Sebelum kau membaca kisah ini, kau harus tahu satu hal:
Aku bisa melihat bagaimana kau akan mati.
Bukan dengan bola kristal. Bukan dengan ritual aneh. Cukup dengan menyentuhmu. Satu sentuhan, dan mataku akan dipenuhi gambar—kau di ujung napas terakhir, dengan cara yang mungkin tidak pernah kau bayangkan.
Kakek bilang ini kutukan. Aku bilang ini hadiah.
Karena dengan hadiah ini, aku tahu siapa yang harus aku hindari.
Tapi malam itu, saat pertama kali menyentuh Damian Adhiratria, aku tidak melihat kematiannya.
Aku melihat kematianku sendiri.
Dan aku tersenyum.
Karena akhirnya, setelah 24 tahun, aku tahu kapan aku akan mati.
Tepat 6 bulan setelah menikahi iblis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anonymous MC, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 6: JAM TIGA PAGI
"Dia hanya muncul saat dunia paling sunyi. Atau saat aku paling takut."
----
Jam weker di samping tempat tidur menunjukkan pukul 02.47.
Alea duduk di lantai kamar, membelakangi tempat tidur berukuran king size yang terlalu besar untuk satu orang. Lantai marmer terasa dingin menembus piyama sutranya—sengaja. Rasa dingin membuatnya tetap terjaga. Membuat pikirannya tetap jernih.
Di hadapannya, berserakan: buku catatan kecil, tiga pulpen warna berbeda, dan ponsel yang sudah merekam sejak dua jam lalu.
"Ini malam ketiga," bisik Alea pada dirinya sendiri. "Dan pola mulai terlihat."
Ia menulis dengan cepat:
CATATAN INVESTIGASI – HARI KE-4 DI ISTANA ES
Fenomena Damian Kecil:
· Malam 1: Muncul pukul 03.12. Durasi: 7 menit. Lokasi: Lorong timur.
· Malam 2: Muncul pukul 03.05. Durasi: 15 menit. Lokasi: Lorong barat (dekat kamarku).
· Malam 3 (hari ini): Belum muncul. Jam menunjukkan 02.48.
Pola fisik:
· Selalu memakai piyama yang sama (terlalu besar, warna biru laut).
· Kaki telanjang, meski lantai dingin.
· Tangan selalu memegang sesuatu: boneka (malam 1), lilin (malam 2).
· Tidak pernah menyentuhku, tapi selalu berdiri dalam jarak 1 meter.
Pola bicara:
· Selalu memulai dengan "Kak".
· Selalu mengajak main.
· Selalu bertanya tentang Damian dewasa.
Pertanyaan yang belum terjawab:
Kenapa hanya jam 3 pagi?
Apakah Damian dewasa tahu tentang pertemuan ini? (Bab 5: ia tahu. Tapi seberapa banyak?)
Siapa yang lebih dulu ada: Damian dewasa atau Damian Kecil?
---
Alea menghentikan tulisannya. Jarinya terasa kram.
Ia menoleh ke tempat tidur—kosong. Tapi bantalnya sudah ia atur sedemikian rupa menyerupai bentuk tubuh. Kalau ada kamera mengawasi (dan ia yakin ada), orang akan mengira ia tidur.
"Biarkan Damian dewasa berpikir aku nurut. Biarkan dia lengah."
Alea menarik napas. Matanya kembali ke catatan. Satu hal yang belum ia tulis. Satu hal yang paling membuatnya takut.
Aneh lainnya:
· Aku tidak pernah melihat Damian Kecil di visi kematian siapa pun.
· Ia seperti tidak punya masa depan. Seperti... sudah mati.
Jam menunjukkan 02.55.
Alea mematikan lampu. Ruangan gelap total. Ia bersandar di dinding, menarik lutut ke dada. Posisi anak kecil yang ketakutan.
Bukan. Bukan karena takut pada Damian Kecil.
Tapi karena setiap kali Damian Kecil muncul, ia merasa... sedih. Sangat sedih. Seperti melihat versi dirinya yang hancur 10 tahun lalu, saat kakaknya pergi.
"Aku bukan psikiaternya. Aku istrinya. Istrinya monster."
Alea tersenyum pahit di gelap.
02.59
Lima menit lagi.
