Capella Starheart!
Seorang Gadis Remaja Cantik 16 Tahun baru saja pindah dari kota bawah ke kota layang Star Colossus bersama satu keluarga kecilnya.
Gadis itu tahu tidak akan ada banyak yang berubah di sana.
Memulai kehidupan baru di sebuah perumahan bernama Harmonia, menjalin ikatan baru dengan tetangga dan juga di lingkungan sekolah barunya.
Hidup berdampingan dengan Para Monster dan Kelompok Pahlawan dijuluki The Masquerades sudah biasa di zaman penuh teknologi maju sekarang ini.
Tapi yang jadi pertanyaan adalah... Ada tujuan apa Ibunya membawanya ke atas sana?
(Science Fantasy Ini Lebih Menceritakan Sisi Kehidupan Karakter, Dan Tidak Sepenuhnya Dalam Konflik Serius Yang Berbahaya)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fredyanto Wijaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
(Part 6)
[BAB 6: Bintang Jatuh]
Pisau dingin di genggamannya.
Dia menyayat potongan kecil daging steak itu. Teksturnya sedkiti lebih keras dari daging steak yang pernah dirinya makan waktu di kota bawah tapi... itu jauh lebih enak! Tidak buruk!
Entah rempah macam apa yang mereka gunakan di Harmonia. Hampir terlalu sempurna di lidah.
Capella mengunyah pelan-pelan sambil menatap piringnya sendiri.
Di sisi meja yang lain, Tim yang hampir tidak menyentuh hidangan pendamping, yaitu sup, baru saja selesai melahap makanannya. Pipinya masih merah padam bekas sesi VR treadmill yang intens tadi. Bibirnya penuh saus kecoklatan daging steak bacon seperti coretan abstrak cat di kanvas.
Dengan usapan cepat seadanya, dia membersihkan dengan selembar tisu lalu membuangnya ke atas piringnya sendiri yang masih meninggalkan sisa saus tadi.
Dengan ekspresi wajah penuh semangat, Tim langsung melompat turun dari kursi. Kursinya sampai tergeser mundur dengan kasar, mengeluarkan bunyi decit memilukan dari bawah kaki kursi dan lantai kayu yang licin pernisan.
Tapi tunggu...
Oh ternyata... semua itu tidaklah asli, tapi lantai berteknologi yang tampilannya dirancang seperti kayu yang dipernis.
Bagaimana cara mengetahuinya?!
Capella tidak sengaja melihat bekas garis baret atau gesekan brutal kaki kursi yang dibuat oleh Tim pada lantai tadi. Bekas gesekan itu lenyap dalam beberapa detik. Seperti ada teknologi pemulihan atau disebut regenerasi.
Sedangkan Tim tidak memperhatikan apapun lagi.
Matanya sudah tertuju kembali pada treadmill VR di sudut ruang yang masih menyala standby dengan cahaya neon biru muda yang menggoda. Dia mengusap cepat sisa noda saus di mulutnya dengan punggung tangan, sebelum jari-jarinya bergerak cepat pada layar hologram daftar game itu lagi.
Di bawah meja yang masih ditempati Capella dan Ibunya...
Bunyi tabrakan kecil dibuat oleh Zero.
Itu sebenarnya sudah berlangsung selama ketiganya masih berkumpul menyantap makanan bersama tadi. Mungkin, mereka mengira kalau bunyi ritme berulang itu adalah detik jam di rumah baru mereka.
Klack klack klack... Robot kecil Zero masih mengulang ritme seperti detik jam.
Tubuhnya terus menabrak-nabrak sisi bawah meja dengan ritme monoton.
Masih di tengah kesibukannya pada makanan, Ibu Capella sesekali menoleh memandang Tim yang sudah kembali di treadmill VR tadi. Seluruh ruangan mulai diisi suara berisik dari game baru yang dipilih Tim setelah seluruh fitur tambahan dari mesin VR menyala bertahap menyesuaikan game yang dipilih. Ibunya juga tidak menyadari sisa noda di pinggir mulut Tim, atau bahkan ritme benturan robot Zero_ tepat di bawah satu-satunya batang kaki penyangga yang menopang luasnya bulatan meja tersebut.
