Zeya Aurelie mencintai Dewangga Lintang Geraldo selama empat tahun, dua tahun penuh kebahagiaan, dan dua tahun berikutnya dipenuhi jarak yang tak kasat mata. Sejak kematian sahabat Dewangga, kehadiran Selina Amoura sebagai tanggung jawab yang harus ia lindungi perlahan menggeser posisi Zeya sebagai prioritas di hidupnya.
Hingga pada hari yang seharusnya menjadi awal bahagia mereka, justru menjadi hari paling kelam dalam hidup Zeya. Di saat ia kehilangan kedua orang tuanya secara tragis, Dewangga tak pernah datang, lebih memilih berada di sisi wanita lain. Hancur dan kecewa, Zeya memilih pergi, membawa luka, dan sebuah kehidupan yang berada didalam rahimnya.
Kini, ketika penyesalan akhirnya menyadarkan Dewangga, semuanya sudah terlambat. Ini adalah kisah tentang cinta yang dikhianati, tentang kehilangan, dan tentang perjuangan seorang pria untuk mendapatkan kembali wanita, serta anak, yang hampir ia kehilangan selamanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Greytha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 6
Cika memastikan Zeya sudah kembali tertidur sebelum akhirnya memberi isyarat pada Linda untuk keluar sebentar. Mereka menutup pintu ruang rawat perlahan, lalu berhenti di lorong rumah sakit yang mulai sepi.
Lampu putih di langit-langit memantulkan bayangan pucat di wajah keduanya. Untuk beberapa detik, tak ada yang berbicara.
Linda akhirnya memecah keheningan.
"Cik… lo benar-benar mau bawa dia pergi hari ini?"
Cika menghembuskan napas panjang, matanya menatap lurus ke depan seolah sedang menahan banyak hal.
"Iya."
Linda langsung menggeleng pelan. "Dia baru saja pingsan, mentalnya juga belum stabil. Belum lagi" ia menurunkan suaranya sedikit, "kondisinya sekarang."
Cika tahu maksudnya.
"Dokter sudah bilang perjalanan masih boleh selama kita hati-hati," jawab Cika pelan. "Dan gue nggak akan biarin dia sendirian."
"Tapi tetap saja, Cik…" Linda terlihat ragu. "Ini keputusan besar."
Cika menoleh menatapnya, kali ini dengan tatapan lebih serius.
"Gue akan bawa dia pergi naik pesawat . Perjalanan lebih cepat dan aman."
Linda terdiam, mencerna kalimat itu.
"Gue boleh ikut?" tanyanya.
Cika menggeleng. "Nggak. Lo nggak ikut."
Linda langsung mengernyit. "Kenapa?"
"Lo harus tetap di sini," jawab Cika tenang. "Ada satu hal yang lebih penting."
"Apa?"
Cika menatap Linda beberapa detik sebelum berbicara pelan namun tegas.
"Kepergian kami… tidak boleh diketahui siapa pun."
Linda langsung memahami arah pembicaraan itu.
"Termasuk… Kak Dewangga?" tanyanya ragu.
Cika mengangguk tanpa ragu sedikit pun.
"Terutama dia."
Linda langsung menghela napas berat. Tangannya mengepal kecil di sisi tubuhnya.
"Cik… itu kakak gue"
"Gue tahu," jawab Cika pelan.
"Tapi dia juga ayah dari anak yang sedang Zeya kandung sekarang."
Kalimat itu menggantung beberapa detik di udara.
Cika menunduk sebentar, lalu kembali mengangkat wajahnya. Tatapannya berubah lebih tajam.
"Dan lo tahu juga kan," katanya pelan, "selama dua tahun ini Zeya diperlakukan seperti apa, setelah kedatangan wanita itu dihidup mereka.?"
Linda terdiam.
Cika melanjutkan dengan suara lebih berat.
"Gue tahu semuanya, Lin. Zeya mungkin nggak pernah cerita banyak ke orang lain, tapi gue lihat sendiri."
Linda menggigit bibirnya.
"Setiap kali dia pulang dengan mata bengkak karena habis menangis."
"Setiap kali dia pura-pura bilang semuanya baik-baik saja."
"Dan sekarang…" suara Cika mulai bergetar, tapi ia tetap menahannya," saat Zeya kehilangan kedua orang tuanya dalam satu hari"
Cika berhenti sejenak sebelum melanjutkan dengan nada getir.
"Dewangga malah ada di mana?"
Linda menunduk.
Cika menatapnya lurus.
"gue tahu dia lagi sama perempuan itu."
Kalimat itu membuat Linda menutup matanya sesaat.
Ia tidak bisa membantah.
