"Apa salah kalo aku cinta ke mas?" tanya Nerrisha suaranya parau hampir tak terdengar
Nick tertunduk dan menghela nafasnya panjang dan menjawab dengan suara lirih.
"Nerrisha, dengar baik-baik. Jarak diantara kita terpaut jauh. Kamu tahu jurang di depan sana? Itu, anggap saja itu adalah kita..." ucap Nicholas lembut
"Seperti itulah jarak usia diantara kita. Saya gak mau dengar teman-temanmu memanggilmu dengan sebutan sugar babby. Maaf saya gak pantas buat kamu..." ucapnya kemudian yang berlalu begitu saja dari hadapan Nerrisha yang masih berdiri mematung terpaku memandang jurang di seberang sana
*****
Nerrisha dan Nicholas awalnya hanya sebatas saling sapa biasa saja. Namun seiring berjalannya waktu disetiap pertemuan-pertemuan kecil yang terjadi di keluarga Adiwangsa kerap menjadi saksi bisu perasaan keduanya.
Namun usia mereka terpaut 10 tahun jauhnya sehingga Nerrisha kerap disebut teman-temannya dengan sebutan sugar babby.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yogitha Ratnajyoti , isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kado Spesial Dari Siapa?
Pagi itu, rumah keluarga Adiwangsa dipenuhi dengan aroma nasi goreng yang lezat dan beberapa makanan lainnya yang sudah tersaji di meja makan. Bu Shanty sibuk berteriak ke arah kamar Rey, suaranya memekakkan telinga semua orang yang sudah duduk manis di kursi ruang makan.
"Rey kecebong!! Bangun! Hih...anak satu itu memang ya!" teriak bu Shanty, kesalnya sudah tidak terbendung lagi.
Nerrisha, Naira, Samira, Arga, Nicholas, dan Tiara istri Arga hanya tertawa geli melihat drama yang terjadi.
"Ma...oma kenapa teriak-teriak?" tanya Rafael yang sudah tak sabar untuk memakan nasi gorengnya.
"Oh...itu, biasalah, kesal sama om Rey yang susah dibangunin. Kamu jangan seperti om Rey ya, biar mama gak teriak-teriak kayak oma oce?" jawab Tiara lembut sembari mengusap puncak kepala putranya yang berusia 4 tahun itu.
"Guys...sorry ya, soal drama yang terjadi dirumah gue, hehehe...hampir setiap pagi soalnya kayak begini..." ucap Nerrisha tersenyum kecut.
"Santai aja kali, Ner..." jawab Naira tersenyum, berbeda dengan Nicholas yang hanya mengulum senyuman dan saling tatap dengan Arga yang juga tersenyum geli.
Rey yang baru saja bangun tidur sudah seperti kambing yang ditarik paksa oleh bu Shanty dari kamarnya, sembari dijewer kuping kirinya.
"Atttah...attah...ahh...ampun mah..." ringisnya kesakitan juga menahan malu dihadapan semua orang yang sudah berkumpul di ruang makan.
"Makanya kalau dibangunin itu bangun, biar energi mama gak habis terbuang sia-sia, malu dong sama ayam tetangga yang bangun subuh-subuh, eh...giliran anak bujang mama masih molor..." cicit bu Shanty dengan gaya absurdnya.
Hal itu membuat Naira, Samira, dan Nicholas tak kuasa menahan tawa yang mereka tahan sejak tadi.
"Hahaha..mama, kamu emang....." Naira tertawa sambil menutup mulutnya.
Rey yang masih dijewer kupingnya, menatap bu Shanty dengan mata sayu, "Ma...ampun deh, ma...aku kan udah bangun..."
Bu Shanty melepaskan kuping Rey, "Huh, sekarang makan, jangan sampai telang teng teng teng..."
Rey menggosok-gosok kupingnya, "Iyah, ma..."
Semua orang di ruang makan tertawa melihat adegan itu, kecuali Rafael yang hanya fokus pada nasi gorengnya, "Mama, aku mau makan..."
Tiara pun peka dan mengizinkan Rafael untuk makan terlebih dulu daripada yang lainnya.
"Iya sayang, iya, sebentar ya..." jawab Tiara pada Rafael, sambil memberikan sepiring nasi goreng yang sudah disiapkan untuknya.
Sementara itu, pak Chakra pun datang dari lantai atas yang sudah berpenampilan rapi dengan pakaian formalnya, ia pun bertanya, "Ada apa ini ribut-ribut?"
Arga pun menjawab dengan santai, "Biasalah, pah...anak tengah papa itu..." jawabnya dengan dagu yang menunjuk ke arah Rey, sementara pak Chakra hanya bisa menggelengkan kepalanya pelan karena ya, sudah angkat tangan jika itu mengenai Rey.
Pak Chakra pun bergabung duduk di samping Nicholas yang masih kosong, "Hahaha...apa lagi ini?"Tanya pak Chakra sambil tersenyum, melihat Rey yang masih menggosok-gosok kupingnya.
"Biasalah, pa, kak Rey lagi kena marah mama..." jawab Nerrisha, sambil tersenyum.
Bu Shanty yang masih kesal, menatap Rey dengan mata tajam, "Kamu, Rey, jangan lupa, hari ini kamu harus pergi ke kantor, ada meeting penting dengan klien besar!"
Rey yang masih menggosok-gosok kupingnya, menatap bu Shanty dengan mata sayu, "Iyalah, ma...aku inget, kok..."
Pak Chakra pun tersenyum, "Hahaha...Rey, kamu harus lebih rajin, ya? Jangan sampai mama marah lagi..."
Rey hanya bisa tersenyum, "Iyah, papa..."
