NovelToon NovelToon
Menikahi Bos Janda : Mahar Di Balik Notulensi

Menikahi Bos Janda : Mahar Di Balik Notulensi

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Beda Usia
Popularitas:3.7k
Nilai: 5
Nama Author: Mysterious_Man

Aruna tidak punya pilihan. Untuk mempertahankan kendali atas perusahaan peninggalan suaminya, ia harus memenuhi syarat dalam "Klausul Moral" yang dibuat oleh dewan direksi: ia harus memiliki pendamping sah dalam waktu 30 hari atau posisinya dicopot.
Bukan mencari pria dari kalangan elit, Aruna justru memilih Bumi—karyawan level bawah yang tidak sengaja meretas sistem keamanan pribadinya hanya untuk protes soal uang lembur yang belum dibayar. Aruna menawarkan kesepakatan: Menikahlah denganku, jadilah CEO bayangan, dan aku akan melunasi seluruh utang medis keluargamu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mysterious_Man, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 16: Sandiwara Ganda dan Panggung Kenangan

​Jumat malam.

​Tiga tahun lalu, di hari dan malam yang sama persis, rintik hujan Desember yang membekukan membasahi aspal jalan tol. Di malam jahanam itu, aku berdiri dengan lutut bergetar di depan kantong jenazah berwarna kuning. Udara berbau anyir darah dan karat logam. Dan malam itu, sebagian dari kewarasanku ikut mati bersama pria yang berbaring kaku di dalamnya.

​Kini, Rendra menggunakan tanggal itu sebagai panggung pertunjukannya.

​Ponsel di tanganku perlahan merosot, jatuh ke atas meja kaca di teras safe house hingga menimbulkan bunyi dentingan yang keras. Aku tidak bisa merasakan ujung-ujung jariku. Rasa dingin yang aneh merayap dari pangkal leher, menyebar ke seluruh dada, mencekik setiap pasokan oksigen yang berusaha kuhirup.

​"Aruna?! Bernapaslah. Tatap mataku."

​Suara bariton Bumi terdengar seperti berasal dari lorong yang sangat panjang. Aku merasakan kedua tangannya yang besar dan hangat menangkup pipiku. Ibu jarinya mengusap tulang pipiku, memaksaku kembali ke realita, menarikku keluar dari kubangan memori basah berbau darah itu.

​Aku mendongak. Di bawah cahaya lampu kolam renang yang berpendar biru, mata cokelat gelap Bumi memancarkan kekhawatiran yang begitu pekat.

​"Dia... dia sengaja melakukannya, Bumi," suaraku keluar berupa bisikan yang putus asa. Tubuhku bergetar hebat. "Rendra tahu aku tidak pernah keluar rumah setiap tanggal kematian Adrian. Dia tahu hari itu adalah kelemahanku. Dia sengaja mengadakan Gala Dinner itu besok malam untuk menghancurkan mentalku di depan ratusan wartawan."

​Bumi mengatupkan rahangnya. Urat-urat di lehernya menonjol, menahan amarah yang siap meledak. Namun, sentuhannya di wajahku tetap luar biasa lembut.

​"Rendra adalah seorang pengecut yang bermain dengan rasa takut!," ucap Bumi tajam. "Jika kamu merasa tidak sanggup, kita tidak akan datang. Persetan dengan rumor!, persetan dengan dewan direksi!. Keselamatan mentalmu jauh lebih penting daripada perusahaan ini."

​Kata-kata itu begitu menenangkan, namun sekaligus menyadarkanku.

​Aku menggeleng pelan, meletakkan tanganku di atas punggung tangan Bumi yang masih menangkup wajahku. "Tidak. Jika aku tidak datang, Rendra menang. Dia akan menggunakan ketidakhadiranku sebagai bukti bahwa pernikahan kita hancur. Dia akan langsung menggelar RUPSLB keesokan harinya, mendepakku, dan menggunakan seluruh kekayaan perusahaan ini untuk terus memburu kita."

​Aku menarik napas panjang, mencoba mengisi paru-paruku dengan udara malam yang dingin. "Kita akan datang, Bumi. Tapi kita tidak akan datang sebagai sepasang suami istri yang harmonis di mata musuh."

​Bumi mengerutkan kening. "Maksudmu?"