"Gue emang sering terlihat cuek, dan terkesan tidak perduli, tapi sebenarnya gue nyari tau, gue selalu pantau hubungan mereka saat ngeliat perubahan Zeya yang selalu murung, dan yahh, gue sampai pada fakta tentang perempuan itu"
Linda hanya menunduk tak berani menatap mata Cika. Padahal bukan dia yang melakukan kesalahan itu, tapi dia yang harus menanggung perasaan malu dan bersalah ini.
"Gue juga tau dimana Dewangga sekarang, dan kalo gue mau, bisa aja gue samperin dan seret mereka kesani, sekarang juga."
Cika menghela nafas berat, mencoba menahan emosinya.
"Tapi itu cuman bisa bikin Zeya semakin tertekan, dan kita semua ngak mau itu terjadi. Sekarang kesehatan Zeya dan kandungannya adalah yang paling penting."
"Gue bukan mau merusak hubungan kakak adik kalian," lanjut Cika lebih pelan. "Tapi kali ini… gue harus pilih Zeya."
Lorong rumah sakit terasa semakin sunyi.
Linda menarik napas panjang, dadanya terasa sesak.
"Gue cuma mau bawa dia ke tempat yang aman dulu," lanjut Cika. "Tempat di mana dia bisa bernapas tanpa harus terus mengingat semua ini."
Linda akhirnya bertanya pelan, "Kalian pergi kesana?"
Cika terdiam beberapa detik sebelum menjawab.
"Iya, kota Bandung".
"Masa kecilnya dulu di sana. Rumah lamanya masih ada."
Linda mengangguk kecil, mengingat cerita itu.
"Kami akan naik pesawat malam ini, Lebih cepat, dan Zeya tidak perlu terlalu capek."
"Selain itu, gue juga sudah menghubungi bibi pengurus rumah buat siapin kami kamar dan nyuruh mereka buat jemput kami di bandara, sekalian bawa dokter untuk ngawasin kondisi Zeya selama perjalan, karena perjalanan ke desa tujuan kami cukup jauh." lanjut Zeya
Linda masih terlihat ragu.
"Cik… kalau Kak Dewangga tahu…"
"Itu sebabnya gue butuh bantuan lo," potong Cika lembut.
Linda menatapnya.
"Tolong jangan beri tahu dia," lanjut Cika. "Jangan beri tahu siapa pun ke mana kami pergi."
"Tapi Bandung itu, bukannya gampang buat kak Dewangga nyarinya, apalagi dengan kekuasaan yang dimilikinya? " tanya Linda khawatir.
Ia menarik napas panjang sebelum berkata lebih pelan.
"Tempatnya terpencil, disebuah desa yang bernama Barus, sulit untuk menemukannya ditempat terpencil itu" jelas Zeya
"Bukanya itu terlalu jauh?" tanya Linda ragu
"Anggap saja Zeya butuh waktu menghilang dari semua orang."
Linda memejamkan mata beberapa detik. Ia seperti sedang berperang dengan pikirannya sendiri.
Di satu sisi ada kakaknya.
Di sisi lain ada perempuan yang selama ini sudah ia anggap seperti keluarga.
Akhirnya ia membuka mata lagi.
"Kalau gue bantu kalian…" suaranya lirih, "lo janji akan jaga dia dan calon keponakan gue?"
Cika langsung mengangguk.
"Dengan hidupku."
Linda terdiam beberapa detik lagi sebelum akhirnya menghela napas panjang.
"Oke."
Cika tersenyum tulus mendengar persetujuan Linda.
Linda menatap lurus ke depan.
"Ge bantu kalian."
Meski jelas terlihat bahwa keputusan itu tidak mudah baginya.
"Tapi gue melakukan ini untuk Zeya… bukan untuk melawan kakak gue."
Cika mengangguk pelan.
"Itu sudah lebih dari cukup."
Linda menyandarkan kepalanya sebentar ke dinding lorong, lalu kembali berdiri tegak.
"Sekarang kita harus cepat," katanya. "Aku akan pulang ke rumah, ambil barang-barang lo Zeya.
"Baju, dokumen penting, dan obat dari dokter juga."
Cika mengangguk.
"gue juga akan cek jadwal penerbangan yang paling cepat."
"Baik."
Linda menatap Cika sekali lagi sebelum berkata pelan,
"Semoga kita tidak menyesal melakukan ini."
Cika menoleh ke arah pintu ruang rawat tempat Zeya berada.
Tatapannya melembut.
"Kalau itu bisa menyelamatkan dia…" gumamnya pelan.
"Gue rela menanggung apa pun setelahnya."