Mereka semua pun menikmati sarapan pagi dengan khidmat, diselingi oleh obrolan ringan tentang rencana hari ini. Setelahnya, pak Chakra, Nicholas, dan Arga yang sudah rapi berpamitan lebih dulu menuju kantor, meninggalkan Rey yang belum siapan sehingga mereka meninggalkan Rey.
"Sayang, hati-hati di jalan, ya?" ucap Tiara pada Arga, sambil memberikan ciuman pada pipinya.
"Ok, sayang. Kamu juga, jaga diri, ya?" jawab Arga, sambil membalas ciuman Tiara.
Sementara itu, Nerrisha, Naira, dan Samira kembali ke kamar Nerrisha untuk membuka kado-kado ulang tahun Nerrisha tadi malam.
"Yuk, kita buka kado-kado gue!" ucap Nerrisha, dengan mata yang berbinar-binar.
"Siapa tahu ada kado yang spesial dari seseorang..." jawab Naira, dengan senyum nakal dan mengedipkan matanya sebelah.
Bu Shanty dan Tiara juga, serta bi Nilam, masih stay di dapur untuk membuat makanan persiapan arisan bulanan sore nanti.
"Aku bantu, ya, ma?" tanya Tiara pada bu Shanty.
"Gak usah, sayang. Kamu duduk aja, biar mama dan bi Nilam yang buat," jawab bu Shanty, sambil memberikan senyum hangat pada menantu pertamanya itu yang merupakan kakak sepupu Nicholas dan Evander.
Rey yang masih duduk di meja makan, menghabiskan sarapannya dengan santai, sambil mendengarkan obrolan di dapur.
"Hmm, aku harus siap-siap, nih..." ucapnya pada dirinya sendiri, sambil berdiri dan menuju ke kamar untuk mandi.
Lagi-lagi bu Shanty memanggil anak tengahnya itu dengan sebutan Rey kecebong. Bukannya Rey bong malah Rey kecebong karena saking kesalnya dengan putranya yang satu ini. "Udah selesai makannya Rey kecebong?" Rey pun menjawab "Iyah ma, kenapa lagi? Aku mau mandi habis itu nyusul ke kantor..." bu Shanty pun meresponnya dengan tersenyum china.
Sementara di kamar Nerrisha dan kedua sahabatnya sibuk membuka bingkisan-bingkisan kado ulang tahun yang diperoleh tadi malam. Semua heboh saat membuka satu buah bingkisan kotak kado yang berukuran besar daripada yang lainnya. "Eh...ini apaan yah? Gede banget..." ujar Samira menunjuk pada kotak kado berwarna merah muda.
"Dispenser kali kalo gak rice cooker, hahaha..." timpal Naira asbun. "Hush...mana ada orang ngasih kado ultah begituan, emangnya acara kawinan apa..." ucap Samira sembari menonyor kepala Naira, alhasil kedua gadis itu pun saling tonyor-tonyoran satu sama lain sehingga fokusnya teralihkan.
Saat Nerrisha membuka bingkisan kotak kado itu dengan perlahan, ada 3 lapis pembungkusnya dan pada yang terakhir terdapat sebuah surat yang pasti itu bukan surat wasiat ya, apalagi surat tanah 🤭. Dengan perlahan Nerrisha membuka gulungan kertas diatas sebuah boneka tedy bear berwarna merah muda itu, dia semakin dibuat penasaran dengan siapakah nama pemberi kado itu.
Perlahan dia membaca bait demi bait kata yang diguratkan dalam secarik kertas berwarna merah muda itu.
"Dear Nerrisha...Hai, happy birthday little kitten girl... Opss...gak usah terburu-buru mau tahu, siapa aku yang jelas aku cuma mau kasih kamu kado spesial buat kamu..."
"Aku mau kamu selalu inget aku, bayangin aja boneka itu adalah diriku yang menemanimu dalam tidurmu disetiap malam. Siapa aku itu gak penting, tapi izinkan aku untuk selalu hadir dalam mimpi indahmu...Oh...ya ada liontin juga yang aku berikan khusus buat kamu, semoga kamu suka, aku mau kamu pake liontin itu sebagai tanda jika perasaanku gak cuma sepihak aja... From your secret fan..." ucap Nerrisha yang membaca setiap kata dalam surat itu dan dengan buru-buru dia pun membuka kadonya dan benar saja di boneka itu terdapat liontin permata biru dan juga boneka itu memegang love dengan inisial N.
"Akkhhhh...so sweet banget...God, baru kali ini aku dapet kado seistimewa ini..." teriak Nerrisha pecah sehingga membuat kedua sahabatnya berhenti saling tonyor-tonyoran bahkan saling jambak satu sama lain.
"Kenapa si Neris?" tanya Naira dengan ekspresi cengoh
"Ya mana gue tahu..." jawab Samira dengan ekspresi yang sama
"Kesambet apa lo Ner?" tanya Naira heran
"Gue dapet kado spesial dari penggemar rahasia gue, gak tahu siapa tapi ini so sweet banget, baca deh baca ini..." jawab Nerrisha yang kemudian menunjukkan secarik kertas surat cinta dari penggemar rahasianya itu.
Mereka bertiga pun terfokuskan pada secarik kertas binder berwarna merah muda itu yang berada di genggaman tangan Nerrisha. Nerrisha merasa bahwa harapannya untuk segera memiliki kekasih akan segera terkabul. Berbeda dengan Naira dan Samira yang berpikir mengenai siapa yang sudah memberi kado spesial itu pada Nerrisha.
BERSAMBUNG!! ⭐🌟
Visual Kado-kado Nerrisha.
Lanjut thor penasaran jadinya bakal gimana nasib si nerris