​Aku menatap lurus ke arah matanya. "Mulai besok pagi di kantor, kita akan melanjutkan sandiwara pertengkaran di ruanganku tadi. Sarah harus percaya bahwa ancaman Rendra berhasil membuat kita saling membenci. Biarkan Rendra berpikir bahwa esok malam di Gala Dinner, dia akan menyaksikan kehancuran kita dari kursi VVIP-nya."

​Bumi terdiam sejenak, memproses strategiku. Perlahan, seulas senyum tipis yang mematikan terbentuk di sudut bibirnya. "Sandiwara ganda. Memalsukan kehancuran di atas pernikahan palsu kita."

​"Tepat sekali." Aku membalas senyumannya.

​Malam itu, di tepi kolam renang yang sunyi, kami menyusun rencana balasan. Dan di antara strategi perang korporat itu, ada sesuatu yang berubah di dalam diriku. Genggaman tanganku di tangannya terasa begitu pas, seolah jemari kami memang diciptakan untuk saling melengkapi.

​Keesokan paginya, panggung sandiwara pertama dibuka.

​Lantai eksekutif Wiratmadja Tech masih sepi saat aku dan Bumi keluar dari lift. Kami berjalan dengan jarak yang sengaja direnggangkan. Tidak ada lagi gandengan tangan. Tidak ada lagi senyum simpul. Wajahku membeku sedingin es, sementara Bumi memasang ekspresi tegang dengan rahang mengeras.

​Saat kami melewati meja sekretaris, Sarah langsung berdiri dengan senyum sapaan paginya yang palsu. "Selamat pagi, Ibu Aruna. Mas Bumi."

​Aku tidak membalas sapaannya. Aku melangkah melewatinya dengan langkah sepatu stiletto yang dihentakkan keras.

​"Pagi, Mbak Sarah," jawab Bumi pendek, nadanya sengaja dibuat ketus.

​Begitu kami masuk ke dalam ruanganku dan pintu nyaris tertutup, Bumi sengaja menahannya sedikit agar suara dari dalam masih bisa bocor ke luar.

​"Kamu tidak bisa terus-terusan mengabaikan masalah ini, Aruna!" bentak Bumi dengan suara menggelegar, memulai aktingnya. Dia membanting sebuah map kosong ke atas mejaku hingga menimbulkan bunyi letupan yang nyaring.

​Aku membalasnya tak kalah histeris. "Lalu kamu mau aku melakukan apa?! Menyerahkan sahamku begitu saja pada bajingan itu?! Kamu yang berjanji akan menyelesaikan masalah sistem keamanan ini, tapi kamu malah mengeluh!"

​"Aku menikahimu bukan untuk menjadi target pembunuhan!" raung Bumi, menendang pelan kaki meja agar menimbulkan suara gaduh. "Kamu bilang Lukman masalah satu-satunya! Kamu membohongiku!"

​Dari celah pintu, aku bisa melihat bayangan Sarah yang berdiri diam, berpura-pura menyusun dokumen di mejanya, padahal telinganya terpasang tajam ke arah ruangan kami.

​Aku melangkah mendekati Bumi, menatapnya dengan amarah palsu, sementara tanganku diam-diam terulur merapikan kerah kemejanya yang sedikit miring.

​"Keluar dari ruanganku, Bumi," desisku tajam dengan volume suara yang keras. "Urus sistem itu atau jangan kembali ke ruangan ini!"

​Bumi menatapku. Di balik ekspresi marahnya yang sangat meyakinkan, mata cokelatnya memancarkan binar geli. Dia memberiku kedipan sebelah mata yang sangat cepat, lalu berbalik kasar.

​Dia menarik pintu ruanganku hingga terbuka lebar, melangkah keluar dengan wajah merah padam, dan membanting pintu kayu jati itu hingga bingkainya bergetar hebat.

​BAM!

​Suasana lantai eksekutif mendadak sunyi senyap. Karyawan yang baru datang saling pandang dengan ngeri.

​Aku membiarkan tubuhku merosot ke kursi kebesaran, menghela napas panjang. Sandiwara ini benar-benar menguras tenaga. Namun, saat aku membayangkan bagaimana senyum kemenangan Sarah saat melaporkan kejadian ini pada Rendra, aku tahu bahwa malam ini, kami memiliki keuntungan elemen kejutan.

