menceritakan dua orang mantan kekasih Shinta dan Andika. yang memutuskan untuk berpisah karena perbedaan pandangan tentang masa depan Shinta yang ingin hubungan yang serius ke pelaminan dan Andika yang ingin menata karir dan memastikan finansial mencukupi. namun keduanya tidak menemukan titik tengah dari masalah itu. setahun kemudian mereka di pertemukan di perusahaan sebagai karyawan devisi pemasaran. keduanya yang awalnya tidak ingin masa lalu terungkap dan saling menjauh malah tanpa sadar Melaku kebiasaan mereka saat pacaran. dari Andika yang memperlihatkan Shinta saat kesulitan dan Shinta yang memberikan tempat bersandar saat Andika kelelahan namun itu malah membuat mereka kesal dan membuat perjanjian siapa pun yang masih melakukan kebiasaan mereka saat pacaran di anggap orang yang ingin balikan. namun kenyataannya keduanya malah terus melanggar perjanjian mereka tanpa peduli apa yang salah dari kebiasaan lama mereka saat pacaran
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhammad Robby Ido Wardanny, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 15
Sore itu suasana kantor mulai berubah lebih santai. Suara keyboard yang sejak siang terdengar tanpa henti mulai berkurang satu per satu. Beberapa pegawai sudah merapikan meja kerja mereka, sementara yang lain masih sibuk menyelesaikan pekerjaan sebelum jam pulang tiba.
Shinta baru saja mematikan layar komputernya ketika seseorang menghampiri mejanya.
“Akhirnya selesai juga,” gumam Shinta pelan sambil meregangkan bahunya.
“Kalau belum selesai nanti bisa menginap di kantor.”
Shinta menoleh dan mendapati Aqila berdiri sambil membawa paper bag berwarna cokelat. Gadis berhijab itu tersenyum hangat seperti biasa.
“Aqila?” Shinta tampak sedikit terkejut.
“Aku antar kue yang kemarin dipesan.” Aqila meletakkan paper bag itu di atas meja. “Masih hangat sedikit.”
Shinta langsung terlihat senang. “Serius? Cepat sekali jadinya.”
“Aku dibantu pegawai toko. Jadi tidak terlalu lama.”
Shinta membuka sedikit isi paper bag itu. Aroma manis kue langsung tercium dan membuatnya tanpa sadar tersenyum lebih lebar.
“Kelihatannya enak.”
“Kalau tidak enak berarti pegawaiku yang harus dimarahi.”
Shinta tertawa kecil. “Baiklah. Kalau begitu aku bayar sekarang.”
Shinta segera mengambil dompetnya. Namun sebelum sempat menyerahkan uang, Aqila malah menggeleng pelan.
“Sudah dibayar.”
Shinta berhenti mengambil uang. “Sudah dibayar?”
Aqila mengangguk santai. “Andika yang bayar.”
Ekspresi Shinta langsung berubah kikuk.
“Kenapa dia yang bayar?”
“Katanya sekalian saja.”
Shinta menghela napas pelan. “Tidak bisa begitu. Aku yang pesan.”
Dia langsung menyodorkan uang kepada Aqila.
“Nih. Tolong kembalikan uang Andika saja.”
Namun Aqila malah mundur sedikit sambil tertawa kecil.
“Aku tidak berani.”
“Kenapa?”
“Itu perintah Andika.”
Shinta memijat pelipisnya pelan. “Memangnya dia bos negara sampai perintahnya harus dipatuhi seperti undang-undang?”
“Kurang lebih begitu kalau sedang keras kepala.”
Shinta makin merasa tidak enak. Dari tadi pikirannya justru dipenuhi hal lain.
Menurutnya aneh sekali jika seorang pria diam-diam membelikan camilan untuk wanita lain sementara pacarnya sendiri mengetahui hal itu. Walaupun Aqila tampak santai, Shinta tetap merasa tidak nyaman.
“Aqila…”
“Hm?”
“Kamu benar-benar tidak masalah?”
Aqila tampak bingung. “Masalah apa?”
“Andika membelikan aku kue seperti ini.”
Aqila menatap Shinta beberapa detik sebelum akhirnya tertawa kecil.
“Kamu lucu juga.”
Shinta malah makin salah tingkah. “Aku serius.”
“Aku tahu.”
“Kalau aku jadi kamu mungkin aku sudah curiga.”
Aqila tersenyum tipis seolah menahan sesuatu.
“Aku malah penasaran.”
“Penasaran?”
“Iya.” Aqila menatap Shinta penuh arti. “Tentang hubungan kamu dan Andika.”
Shinta langsung terdiam.
Kalimat itu membuat jantungnya berdetak sedikit tidak nyaman. Dugaan yang sejak tadi menghantuinya langsung muncul lagi. Aqila pasti berpikir ada sesuatu antara dirinya dan Andika.
Padahal hubungan mereka sudah lama selesai.