Alea mengecek ponsel—merekam. Sudah 2 jam lebih. Baterai tinggal 15%. Cukup.
Lalu ia mendengarnya.
Bukan ketukan. Bukan suara kaki. Tapi perubahan.
Udara di kamar terasa berbeda. Lebih berat. Seperti ada yang menarik oksigen perlahan.
Alea menahan napas.
"Kak."
Suara itu persis di belakang telinga kirinya.
Alea tidak bergerak. Tidak berteriak. Ia sudah siap.
"Kak, main petak umpet lagi yuk."
Perlahan, Alea menoleh.
Damian Kecil berdiri di pojok kamar, dekat jendela. Piyama biru laut. Kaki telanjang. Rambut acak-acakan. Dan di tangannya—
Sebuah jam weker.
Bukan jam biasa. Jam weker antik dengan dua lonceng di atas dan pemukul di tengah. Kuningan, kusam, tapi jarumnya masih bergerak.
"Kak tahu enggak?" Damian Kecil menunduk, menatap jam itu. "Jam tiga pagi itu jamnya orang mati."
Alea merinding. Bukan karena kata-katanya. Tapi karena nada bicaranya—terlalu datar. Terlalu dewasa untuk anak sekecil itu.
"Siapa yang ngajarin kamu itu?" Alea berusaha tenang.
Damian Kecil mengangkat wajah. Matanya—di kegelapan, Alea bisa melihatnya lebih jelas sekarang. Bukan hitam pekat seperti Damian dewasa. Tapi cokelat hangat. Seperti madu. Seperti...
Seperti mata kakaknya.
"Damian dewasa." Damian Kecil menjawab. "Dia bilang, pas jam tiga pagi, pintu dunia terbuka. Yang mati bisa balik. Yang hidup bisa lihat mereka."
Alea menelan ludah.
"Kamu lihat aku pas jam tiga pagi," lanjut Damian Kecil. "Berarti aku—"
"Jangan." Alea memotong cepat. Ia bangkit, mendekat perlahan. "Jangan bilang kamu mati. Kamu ada di sini. Aku lihat kamu. Aku dengar kamu."
Damian Kecil tersenyum. Senyum pertama yang Alea lihat dari wajah itu. Tapi senyum itu tidak sampai ke mata.
"Kak..." Ia mendekatkan jam weker itu. "Aku punya tugas."
"Tugas?"
"Damian dewasa suruh aku jagain kak Alea. Tapi cuma pas jam tiga pagi. Katanya, kalau ada yang mau masuk lewat pintu, aku harus usir."
Alea berhenti. Damian dewasa menyuruh? Menyuruh kepribadian keduanya untuk menjaganya?
"Dia tahu kamu ke sini?"
Damian Kecil mengangguk. "Dia tahu semuanya. Dia cuma pura-pura enggak tahu."
"Lalu kenapa dia pura-pura?"
Damian Kecil diam. Matanya mengembara ke seluruh kamar, berhenti di setiap sudut, seperti mencari sesuatu.
"Karena kalau dia ngaku tahu, dia harus ingat."
"Ingat apa?"
"Ingat kalau aku ini—" Damian Kecil menunjuk dadanya sendiri. "—pernah mati di sini. Di ruangan ini."
Alea tersentak. "Di sini?"
Damian Kecil mengangguk pelan. Lalu ia berjalan—tidak, melayang?—ke arah dinding dekat lemari. Ia menekan telapak tangannya ke dinding.
"Di sini, Kak. Dulu ada pintu. Tapi sudah ditutup."
Alea mendekat. Ia menyalakan senter ponsel. Dinding itu tampak biasa. Cat krem mulus. Tidak ada retak. Tidak ada bekas.
Tapi saat tangannya menyentuh...
Dingin.
Bukan dingin biasa karena AC. Tapi dingin seperti menyentuh besi di musim salju. Dingin yang merambat ke tulang.
"Ada apa di balik ini?" Alea berbisik.
"Aku."
Alea menoleh. Damian Kecil sudah berdiri di belakangnya. Sangat dekat. Alea bisa mencium bau—bau apa itu? Tanah basah? Atau... bunga layu?
"Tolong aku, Kak."
Suara Damian Kecil bergetar. Untuk pertama kali, ia terdengar seperti anak kecil sungguhan. Bukan hantu. Bukan kepribadian ganda. Tapi anak laki-laki yang ketakutan.