​Jumat malam. Pukul tujuh.

​Safe house Kemang disibukkan oleh para penata rias dan busana yang kusewa secara khusus. Mereka bekerja dalam diam di ruang ganti utama, menyulap penampilanku.

​Biasanya, setiap tanggal ini tiba, aku akan mengurung diri di kamar gelap, memakai piyama usang milik Adrian, dan menangis hingga tertidur. Namun malam ini, aku menolak menjadi korban.

​Aku menatap pantulan diriku di cermin full-body.

​Gaun malam haute couture berwarna midnight blue (biru gelap) membalut tubuhku dengan sempurna. Potongannya elegan, lengan panjang namun dengan siluet tegas di bagian bahu, memancarkan aura seorang ratu yang tak tersentuh. Rambut panjangku disanggul rapi ke atas, menyisakan beberapa helai yang membingkai wajahku dengan anggun. Riasanku tajam, dengan lipstik merah maroon yang menyiratkan keberanian.

​Aku tidak terlihat seperti seorang janda yang sedang berduka. Aku terlihat seperti seorang wanita yang siap memimpin peperangan.

​Pintu kamar ganti diketuk pelan.

​"Masuk," ucapku.

​Bumi melangkah masuk. Napasku, untuk kesekian kalinya, seketika tertahan di pangkal tenggorokan.

​Pria yang biasanya hanya mengenakan kemeja katun murah dan sneakers kusam itu, kini telah bertransformasi sepenuhnya. Setelan tuksedo bespoke hitam legam dengan kemeja putih berkerah tegas melekat sempurna di postur tubuhnya yang atletis. Rambut hitamnya ditata rapi ke belakang. Di dadanya, terselip pocket square (saputangan saku) berwarna midnight blue yang senada dengan gaunku.

​Dia tidak lagi terlihat seperti Junior Programmer. Dia terlihat seperti seorang miliarder muda, seorang pewaris takhta yang siap mengklaim kerajaannya.

​"Kamu..." suaraku nyaris hilang. "Kamu terlihat sangat berbeda, Bumi."

​Bumi tersenyum tipis. Semburat merah malu-malu masih muncul di lehernya, membuktikan bahwa di balik setelan mahalnya, dia tetaplah suamiku yang canggung.

​Dia berjalan mendekat, matanya menyapu penampilanku dengan kekaguman yang telanjang. "Dan kamu terlihat luar biasa, Aruna. Rendra akan menyesal mengundangmu malam ini."

​Pujiannya yang jujur membuat kupu-kupu di dadaku beterbangan liar. Namun, saat pandanganku jatuh pada jam dinding yang menunjukkan pukul tujuh lewat lima belas menit—waktu yang tepat saat ambulans membawa Adrian tiga tahun lalu—tanganku mendadak gemetar.

​Bumi menyadarinya. Senyumnya memudar, digantikan oleh tatapan empati yang dalam. Dia melangkah memangkas jarak, mengangkat tangannya, dan menggenggam kedua tanganku yang sedingin es.

​"Bismillah," bisik Bumi lembut. Ibu jarinya mengusap punggung tanganku perlahan. "Kita hanya perlu berjalan masuk, tersenyum, dan menunjukkan pada mereka bahwa kamu tidak bisa dihancurkan. Ingat rencana kita. Jangan biarkan ucapan Rendra memancing emosimu. Aku ada di sampingmu, sepanjang malam."

​Sentuhannya mengalirkan kehangatan yang meredakan gemuruh di dadaku. Aku mengangguk pelan, mempererat genggaman tanganku pada tangannya.

​"Ayo kita hadapi monster itu," balasku.

​Grand Ballroom Hotel Mulia bermandikan cahaya lampu kristal raksasa.

​Alunan musik orkestra klasik mengalun lembut di udara, berpadu dengan suara denting gelas champagne dan tawa renyah para elite bisnis Jakarta. Ratusan tamu kehormatan—mulai dari menteri, jajaran direksi konglomerasi, hingga sosialita—telah berkumpul di sana.

​Di area red carpet depan pintu masuk, puluhan jurnalis dan fotografer sudah menanti seperti sekelompok hyena yang lapar.

​Mobil Maybach hitam kami berhenti tepat di depan karpet merah. Pintu dibukakan oleh petugas valet.