Walaupun kenyataannya masih ada sisa rasa canggung setiap kali harus dekat dengan pria itu. Manusia memang aneh. Bisa putus bertahun-tahun tapi tetap gugup hanya karena tatapan mata. Evolusi benar-benar kerja setengah hati.
“Aku tidak bermaksud macam-macam,” ucap Aqila pelan. “Cuma penasaran saja.”
Shinta tersenyum tipis.
“Kalau begitu lebih baik kita bicara santai saja.”
Aqila tampak tertarik. “Di sini?”
“Tidak enak kalau di kantor.”
Beberapa pegawai memang masih ada di sekitar mereka. Dan Shinta tahu betul bagaimana cepatnya gosip menyebar di kantor marketing itu. Orang-orang di sana bisa membuat cerita cinta hanya dari dua orang yang meminjam pulpen bergantian.
“Aku tahu tempat yang nyaman,” lanjut Shinta. “Kafe teman aku.”
Aqila langsung mengangguk. “Boleh.”
“Sekalian aku jelaskan supaya kamu tidak salah paham.”
Aqila hanya tersenyum kecil mendengar itu.
Jam pulang kerja akhirnya tiba.
Langit sore mulai berubah jingga ketika Shinta keluar dari gedung perusahaan. Dari kejauhan dia melihat Aqila sudah berdiri di dekat halte depan kantor sambil memainkan ponselnya.
Begitu melihat Shinta, Aqila langsung melambaikan tangan.
“Di sini.”
Shinta menghampiri sambil membawa tas kerjanya.
“Lama menunggu?”
“Tidak terlalu.”
“Kita naik taksi online saja?”
Aqila menggeleng pelan. “Naik angkutan umum juga tidak masalah.”
Shinta sedikit heran. “Serius?”
“Iya. Aku sudah biasa.”
Akhirnya mereka naik angkutan umum bersama. Di dalam kendaraan suasananya cukup ramai. Beberapa orang tampak lelah sepulang kerja, sementara sopir memutar lagu lama dengan volume cukup keras.
Shinta beberapa kali melirik Aqila diam-diam.
Entah kenapa gadis itu benar-benar jauh dari bayangan yang selama ini ada di pikirannya.
Tidak terlihat posesif.
Tidak galak.
Dan sama sekali tidak menunjukkan sikap seperti wanita yang sedang mencurigai mantan kekasih pacarnya.
Yang ada malah terlihat santai sejak tadi.
“Kamu sering ke kafe teman kamu itu?” tanya Aqila.
“Lumayan sering.”
“Tempat favorit?”
“Kalau sedang ingin tenang.”
Aqila tersenyum. “Berarti Andika tidak pernah diajak ke sana.”
Shinta langsung menoleh cepat.
“Kok tahu?”
“Kalau Andika ke tempat tenang pasti lima menit kemudian tempat itu jadi ribut.”
Shinta spontan tertawa.
Untuk pertama kalinya sejak mereka bertemu, suasana di antara mereka mulai terasa nyaman.
Tidak lama kemudian mereka sampai di sebuah kafe kecil yang berada di sudut jalan.
Lampu-lampu hangat menghiasi bagian dalam kafe. Aroma kopi dan roti manis langsung terasa begitu mereka masuk.
Aqila tampak melihat sekeliling dengan kagum kecil.
“Nyaman juga tempatnya.”
“Iya. Vivi memang suka membuat suasana kafenya seperti rumah sendiri.”
Belum lama mereka duduk, seorang wanita datang menghampiri sambil membawa buku catatan kecil.
“Tumben datang jam segini,” ucap Vivi.
Kemudian matanya berpindah ke Aqila.
“Temannya?”
“Iya,” jawab Shinta. “Kenalin, ini Aqila.”
Aqila tersenyum ramah. “Halo.”
Vivi membalas senyumnya lalu mulai mencatat pesanan.
“Mau pesan apa?”
“Milkshake saja,” jawab Aqila.
“Rasa?”
“Cokelat.”
Vivi mengangguk lalu menoleh ke Shinta.
“Kalau kamu?”
“Vanilla latte.”
“Masih setia sama yang manis-manis.”
“Hidup sudah pahit. Kopi tidak perlu ikut-ikutan pahit.”
Vivi tertawa kecil. “Baiklah. Tunggu sebentar.”
Setelah Vivi pergi, suasana sempat hening beberapa detik.
Shinta akhirnya menarik napas pelan.
“Jadi…”
Aqila tersenyum kecil. “Jadi?”
“Kamu penasaran soal aku dan Andika.”
Aqila mengangguk jujur.
Shinta menatap meja beberapa saat sebelum akhirnya bicara.
“Aku dan Andika memang pernah pacaran.”
Aqila tampak tenang mendengarnya.
“Sudah lama?”
“Lumayan.”
“Dan sekarang?”
Shinta tersenyum tipis.
“Sekarang kami cuma rekan kerja.”