"?!" Capella mulai menyadarinya. Mulutnya masih mengunyah, sisi pipi kanannya agak mengembung penuh kunyahan makanan. Dia mendengar ritme yang mulai semakin jelas terdengar walaupun Tim di sudut sana mulai membuat suara hiruk pikuk dari game perang luar angkasa yang baru saja dimainkannya. Musik intro semakin intens.
Capella memiringkan tubuhnya untuk memeriksa... mengintip ke bawah meja yang masih ditempati dirinya dan juga Ibunya. Dan terlihatlah si robot yang baru saja masuk daftar list pengganggu nya.
Dia sudah seperti mesin rusak di bawah sana. Di pikiran Capella... Keisengannya pun mulai kambuh.
Kembali menegakan tubuhnya dengan mulut masih mengunyah pelan, Capella, melirik ganti cepat ke arah Tim dan Ibunya. Sebelum kemudian... salah satu kakinya yang tadi tersembunyi santai di balik bawah meja sengaja menendang robot itu sampai terjengkang. PRAK!
Zrrrrrrt... Rodanya masih berjalan walaupun sudah dalam keadaan terbaring miring.
Zero berputar-putar di lantai seperti mainan robot anak-anak yang sulit berdiri ketika sudah terlanjur jatuh. Kepalanya tetap di tempat tapi rodanya membuat tubuh utamanya terus berputar 360 derajat, mengelilingi kepalanya yang menjadi pusat jarum jam.
Capella sampai sedikit tersedak ketika kembali mengecek dan melihat kekonyolan dari robot kecil itu. Ujung jemari kanannya spontan menutup mulutnya yang agak menunjukan senyum dan hampir tertawa lepas tapi berusaha ditahan.
Ibunya sedikit melirik penasasan karena suara sedakannya tadi. Tapi Capella pura-pura duduk tegap, seakan tidak ada sesuatu yang lucu yang baru saja dilihatnya.
Capella mengambil minum agar menghindari kecurigaan Ibunya. Meminumnya seteguk lalu kembali mengecek bawah meja saat Ibunya tiba-tiba mulai teralihkan pada sesuatu yang terlintas di isi kepalanya.
Dengan gerakan bangun yang agak berbobot karena tubuh yang lelah_ tangan menekan meja_ dia beranjak dari kursi dan berpaling menuju rak penyimpanan barang bawaan mereka sebelumnya.
Ibunya pergi ke sudut tempat laptop nya masih tersimpan di dalam tas pindahan.
Tangannya merogoh tas tapi dia tidak langsung kembali ke meja makan. Berdiri tegap... laptop kecil tipe lawas yang ditopang di satu lengan tangannya dibuka saat itu juga. Cahaya dari screen tablet yang agak baret-baret memancar terang di wajahnya.
Perintah di otaknya membuat Kebisingan Tim dari arah balik punggungnya seakan sama sekali tidak terdengar di telinganya.
Dia juga pun teralihkan dari Capella.
Robot itu masih berputar tapi agak macet-macet seperti hampir kehabisan baterai. Capella kembali memastikan Tim dan Ibunya tidak sedang melihat ke arahnya. Memastikan mereka sungguh teralihkan.
Bagus! Mereka semua sedang sibuk pada urusannya sendiri! Pikirnya.
Berusaha senyap, tubuhnya menyelinap ke bawah meja yang cukup bisa dijadikan tempat bersembunyi sesuai jumlah kursi di sana. Tujuh orang. Kecuali jika mereka semua berbadan besar.
Capella mungkin sedikit kasihan padanya. Robot kecil itu maksudnya. Walaupun dia memang hanya benda mati tidak berperasaan yang hanya diisi perintah rumahan sederhana yang harus dipatuhi.
Zrrrrrrrrrrt...
Bola mata Capella sampai pusing mengikuti tubuh Zero yang masih berputar. Sesaat memandangnya seperti itu, Capella dengan hati-hati mengambilnya dan menaruhnya dalam posisi seharusnya. Berdiri dengan roda yang langsung diam ketika dia memosisikan benar.
Lensa kuning dan bentuk garis mata pada lensanya hanya berkedip-kedip datar tanpa ekspresi ketika Capella mengangkatnya. Dari sudut pandang robot itu... hanya pandangan layar kekuningan yang kosong. Seperti kamera yang tidak sedang merekam apapun.
Tubuhnya hanya diam tidak bereaksi sedikitpun.