​Kilatan lampu flash kamera langsung menyambar secara membabi buta.

​Bumi turun lebih dulu. Dengan postur tegap dan wibawa yang seolah sudah dilatih seumur hidup, ia mengulurkan tangannya ke dalam mobil. Aku meletakkan tanganku di atas telapak tangannya, dan melangkah keluar dengan keanggunan sempurna.

​"Ibu Aruna! Apakah rumor perpecahan internal itu benar?!"

"Pak Bumi, benarkah pernikahan Anda hanya kontrak untuk mempertahankan saham?!"

"Ibu Aruna! Bagaimana tanggapan Anda tentang status RUPSLB besok?!"

​Berondongan pertanyaan provokatif itu bersahut-sahutan. Sesuai dengan skenario "perang dingin" kami, aku dan Bumi tidak berjalan bergandengan tangan seperti pasangan mesra. Kami berjalan berdampingan, namun dengan jarak yang kentara. Aku memasang wajah dingin yang angkuh, sementara Bumi menatap lurus ke depan dengan rahang mengeras.

​Bagi mata para jurnalis dan Rendra yang pasti sedang memantau, kami terlihat seperti pasangan yang sedang di ambang kehancuran, terpaksa datang bersama hanya karena tuntutan profesional.

​Kami memasuki ballroom yang megah. Tepat di tengah ruangan, dikelilingi oleh jajaran direksi yang menjilatnya, berdiri sang dalang utama.

​Rendra Daniswara.

​Ia mengenakan tuksedo beludru merah maroon yang mencolok. Senyum kemenangannya merekah sempurna saat melihat kami masuk. Matanya menyapu jarak renggang di antara aku dan Bumi, lalu beralih menatapku dengan kilat kepuasan. Dia pasti telah menerima laporan Sarah tentang 'pertengkaran hebat' kami pagi tadi. Umpannya termakan sempurna.

​"Aruna, Sayang," sapa Rendra, melangkah maju menyambut kami, mengabaikan Bumi sepenuhnya. "Aku sangat senang kau memutuskan untuk hadir. Gaunmu sangat indah. Sangat cocok dengan... suasana malam ini."

​Kata 'malam ini' ditekankannya dengan intonasi yang menyayat ingatan.

​Aku memaksa diriku tersenyum tipis. "Terima kasih atas undangannya, Rendra. Aku tidak mungkin melewatkan acara tahunan perusahaanku sendiri."

​Rendra tertawa pelan. "Tentu saja. Perusahaan kita, Aruna. Silakan nikmati hidangannya. Sebentar lagi acara utama akan dimulai. Aku menyiapkan sedikit kejutan untukmu."

​Rendra berlalu menuju panggung utama, diiringi tatapan penuh puja dari para koleganya.

​Dua jam pertama berlalu dengan siksaan mental yang luar biasa. Aku dan Bumi duduk di meja VVIP, dikelilingi oleh tatapan sinis dewan direksi. Kami terus memainkan peran kami—tidak saling bicara, tidak saling menatap. Namun di bawah meja yang tertutup taplak putih panjang, tanpa ada satu pun mata yang melihat... ujung sepatu pantofel Bumi bertumpu ringan pada ujung sepatuku. Sebuah sentuhan rahasia yang menguatkanku.

​Pukul sembilan malam. Tepat di jam di mana napas terakhir Adrian berhembus tiga tahun lalu, lampu ballroom tiba-tiba diredupkan. Lampu sorot putih menyinari panggung utama.

​Rendra berjalan naik ke atas mimbar, diiringi tepuk tangan meriah.

​"Selamat malam, hadirin sekalian yang terhormat," suara Rendra menggema melalui pengeras suara, berwibawa dan penuh karisma. "Malam ini, kita merayakan pencapaian luar biasa Wiratmadja Tech. Namun, sebelum kita bersulang, ada sebuah momen yang tidak boleh kita lupakan."

​Perutku melilit hebat.

​"Tepat di tanggal ini, di jam yang sama tiga tahun lalu... kita kehilangan sosok pemimpin yang brilian. Sahabat saya, dan suami tercinta dari CEO kita. Adrian Wiratmadja."