Dia berhenti sebentar sebelum melanjutkan.
“Tidak ada perasaan apa-apa lagi.”
Kalimat itu terdengar cukup lancar keluar dari mulutnya. Walaupun di dalam hati, Shinta sendiri sedikit kesal karena harus berbohong setengah mati pada dirinya sendiri.
Aqila memperhatikannya beberapa detik.
Kemudian tiba-tiba dia tertawa kecil.
Shinta langsung bingung.
“Kenapa?”
“Aku merasa Andika sudah keterlaluan.”
“Maksudnya?”
“Dia benar-benar tidak cerita apa-apa ya?”
“Cerita apa?”
Aqila menahan tawanya sebelum akhirnya berkata santai.
“Aku sama Andika bukan pacaran.”
Shinta langsung diam.
“Apa?”
“Kami sepupu.”
Shinta berkedip beberapa kali seolah otaknya terlambat memproses informasi itu.
“Sepupu?”
“Iya.”
“Sepupu kandung?”
“Ayah kami saudara.”
Shinta benar-benar kehilangan kata-kata.
Selama ini…
Selama ini dia mengira Aqila adalah pacar Andika.
Dia bahkan pernah merasa kesal diam-diam setiap melihat keduanya dekat di kantor.
Dan sekarang semua itu ternyata salah paham besar.
Aqila masih terlihat santai.
“Andika sengaja merahasiakan itu.”
“Kenapa?”
“Karena kalau orang-orang mengira aku pacarnya…” Aqila mulai tersenyum jail, “…wanita-wanita yang suka padanya jadi mundur sendiri.”
Shinta langsung memegangi dahinya.
“Ya Tuhan…”
“Strategi pertahanan hidup.”
“Itu strategi pengecut.”
“Aku juga bilang begitu.”
Shinta benar-benar merasa malu sekarang.
Pantas saja Aqila terlihat terlalu santai selama ini.
Sementara dirinya diam-diam sibuk cemburu seperti tokoh drama yang hidupnya terlalu banyak musik latar sedih.
“Aku minta maaf,” ucap Shinta pelan. “Aku benar-benar tidak tahu.”
Aqila langsung menggeleng.
“Bukan salah kamu.”
“Tapi aku sempat salah paham.”
“Semua orang di kantor juga salah paham.”
Shinta menghela napas panjang.
“Andika memang menyebalkan.”
“Nah, akhirnya ada yang satu pendapat denganku.”
Mereka tertawa kecil bersama.
Tidak lama kemudian Vivi datang membawa pesanan mereka.
Milkshake cokelat untuk Aqila dan vanilla latte untuk Shinta.
Setelah Vivi pergi lagi, Aqila kembali bicara.
“Tapi aku mau minta satu hal.”
“Apa?”
“Tolong rahasiakan soal hubungan aku dan Andika.”
Shinta tampak heran. “Masih mau lanjut sandiwara itu?”
Aqila tersenyum kecil.
“Selama Andika belum mau jujur sendiri, biarkan saja.”
Shinta mengaduk minumannya pelan.
Sekarang dia sedikit mengerti alasan Andika.
Pria itu memang cukup terkenal di kantor mereka. Banyak wanita diam-diam menyukainya. Dengan adanya Aqila di dekatnya, semua orang otomatis menjaga jarak.
Cara yang aneh.
Tapi entah kenapa sangat cocok untuk seseorang seperti Andika.
“Aku benar-benar sempat tidak suka sama kamu,” ucap Shinta jujur.
Aqila malah tertawa kecil. “Karena aku dikira pacarnya?”
Shinta mengangguk pelan sambil malu.
“Padahal aku tidak melakukan apa-apa.”
“Makanya aku merasa bersalah sekarang.”
Aqila menatap Shinta beberapa detik sebelum akhirnya tersenyum tipis.
“Kamu masih suka sama Andika ya?”
Shinta langsung tersedak kecil.
“Apa?”
“Kelihatan.”
“Tidak.”
“Jawabannya terlalu cepat.”
“Aku memang tidak suka lagi.”
Aqila menyandarkan dagunya di tangan sambil tersenyum penuh arti.
“Tapi kamu sempat cemburu.”
“Itu beda.”
“Bedanya di mana?”
Shinta membuka mulut lalu menutupnya lagi.
Dia sendiri tidak tahu bagaimana menjelaskan perasaannya.
Mungkin memang benar dia sempat cemburu.
Melihat Andika dekat dengan Aqila selalu membuatnya tidak nyaman.
Namun sekarang setelah tahu kenyataannya, perasaan itu malah berubah menjadi malu luar biasa.
“Aku cuma tidak suka salah paham,” gumam Shinta akhirnya.
Aqila tertawa pelan.
“Kalau begitu anggap saja hari ini semua kesalahpahaman selesai.”
Shinta menatap gelas kopinya sambil tersenyum kecil.
Entah kenapa dadanya terasa jauh lebih ringan sekarang.