Sampai tiba-tiba... "Pengkhianat! Pengkhianat! Pengkhianat!" suara melengking seperti alarm peringatan tanda bahaya. Kedua tangan capit Zero yang tidak seberapa panjang terangkat cepat dan bergetar seperti orang yang sedang panik meminta pertolongan.
"Shh Shh Shh! Hey diamlah! Oke Oke aku minta maaf!" Desak Capella panik, sesekali melirik ke arah luar dari balik bawah meja untuk memastikan. Tangannya beberapa kali berusaha menyentuhnya tapi tidak ragu.
Robot itu bahkan tidak memiliki mulut untuk dia bungkam. Tidak ada mulut, dan juga tidak ada spot jalur keluar suara yang jelas. Suara robotik nya seakan keluar dari berbagai sela mesin di tubuhnya.
"Pengkhianat! Pengkhianat! Pengkhianatan! Aaaaaaaaaa...!" terusnya tanpa henti. Suaranya keras tapi datar tanpa ekspresi. Bahkan ketika dia berteriak tadi.
Dia berputar-putar kecil dihadapannya untuk sesaat, sebelum kemudian mendadak mengubah gerakan loopingnya tadi.
Tubuh kubusnya melaju cepat keluar dari bawah meja sana dengan gerakan berliku-liku_ kanan kiri kanan kiri dengan kedua tangan capitnya masih terangkat keatas.
Dia menuju ke lokasi treadmill VR.
Sial! Robot itu akan mengadu pada sahabat barunya! Pikir Capella berlebihan.
Tanpa pikir panjang, Capella segera keluar dari bawah meja. Kepalanya sedikit terbentur tapi tidak terlalu dipedulikan. Hanya spontan meraba kepalanya ketika dia menyembul keluar dari bawah sana.
Mengambil tabletnya yang nyala pada layarnya masih bertahan di atas meja, dan berjalan buru-buru tapi berusaha tenang menuju tangga spiral yang berada di tengah-tengah luas lantai dasar rumah baru mereka. Tangga piano.
Untung saja suara permainan hologram VR dan iringan musik intens pertarungan itu menyamarkan suara Zero.
Tapi dengan kebetulan, Ibunya lalu berpaling dari arah rak penyimpanan dan melangkah kembali ke meja. Pandangannya masih fokus menunduk pada layar laptop itu di beberapa langkah pertama sebelum... "Sayang?!" kepalanya terangkat.
Jari tengahnya yang sibuk menggeser-geser kursor berhenti bergerak.
Dari sudut pandangannya ketika masih menatap layar laptop tadi, dia bisa melihat Capella menjauh. Arah jalannya yang seharusnya lurus kembali ke meja makan langsung spontan melenceng_ berusaha mendekat menghampiri Capella yang pergi begitu saja.
Satu daging steak masih utuh di atas piringnya.
"Aku kenyang Mah! Aku ke atas pengen lihat kamar baruku dulu!" Ucap cepat apa adanya, tapi cukup masuk akal sebagai alasan.
Matanya sempat melirik pada robot yang berusaha memancing perhatian Tim di ujung sana.
Kakinya buru-buru menaiki setiap anak tangga yang kembali mengeluarkan cahaya warna-warni dan bernada itu... Deng! Dong! Dong! sebelum keberadaannya lenyap di lantai atas.
"Oh... Oke sayang!" Matanya berkedip cepat dua kali. Sesaat masih terpaku menatap ke arah atas_ arah anak perempuannya itu sudah tidak lagi terlihat dari pandangannya. Hanya suara langkah samar dari atas.
Ibunya tidak mau berpikir pusing-pusing dan segera kembali ke meja makan untuk menyelesaikan santapannya, juga bersamaan apa yang akan dilakukannya dengan laptop itu.
"Pengkhianat! Pengkhianat!" Zero masih mondar-mandir di samping mesin treadmill VR. Tim yang masih di tengah pertarungan dengan holografik pedang cahaya merah ditangannya mulai teralihkan pada Zero yang ribut sendiri selama di tengah keseruannya.
"Ah!! Apa sih?!" Tim protes, setelah dua sosok hologram_ satu yang ramping dengan pedang cahaya pink dan yang kedua berbadan agak besar dengan pedang cahaya biru akhirnya berhasil menebas dirinya dari dua arah berlawanan.
