NovelToon NovelToon
Pendekar Legenda Naga

Pendekar Legenda Naga

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Epik Petualangan / Balas Dendam
Popularitas:10k
Nilai: 5
Nama Author: Agen one

“Ibu … apa Ibu akan kembali menjemputku?”

Itu adalah kata-kata terakhir Lu Ming sebelum ibunya pergi dan tak pernah kembali.

Ditinggalkan di kota asing, ia tumbuh dengan harapan yang tak pernah padam—menunggu seseorang yang mungkin tak akan pernah datang.

Saat ia berumur 10 tahun, ia berhenti menunggu dan memilih mencari. Perjalanan itu membawanya pada satu tujuan: menemukan ibunya.

Namun ketika akhirnya ia bertemu … bukan pelukan hangat yang ia dapatkan, melainkan kenyataan pahit yang menghancurkan segalanya.

Apakah kebenaran yang begitu kejam itu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agen one, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 32: Niat untuk membunuh

Liu Shen terhempas ke udara, namun ia berhasil menangkap kaki Lu Ming dengan tangan kirinya. Keduanya jatuh dari ketinggian sepuluh meter sambil tetap saling baku hantam.

Liu Shen melayangkan tinju yang membawa aura hitam ke wajah Lu Ming, sementara Lu Ming menyayat lengan Liu Shen berkali-kali dengan kecepatan mata pisau bedah.

​DUAAGH!

​Mereka menghantam tanah bersamaan, menciptakan ledakan debu yang menutupi seluruh area desa.

​Dari dalam debu, Liu Shen bangkit dengan mata merah menyala. Darah mengalir dari dahi dan lengannya, namun auranya justru semakin gila.

Lu Ming berdiri tidak jauh darinya, jubah birunya kini robek di sana-sini, memperlihatkan otot-ototnya yang bergetar karena beban Qi yang melampaui batas.

​Liu Shen memegang pedang Paman Han dengan kedua tangan, mengangkatnya tinggi-tinggi.

Seluruh api di desa itu mendadak tersedot ke bilah pedang tersebut, mengubah pedang besi hitam itu menjadi pedang api neraka yang berkobar.

​"Lu Ming... satu serangan!" teriak Liu Shen.

​Lu Ming tidak menjawab. Ia hanya memegang pedang pendeknya dengan posisi terbalik.

Ia menarik napas panjang, dan seluruh darah yang tergenang di tanah di sekeliling mereka mulai melayang, berkumpul di sekitar pedang pendeknya, membentuk mata pisau cairan merah yang sangat panjang dan tajam.

​Mereka berdua menerjang untuk terakhir kalinya.

Tidak ada suara. Tidak ada angin.

​ZING!

​Keduanya berpapasan di tengah kawah. Mereka berdiri saling membelakangi.

​Detik pertama, hening.

Detik kedua, pedang besar Paman Han retak dan patah menjadi dua.

Detik ketiga, jubah Lu Ming meledak, dan luka sayatan besar muncul di dadanya, menyemburkan darah.

​Di saat yang sama, rambut putih Liu Shen terpotong sebagian, dan di tanah di bawahnya, darah membentuk satu kalimat kaligrafi yang ditulis oleh Lu Ming saat mereka berpapasan tadi:

​"Saudara adalah cermin yang retak; satu bayangan, dua luka."

​Liu Shen jatuh bertumpu pada satu lutut, memuntahkan darah hitam. Lu Ming terhuyung, namun tetap berdiri, meskipun pedang pendeknya kini hancur menjadi serpihan.

​Pertarungan itu tidak menyisakan pemenang yang utuh. Di bawah langit yang kini benar-benar gelap, hanya tersisa dua raga yang hancur, dikelilingi oleh puisi darah yang terukir di atas tanah yang mati.

​Suara denting logam yang patah masih terngiang di udara yang pengap oleh bau belerang dan darah.

Pedang besar Paman Han tinggal separuh di tangan Liu Shen, dan belati kebanggaan Lu Ming telah hancur menjadi serpihan debu besi.

Namun, kehancuran senjata itu justru menjadi pembuka bagi babak yang lebih mengerikan.

​Kedua pria itu melepaskan sisa gagang senjata mereka. Mereka berdiri di tengah kawah, terengah-engah, dengan mata yang tidak lagi memancarkan kemanusiaan.

Di sini, di titik nadir ini, teknik kultivasi yang tinggi mulai bercampur dengan insting binatang buas.

​Liu Shen menerjang lebih dulu. Tanpa pedang, ia adalah badai penghancur.

Tinju kanannya yang dibungkus Qi hitam pekat menghantam udara, menciptakan gelombang kejut yang meretakkan tanah sebelum pukulannya mendarat.

Lu Ming tidak menghindar, amarahnya telah mencapai titik didih. Ia menyambut tinju itu dengan telapak tangan terbuka yang dialiri Qi merah darah.

​BOOM!

​Gelombang tekanan udara meledak di antara mereka, menerbangkan puing-pagi bangunan di radius sepuluh meter.

Lu Ming memutar pergelangan tangannya, mencoba mematahkan jari Liu Shen, namun Liu Shen lebih cepat, ia menghantamkan dahi kepalanya ke wajah Lu Ming.

​KRAK!

1
Dhewa Iblis
Kereenn...
Beni: makasiihhh. lanjut teruuus
total 1 replies
Dhewa Iblis
Mantapp...
Dhewa Iblis
Next...
Dhewa Iblis
Mantap...
Dhewa Iblis
Next...
Dhewa Iblis
Mantap...
Dhewa Iblis
Lanjut...
Dhewa Iblis
Next...
Dhewa Iblis
Lanjut...
Dhewa Iblis
Next...
Dhewa Iblis
Semangaatt thorr...
Dhewa Iblis
😥😥😥
Dhewa Iblis
Laaannnjjjuuttt...
Dhewa Iblis
Laaannjuut..
Nanik S
Apakah Liu Shen dibawa kesekte Suci
Nanik S
Wajah yang lama dirindukan tapi akhirnya menjadi kebencian tiada batas
Beni: lebih memilih harta dan membuang masa lalu/Scowl/
total 1 replies
Nanik S
kenapa mereka tidak bekerja sama menghancurkan ke Kaisaran
Beni: perbedaan pendapat
total 1 replies
Nanik S
Ceritanya bagus Tir
Nanik S
Cerita yang sama sama membawa kekecewaan
Nanik S
Liu Ming benar benar kecewa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!