​Keheningan seketika menyelimuti ruangan. Kamera-kamera wartawan langsung berputar arah, menyorot tepat ke wajahku. Rendra sedang menelanjangiku di depan ratusan pasang mata, mengorek luka terbesarku secara langsung untuk melihatku hancur.

​"Untuk mengenang jasa beliau," lanjut Rendra dengan senyum tipis yang hanya bisa kulihat kekejamannya, "saya ingin meminta Ibu Aruna Wiratmadja untuk naik ke atas panggung. Saya memiliki sebuah kenang-kenangan khusus... sebuah peninggalan terakhir dari mendiang suami Anda, yang baru saja berhasil kami amankan dari pihak kepolisian kemarin."

​Mataku membelalak.

​Di atas panggung, seorang asisten masuk membawa sebuah nampan perak yang ditutupi kain hitam. Di balik kain itu, ada bentuk yang sangat familier. Sebuah bentuk bulat yang bergerigi.

​Lambang kemudi yang patah.

​Rendra benar-benar membawa ancaman pembunuhan itu ke atas panggung Gala Dinner. Jika aku naik ke sana dan membuka kain itu, aku akan hancur lebur secara mental. Rendra akan mendapatkan fotoku menangis histeris, menjadi bukti bahwa mentalku tak lagi stabil untuk memimpin perusahaan. Jika aku menolak naik, aku akan dianggap tidak menghargai mendiang suamiku.

​Skakmat. Rendra menjebakku di sudut yang tak memiliki jalan keluar.

​Kakiku membeku di lantai. Seluruh pandangan di ruangan itu mengarah padaku. Napasku mulai tersengal. Aku tidak bisa naik ke panggung itu. Aku tidak bisa.

​Di saat duniaku terasa akan runtuh, sebuah kehangatan yang familiar tiba-tiba menyelimuti telapak tanganku di bawah meja.

​Bumi menggenggam tanganku dengan erat. Sangat erat.

​Pria itu perlahan bangkit berdiri dari kursinya. Postur tubuhnya yang menjulang tinggi seketika menarik perhatian semua orang di ruangan itu, termasuk Rendra yang keningnya kini berkerut bingung.

​Bumi tidak melepaskan tanganku. Alih-alih membiarkanku sendirian dalam ketakutan, ia menarik tanganku dengan lembut namun pasti, memaksa kami berdua untuk berdiri berdampingan. Di depan ratusan kamera dan tatapan syok para dewan direksi, Bumi merusak sandiwara "perang dingin" kami dengan satu gerakan mutlak.

​Ia mengalihkan pandangannya dari Rendra ke arahku, lalu mendaratkan sebuah kecupan hangat dan lama di punggung tanganku.

​"Tentu saja kami akan menerimanya," suara bariton Bumi menggelegar ke seluruh penjuru ballroom, menenggelamkan keheningan. "Sebagai suami baru Aruna yang berjanji akan menjaga semua warisan masa lalunya, saya akan mendampingi istri saya naik ke atas panggung. Bersama-sama."

​____________________________________________

Wajah Rendra memucat seketika. Skenario yang ia susun rapi hancur berantakan. Ia mengharapkan seorang janda yang gemetar ketakutan, namun yang berjalan menaiki tangga panggung itu adalah seorang ratu yang didampingi oleh seorang ksatria yang tidak kenal takut. Kamera wartawan berpendar gila-gilaan, mengabadikan genggaman tangan kami yang tak terpisahkan. Tepat saat kami berdiri berhadapan dengan Rendra, Bumi mencondongkan wajahnya ke telinga Rendra, berbisik dengan nada yang hanya bisa didengar oleh pria aristokrat itu, "Sekarang, giliranku yang bermain."