"Aku enggak mau mati lagi."
BRAK!
Pintu kamar terbuka.
Cahaya dari lorong masuk, menerangi setengah ruangan. Damian dewasa berdiri di ambang pintu. Napasnya cepat. Matanya—Alea bisa melihatnya meski dari kejauhan—merah. Seperti habis menangis.
"Alea."
Satu kata. Tapi penuh peringatan.
Alea menoleh ke tempat Damian Kecil tadi berdiri.
Kosong.
Jam weker antik itu tergeletak di lantai. Jarumnya menunjukkan pukul 03.12.
"Alea, minggir dari dinding itu."
Alea menatap Damian dewasa. Untuk pertama kali, ia melihat sesuatu yang berbeda di wajah itu. Bukan dingin. Bukan marah.
Tapi takut.
Diamond—mafia kejam yang bisa membunuh 30 orang sendirian—sedang takut.
"Ada apa di balik dinding ini?" tanya Alea, tidak bergerak.
Damian dewasa masuk ke kamar. Langkahnya lambat. Hati-hati. Seperti berjalan di ladang ranjau.
"Bukan tempatmu."
"Damian Kecil bilang—"
"JANGAN SEBUT DIA!"
Damian dewasa membentak. Pertama kali. Suaranya menggema di kamar luas itu. Alea mundur selangkah, tapi punggungnya sudah menyentuh dinding dingin.
Damian mendekat. Berhenti satu langkah darinya.
"Kau tidak tahu apa-apa," bisiknya. Suaranya serak. Habis. Seperti orang yang baru saja kehilangan sesuatu yang sangat berharga.
"Maka ajari aku." Alea menatap matanya. Tidak takut. "Aku istrimu."
Damian diam. Matanya—Alea bisa melihatnya sekarang—bukan merah karena menangis. Tapi karena insomnia. Karena tidak tidur berhari-hari. Karena menjaga sesuatu.
"Dia muncul lagi?" tanya Damian.
Alea mengangguk.
"Jam berapa?"
"Tepat jam tiga. Seperti kemarin."
Damian menutup mata. Tangannya meraih dinding di samping kepala Alea, menyangga tubuhnya.
"Dia hanya muncul pas jam tiga pagi," gumam Damian. "Karena jam tiga pagi... aku paling lemah."
Alea menahan napas. Damian—untuk pertama kali—berbicara. Bukan dengan Damian Kecil. Tapi dengan dirinya sendiri.
"Aku enggak bisa tidur," lanjut Damian. "Kalau aku tidur, aku kehilangan kendali. Dan kalau aku kehilangan kendali... dia yang ambil alih."
"Damian Kecil?"
"Bukan." Damian membuka mata. Tatapannya tajam, tapi ada sesuatu di baliknya. Sesuatu yang hancur. "Yang lain."
Alea dingin.
"Yang lain?"
Damian tidak menjawab. Ia mundur. Menatap dinding di belakang Alea.
"Di balik dinding ini... ada ruangan. Dulu kamarku. Waktu aku kecil."
Alea menunggu.
"Di ruangan itu... aku belajar membunuh. Bukan musuh. Tapi diriku sendiri."
Damian menatap Alea. Untuk pertama kali, tidak ada topeng. Tidak ada dingin. Hanya seorang pria yang lelah.
"Aku menikahimu bukan karena kau psikiater. Bukan karena kau bisa lihat kematian."
"Lalu?"
"Karena kau satu-satunya yang bisa melihat dia." Damian menunjuk ke tempat Damian Kecil tadi berdiri. "Selama 20 tahun, tidak ada yang bisa melihatnya. Semua orang mengira aku gila. Tapi kau... kau lihat dia. Kau ajak dia bicara. Kau..."
Suaranya pecah.
"Kau buat dia bahagia."
Alea merasa dadanya sesak.
"Damian..."
"Aku tahu aku monster." Damian menatapnya. "Tapi monster itu punya hati. Dan hati itu... sekarang ada di tanganmu."
Ia meraih tangan Alea. Meletakkannya di dadanya sendiri. Alea bisa merasakan detak jantungnya—cepat, tidak teratur, seperti orang yang takut.