Neon merah pada lingkar treadmill berkedip tanda, GAME OVER! suara berisik dari game itupun redah dalam keheningan mendadak.
Bekas holografik garis tebasan masih membekas di tubuh Tim sebelum kemudian berkedip-kedip dan hilang dalam butiran proyeksi yang terpecah ke langit-langit ruangan.
Tangan capit Zero yang sedikit memanjang meraih celana panjang Tim. Menarik-nariknya seperti anak kecil yang berusaha mengadu pada orang tuanya. Dan tanpa menoleh mengecek kembali, tangan satunya menunjuk lurus ke arah meja tadi.
"Pengkhianat! Pengkhianat! Pengkhianat di meja! Pantas untuk dihukum!" Terus menarik-narik celananya. Hanya suaranya yang sekarang terdengar jelas.
Tetap memijak pada lantai treadmill VR, Tim, lebih merendahkan tubuh dekat pada robot itu dari atas sana. "Hah?! Maksudnya Ibuku?!" Alis Tim terangkat sebelah, jarinya menunjuk kecil kearah yang di meja sana.
Zero pun memutar kepalanya karena respon Tim yang tidak sesuai dengan apa yang ia dimaksud.
Pas menoleh... Dia pun baru menyadari kalau si Gadis dengan tablet yang telah menendangnya itu tadi sudah tidak lagi berada di sana, dan hanya tinggal Margaret seorang yang sontak membeku di kursinya.
Belum masuk ke dalam mulutnya_ Potongan daging steak di ujung garpu mengambang tepat di depan mulutnya yang terbuka.
Pandangannya terpaku, melirik pada robot kecil bersuara keras itu.
"BERANI-BERANINYA... ." 💢
...----------------...
Di lantai atas...
Capella sudah berdiri di tengah lantai lingkaran yang tidak terlalu luas_ mungkin hanya bisa dipijak sepuluh orang bila saling merapat_ permukaan lantai yang warnanya lebih gelap dan bertekstur lebih kasar berpola dibandingkan yang di lantai bawah.
Lantai itu dikelilingi kolam ikan membentuk cincin sempurna. Kolam kaca luas yang mengelilingi area pijakan utama.
Pemandangan yang keren.
Mereka bahkan terlalu indah untuk disebut ikan, karena semua itu nyatanya hanya ikan hias buatan_ Ikan-ikan robot dengan sisik dari panel nano bergerak dalam formasi yang terlalu teratur. Sirip mereka memancarkan cahaya Bioluminesensi dalam pola-pola geometris yang berubah setiap kali Capella mencoba bergerak mendekat.
Bau ozon tipis mengambang di udara, bercampur dengan aroma air yang terlalu murni_ seperti hujan pertama di planet asing.
Di seberang kolam, lima pintu kamar dengan siluet simbol-simbol bercahaya tampak seperti mengapung di dinding yang terbuat dari material sama sekali tak dikenal. Pantulan dari cahaya di air menciptakan efek Water Caustics pada dinding dan kelima pintu yang mengitari tempat tersebut.
Tiba-tiba tanpa peringatan apapun... Ada sensor cahaya merah dari langit-langit lantai dua yang memancar memindai tubuhnya.
Capella tersentak sedikit.
Cahaya merah itu memancar dari bawah ujung kaki hingga semakin naik ke betis dan seterusnya.
Dia berusaha tidak panik. Capella tetap berdiri di tempat tapi posturnya spontan lebih terbuka_ seakan dirinya sedang mempersilahkan. Tangan dengan tablet yang biasa selau menutup di depan tubuhnya langsung turun saat sistem apapun yang sedang dilakukannya itu mulai semakin naik menyorot bagian tengah tubuhnya.
Mungkin hanya pemindaian. Ya! Sepertinya memang benar.
Setelah cahaya itu memindai tubuhnya dan mati dengan bunyi denyut padam yang singkat, lantai di bawah kakinya bergetar halus.
Sebuah panel layar berukuran sedang muncul dari bawah.
Panel itu menampilkan simbol-simbol yang sama dengan yang ada pada pintu-pintu disekelilingnya. Siluet yang berpendar.
Kepala robot kaleng...
Bulan sabit...
Pesawat luar angkasa...
Kupu-kupu...