1
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐚𝐲𝐨 𝐚𝐫𝐮𝐧𝐚 𝐛𝐞𝐫𝐢𝐤𝐚𝐧 𝐡𝐚𝐤 𝐧𝐲𝐚 𝐛𝐮𝐦𝐢, 𝐤𝐚𝐧 𝐤𝐚𝐥𝐢𝐚𝐧 𝐧𝐢𝐤𝐚𝐡 𝐬𝐚𝐡 😊😊
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐬𝐞𝐤𝐚𝐥𝐢𝐚𝐧 𝐚𝐣𝐚 𝐛𝐮𝐥𝐚𝐧 𝐦𝐚𝐝𝐮 𝐛𝐞𝐧𝐞𝐫𝐚𝐧 𝐫𝐮𝐧 🤪🤪
Pardjan Yono
duh2 ..... aku liat bang Rendra senyum2 , saham nya kan 20%
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐦𝐞𝐧𝐞𝐠𝐚𝐧𝐠𝐤𝐚𝐧 𝐬𝐞𝐤𝐚𝐥𝐢 😭😭😭
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐞𝐦𝐚𝐧𝐠 𝐚𝐧𝐣𝐢𝐧𝐠 𝐬𝐢 𝐭𝐮𝐚 𝐡𝐚𝐫𝐢𝐬 𝐝𝐚𝐧 𝐑𝐞𝐧𝐝𝐫𝐚
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐨𝐭𝐡𝐨𝐫 𝐥𝐮𝐩𝐚 𝐲𝐚

𝐩𝐚𝐬 𝐩𝐚𝐩𝐚𝐬𝐚𝐧 𝐬𝐦 𝐡𝐚𝐫𝐢𝐬 𝐝𝐢 𝐥𝐢𝐟𝐭 𝐤𝐚𝐧 𝐛𝐮𝐦𝐢 𝐮𝐝𝐡 𝐠𝐞𝐫𝐭𝐚𝐤 𝐡𝐚𝐫𝐢𝐬 𝐤𝐥𝐨 𝐮𝐚𝐧𝐠 𝟐𝐌 𝐦𝐞𝐧𝐠𝐚𝐥𝐢𝐫 𝐤𝐞 𝐩𝐞𝐫𝐮𝐬𝐚𝐡𝐚𝐚𝐧 𝐜𝐚𝐧𝐠𝐤𝐚𝐧𝐠 🤔🤔
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥: 𝐨𝐤 𝐤𝐚𝐤 𝐨𝐭𝐡𝐨𝐫 😊😊
total 4 replies
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐚𝐲𝐨𝟐 𝐚𝐫𝐮𝐧𝐚 𝐤𝐚𝐥𝐚𝐡𝐤𝐚𝐧 𝐑𝐞𝐧𝐝𝐫𝐚 𝐛𝐮𝐬𝐮𝐤 𝐬𝐢𝐚𝐥𝐚𝐧 𝐢𝐭𝐮
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐤𝐨𝐧𝐬𝐩𝐢𝐫𝐚𝐬𝐢 𝐣𝐚𝐡𝐚𝐭 😭😭😭
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐩𝐥𝐨𝐭 𝐭𝐰𝐢𝐬𝐭 𝐧𝐲𝐚 𝐬𝐚𝐫𝐚𝐡 𝐩𝐞𝐧𝐠𝐤𝐡𝐢𝐚𝐧𝐚𝐭 𝐚𝐭𝐚𝐮 𝐛𝐢𝐬𝐚 𝐣𝐚𝐝𝐢 𝐝𝐢𝐚 𝐝𝐚𝐥𝐚𝐧𝐠 𝐧𝐲𝐚, 𝐡𝐚𝐫𝐢𝐬 𝐝𝐚𝐧 𝐋𝐮𝐤𝐦𝐚𝐧 𝐩𝐢𝐨𝐧𝟐𝐧𝐲𝐚 😊😊🤪🤪🤣🤣
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐦𝐞𝐰𝐞𝐤 𝐛𝐨𝐦𝐛𝐚𝐲 𝐭𝐡𝐨𝐫 😭😭
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐚𝐩𝐚𝐤𝐚𝐡 𝐬𝐚𝐫𝐚𝐡 𝐚𝐧𝐤 𝐛𝐮𝐚𝐡 𝐋𝐮𝐤𝐦𝐚𝐧? 🤔🤔🤔
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐚𝐤𝐡𝐢𝐫𝟐 𝐢𝐧𝐢 𝐚𝐪 𝐧𝐞𝐦𝐮 𝐤𝐚𝐫𝐲𝐚𝟐 𝐛𝐚𝐠𝐮𝐬 𝐭𝐩 𝐬𝐞𝐩𝐢 𝐩𝐞𝐦𝐛𝐚𝐜𝐚

