari sekuat tenaga dan nyampe di gubuk yang ukurannya cuma dua kali dua meter itu. Atapnya dari rumbia, lumayan buat nahan air, tapi karena anginnya kenceng, cipratan airnya tetep masuk.
Gua kedinginan, baju gua agak basah. Dedik ngeliat gua yang menggigil, terus dia ngelepas jaket denimnya.
"Pake," katanya singkat.
"Gak usah, Ded. Lo ntar masuk angin!"
"Gua kuat. Lo itu ringkih, ntar kalau lo sakit, siapa yang mau nyatet data gua?"
Gua akhirnya nurut, make jaket denimnya yang ukurannya kegedean banget di badan gua. Wangi parfum Dedik langsung nyerbu idung gua, maskulin, segar, tapi ada wangi kayu-kayuan. Bikin tenang.
Kita duduk dempet-dempetan di balai-balai bambu yang sempit biar nggak kena ujan. Jarak kita cuma beberapa senti. Suara ujan yang deres banget bikin suasana jadi makin... privat.
"Ded..." panggil gua pelan.
"Hm?"
"Lo tadi denger kan suara gua pas nyanyi?"
Dedik diem bentar, natap rintik ujan. "Denger. Bagus banget. Dan gua nggak bakal biarin suara itu cuma berenti di flashdisk lo."
Gua nyenderin kepala gua ke tiang gubuk. "Gua takut, Ded. Kalau gua nyanyi beneran buat proyek ini, terus gua gagal..."
Tiba-tiba, Dedik ngeraih tangan gua. Dia nggenggam telapak tangan gua yang dingin. Hangat banget.
"Gua ada di sini, Rey. Gua yang bakal mainin gitarnya. Lo tinggal ikutin petikan gua. Selama lo denger suara gitar gua, lo nggak usah takut sama apa pun. Paham?"
Gua natap dia, dan kali ini gua nggak nemuin tatapan "logika" yang kaku itu. Gua nemuin sesuatu yang lain. Sesuatu yang bikin gua ngerasa aman.
Tiba-tiba, HP Dedik bunyi. Ada telepon masuk. Pas dia liat layarnya, mukanya langsung berubah tegang.
"Siapa?" tanya gua.
"Kak Tiara," jawab Dedik. Dia ngangkat teleponnya. "Halo, Kak? Iya... apa?! Arlan kecelakaan?!"
Gua langsung tegak duduknya. Arlan kecelakaan?!
***
Arlan yang tadi pergi dengan emosi ternyata kena musibah! Apakah ini beneran kecelakaan atau ada hal lain? Dan gimana nasib proyek mereka kalau sponsor utamanya kenapa-kenapa?