Jari telunjuknya hampir menyentuh simbol kupu-kupu sebelum berhenti mendadak. Tangan mengambang di atas panel.
Mata Capella teralihkan pada satu simbol lainnya lagu. Simbol Bintang jatuh, atau disebut sebagai Shooting star _ Bintang besar dan satu lagi bintang kecil tepat dibawah bintang besar yang meluncur ke bawah bersama dengan ada garis-garis ekor cahaya di bekakangnya.
Begitu disentuh, seluruh ruangan bergerak dengan cara yang tak sepenuhnya masuk akal; semua pintu pada dinding di sana berputar seperti roda raksasa sementara kolam ikan cincin dan lantai pijakannya tetap diam, menciptakan efek getaran sesaat yang membuat dia mengira kalau lantai itu akan jatuh.
Lutut Capella spontan sedikit menekuk untuk menjaga keseimbangan.
Ketika semuanya berhenti dalam gerakan halus, sebuah jalur sempit bertahap terbentuk dari posisinya menuju pintu yang sudah lurus dari arah pandangannya.
Tiap petak kecil muncul dari bawah kolam kepermukaan dan tersusun rapat sampai tersambung tepat di lantai pijakan kecil di depan pintu sana.
Naiknya petak-petak jalur itu membuat air yang sempat ikut terangkat lalu jatuh_ sesaat menciptakan air terjun kecil yang menambah efek dramatis sebelum siapapun akan melintasinya.
Ikan-ikan disekitar tidak terganggu sama sekali. Mereka bahkan sedikit merapat ke sekitar jalur sempit yang hanya selebar satu meter itu ketika Capella mulai melangkah maju.
Mereka seakan sedang berbaris menyambut Gadis itu. Seperti momen penobatan Ratu baru.
Sudah berdiri tepat di depan pintu dengan simbol Bintang Jatuh yang dipilihnya... Capella mengamati seluruh bentuk daun pintu tepat di hadapannya, sebelum matanya terkunci pada siluet telapak tangan yang baru bercahaya lembut di samping daun pintu.
Tangannya sendiri terasa asing ketika menempel pada panel itu. Samar ada efek setruman kecil tapi dia tidak menjauhkan tangannya.
Sebuah hembusan udara dingin menyembur dari celah-celah pintu, membawa aroma logam atau sesuatu yang lebih pabrik, seperti buku atau bau-bau benda baru beli.
Pintu itu terbuka ke atas dengan suara desis halus_ gerakan lembut tapi cepat. Fruuunz...
Di dalam, kamar itu terasa lebih kecil dari yang dia bayangkan, tapi setiap sudutnya hidup dengan teknologi yang bernapas. Ranjangnya... baru saja keluar dari balik dinding dengan bunyi desir halus. Tepiannya berpola konstelasi bintang, dengan simbol bintang besar di sisi atas kepala ranjang itu.
Tapi yang paling mencuri perhatiannya, adalah kaca penuh selebar dinding di seberang yang memperlihatkan pemandangan halaman rumah dan sekitar wilayah perumahan Harmonia sekitarnya. Pemandangan dalam seluruh kemegahannya.
Moonbase yang menyeramkan bisa terlihat lebih jelas di balik atas pemandangan langit-langit sana. Di kejauhan seperti siluet kepala raksasa yang mengintip dari balik awan yang kadang berpetir.
Dia hampir tidak memperhatikan kursi ungu terang berbentuk cangkang telur di dekat jendela sampai benda itu bergerak sendiri. Bagian duduknya membuka dengan sudut sempurna, mengundang seperti mulut yang sedang tersenyum.
Dan di atas pada dinding di depan kursi tadi ada terdapat layar datar yang baru saja menyala.
Muncul animasi orb di tengah-tengah layar yang memunculkan orb-orb lain yang lebih kecil seperti tiupan gelembung di balik layar.
Fruuunz... Bum!
Capella berbalik bentar untuk menutup pintu. Menekan salah satu tombol di samping ambang pintu sebelum berbalik lagi menghadap pemandangan dalam kamar yang cukup membuatnya takjub.
Layar tadi mengeluarkan derau statis yang terdengar seperti suara seseorang mencoba berbicara dari balik tirai air terjun. Orb utama berkedap-kedip dalam pola tidak teratur, kadang menyala terang seperti mata yang panik, kadang redup seolah kehabisan energi.