𝐣𝐮𝐬𝐭𝐫𝐮 𝐤𝐚𝐫𝐲𝐚 𝐲𝐠 𝐜𝐞𝐧𝐝𝐞𝐫𝐮𝐧𝐠 𝐚𝐜𝐚𝐤𝟐𝐚𝐧 𝐚𝐥𝐮𝐫 𝐠𝐤 𝐣𝐥𝐬 𝐥𝐚𝐭𝐚𝐫 𝐤𝐦𝐧 𝐧𝐦𝟐 𝐭𝐨𝐤𝐨𝐡 𝐤𝐦𝐧 𝐛𝐢𝐬𝐮𝐥 𝐤𝐦𝐧 𝐦𝐥𝐡 𝐛𝐧𝐲𝐤 𝐥𝐢𝐤𝐞 𝐝𝐚𝐧 𝐤𝐨𝐦𝐞𝐧𝐭 🤣🤣🤣

𝐬𝐩𝐫𝐭𝐢𝐧𝐲𝐚 𝐬𝐝𝐧𝐠 𝐚𝐝𝐚 𝐟𝐞𝐧𝐨𝐦𝐞𝐧𝐚 𝐩𝐞𝐧𝐮𝐫𝐮𝐧𝐚𝐧 𝐒𝐃𝐌 𝐫𝐞𝐚𝐝𝐞𝐫𝐬 𝐚𝐭𝐚𝐮 𝐦𝐚𝐥𝐚𝐡 𝐒𝐃𝐌 𝐚𝐮𝐭𝐡𝐨𝐫 𝐧𝐲𝐚 𝐲𝐚...


𝐦𝐚𝐚𝐟 𝐬𝐚𝐲𝐚 𝐡𝐚𝐧𝐲𝐚 𝐛𝐞𝐫 𝐨𝐩𝐢𝐧𝐢 𝐬𝐛𝐠 𝐫𝐞𝐚𝐝𝐞𝐫𝐬 𝐤𝐫𝐧 𝐬𝐲 𝐭𝐝𝐤 𝐜𝐮𝐤𝐮𝐩 𝐩𝐞𝐝𝐞 𝐦𝐞𝐧𝐣𝐚𝐝𝐢 𝐚𝐮𝐭𝐡𝐨𝐫 𝐝𝐚𝐧 𝐬𝐚𝐲𝐚 𝐦𝐬𝐡 𝐟𝐚𝐤𝐢𝐫 𝐢𝐥𝐦𝐮 😊😊😊
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐦𝐞𝐰𝐞𝐤 𝐭𝐡𝐨𝐫 😭😭😭
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐁𝐚𝐠𝐮𝐬 𝐜𝐞𝐫𝐢𝐭𝐚𝐧𝐲𝐚 𝐛𝐚𝐡𝐚𝐬𝐚𝐧𝐲𝐚 𝐦𝐮𝐝𝐚𝐡 𝐝𝐢𝐩𝐚𝐡𝐚𝐦𝐢, 𝐚𝐥𝐮𝐫𝐧𝐲𝐚 𝐣𝐠 𝐦𝐚𝐬𝐮𝐤 𝐚𝐤𝐚𝐥....

𝐥𝐧𝐣𝐭 𝐛𝐚𝐜𝐚 𝐚𝐡
𝐬𝐞𝐦𝐚𝐧𝐠𝐚𝐭 𝐤𝐚𝐤 𝐨𝐭𝐡𝐨𝐫 😘😘😘
Rio Mario
kok sepi sih padahal cerita bgus banget .. semangat kak💪
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥: 𝐚𝐪 𝐬𝐞𝐫𝐢𝐧𝐠 𝐧𝐞𝐦𝐮 𝐤𝐚𝐤 𝐜𝐞𝐫𝐢𝐭𝐚𝟐 𝐛𝐚𝐠𝐮𝐬 𝐬𝐞𝐩𝐢 𝐥𝐢𝐤𝐞 𝐝𝐚𝐧 𝐤𝐨𝐦𝐞𝐧𝐭 𝐛𝐚𝐡𝐤𝐚𝐧 𝐬𝐞𝐩𝐢 𝐫𝐞𝐚𝐝𝐞𝐫𝐬𝐧𝐲𝐚 😭😭😭
total 1 replies
Erna Lisa
mantap
Erna Lisa
lanjutkan
Erna Lisa
👍👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!