"Aku tidak minta kau cinta aku. Aku tidak minta kau maafkan aku." Damian menekan tangannya lebih kuat. "Tapi kalau kau bisa lihat dia... tolong jaga dia. Karena dia satu-satunya bagian diriku yang masih murni."
Alea menatap mata itu. Mata yang sama dengan Damian Kecil. Tapi di sini, di mata Damian dewasa, ada lautan kesepian yang tak bertepi.
"Aku..."
"Jangan jawab sekarang." Damian melepaskan tangannya. "Tapi lain kali dia datang, bilang... bilang Damian dewasa minta maaf."
"Minta maaf? Untuk apa?"
Damian berbalik. Berjalan ke pintu.
"Untuk membunuhnya."
---
Pintu tertutup. Alea sendirian lagi.
Ia menunduk. Jam weker antik itu masih di lantai. Ia memungutnya. Jarum jam menunjukkan pukul 03.33.
Tiga puluh tiga menit sejak Damian Kecil datang.
Alea membolak-balik jam itu. Di bagian belakang, ada ukiran:
"Untuk Damian, 8 tahun. Dari Ibu."
Alea mengusap ukiran itu. Tangannya gemetar.
Lalu ia mendengar sesuatu.
Dari balik dinding.
Suara ketukan.
Bukan ketukan biasa. Tapi ketukan ritmis. Tiga kali cepat. Dua kali lambat.
Tolong...
Alea menempelkan telinga ke dinding.
Tolong aku...
Suara itu—samar, seperti dari jauh—adalah suara anak kecil. Bukan Damian Kecil yang manis. Tapi suara yang lebih tua. Lebih muram.
Namaku Damian... tolong keluarkan aku...
Alea mundur. Jantungnya berdebar kencang.
Ia menatap dinding itu. Lalu ke jam weker. Lalu ke pintu tempat Damian pergi.
"Dua Damian?" bisiknya. "Atau... tiga?"
Ponselnya bergetar—baterai 5%.
Alea segera menghentikan rekaman. Ia membuka catatan, menulis dengan tangan gemetar:
---
TEMUAN BARU:
Damian dewasa sadar dan mengizinkan Damian Kecil menjagaku.
Ada "yang lain" — kepribadian ketiga yang lebih mengerikan.
Dinding ini menyembunyikan ruangan masa kecil Damian.
Di balik dinding... ADA SUARA.
Jam weker dari ibu Damian — mungkin kunci.
Pertanyaan baru:
· Siapa "yang lain" itu?
· Apa yang terjadi di ruangan itu?
· Kenapa ibu Damian memberi jam weker jam tiga pagi?
· Dan suara di balik dinding... siapa itu?
Alea menekan tombol stop rekaman. Baterai ponsel mati.
Gelap total.
Tapi dari balik dinding, ketukan itu masih terdengar.
Tolong... tolong...
Alea memejamkan mata. Tangannya meremas jam weker itu erat-erat.
"Aku akan cari tahu," bisiknya. "Aku janji."
Dan di kejauhan, jam di menara mansion berdentang.
Pukul 04.00.
Fajar belum datang. Tapi Alea tahu—ia sudah terlalu dalam masuk ke sarang monster.
Dan monster yang paling menakutkan... belum muncul.
---[Bersambung ke Bab 7: Tiga Damian]---(ノ゚0゚)ノ→
🔥 CLIFFHANGER UNTUK BAB 7:
Alea menemukan buku harian kedua di balik lemari. Buku itu milik Damian, usia 8 tahun. Di halaman terakhir, tertulis:
"Hari ini aku mati. Yang hidup sekarang Damian. Tapi ada satu lagi—dia yang paling jahat. Kami tidak pernah bicara tentang dia. Tapi dia selalu melihat. Dari balik mata kami."
---
"Kak Alea sudah menemukan pintu menuju masa lalu Damian. Tapi di balik pintu itu, bukan hanya satu monster yang menunggu. Ada rahasia yang lebih gelap dari kematian. Siapkah kalian menemani Alea membuka pintu itu? Like dan komentar jika kalian penasaran dengan kepribadian ketiga Damian! Share ke teman-teman pecinta cerita mafia thriller, karena petualangan ini baru dimulai. Bab 7: Tiga Damian—segera hadir! Jangan lewatkan!"
#TheDevilsWife #IstriIblis #MafiaRomance #HorrorMisteri #NovelLomba #RaidersMembaca