Tangannya spontan bergerak mengangkat sendiri_ menjulur tinggi-tingi ke arah layar, jarinya hampir menyentuh permukaannya yang berpendar ketika tiba-tiba suara itu berubah menjadi pecahan kata-kata: "H...Hal...Se...Da..." terputus-putus seperti sinyal transmisi radio yang rusak.
Atau pesan masuk misterius yang berusaha dikirimkan dari masa depan.
Layar tablet kembali memancar wajahnya.
Capella menekan tombol-tombol kombinasi rahasia yang dia tahu, tapi firewall kuantum rumah ini hanya membalas dengan pesan dingin berulang-ulang... Akses Ditolak! Tablet itu bahkan tidak bisa sekadar menerjemah atau memperbaiki suara rusak dari layar di kamarnya.
Sedangkan Robot Maid barusan sebenarnya tidak rusak_ Hanya butuh sedikit pemicu agar aktif.
Jadi intinya... Selama sistem rumah di sana masih tidak bisa terhubung dengan tabletnya... dia otomatis tidak bisa leluasa mengatur banyak fasilitas dalam satu genggaman tangan seperti yang biasa dia lakukan pada rumah lama mereka.
Tangannya mengepal, kuku menusuk telapak tangan sendiri. "Bodoh," geramnya pelan sebelum melempar tablet itu ke atas ranjang. Benda itu memantul sekali sebelum diam dalam kerutan kecil di permukaan seprei kasur.
Memutar malas... Tubuhnya lalu sengaja dijatuhkan lemas mengikuti tablet itu dengan gerakan pantulan kasur yang sama.
Matanya menatap langit-langit kamar yang menampilkan proyeksi animasi pemandangan galaxy. Matanya hanya berkedip datar. Tablet yang dibiarkan di sebelah seakan sedang ikut terdiam memandang pemandangan buatan itu.
Berbaring di bawah bintang.
Pandangan, pendengaran, dan pikirannya semakin terhanyut dalam animasi galaxy yang seakan memberikan efek halusinasi. Pikirannya semakin jauh... tenggelam.
Suara aneh dari layar yang seakan kini hanya berusaha berbicara beberapa kata saja berangsur lenyap di telinganya. Kini telinganya hanya mendengar suara kehampaan dengan deru samar angin yang menghembus di luar pemandangan kamarnya sana.
Capella membiarkan tubuhnya berbaring lebih lama.
Sampai matanya mulai terpejam dalam rileks yang tidak wajar, menghela napas panjang saat punggungnya sedikit tenggelam dalam material matras ranjang yang sedikit mengecap bentuk tubuhnya.
Hanya lelah... Mungkin juga mencoba melepas setresnya.
Akan tetapi...
Tanpa dia sadari...
Di sudut langit-langit kamar yang tampak polos, sebuah panel layar kecil yang berkamuflase dengan dinding sekitar sedang merekamnya dari atas sana. Seperti lensa CCTV kemerahan yang sedang mengawasi.
Bahkan diruangan yang seharusnya memiliki privasi penuh seperti kamar itu.
Dari perspektif sudut pandangnya... sistem matanya bergerak dengan presisi bedah, memperbesar gambar hingga fokus memperhatikan setiap tubuh Capella yang terbaring di sana. Tangan hingga wajah. Setiap helai bulu matanya pun terlihat jelas.
Wajah lelah Capella terlihat sangat jelas.
Ada emosi dibalik kerutan halus di dahinya, bibir yang sesekali berkerut, kelopak mata yang bergetar seperti mencoba menahan sesuatu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sebelum mulai membaca... Ini Novel tema Science Fantasy Lebih Menceritakan Sisi Kehidupan Karakter, Dan Tidak Sepenuhnya Dalam Konflik Serius Yang Berbahaya. Jadi bagi yang mau penuh konflik atau temanya benar-bener Dark berarti nggak cocok ya! 😄 Karena Ini lebih ke School, Campur Drama Di Sekolah, Rumah, Lebih Santai lah pokoknya. Tapi perlahan konflik permasalahan utamanya mungkin makin naik dan jelas menuju akhir! So.. Happy Reading! 😍
semua masih berisi narasi, semoga di next chapter semua menjadi lebih aktif 👍👍👍
tetap semangat Thor, saya suka tema fantasi 🔥